
"Kenapa, tampan? Apa kau berubah pikiran? Aku tau kau pasti lebih cerdas dari mereka semua.
Tapi kamu harus membantuku merawat anak-anak ini, hm? Mereka akan jadi anak-anak yang hebat, aku bisa menjaminnya. Lalu kita bisa kuasai dunia ini bersama, uhh, maksudku kita bisa hidup bersama di dunia ini dengan bahagia. Bagaimana menurutmu?”
Orion, maju tiga langkah, irisnya menyala, ia mengeluarkan auranya untuk mendominasi wanita di hadapannya. Ana sendiri bisa merasakan tekanan itu meskipun dirinya berada dalam bola kuasa, justru ia amat sangat merasakannya. Mungkin karena benda itu juga merupakan bagian dari kekuatan Orion.
“Sudah cukup, Ana. Kamu tidak perlu berusaha untuk membodohiku karena aku tidak akan jatuh dalam perangkapmu. Tenanglah di dalam sana, aku akan mencari cara untuk mengeluarkanmu dari sana.”
“Mencari cara apanya! Kamu tinggal menarik kekuatan sialanmu ini!" pekik Ana, kesabarannya habis juga.
"Aku hanya akan melakukannya ketika kamu bukan lagi ancaman bagi dunia ini," batinnya.
“Tidak! Kau jangan pergi suamiku yang tampan! Jangan pergi! Suamiku! Hei, Bajingan!!!”
Orion tidak menggubris teriakan wanita itu dan pergi meninggalkannya. Sekalipun Ana terus-menerus memaki, berusaha dengan gigih untuk keluar dari dalam benda pengekang yang hanyalah sia-sia itu. Sungguh, jika saja bola cahaya tidak memiliki kekuatan yang besar, Ana mungkin saja bisa menghancurkannya.
Di seberang pintu ruang rahasia itu, Ace dan Aidyn menunggunya dengan tatapan penuh selidik.
“Bagaimana keadaannya?”
Orion menggeleng.
“Wanita liar itu!” seru Aidyn berdecih.
“Lalu sebenarnya apa rencana yang kau punya, Orion? Kau tidak mungkin berpikir untuk menyelamatkan segalanya tanpa menyiapkan sesuatu terlebih dahulu, 'kan? Sebab itu akan menjadi sangat konyol.” Ace merasa kepalanya akhir-akhir ini sangat sakit. Lantaran memikirkan ini semua.
“Tentu aku tidak sebodoh itu, Ace .”
“Jika benar, seharusnya kau sudah membunuh wanita itu dan masalah selesai sampai disana,”
Aidyn menyambut lagi tanpa dipinta.
Ace mencengkeram lembut tangan istrinya, memberi sinyal untuk diam dan menjaga ucapannya.
Orion nyatanya tidak kesal dengan apa yang dikatakan oleh Aidyn, karena itu merupakan hal yang paling realistis dan sederhana yang bisa ia lakukan untuk mencegah berbagai macam hal tidak menyenangkan untuk terjadi di masa depan.
__ADS_1
Akan tetapi sekali lagi, Orion ingin menjadi egois. Pria itu ingin mengikuti hatinya.
Meskipun akalnya mengutuk atas kebodohannya yang memilih jalan terjal penuh rintangan, hatinya tetap kuat dan kokoh, tekadnya tidak mudah untuk runtuh.
Sebut ia tidak tahu malu, tapi Orion percaya diri bisa melewati semua ini.
“Kau benar, seharusnya aku sudah membunuhnya karena hal itu sangat mudah untuk dilakukan dan kita tidak perlu berada dalam situasi membingungkan seperti ini. Tapi ... maafkanlah bajingan tidak tahu malu yang berada di hadapanmu saat ini, Nyonya Aidyn. Sebab dia lebih memilih untuk menghadapi kekacauan merepotkan daripada barus mengotori tangannya sendiri dengan darah wanita yang dia cintai.”
Orion mengakhiri kalimatnya dengan senyuman, senyuman khas miliknya yang mampu menghipnotis semua orang.
Ace dan Aidyn hanya memaku, tak mampu berkata-kata sampai
Orion berjalan menjauh memunggungi mereka.
Pria itu berjalan dengan begitu gagahnya sambil memikul beban yang amat sangat berat di atas punggungnya. Hal itu sangat menakjubkan, sekaligus menyedihkan.
Flyod melihat Orion dan buru-buru menghampirinya.
“Dimana Beatrice?”
“Kau tidak melihatnya? Kupikir dia bersama denganmu.”
“Kenapa aku harus bersama dengannya? Kami berdua tidak memiliki hubungan apa-apa. Berhentilah berasumsi tanpa dasar yang pasti,
Fly. Kau hanya menggerogoti hatimu sendiri.”
“Tapi dia selalu membicarakan tentangmu. Wanitaku itu selalu menjatuhkan seluruh perhatiannya hanya padamu, apakah pertanyaanku sungguh-sungguh tidak berdasar? Kau lupa apa yang terakhir kali dia lakukan di depanmu?”
Urat di pelipis Orion seketika menyembul keluar. Suasana hatinya sudah sangat buruk bahkan sebelum pria berambut merah ini tiba-tiba mengajukan pertanyaan dan tuduhan yang tak masuk akal.
“Sungguh, Fly, aku tidak peduli. Urus wanitamu karena aku sedang sibuk dengan wanitaku sendiri.”
Tekanan itu lagi, Orion mengeluarkannya tanpa sadar sama sekali. Flyod yang bagaimanapun juga memiliki kekuatan jauh di bawah dirinya itu merasa menciut, terdominasi, dan ia kesal akan fakta tersebut.
Orion hendak melangkah pergi, namun berhenti sejenak.
__ADS_1
Ujung ekor matanya melirik ke arah Flyod, begitu tajam seolah-olah kilatan petir akan keluar dari sana kapan saja. Menghanguskan segala sesuatu yang ada di hadapannya. “Dan jangan lupa untuk jaga ucapanmu lain kali. Ini adalah kali terakhir aku memberikan toleransi untukmu. Itupun jika kau masih ingat, aku bisa menghabisimu kapan saja.”
Wajah Flyod pun memerah padam, ia naik pitam. Darahnya mendidih dengan emosi yang bergejolak. Hatinya terbakar, panas sekali. Benci, ia benar-benar benci dengan Ketua Akademi penyihir saat ini. Kecemburuan dan inferioritas yang ia miliki saat ini telah membakar pemikiran rasionalnya hingga tak lagi bersisa melainkan abu.
Cemburu, tidak percaya diri. Dua hal itu mengarahkannya ke jurang kebencian yang begitu dalam. Terperosok di dalamnya, tak tahu arah, tanpa bisa kembali dan mencari jalan keluar.
Ia menyalahkan Orion untuk hal itu. Tanpa ia sadari sama sekali bahwa dirinya sendirilah yang terjun secara impulsif, namun merasa seolah-olah orang lain mendorongnya dengan paksa hingga ia terjatuh dan terluka.
Flyod hanya tidak tahu, tidak ada hal yang seperti itu. Flyod hanya membenci fakta bahwa cintanya kalah dengan orang lain. Sebagian kecil akalnya berusaha memberontak, tidak ingin berubah menjadi bajingan bodoh yang menjebak diri sendiri.
Namun sudah terlambat. Egonya jauh lebih mendominasi. Hatinya yang terluka telat buat emosinya terkikis hingga ia meringis-ringis. Flyod terjerembab, dalam lubang kesengsaraan yang ia buat sendiri.
Dan hanya dirinya sendirilah, yang bisa menyelamatkannya. Menyelamatkan harga dirinya. Menyelamatkan cinta dan kekasih hatinya.
Hanya
Flyod yang mampu melakukan itu, ketika kesadarannya sudah kembali mengambil alih nanti.
Lagi-lagi Orion merenung di dalam ruangannya.
Fakta bahwa Ana yang kini tengah mengandung anak-anak naga di dalam perutnya merupakan rahasia besar yang hanya diketahui oleh Orion seorang diri.
Beruntung, wanita itu baru sempat mengaku kepadanya saja. Sebab jika sampai ada orang lain yang mengetahuinya, bahkan meskipun orang tersebut adalah Ace, maka Anastasya saat ini mungkin sudah tinggal nama karena kehadiran sang ibu dan janin tersebut dapat dipastikan bisa menjadi malapetaka untuk semesta di masa yang akan datang.
Jika sudah begitu, maka Orion pun tidak akan mampu berdiri untuk dirinya sendiri dan menyelamatkannya.
Jika sudah begitu, maka Orion tidak lagi punya pilihan lain selain merelakannya pergi.
Pria dengan rambut sebahu ini berniat untuk membinasakan janin tersebut sebelum perut wanita itu sempat membesar.
Terdengar kejam, memang, tapi hal ini lebih baik segera dilakukan secepat mungkin karena beast seperti naga terakhir kali lahir sudah lebih dari seribu tahun yang lalu.
Kekuatannya amat sangat dahsyat, satu ekor saja bisa membumihanguskan satu negeri dalam sekejap mata. Ditambah dengan temperamen
Ana kali ini yang berpikir untuk menghabisi umat manusia karena merasa dirinya jauh lebih unggul menambah suatu kekhawatiran yang dapat dipastikan hanya akan berubah menjadi bencana.
__ADS_1
Bersambung