
Trang!
Tangkisan yang dilemparkan melalui kuasa sihir oleh Orion mengakibatkan lesatan kuku laksana pisau itu bermentalan ke segala arah. Aidyn mendapat sedikit goresan pada bahu, begitupun dengan Ace.
"Serangannya bahkan mampu menembus pertahananmu, Ai," kata Ace yang heran dengan kekuatan yang dimiliki oleh Ana. Dirinya kala itu belum sempat mendalami secara intens untuk dapat memindai, pembentukan sel yang sebenarnya dalam tubuh Ana.
Dirinya mencoba mempercayai intuisi yang dirasakan oleh Orion. Iron hanya tak ingin mengganggu perasaan bahagia yang seketika datang menghampiri ketua baru akademi sihir tersebut.
Dirinya memahami bagaimana perasaan
Orion kala itu. Ketika perasaan rindumu selama yang menumpuk dan terpendam. Di saat harapanmu telah pupus dan musnah termakan oleh waktu. Tiba-tiba sejuta harapan itu hadir bersama takdir yang tidak dapat ia duga sama sekali.
Karena dapat bertemu kembali dengan seseorang yang sudah kita anggap pergi untuk selamanya itu adalah hal yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Ace, sesungguhnya dapat memaklumi euphoria dalam hati Orion pada saat itu. Sehingga sang pemimpin akademi ini sedikit lengah untuk dapat menyelidiki lebih dalam. Sehingga ia menaruh kepercayaan itu terlalu jauh.
"SEBAIKNYA KALIAN SEMUA MENYERAH DAN JADILAH PENGIKUT KU! AKU LAH SATU-SATUNYA MAKHLUK TERKUAT DI JAGAT INI!" seru Anastasya dengan suaranya yang menggelegar.
Suaranya tidak mengisyaratkan sebagai suara wanita lagi. Akan tetapi begitu berat dan serak serta dalam.
Seperti ada yang merasuk ke dalam diri wanita itu.
Bahkan tawanya mampu membuat langit-langit bangunan bergetar.
"KAU, MENYERAH LAH. DAN JADILAH PASANGANKU YANG MENURUT. KITA BERDUA PASTI AKAN MENJADI RAJA DAN RATU DEWA TERKUAT!" teriak wanita itu lagi.
Tawanya begitu menyeramkan. Aura di sekitar seketika begitu mencekam. Entah apa lagi kuasa dan kemampuan yang ia miliki.
Jika saja, yang pada saat ini tertawa menggelegar itu bukanlah Ana, sosok wanita yang begitu dikenal dan sangat dirindukan oleh Orion.
Mungkin pria dengan rambut coklat sebahu ini takkan menahan segala rasa membuncah dalam hatinya ini, akan menghabisi nyawanya tanpa berpikir panjang lagi.
Takdir apa ini kenapa seakan-akan mempermainkan dirinya. Kenapa ia seakan-akan dibuat terus menerus tertekan di dalam situasi yang sangat tidak ia sukai.
Melihat seseorang yang ia sangat sayangi terluka di depan mata kepalanya sendiri sudah cukup membuatnya, tersiksa dalam sesal lantaran ketidakberdayaan.
__ADS_1
Apalagi jika dirinya diharuskan melukai dengan kedua tangannya sendiri. Entah bagaimana kehidupannya ke depan nanti. Apakah ia masih mampu untuk bertahan hidup. Kemudian berjalan dengan tenang di atas muka bumi ini. Sementara kedua tangannya telah kotor penuh noda darah karena telah menghabisi seseorang yang berarti dalam hidupnya.
"ARRGHHH!!"
"KENAPA KAU MEMBUAT KU BERADA DALAM SITUASI SULIT SEPERTI INI, Ana!" pekik Orion, frustrasi.
Pria itu menggeram, seraya mengepalkan kedua tangannya agar tidak melancarkan serangan balasan secara reflek.
"AKU MEMBUAT PILIHAN YANG MUDAH UNTUKMU! KAU SENDIRI YANG TELAH MEMBUAT PILIHAN SULIT ITU! HAHAHA!" Ana kembali tertawa dengan kencang, hingga beberapa plafon runtuh.
Bruukkhh!
Blamm!
Orion kembali mengeluarkan cahaya dari tongkatnya untuk membuat perisai, sebagai hadangan serta halangan dari reruntuhan bangunan.
Ternyata, perisai yang diciptakan oleh Orion membuat Ana seketika terpental jauh ke belakang.
Ternyata dorongan kekuatan yang Ana lemparkan ke arah Orion justru berbalik ke arah dirinya sendiri.
Sehingga kekuatan itu memukul mundur dirinya sampai jauh hingga menabrak apapun yang berserak.
"JANGAN MEMBERIKAN PILIHAN YANG SULIT UNTUKKU!" teriak Orion bernada frustasi. Ia meneriaki Ana yang tengah mengusap darah di ujung bibirnya yang sobek. Tak lama kemudian, Ana pun memuntahkan darah segar kehitaman dari mulutnya.
Seruannya barusan, menghentikan gerak langkah dari kaki cantik tasya seketika.
Setelah memuntahkan darah, yang bahkan mengenai rambut panjang ber warna keunguan yang menjuntai ke depan wajahnya.
Orion sungguh nampak tidak tega. Ia kelepasan ketika mengeluarkan tenaga tadi. Sehingga, wanita yang teramat ia cintai ini harus terpental dengan cepat dan keras.
Ana kembali menyeka darah dari mulutnya kemudian ia melangkah dengan perlahan ke arah Orion.
Suami mana yang tidak sesak, ketika mendapati bahwa musuh yang harus dihadapinya bahkan kemungkinan besar harus ia habisi demi keselamatan manusia lainnya. Namun ia mendapati jika musuh besarnya ini adalah wanita yang kebetulan menyandang predikat sebagai istrinya.
Anastasya memasang senyum manis yang mengalahkan gula biang, wanita itu mengedipkan mata seraya memiringkan kepalanya.
__ADS_1
Kedua mata besarnya yang terus berkedip itu, terkesan bahwa tidak pantas jika dalam jadi wanita ini terdapat naluri membunuh yang luar biasa.
Ana, menggerakkan jari telunjuk ke arah bibir ranumnya yang penuh merekah, lalu menggigit ujung telunjuknya itu sensual, seraya menatap Orion dengan penuh arti.
"Aku menyukaimu! Bahkan candu terhadap aroma yang terdapat pada tubuhmu. Kau nampak begitu menawan apalagi ketika sedang mengamuk." Ana berkata sambil berjalan perlahan menghampiri Orion.
Sontak Orion pun bersiaga dan mundur perlahan. Tatapannya awas akan tindakan selanjutnya yang kemungkinan akan dilakukan oleh Ana.
Wanita ini sengaja memancingnya, akan tetapi Orion tidak ingin dirinya sampai kelepasan lagi seperti tadi. Orion bahkan berkata pada dirinya sendiri bahwa kedepannya dirinya harus dapat mengontrol emosi dan juga kekuatannya dalam menghadapi Ana.
Benar saja, Ana yang tenaganya telah terkumpul kembali itu langsung mengarahkan kembali serangannya dengan cepat ke arah Orion.
Dalam pikiran Ana saat ini, Orion adalah musuhnya dan akan selamanya seperti itu. Kecuali jika pria ini berada dalam kendalinya.
Ana hanya mengira jika Orion selama ini berbohong kepadanya. Mengaku sebagai suaminya kemudian menganggapnya sebagai istri yang telah hilang selama bertahun-tahun.
Menceritakan bagaimana keduanya memiliki seorang anak yang bernama Crux. Seorang anak laki-laki yang berpipi chubby dan berbadan gemuk.
Ingin rasanya pada saat ini
Orion menghampiri Ana lalu kemudian memeluk istrinya itu.
Menenangkan jiwanya menjelaskan padanya bahwa dulu dirinya memiliki hati yang sangat baik dan lembut tidak pernah sedikitpun berniat menyakiti orang lain.
"Aku harus berbicara kepada Orion, Ai, tapi posisi kita terlalu jauh." ucap Ace pada Aidyn yang juga sedang memulihkan tenaganya.
"Jika kau memang ingin menghentikan ku maka janganlah ragu-ragu, tampan! Keluarkan seluruh kekuatanmu, dan lawanlah Aku secara jantan!" Setelah mengatakan hal itu Ana pun kembali melesat dengan cepat menuju ke arah Orion yang kini masih menerawang mengenang masa lalu.
Seketika kesadarannya kembali, di waktu jarak antara dirinya dan Ana hanya tinggal beberapa jengkal lagi.
Ujung belati yang runcing di mana benda tersebut keluar dari telunjuk Ana melesat dengan cepat.
SREETT!!
"Akh!"
__ADS_1
"Ana ...,"
...Bersambung ...