System Magic Power

System Magic Power
Bab#25. Firasat Ace.


__ADS_3

"Nagaku sayang. Sungguh aku semakin menyayangimu! Aku semakin yakin jika kita berdua mampu menguasai dunia ini," puji Ana pada Drake seraya mengusap-usap leher mahluk berwarna biru gelap itu.


"Sungguh di luar dugaan ku, kau bahkan mampu menghabisi profesor gila itu dalam satu kali semburan api yang keluar dari mulutmu," ucap Ana lagi nampak begitu kagum dengan naga yang begitu membelanya.


Ana duduk bersandar di tubuh Drake. Pandangannya menatap ke langit yang cerah. " Ahh, aku sama sekali tidak menyangka jika kau bisa menjadi hebat secepat ini. Aku sungguh sangat-sangat beruntung. Aku bangga dan terhormat karena telah memilikimu, Drake. Kurasa ... kita harus merayakannya," ucap Ana lagi seraya menatap kedalam mata Drake yang biru.


"Tetapi, Sebelum itu kita harus kembali ke dalam markas dan mengumumkan kepada bangsa moggart siapa pemimpin mereka sekarang!" Lalu Ana pun tertawa dengan keras.


Drake membungkuk, sebuah isyarat agar Ana naik ke panggung. Ana tersenyum senang. Memang ini yang ia inginkan. Terbang, dengan menunggangi naga.


Wusshhh!


Keduanya pun membumbung ke atas langit dan melampauinya.


Sesampainya di markas milik profesor Kyuthile.


"Kalian semua, lihat ke sini!" Ana berteriak di dalam aula besar ketika ia mengumpulkan seluruh bangsa moggart.


"Profesor telah mati! Maka akulah yang akan menggantikannya berkuasa di sini!" Ana berhenti sebentar. Matanya mengedar, menelisik apakah para moggart ini mendengarkannya atau tidak.


Ternyata mereka semua bersorak.


Whooooohoooo!


Mereka antusias.


Ana memutuskan untuk meneruskan kembali ujarannya. "Kalian tahu? Kita akan semakin kuat, karena ada naga legendaris, Drake!"


Blarrr!


Drake pun masuk melalui jendela besar, hingga kaca tersebut pecahannya berhamburan dan beterbangan.


"Dialah sang naga perkasa, yang akan menemaniku memberantas populasi manusia murni sekaligus penyihir!" seru Ana berujar seraya mengusap lembut surai janggut dari sang naga legendaris yang kini sudah berada dekat dengannya.

__ADS_1


Para moggart sempat kaget dan mundur.


Akan tetapi, setelah mengatasi keterkejutan mereka pun menyambut ujaran Ana dengan penuh sorak kegirangan. Mereka hanya peduli dan tau bahwa yang terkuat lah yang akan memimpin.


"Besok dini hari! Kita akan membuat huru-hara! Hahahaha!" gelak Ana membahana.


__________


"Sayang, are u okay?" Tanya Aidyn pada Ace. Wanita ini nampak khawatir terhadap keadaan dari suaminya.


Hari ini ia melihat keadaan Ace yang seperti sangat ketakutan. Terbukti dari banyaknya peluh yang membasahi wajah pria paruh baya yang masih tampak gagah. Apalagi semenjak, Orion menyembuhkan cacat permanennya.


"Nampaknya kita semua terutama untuk seluruh Akademisi penyihir harus bersiap menyambut serangan besar. Musuh di luar sana sedang menyiapkan strategi dengan rencana mereka yang sangat serius. Makhluk yang beberapa waktu lalu mengintai kita, bukanlah makhluk sembarangan. Sepertinya tanpa sengaja portal dimensi lain terbuka," ungkap Ace jujur.


"Aku pernah membaca sejarah di buku kuno, bahwa ada jenis makhluk legendaris yaitu naga biru berapi ungu. Dengan ekor yang mampu mengeluarkan racun mematikan. Akan tetapi makhluk tersebut tidak terdapat di dunia kita akan tetapi tersimpan pada dimensi lain. Aku tidak mampu membayangkan betapa mengerikannya jika makhluk itu bersekutu dengan makhluk ciptaan profesor gila. Akan jadi apa dunia ini?" gusar Aidyn dengan segala spekulasinya.


Seketika suasana di aula utama menjadi riuh dan ricuh di antara beberapa akademisi. Beberapa dari mereka menciptakan beberapa spekulasi dan pendapat.


Juga terdapat keraguan dari kekuatan yang mereka miliki saat ini. Mereka merasa tidak sanggup untuk menjaga keseimbangan dunia saat ini. Jika makhluk berjenis naga legendaris yang berasal dari dimensi lain itu bisa masuk, ada kemungkinan jika ada makhluk lain juga yang telah menembus dunia mereka.


Ace mengungkapkan semua ini bukan untuk menakut-nakuti kalian! Bukan juga untuk melemahkan nyali kalian!" seru Aidyn, dengan suara yang lantang hingga mampu membaut semua mulut bungkam.


"Tak ada yang perlu kita khawatirkan. Sekarang lebih baik kita pikirkan bagaimana memperkuat pertahanan dari akademisi dan juga markas ini. Karenanya aku minta, berlatihlah lebih keras lagi buat pertahanan diri serta kelompok yang lebih kuat lagi!" seru Orion menengahi.


"Mereka saja mampu memata-matai kita, maka aku juga akan mengirim mata-mata untuk menyelidiki markas mereka." Sontak penjelasan dari Orion pun menenangkan kericuhan yang terjadi pada kumpulan malam itu.


Setelahnya, Ace dan Aidyn membubarkan perkumpulan. Kedua pasangan suami istri ini memanggil Orion dan juga Flyod untuk ikut masuk ke dalam ruangan khusus.


"Heh, gadis kucing, kau mau ke mana?" Cegah Beatrice kepada Luna yang juga ingin ikut mereka berempat.


"Kenapa, memangnya kita tidak boleh ikut? Aku kan juga ingin tahu ... apa rencana dari ketua!" tukas Luna membantah larangan dari Beatrice.


Ia masih tidak menyukai wanita seksi yang sudah selangkah lebih maju darinya. Maju, untuk mendapatkan hati sekaligus raga

__ADS_1


Orion itu.


"Tunggu saja di sini jangan berlaku gegabah dan di luar perintah! Bisakah kau menjadi gadis penurut sekali saja?" sergah Beatrice seraya mencengkeram lengan gadis kucing tersebut.


Luna, menyeringai sampai memperlihatkan taringnya. Ia sangat tidak suka jika ada yang mengatur- ngatur dirinya.


"Lepaskan tanganmu dariku! Kau tidak berhak mengatur apalagi melarang ku! Jangan karena bagian markas Akademisi ini adalah peninggalan dari orang tuamu, lalu kau bisa bertindak arogan dan seenaknya kepada anggota lain. Apalagi anggota itu bukanlah manusia murni sepertimu!" sarkas Luna penuh emosi.


Beatrice, seketika terkesiap. Dirinya kaget karena gadis kucing di hadapannya berteriak begitu emosi kepada dirinya.


Beatrice tak habis pikir, kenapa Luna bisa semarah itu? Ia hanya bermaksud memperingati saja, tapi kenapa sorot mata dari gadis kucing seakan menyimpan kebencian dan dendam terhadap dirinya.


"Kenapa kau, bisa beranggapan seperti itu? Aku tidak pernah mengucilkan keadaanmu. Aku juga tidak pernah mengungkit asal usulmu. Apa yang membuatmu begitu marah sehingga dengan begitu mudahnya menuduhku seperti itu?"cecar


Beatrice, berusaha mengulik isi hati Luna yang sebenarnya.


"Kau mana merasa, karena cuma aku yang bisa merasakannya!" jawab Luna masih dengan nada tinggi.


"Kalau begitu berarti itu semua hanyalah perasaanmu saja! Mana bisa hal itu menjadi sebuah tuduhan sama sekali tidak mendasar kau tahu!" Beatrice, tersenyum miring. Nampaknya ia kembali memenangkan perdebatan kali ini.


"Kau ini, nyatanya memang masih kecil. Cara berpikirmu itu, kekanakan!" ledek Beatrice lagi.


Duarr!


Sungguh pernyataan dari Beatrice menohok sudut hati Luna begitu dalam. Pikiran gadis itu seketika terbuka lebar. Luna tersadar jika tingkah lakunya selama ini memang benar masih terlalu kekanak-kanakan.


"Kau yang seperti ini, masih yakin ingin bersaing denganku? Yang benar saja." Beatrice berlalu dengan senyum temennya ke arah Luna.


Wanita itu merasa menang di atas gadis kucing.


"Silakan kau merasa menang dariku, Beatrice," gumam Luna menahan geram.


"Ingat Luna, apa kata Mommy," gumamnya lagi dengan desah pasrah.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2