System Magic Power

System Magic Power
Bab#43. Oh, Ana.


__ADS_3

Felix nyatanya menyayangi Luna dengan segenap hatinya, ia ingin gadis itu lebih menghargai dirinya sendiri dan percaya diri. Ia tidak perlu menjadi sesuatu demi memuaskan orang lain, tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi pantas bagi orang lain.


Sebab Luna bagi Felix sangatlah berharga lebih dari apapun juga. Sebab dirinya ada, dirinya menanti, tapi mengapa lagi-lagi gadis ini hanya mengharapkan hal yang tidak pasti?


Pemuda itu hanya bisa menelan seluruh pemikirannya seorang diri, sambil memaksakan senyum rendah hati.


“Apa yang sedang kamu lakukan disini sendirian? Bagaimana jika kita bermain bersama?”


Luna menghembuskan napasnya kasar, kedua tangannya mengepal di samping pipi. Sekali lagi harus Felix akui, gadis kucing ini benar-benar menggemaskan.


“Malas,” jawabnya singkat.


“Kamu terlihat sedih, apa yang membuat Kucing Betinaku yang lucu ini bersedih, hm?”


Luna dengan santai menyandarkan kepalanya di atas bahu Felix, buat pemuda itu menahan napasnya selama beberapa saat sembari berusaha mengontrol degup jantungnya yang mulai terdengar seperti genderang perang di dalam telinga.


“Aku bingung, bagaimana caranya untuk mengambil perhatian Tuan Orion ? Apakah aku yang sudah dewasa ini masih tidak juga menarik baginya? Bukankah aku cantik, hm? Aku cantik, 'kan?”


Felix tersenyum, pahit.


“Tentu saja!”


“Lalu kenapa….”


“...” Alfredo masih terdiam.


“Apakah karena aku adalah seorang Animagus—”


Seketika Felix bergerak, mengakibatkan Luna merengek karena posisinya yang telah nyaman bersandar jadi terganggu.


Kesempatan itu diambil oleh dirinya untuk meletakkan kedua tangannya di atas bahu gadis itu, kemudian ia menundukkan kepala untuk mensejajarkan tinggi mereka sambil menatap sepasang iris di depannya dengan serius.


“Hei, Kucing Betinaku yang cantik, kamu itu tidak kurang apapun. Kamu cantik, kamu cerdas, dan kamu juga kuat. Tidakkah kamu sadar betapa kekuatanmu sangat hebat? Kamu adalah seorang penyembuh! Seluruh dunia pasti akan memujamu demi mendapatkan perawatan dari kedua tangan ajaibmu itu.”


“Jika aku benar-benar hebat, kenapa Tuan Orion tidak pernah melihatku?”


"Tapi aku melihatmu."


“Kenapa Tuan Orion tidak memperhatikanku?”


"Aku memperhatikanmu."

__ADS_1


“Kenapa dia tidak bisa menganggap aku lebih dari seorang teman?”


"Tapi aku—"


“Aku menyukainya, kenapa dia tidak menyukaiku juga?”


"Aku juga menyukaimu, Gadis Kucing. Lalu kenapa kamu tidak menyukaiku juga?"



Kesunyian berlalu selama beberapa detik, hanya ada tatapan yang sama-sama menuntut jawaban. Jawaban yang keduanya sama-sama tidak tahu. Jawaban yang sebenarnya ada tapi tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Jawaban yang sebenarnya sudah sangat jelas, namun keduanya menolak untuk terima.


Felix tersenyum tipis, matanya menatap sendu namun juga lembut dalam waktu yang bersamaan. Tangannya terjulur untuk membelai kepala sang gadis, mengacak-acaknya pelan.


“Aku tidak tahu, mungkin karena kamu cerewet?” ledeknya.


Luna menginjak kaki Felix hingga pemuda itu mengaduh kesakitan.


“Tapi aku sudah pernah berciuman dengannya!”


“Itu kan cuma untuk pengobatan.”


“Tetap saja secara teknis itu adalah sebuah ciuman, jika dia tidak suka denganku kenapa dia mau berciuman denganku?”


Luna pun menginjak sebelah kaki Felix , lagi.


“Dasar orang gila!”


_______


Meskipun berada di dalam bola kuasa, kesadaran Ana nyatanya masih terjaga dengan penuh. Wanita berusia seperempat abad ini agaknya mengerti jika Orion sengaja melakukan ini kepadanya.


Padahal ia yakin, pria itu bisa saja memerangkapnya secara penuh hingga benar-benar kehilangan kesadaran dan tak berdaya.


Ia juga menyadari bahwa Orion bisa saja membunuhnya jika mereka harus bertarung sekali lagi, ia sadar akan hal itu.


Maka satu-satunya jawaban yang ia punya adalah ingatan ketika Orion mengatakan pada dirinya bahwa mereka adalah sepasang suami istri.


Apakah Ketua Akademi sihir itu benar-benar mencintainya, hingga hatinya melembut seperti ini? Sungguh naif sekali, batin wanita itu tak habis pikir.


Tetapi, kini Ana mulai berpikir, bukankah bagus bila pria itu berada di pihaknya? Bukankah mereka bisa sama-sama menggenggam dunia di kedua tangan mereka? Wanita yang benar-benar menganggap dirinya hebat itu merasa, hanya Orion satu-satunya yang layak untuk berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Tidak hanya karena pria itu memiliki visual yang memuaskan, tapi juga memiliki kekuatan dan kekuasaan yang tak bisa dibandingkan dengan siapapun juga.


Darah Ana seketika mendidih hingga ke kepala. Rasa haus darahnya sekali lagi bergejolak.


Menggelegak bagaikan lava yang siap menyembur dengan hebat. Mengalir sebagai lahar dan menghanguskan segala sesuatu yang disentuhnya. Wanita itu ingin menguasai dunia bersama Orion, pria tampan yang mengaku-ngaku sebagai suaminya.


Tiba-tiba, pria yang ia pikirkan muncul, Ana sedikit terkejut karena ia tidak bisa merasakan keberadaannya sama sekali. Oh … benar juga, bola cahaya berkekuatan sihir tingkat tinggi ini sudah menekan semua kemampuan dan kekuatannya hingga tidak lagi bisa digunakan sama sekali.


Kemudian, Ana bisa melihat pria itu hanya berdiri diam melihatnya dengan tatapan yang sendu, memuakkan sejujurnya, tapi air muka di wajah tampan itu entah mengapa sedikit membuat jantungnya berdenyut.


Ana, merasa terganggu dengan ekspresi sedih itu, ia tidak suka melihatnya.


Entahlah, wanita ini sebenarnya hanya belum mampu menyadari perasaannya saja. Ditambah dengan kewarasannya yang belum pulih semakin membuatnya bingung membedakan emosi yang secara aneh tengah ia rasakan saat ini.


Hatinya yang terganggu dengan kesedihan di wajah Orion hanya bisa diartikan sebagai rasa muak, padahal sesungguhnya hal tersebut jauh lebih kompleks tapi ia menolak untuk memikirkannya.


“Lepaskan aku,” pintanya.


Pria itu menggeleng. “Tidak, masih belum.”


“Aku sedang hamil, apa kamu tega membiarkan istrimu yang hamil seperti ini?” tanyanya berusaha untuk membalikkan keadaan. Ia benar-benar berharap Orion jatuh ke perangkapnya kali ini.


Tidak ada suara yang menyambut ucapannya, Ana pun murka.


“Kau bilang aku istrimu! Buktikan jika kamu mencintaiku, lepaskan aku dari sini! Aku tidak akan menyerang siapapun, sungguh, aku berjanji padamu, Orion. Lepaskan aku, ya?”


Orion hanya bisa mendesah lelah, keningnya yang berkerut ia pijit pelan menggunakan dua jari.


Tidak.


Ia tidak akan terperangkap dan terjebak oleh permainan kata yang dilontarkan istrinya. Kewarasan Ana saat ini sedang tidak baik baik saja, pria itu tahu bahwa sang wanita tengah mencoba untuk memanipulasi dirinya. Membujuknya agar luluh lalu kembali membuat kegaduhan.


Apakah dirinya mampu untuk sekali lagi memerangkapnya dalam bola cahaya? Tentu saja.


Itu adalah perkara yang mudah untuknya.


Namun, apakah ia sanggup, untuk sekali lagi melawan istrinya sendiri? Jawabannya adalah tidak.


“Jangan diam! Lepaskan aku! Mari kita kembali menjadi sepasang suami istri yang saling mencintai, kali ini aku akan menurut dan tidak merepotkanmu lagi, sayang. Aku janji!"


Ana masih berusaha merayu can membujuk Orion dengan tatapan polosnya.

__ADS_1


"Oh, Ana."


...Bersambung...


__ADS_2