System Magic Power

System Magic Power
Bab#29. Orion, Bertahanlah.


__ADS_3

Benar saja, apa yang ia takutkan terjadi. Hewan tersebut memiliki racun mematikan. Baginya, hewan mitologi ini sejenis reptil di dunianya. Ternyata, perkiraannya itu tidaklah benar.


Luna berlari semakin cepat menghampiri Orion yang tersungkur ke atas tanah. Sementara api membara, membakar apa saja di sekelilingnya.


Luna sempat panik mencari keberadaan Orion yang tertutup kepulan asap. Untung saja, naga itu telah lemah dan terduduk tak jauh dari mereka.


Luna tenang, naga itu tidak akan mungkin dapat menyemburkan api lagi. Seluruh tubuhnya telah dipenuhi oleh luka. Bahkan, dia tak lagi mampu terbang.


"Orion! Orion kau di mana!" teriak Luna yang sangat panik sambil menghalau asap yang menghalangi pandangannya. Udara di sekitar sangat panas. Nyala api berkobar di mana-mana.


"Kuharap, anggota lain yang berada di markas tau kejadian ini. Hanya Beatrice yang mampu memadamkan api yang telah membakar sebagian besar hutan," gumam Luna sambil mengedarkan pandangannya.


"Aku juga butuh bantuan untuk membawa Orion. Dia pasti sedang terluka di dalam sana. Aku melihat dengan jelas bagaimana ekor naga itu mengenainya. Tapi, bagaimana cara ku masuk ke dalam kobaran api?" gumam Luna seorang diri. Ia kebingungan. Akhirnya gadis kucing itu nekat.


"Kyaaaa!" Luna berlari kencang untuk kemudian melompati api.


Bruughh!


Gadis kucing itu menggelindingkan tubuhnya ke atas tanah. Menahan rasa sakit di sekujur badannya. Bagaimana pun dia harus memastikan jika Orion dalam keadaan baik-baik saja.


Tenyata, tidak.


"Orion !" pekik Luna yang mendapati pria gagah perkasa itu, bersandar pada salah satu batu berukuran sedang. Seluruh wajah dan tangannya telah membiru.


"Susah kuduga, k–kau keracunan!" pekik Luna, yang kaget sekaligus campur takut. Ia belum pernah melihat keadaan Orion dalam keadaan mengenaskan seperti ini.


"Buka mulutmu dan cepat telan obat ini!" titah Luna, seraya memasukkan beberapa pil buatannya, kedalam mulut Orion.


"Ini hanya beberapa butir pil penghilang rasa sakit. Aku akan menutup beberapa pembuluh darahmu dengan jarum-jarum ku. Aku tidak perduli dengan fobiamu itu. Aku harus menyelamatkan mu. Racun itu harus aku keluarkan!" Tanpa ba-bi-bu lagi Luna langsung menancapkan beberapa jarum akupuntur-nya ke beberapa bagian tubuh Orion termasuk pada kepalanya.


Orion yang masih setengah sadar. Hanya bisa pasrah. Ia memejamkan matanya tak mau melihat jarum-jarum itu menancap di atas pahanya.


Luna merobek celana Orion di bagian atas luka yang menganga itu. Lalu ia menekan sisi luka hingga mengeluarkan cairan merah kebiruan.

__ADS_1


Seketika Orion mengeratkan rahangnya demi menahan rasa sakit ngilu dan perih pada salah satu kakinya itu. Ia membiarkan saja Luna, mencoba mengeluarkan racun dari pahanya.


Rasanya bukan hanya sakit di area kaki yang terkena sabetan ekor naga itu saja. Akan tetapi Orion merasakan jantung dan hatinya juga seakan diremas.


Kepalanya sakit sekali, seperti dipukuli oleh batu. Sebab itulah ia tak mampu lagi berdiri untuk menyeimbangkan tubuhnya.


Pandangannya pun setengah kabur. Lidahnya kelu, hingga tak mampu mengucapkan satu patah kata pun.


Orion berpikir bahwa hari ini adalah akhir dari hidupnya.


"Aku merasa sekarat. Apakah aku akan akan mati untuk kedua kalinya?" batin Orion.


[ Anda tidak akan mati tuan. Tugas anda baru saja di mulai. ]


"Rasanya, sakit sekali. Aku bahkan tidak dapat merasakan jantungku berdetak normal. Napasku ...sangat sulit," ucap Orion terbata-bata. Kala menjawab perkataan sistem.


[ Anda sudah menguasai sihir utama. Kini saatnya anda mengendalikannya untuk dapat bertahan. ]


"A–aku Akan mencobanya," kata Orion.


Akan tetapi racun itu sangatlah kuat. Orion hanya bisa menjaga kestabilan dari detak jantung paru-paru dan juga hatinya.


Sementara itu, Luna masih terus berusaha mengeluarkan racun-racun itu. Tanpa ia sadari ada seseorang yang datang di ujung sana.


Zeepp!


"Lukamu sangat parah Drake. Bahkan sayap mu patah. Manusia itu, hampir membunuhmu ya?" tanya Ana, yang kini telah berada di depan wajah sang naga legendaris.


Drake, sang naga, hanya bisa melenguh pertanda dirinya masih hidup. Matanya mengerjap pelan, ia tak mampu bergerak, di karenakan seluruh tubuhnya penuh luka.


"Keterlaluan!" Ana berteriak mengeluarkan amarahnya. Ia pun melesat membawa sang naga kembali ke markas. Bagaimana caranya?


Ternyata, di leher Drake terdapat kalung dengan bandul merah. Pada saat Ana menemukannya, batu tersebut sudah ada di leher naga itu.

__ADS_1


Cara kerjanya adakah. Ketika batu tersebut di banting ke atas tanah maka, benda tersebut akan membuka portal macam jalan pintas.


Karena itu mereka dapat kembali ke markas dan datang juga secara tiba-tiba ketempat ini.


Ana mengenakan kembali kalung itu ke lehernya. Ia berteriak keras kepada pada moggart agar mereka berkumpul untuk segera menyelamatkan naganya.


"Kalian harus menjaga nyawanya agar tetap hidup! Atau, kalian yang akan ku habisi!" teriak


Ana dengan kemarahan yang begitu berapi-api.


"Ratu, tenanglah! Salah satu orang kita berhasil menyusup ke markas mereka. Sebentar lagi, kita dapat menemukan rahasia untuk segera mengalahkan para penyihir tersebut," ucap salah satu moggart yang memiliki kuasa telepati seperti Ace. Hanya saja kekuatannya lemah dan masih terbatas.


"Kau benar, mereka sangat kuat. Terutama pria  yang bernam Orion itu. Selain tampan dan gagah, ia juga memiliki pedang cahaya. Tatapan matanya bagaikan kilat. Tapi, ku rasa ia takkan bertahan karena racun dari Drake, telah masuk kedalam tubuhnya. Racun dari nagaku adalah master dari segala jenis racun yang ada di dunia ini. Bahkan racun yang ada di tubuhku tidak seberapa hebat jika dibandingkan dengan racun yang berasal dari ujung ekor Drake," jelas Ana dengan sebuah seringai di wajahnya.


"Bertahanlah kalian!" teriak Aidyn yang berada di atas udara. Wanita paruh baya itu melayang. Dan dengan kekuatannya ia membawa air yang menyirami seluruh area hutan yang terbakar.


Aidyn membuat gulungan air itu menjadi sebuah aliran bagaikan ombak. Ia cukup mendapat sumber air untuk menciptakan gelombang tsunami yang sesuai kebutuhannya, karena terdapat danau tak jauh dari tempat mereka berada.


"Bawa Orion dan Luna ke tempat yang lebih tinggi. Aku akan membuat hutan ini terendam oleh air!" perintahnya pada Felix dan juga Blactone.


Si kembar pun segera membawa Orion ke atas bukit.


"Kerahkan kekuatanmu dan alirkan dalam darah. Kau pasti bisa mengendalikannya!" ujar Luna. Agar Orion mengeluarkan racun itu dari dalam menggunakan kekuatannya.


Bukankah, ia bisa menyembuhkan Ace dan mengembalikan beberapa vitalitas kemampuan dari beberapa anggota akademi kala itu.


Apakah memang racun ini, yang bukan berasal dari dunia mereka teramat kuat.


"Orion, ku mohon ... bertahanlah," bisik Luna seraya menangis.


Ia telah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kesadaran pria yang disukainya ini.


"Kau tidak boleh kalah hanya karena racun dua dimensi ini! Kami membutuhkanmu. Orion ... kau, bertahanlah!" Luna kembali berteriak ketika Orion mulai menutup matanya.

__ADS_1


"Lu–na ...,"


...Bersambung ...


__ADS_2