System Magic Power

System Magic Power
Bab#54. Kembali Dengan Ramuan Ajaib.


__ADS_3

Tiga hari setelahnya, Philip membawa sebotol ramuan ajaib ke hadapan Orion. Pemuda itu sudah bekerja keras di bawah sana, bahkan tidak keluar dari ruangan itu sama sekali.


Dari setiap botol potion atau ramuan yang pernah Orion lihat di ruangan bawah tanah, Psyche adalah ramuan ajaib yang memang memiliki keunikannya sendiri.


Tidak seperti ramuan yang lain, pemuda itu menggunakan botol kaca berbentuk bulat jika dilihat sekilas, namun memiliki motif timbul yang lebih mirip seperti tengkorak.


Entah kenapa Orion di buat merinding setelah menggenggamnya, bukan karena ia merasa takut atau apa, tapi selera pemuda ini benar-benar nyentrik.


Botol kaca tengkorak berwarna hitam untuk sebuah ramuan kematian, bukankah itu terlalu mencolok?


Menelan sendiri semua pemikiran itu, Orion pun menjabat tangan sang Alchemist sebagai tanda syukurnya. “Terima kasih, Phil. Terima kasih karena telah menyanggupi permintaanku. Aku tidak akan melupakan ini, kau memiliki akademi dan diriku untuk mendukungmu di masa depan.


Phillip mendengus dan tertawa kecil, tak ayal wajahnya juga merona senang. “Jangan menyuapi egoku seperti itu, aku senang bisa membantumu. Lagipula, ini tidak seperti aku memberikannya secara gratis. Kau ingat dengan perjanjiannya, 'kan?”


Orion pun tergelak, tak habis pikir. “Tentu saja, kau bisa tenang dengan hal itu. Mari kita membicarakan jadwal pengirimannya nanti, aku harus segera pergi dan memberikan ini kepada istriku," ucapnya seraya melirik botol di tangannya.


“Baik, pergilah.” Philip dengan senang hati mengusir pria gagah nan tampan yang berdiri dengan tampang jauh berbeda ketika dia datang beberapa hari yang lalu.


“Berkunjunglah ke akademi kapanpun kau mau, aku akan membuka pintunya lebar-lebar untukmu," ucap Orion lagi.


Pemuda melipat kedua tangannya di atas dada sambil menatap dengan satu alis terangkat. “Apakah Tuan Ketua sedang mengundangku secara resmi saat ini?” ledeknya.


“Tidak, aku mengundangmu sebagai temanku.”


Kali ini giliran Phillip yang tergelak sambil memegangi perutnya. “Cih, memangnya siapa yang mau menjadi temanmu?” cibirnya.


Orion tidak menanggapi, ia hanya memberi salam terakhir kemudian langsung melesat terbang dan pergi. Phillip menatap kepergiannya sambil tersenyum.


“Dasar orang aneh, aku tidak pernah menyangka bahwa Orion Nebula yang terkenal itu ternyata memiliki hati yang hangat seperti ini. Yah, semoga semuanya berjalan dengan lancar,” monolog Philip sebelum dirinya masuk ke dalam dan menutup pintu.


Orion langsung mengarahkan tongkat sihirnya kefepan hingga tercipta lingkaran teleportasi berwarna keemasan. Pria itu pun masuk kedalamnya, hingga dalam waktu sepersekian detik ia telah sampai di depan gerbang Akademi.


Lalu begitu ia sampai, pria itu ingin segera menemui istrinya apabila, Ace tidak terlebih dulu memanggilnya.


“Kau baru kembali?” tanya mantan ketua akademi ini.

__ADS_1


Orion hanya mengangguk.


Ace pun menepuk bahunya dua kali dan berkata dengan pelan, “Cepat bersihkan dirimu lalu datang ke aula pertemuan. Aku memiliki suatu hal penting yang mesti didiskusikan."


Hal itu membuat Orion lantas menghembuskan napasnya pasrah, “Baiklah, aku mengerti.” Wajah Ace terlihat begitu serius untuk ia bantah.


Mungkin, menunda pengobatan bagi Ana selama beberapa saat sepertinya tidak akan menimbulkan apa-apa.


Begitu pikirnya.


Dua orang yang tengah mengawasi dari balik tembok saling memberi isyarat.


Beatrice meminta Flyod untuk tetap berada dalam posisinya mengawasi Orion dan Ace.


Pria berambut merah macam Beatrice itu setuju saja tanpa menaruh rasa curiga sama sekali, ia senang bahwa wanita yang ia cintai itu, sekarang lebih memilih untuk mempercayai dirinya daripada ketua mereka.


Sementara saat ini, wanita berambut menyala bak lahar, sekarang sedang menyusup ke ruangan kerja Orion, mencari keberadaan dari Psyche.


Beatrice telah memasang kamera penyadap di ruangan itu ketika Orion pergi demi hal ini. Ketika wanita itu menemukannya, ia segera memindahkan Psyche ke botol kosong yang telah ia siapkan dan mengisinya kembali dengan ramuan yang ia dapatkan dari seorang Alchemist, ramuan yang kandungan dan efeknya jauh bertolak belakang dengan apa yang dijanjikan oleh Psyche.


Setelah itu, Beatrice buru-buru pergi dan masuk ke dalam ruangannya sendiri. Ia berteriak senang, dan dalam waktu yang bersamaan juga menangis kencang seperti orang yang sudah kehilangan akal.


Beatrice akan dengan senang hati menunggu waktu dimana dunia berada di pihaknya, menginginkan kebinasaan wanita itu dari muka bumi.


Di dalam ruangan Ace.


“Kemana saja kau pergi belakangan ini? Kau menghilang selama hampir satu pekan tanpa bisa dihubungi sama sekali, bahkan telepatiku tidak bisa menjangkau kamu. Sejauh apa kau pergi?” Ace segera menembak Orion dengan begitu banyak pertanyaan yang membuat lawan bicaranya merasa pening seketika.


“Aku memiliki urusan pribadi," jawab Orion acuh tak acuh yang membuat Ace merasa sangat geram.


“Orion, tolong ingatlah fakta bahwa kau adalah seorang Ketua saat ini. Bagaimana mungkin seorang ketua tidak ada saat dia dibutuhkan? Bagaimana mungkin seorang ketua memilih pergi untuk mengurus urusan pribadinya daripada Akademi? Dimana tanggung jawabmu?” marah Ace.


Orion seketika merasa bersalah, tapi tak mungkin baginya untuk berbicara jujur saat ini. “Tidak, aku tidak bermaksud begitu," jawabnya sekedar membela diri.


“Lalu apa? Kau tahu betapa paniknya aku ketika aku mengkonfirmasi jejak keberadaan Drake dengan kedua mata kepalaku sendiri? Bagaimana jika dia tiba-tiba menyerang dan kau tidak ada disini?”

__ADS_1


Orion menerima semua omelan itu karena ia merasa layak untuk mendapatkannya.


“Maafkan aku, Ace.”


Ace pun menghela napasnya. Percuma ia mencecar Orion saat ini.


“Sudahlah, bagaimana dengan keadaan istrimu? Apakah tidak apa-apa untuk meninggalkannya seperti itu?” tanya Ace mengalihkan topik.


Hal itu membuat Orion langsung teringat, ia harus segera memberikan Psyche kepada Ana sekarang juga sebelum semuanya menjadi semakin rumit.


"Aku harus pergi menemuinya, Ace. Sekali lagi maafkan aku!" Orion pun melesat dengan cepat.


Setelah itu Orion segera mengambil Psyche dari dalam ruangannya lalu pergi menuju tempat dimana ia mengurung Ana dalam bola cahaya.


Wanitanya itu terlihat lemas, Orion merasa hatinya seolah teriris melihat pemandangan ini. Pria waras mana yang tahan melihat wanitanya mengalami penderitaan seperti ini? Ia benar-benar menginginkan Ana untuk sembuh dan kembali ke dalam pelukannya seperti sedia kala.


Pria itu melepaskan kuasa dari bola cahaya yang memerangkap Ana tapi tetap mengukung kedua tangannya untuk menghindari resiko apapun.


Ana, memandangnya dengan tatapan yang kosong. “Apa kamu mau membunuhku sekarang?” tanyanya dengan suara yang begitu serak dan lemah.


Orion menatapnya dengan sendu, “Mana mungkin aku membunuh wanita yang kucintai dengan sepenuh hati.”


“Kamu pergi begitu lama, kupikir para manusia itu sudah kehabisan suara mereka dan tak bisa lagi menggonggong. Apakah mereka telah menyerah dan tidak lagi menginginkan kepalaku?”


Orion mendengus, ia memeluk Ana dengan lembut. “Berhenti bicara seperti itu. Tidak ada yang ingin kamu mati, dan meskipun mereka berpikir demikian, aku tidak akan pernah menjadi salah satu di antaranya. Aku ingin kamu hidup, kembali bersamaku lagi seperti sebagaimana mestinya kita berdua. Aku merindukanmu, Ana.”


Anastasya, merasa seperti kedua bola matanya memanas. Ia ingin menangis, tapi sesuatu di dalam dirinya tidak mengizinkan hal itu. Wanita ini sesungguhnya sedang bertarung dengan kesadarannya sendiri.


Orion langsung mengeluarkan sebotol Psyche dari balik saku jubahnya. “Minum ini dan kembalilah ke pelukanku.”


Anastasya pasrah dan menenggak semuanya, separuh dirinya bahkan sudah tidak peduli jika cairan yang baru saja ia telan merupakan racun yang membunuh.


Tetapi di lain sisi, ia memiliki keyakinan tipis bahwa pria yang tengah memeluknya ini tidak akan pernah melakukan itu kepadanya. Entahlah, hati kecilnya berpikir demikian.


Setelah cairan itu berhasil masuk ke dalam tubuh istrinya, Orion langsung menghancurkan botol yang berada di tangannya menggunakan sihir untuk menghilangkan jejak dan kembali memeluk Ana dengan erat.

__ADS_1


Lama kelamaan, tubuh wanita itu melemas dan dia kehilangan kesadaran.


...Bersambung ...


__ADS_2