System Magic Power

System Magic Power
Bab#60. Bayiku Bukan Monster!


__ADS_3

Beatrice nampak bersembunyi di atas pepohonan yang tinggi, melihat sebuah gubuk kecil yang cukup layak untuk ditinggali. Kakinya hampir tergelincir begitu ia menemukan adanya sosok Orion yang keluar masuk di sana.


Beatrice langsung membawa dirinya terbang ke sisi pohon yang lain sambil menjaga jarak aman agar Orion tidak menyadari keberadaannya, mencoba melihat ke dalam apakah anak naga itu masih ada atau tidak.


Begitu mendapatkan jawabannya, wanita menghela napas lega. Keberuntungan masih berada di pihaknya sebab anak naga itu masih hidup. Tetapi dia merasa bingung, untuk apa Orion membiarkannya hidup? Mereka berdua tidak terlihat terancam dengan keberadaan makhluk kecil itu, segalanya justru nampak terlalu tenang.


Ace terus menghubunginya dalam telepati, tapi Beatrice tidak ingin menjadi seseorang yang sampai di tempat ini terlebih dahulu. Maka dia dengan cermat mengarahkan kedua pria itu kesini lalu segera menjauh terlebih dulu untuk bergabung di waktu yang tepat.


Ace kemudian sampai di sana, disusul oleh Flyod yang menghubungi Beatrice mengenai titik koordinat lokasi untuk segera bergabung bersamanya.


Orion yang sedang melamun pun akhirnya tersadar karena merasakan tekanan-tekanan tidak biasa, ia berjaga di pintu gubuk hendak melindungi dua orang yang berada di dalam dan terkejut melihat keberadaan Ace di seberang sana.


"Sial!"


Mulutnya mengutuk karena menyesali keputusannya untuk berdiam diri selama beberapa saat disini, tidak berpikir bahwa para penyihir Akademisi akan menemukan mereka dalam waktu yang begitu singkat.


Orion menghampiri Ace terlebih dahulu agar pria itu tidak mendekati Ana dan bayinya.


“ORION!”


“ACE!.”


“Apa yang kau lakukan disini?!” Ace bertanya dengan emosi tertahan, namun siapapun yang melihat bisa menyadari bahwa dirinya sedang sangat marah saat ini.


“Jawab pertanyaan ku segera, apa yang kau lakukan disini! Apa kau melarikan diri dari Akademisi!” Ace nampaknya tak bisa lagi menahan diri untuk tidak berteriak.


Orion menjawab dengan datar, “Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan.”


“Yang harus kau lakukan? Kau itu adalah ketua kami, kau pikir apa yang harusnya dilakukan oleh ketua kami? Melarikan diri seperti ini?”


Flyod menjaga jarak dari mereka berdua, ia juga meminta Beatrice yang baru sampai untuk melakukan hal serupa.


Entah mengapa intuisinya tidak mengizinkan dirinya untuk berada di dalam kewaspadaan


Orion.


“Kau benar-benar berniat untuk mengkhianati kami?”


Thunder melotot, “TIDAK!”


“KALAU BEGITU JELASKAN! Apa yang selama ini kau sembunyikan? Dimana wanita yang kau kurung dalam bola cahaya itu?”


“Aku sedang berusaha menyembuhkannya, dia butuh tempat baru dan kantor akademi bukanlah tempat yang tepat baginya.”


Pria itu masih saja terus mengelak dan tidak mau berkata jujur.

__ADS_1


Ace sontak menatap gubuk yang berada jauh di depannya dan bertanya, “Lalu dimana dia sekarang? Aku ingin melihat keadaannya.”


Orion seketika tegang, ia paham kemana arah mata itu tertuju. Dirinya belum siap untuk memperlihatkan kehadiran bayi naga itu.


Tanpa ia sadari, Flyod dan Beatrice sudah melesat kesana terlebih dahulu dan terkejut dengan apa yang mereka lihat.


Anastasya berdiri dengan waspada melindungi bayinya begitu ada dua orang yang dirasanya asing menerobos masuk.


“Siapa kalian?!”


Beatrice melihat kearah wanita itu dan merasa darahnya mendidih. Kedua tangannya terkepal, berusaha dengan keras menahan keinginan untuk membunuhnya sekarang juga.


“Sial, apa ini cangkang monster itu?”


Flyod menatap bola kristal biru yang ada di atas meja kayu dengan tak percaya. Beatrice menarik lengan Ana dan menahannya di sudut dinding, lalu terkejut melihat penampilan bayi naga yang terlihat jauh dari ekspektasi mereka.


“Menjauh! Menjauh dari anakku!”


"Pergi kalian berdua!!"


Orion yang mendengar suara itu segera masuk ke dalam dan mengutuk diri sendiri karena bisa-bisanya ia tidak menyadari penyusupan oleh Beatrice dan Flyod.


Aidyn juga sudah datang berkat panggilan yang dilakukan oleh suaminya, dan mereka semua terkejut dengan apa yang terpampang nyata di depan wajah mereka saat ini.


“Kalian lihatlah, ini adalah cangkang dari telur naga,” kata Flyod membawa sekeping pecahan kristal tersebut.


Pandangannya lalu beralih ke seorang anak yang berada di atas tumpukan jerami beralaskan kain, terkejut.


Hingga kedua manik kebiruannya membesar.


“Jadi, beberapa kejadian aneh yang terjadi pada malam itu dikarenakan oleh kelahiran monster ini?” Aidyn menunjuk ke arah bayi itu tidak percaya.


“Bayiku bukan monster!”


Mendengar teriakan itu, Orion pun menatap marah ke arah Beatrice yang masih memegangi Ana.


Beatrice yang ketakutan segera menyingkir dengan terpaksa. Ana lalu mendekati bayinya, bersamaan dengan Orion yang berdiri menghalangi mereka dari depan.


“APA YANG ADA DI KEPALAMU ORION! KENAPA KAU MELINDUNGI MONSTER ITU?!!”


Ace sungguh murka kali ini. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Dimana pria yang berjanji untuk melindungi dunia dari ancaman dan malapetaka? Dimana pria yang berkata dengan putus asa bahwa dirinya tidak ingin melukai manusia-manusia tak berdosa? Kemana perginya semua semua ikrar itu sehingga begitu banyak orang tak berdaya menjadi korban tanpa tahu apa-apa?


“DIA BUKAN MONSTER! DIA ADALAH ANAKKU!!!”


Beatrice terkejut setengah mati, apa-apaan ini? Ini sama sekali berbeda dengan skenario yang telah dipikirkannya matang-matang. Kenapa pria ini tiba-tiba menganggap makhluk itu sebagai anaknya? Apakah pria itu sudah gila?

__ADS_1


BUKK!


Ace meninju Orion dengan kekuatan penuh sehingga pria itu tersungkur.


Sementara yang lain hanya menahan napas melihat hal itu.


Orion belum sempat bangun ketika Ace sudah berada di atasnya, memegangi kerahnya dan memukulinya berkali-kali tanpa ampun.


Tinjuan pria yang lebih tua daripadanya itu terasa sangat begitu kerasa hingga telinganya berdengung namun entah kenapa Orion tidak merasakan sakit sama sekali.


Seolah-olah indranya sudah mati, ia membiarkan Ace memukulinya tanpa melawan hingga pria itu merasa puas.


Melihat Orion yang tidak melawan sama sekali, Ace semakin murka. Ia melepaskan kerah Orion dari kepalan tangannya lalu mendorongnya dan mundur sambil memegangi kepala.


“Apa kau tahu apa yang sudah terjadi selama kau menghilang dengan keluarga kecilmu itu? Apa kau tahu apa saja yang sudah disebabkan oleh kelahirannya? Banyak distrik dan kota yang terkena dampak radiasi cahaya tersebut! Ratusan orang kehilangan penglihatan mereka, kehilangan tempat tinggal mereka! Mereka itu cuma manusia biasa! Mereka tidak punya pertahanan apapun untuk melawan kekuatan tak biasa yang bagi kita semua mungkin bukan apa-apa!


APA KAU LUPA BAHWA KAU PERNAH BERJANJI UNTUK MELINDUNGI MANUSIA?”


Manusia, manusia, manusia.


Kata-kata itu berdengung dalam kepala Orion.


“Bangunlah, aku tahu kau hanya bingung saat ini. Bangkitlah dan bunuh monster itu dengan kedua tanganmu sendiri.”


Orion menurut. Ia bangkit, merasakan anyir berkumpul dalam mulutnya lalu meludah untuk menghilangkannya.


Matanya menatap Ace lamat-lamat, kemudian terkekeh. “Apa kau bilang?”


BUKK!


Orion seketika balas memukul Ace dengan tinjunya.


BUKK!


“Kau bilang aku harus membunuhnya?”


“THUNDER! HENTIKAN ITU!” Aidyn berteriak, lalu memberi isyarat kepada Flyod untuk menahannya.


BUKK!


Pukulan terakhir, sebelum Flyod berhasil mengunci kedua tangannya.


“BAGAIMANA MUNGKIN AKU BISA MEMBUNUHNYA DENGAN WAJAH ITU? ITU ADALAH WAJAH PUTRAKU YANG DULU DIBUNUH OLEH PARA DEMON BRENGSEK ITU!!!"


Ace yang tengah menahan sakit di pipinya, terkejut.

__ADS_1


Bahkan yang lain juga sama-sama tercengang dengan ucapan Orion. Mereka semua kemudian menatap wajah bayi naga itu dengan nanar—yang jika dilihat-lihat, memang memiliki kemiripan dengan pria yang saat ini sedang menangis terengah-engah—kecuali kedua bola matanya yang sebiru kristal dan dua tanduk kecil di atas dahinya yang baru saja tumbuh beberapa saat lalu.


Bersambung


__ADS_2