
“Tetapi, kami berdua juga melakukan kesalahan.” Orion berjalan ke arah istrinya untuk menggenggam tangannya. “Kami tidak langsung membunuh naga yang baru lahir itu dan malah terlarut dalam emosi karena Drake mengambil wujud putra kami yang sudah mati.”
Lagi-lagi, semua orang yang berada di dalam ruangan itu hanya bisa tercengang. Tidak terkecuali Flyod, pria itu tidak menyangka semuanya ternyata begitu rumit.
Orion menjulurkan tangannya kepada Ana, wanita itu mengangguk dan menerima uluran tangannya. Mereka berdua berdiri berdampingan, saling menggenggam tangan.
“Maka dari itu, aku, Orion, sebagai Ketua kalian, dan Anastasya istriku, memohon kemurahan hati kalian semua untuk memaafkan kami.”
Ana menundukkan kepalanya, dan Orion membungkukkan badannya. Mereka melakukan itu selama lima belas detik, menimbulkan cukup kebisingan yang meminta mereka untuk bangun.
“Aku dan Tuan Iron telah memutuskan untuk memberikan hukuman kepada Beatrice atas rencana busuknya yang sengaja bertujuan untuk membangkitkan Drake kembali, dan juga kerjasama ilegalnya dengan seorang Alchemist kotor menggunakan ramuan yang berbahaya. Ramuan itu adalah cairan yang mampu memberikan nutrisi dan energi kehidupan kepada segala macam spirit yang merasuki tubuh manusia berpuluh-puluh kali lipat. Hal ini adalah sesuatu yang bahkan tidak diizinkan oleh Lembaga Resmi Sihir.”
Beatrice yang selama ini tidak bisa berkata-kata, akhirnya kembali membuka mulutnya.
“Orion! Aku melakukan ini untukmu! Aku melakukan ini karena aku mencintaimu dan yang harusnya mendapatkan hukuman saat ini adalah wanita jadi-jadian itu! Dia yang telah melakukan kontrak dengan monster. Dia harus dieksekusi sekarang juga!”
Orion langsung meningkatkan kekuatannya pada bola cahaya hingga Beatrice merasa kesakitan. Bahkan Flyod yang melihat itu ikut merasakan sakitnya.
“Cukup, Ketua, aku mohon jangan buat ia semakin kesakitan lagi.”
Orion menatap Flyod yang matanya memerah menahan tangis. Ia tidak bisa untuk tidak bersimpatik kepada pria itu.
Hatinya sangat tulus mencintai Beatrice, tapi wanita itu malah terobsesi secara tidak sehat dengannya sampai seekstrim ini. Menoleh ke arah Ace , ia lalu berbisik yang langsung disetujui olehnya.
Ace mengambil alih tempat Orion untuk membuka suara. “Setelah melalui perundingan yang cukup lama, kami telah menetapkan hukuman yang tepat untuk dijatuhkan kepada Beatrice. Yaitu, pengurungan di penjara khusus selama 10 tahun, dan pengasingan setelahnya.”
Semua orang menutup mulut mereka.
“Tidak mungkin…,” Flyod merasakan tubuhnya lemas dari atas sampai bawah.
“Keputusan ini sudah dipertimbangkan dengan sangat matang. Keringanan diberikan karena jasa-jasa yang telah Beatrice lakukan selama ini. Tapi dosanya kepada para manusia yang telah kehilangan mata, nyawa, harta dan tempat tinggal mereka tidak bisa diampuni. Hukuman yang setimpal untuknya adalah eksekusi mati, tapi ketua tidak mengizinkan itu.”
Flyod berusaha melepaskan sihir yang mengikat kedua tangan dan kakinya. “Aku mohon, Tuan Alchemist yang Agung. Lepaskan aku, aku tidak akan melakukan apapun.”
Philip melirik ke arah Orion yang memberikan persetujuannya lalu melepas mantra sihir dari tubuh pria itu. Begitu ikatan itu terlepas, Flyod langsung menerjang ke depan dan bersimpuh.
“Ketua, aku mohon ampuni dia. Beatrice bukan orang yang sejahat itu. Aku mohon berilah keringanan padanya.”
Orion menatap pria yang bersujud di hadapannya tanpa gentar. “Ini adalah bentuk keringanan dan pengampunan yang aku berikan.”
“Tapi kurungan penjara 10 tahun dan pengasingan terlalu berat. Dia akan mati.”
Air mata meleleh di sekujur wajah Flyod hingga ketampanannya tidak lagi terlihat. Hanya kekacauan, frustasi, sedih dan rasa sakit yang tercetak di atasnya.
“K-kalau begitu, aku minta satu keringanan lagi,” katanya.
__ADS_1
“Tidak bi—”
“Biarkan aku menemaninya, aku mohon.”
Felix bangkit dari duduknya, begitu pula dengan Aidyn yang tidak percaya dengan ucapan Flyod.
“Biarkan aku menemaninya. Bagaimana pun juga, aku ikut bersalah karena aku termasuk salah seorang yang secara tidak sengaja membantu rencananya. Jika saat itu kami tidak menyusup ke ruangan dimana istri Ketua dikurung, kami tidak akan tahu bahwa Ketua sedang mengandung anak naga. Jika aku bisa mengetahui lebih awal motif Beatrice dan menghentikannya, semua ini pasti tidak akan terjadi. Kumohon, hukumlah aku bersamanya.”
Aidyn menutup mulutnya dengan air mata yang berderai, ia tidak menyangka pria itu memiliki cinta yang begitu murni. Semua orang yang ada di sana juga tidak bisa menahan air mata mereka melihat cintanya yang begitu tulus. Padahal, belum lama sebelum itu Beatrice berteriak-teriak bahwa dia mencintai ketua mereka. Betapa pria yang malang …
Orion pun sama terkejutnya. Tetapi melihat pria itu yang benar-benar sudah berada di ambang batas, ia akhirnya menyetujui permintaannya.
“Baiklah. Aku mengizinkannya.”
Ace memejamkan matanya, tidak bisa berkata-kata untuk menanggapi semua hal ini. Sementara Flyod, kontras dengan apa yang hendak menanti di depannya, malah terlihat sumringah. Pria itu berkali-kali bersimpuh dan berterima kasih di kedua kaki Orion maupun Ace.
Beatrice di lain sisi, terlampau syok mendengarnya. Ini sama sekali tidak pernah dia bayangkan. Rencananya adalah untuk memojokkan Ana hingga mendapatkan hukuman eksekusi mati, tapi yang terjadi justru hal itu menyerang dirinya sendiri seperti bumerang.
Terlebih lagi ketika Flyod bersimpuh meminta keringanan atas hukumannya, dan memohon-mohon untuk menemaninya di dalam penjara dan pengasingan.
Padahal, pria itu sesungguhnya tidak memiliki kesalahan apapun. Justru ia telah sengaja berkali-kali menjebaknya juga berniat memanfaatkannya. Tetapi Fly? Pria bodoh itu berkali-kali menerima semua perlakuannya.
Fly berkali-kali mengabaikan kelicikannya. Fly berkali-kali melindunginya.
Fly tanpa berhenti terus mencintainya.
Wanita itu berpikir, jika sejak awal dia berhenti mengejar-ngejar cinta yang tidak pasti dan menerima perasaan tulus Fly padanya, apakah saat ini dia mungkin tengah berbahagia?
Bukankah selama ini dia memimpikan dirinya untuk dicintai sepenuh hati? Lalu kenapa ia membutakan kedua matanya ketika sudah ada pria yang sangat setia selalu berusaha menjadi yang terbaik untuknya?
Flyod berdiri, kedua tangannya diikat dengan sebuah mantra khusus.
“Dengan dijatuhkannya hukuman penjara dan pengasingan kepada Beatrice dan Flyod maka persidangan ini pun resmi ditutup.”
Luna yang menunggu tidak jauh dari tempat dimana persidangan tertutup diadakan, menutup mulut mereka melihat Beatrice dan Flyod yang masing-masing ditahan dengan cara berbeda.
Felix bergegas mendatangi mereka sedetik setelah matanya menangkap sang Gadis Kucing kesukaannya.
“Felix, apa yang terjadi? Kenapa mereka berdua seperti itu?”
Pria itu menghela napasnya lalu menceritakan apa yang terjadi di ruang persidangan kepada Luna. Gadis kucing pun menangis sejadi-jadinya. Ia grup menyesali atas apa yang telah ia lakukan kepada Orion.
Felix yang menyadari hal itu pun menarik Luna ke dalam pelukannya. “Tidak apa-apa, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Kucing betinaku adalah anak yang baik, 'kan?”
Luna pun mengangguk pelan dalam pelukan itu.
__ADS_1
Saat ini, terlihat Orion sedang menuntun Ana menuju kamar mereka. Memapahnya menuju tempat tidur, membenarkan posisi bantal agar wanita itu merasa nyaman.
“Ada sesuatu yang ingin kamu makan?”
Ana tersenyum lembut, menggeleng. Orion pun berdecak dan mengeluarkan buah dari dalam lemari pendingin.
“Setidaknya makanlah buah-buahan ini,” ucapnya sambil mengupaskan beberapa buah apel. Ia lalu menyuapi Ana dengan telaten dan sangat lembut, memastikan wanita itu mengunyah dan menelannya dengan lancar lalu memberikan segelas air setelahnya.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya wanita itu.
“Tentu, aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa?" jawabnya santai, diselingi tawa kecil di akhir.
Ana meremas tangan Orion yang besar dengan kedua tangannya.
“Baby Crux … aku tau kamu merindukannya.”
Mendengar nama itu disebut, Orion pun membeku selama beberapa detik. Kepalanya menunduk, ia tidak menjawab apa-apa. Detik kemudian, Ana merasakan kedua tangannya basah.
Pria yang selama ini berdiri dengan kokoh, akhirnya menangis. Wanita itu pun membawa kepala sang suami ke pelukannya, membelai-belainya dengan penuh kasih sayang.
Mengizinkannya untuk meluapkan emosi yang selama ini terpendam.
Bagaimana tidak karena pria ini seorang ayah yang menyaksikan kematian putranya sendiri secara tragis.
“Jangan khawatir, dia pasti sudah tenang di atas sana. Putra kita adalah anak yang hebat, iya 'kan?”
Ana menghapus air mata dari wajah tampan suaminya sambil tersenyum dengan lembut. Orion yang melihat itu tidak bisa menahan panas dari kedua bola matanya sehingga ia tidak bisa berhenti menangis.
Wajah itu, wajah itu adalah wajah yang sangat dirindukannya. Itu adalah wajah yang selalu Ana tunjukkan padanya saat mereka berdua masih hidup dengan damai sebagai manusia biasa.
Pada akhirnya, setelah semua hal yang terjadi, istrinya telah kembali ke pelukannya. Mereka berdua sudah kembali bersama lagi. Setelah itu, Orion merasakan keningnya dikecup dengan hangat.
“Aku pulang,” bisik Aja lembut.
Orion, setelah sekian lama, akhirnya kembali tersenyum lagi.
“Terima kasih sudah kembali.”
...SELESAI...
Terimakasih para Readers semua karena telah setia membaca kisah hasil halu author ini sampai akhir.
Semoga kita bertemu lagi di lain kisah.
Sayonara.
__ADS_1
GBU!!