
Karena Itu hanya akan menimbulkan kerugian di pihaknya dan keuntungan di pihak lawan, tidak mungkin baginya untuk menciptakan resiko yang sebodoh itu.
Beberapa langkah, Orion dihadang oleh begitu banyak laba-laba bersayap. Karena tidak ingin menciptakan keributan tak berarti, ia hanya melawan hewan-hewan aneh itu dengan tangan kosong hingga semuanya terkapar tak berdaya kemudian kembali melangkah maju.
Tak sadar dirinya telah berjalan begitu jauh, Orion mendapati dirinya berada di jalan buntu. Ia pun menambah daya pada ujung tongkatnya agar menyala lebih terang, tidak percaya bahwa gua ini hanyalah gua panjang yang tak berpenghuni.
Terlalu aneh baginya untuk percaya, ia yakin pasti ada lubang tersembunyi di sekitar sini. Setelah meraba-raba sekitar selama beberapa saat, pria itu akhirnya mengerang kencang begitu menemukan sebuah pintu batu yang dapat digeser.
Pintu ini sangat besar dan berat, tidak mungkin makhluk atau monster rendahan yang membuatnya.
Ia bahkan ragu apakah mereka memiliki akal untuk membuat itu, tapi Burung Phoenix mungkin bisa.
Tanpa banyak berpikir lagi, Orion pun segera masuk dan tercengang dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Gua ini … sepertinya tersambung ke dalam inti gunung berapi. Di depan matanya terbentang luas tanah bebatuan yang sesekali mengeluarkan uap, terasa hangat cenderung panas dan menyesakkan.
Sepertinya akan sangat susah bagi dirinya untuk melawan Burung Phoenix, habitatnya yang berada di dalam tempat panas seperti ini menandakan ia memiliki resistensi atau ketahanan terhadap suhu tinggi.
Orion ragu jika kemampuan sihir tertinggi yang
ia, miliki tak mampu menyaingi kekuatan Mahkluk ini.
Orion melangkah untuk melakukan observasi terhadap tempat ini terlebih dulu, begitu luas dan memiliki banyak lubang maupun sudut yang tersembunyi.
Ia berpikir mungkin tempat-tempat itu adalah tempat dimana Burung Phoenix menyimpan cadangan makanan dan telur-telur mereka. Mungkin akan lebih mudah baginya untuk mencuri bayi Phoenix yang baru menetas dan mengambil paruhnya, tapi rencana Orion adalah untuk sekaligus membunuh sang induk demi mengincar sumber kuasa dari bangkainya nanti.
Bahkan setelah dirinya berputar-putar di tempat ini, masih tidak ada tanda-tanda kehidupan Burung Phoenix.
Dari dalam hatinya Orion sungguh mengakui kehebatan monster ini, kecerdasannya benar-benar patut diacungi jempol.
Tidak heran jika mereka mampu bertahan hidup sampai beberapa ratus tahun menimbang kebiasaan mereka yang hidup mengisolasi diri dari dunia luar.
Terlalu individualis, sebenarnya. Ternyata monster pun ada yang seperti ini, pikir Orion berdecak kagum.
Karena ia tak mau lagi membuang-buang waktu, Orion pun berpikir untuk membuat keributan. Setiap sudut yang terlihat di depan matanya, Orion kacaukan dengan serangan sihir dari ujung tongkatnya, sehingga menciptakan suara yang bergemuruh cukup kuat.
Secara logika, siapapun yang ketenangannya diganggu pasti akan kesal dan itulah momen yang ditunggu-tunggu olehnya.
Ia ingin Burung Phoenix keluar sendiri karena ia sudah muak mengendap-endap seperti pencuri.
__ADS_1
Berbagai serang dilancarkan, hingga tak lama kemudian, tanah itu bergetar. Orion pikir ini adalah pertanda gunung yang dipijakinya akan melakukan erupsi, tapi ia perlahan-lahan melihat di depannya bentangan bulu berwarna biru terang dengan garis-garis merah di pinggir.
Sayap itu sangat indah, Orion sungguh tidak bisa mengekspresikannya dengan kata-kata.
Setelah keseluruhan tubuh Phoenix muncul, satu yang Orion pikirkan adalah bahwa kecantikan monster ini seperti gabungan antara nirwana dan neraka.
Warna birunya yang bersinar meskipun gelap seperti langit di malam hari, dipadu dengan merah yang menggelegak seperti lahar yang mengalir, membuatnya menjadi monster yang lebih cocok apabila disebut sebagai hewan mitologi.
Jika monster ini ada di dunia manusia, mungkin mereka sudah disembah oleh orang-orang pada zaman dahulu kala.
Monster itu melihat sekitarnya yang dikacaukan oleh Orion, matanya membara, bercampur antara warna merah dan emas, berapi-api.
Ia kemudian melihat presensi Orion yang telah melakukan kuda-kuda, dengan sebuah tongkat mengacung ke depan, bersiaga dari tekanan monster di hadapannya.
Burung Phoenix itu mengeluarkan suara keras, ia melengking karena marah. Kedua sayapnya yang begitu besar dan lebar dikepakkan kuat-kuat, menghasilkan benda-benda di sekitarnya berterbangan.
Orion bahkan sampai melompat mundur beberapa puluh meter untuk menghindari damage-nya.
"Ah, tenaganya besar sekali," decak Orion.
Burung Phoenix itu masih belum berhenti mengepakkan sayapnya dan menciptakan kerusakan lebih besar sehingga bebatuan dari atas berjatuhan.
Pria yang sempat kehilangan fokusnya itu terkejut dengan serangan tiba-tiba dan kehilangan keseimbangan, ia terlempar dan tersungkur dengan keras.
Uhukk!
Seteguk darah kental keluar dari dalam mulut Orion.
Beruntung, ketika burung itu menyerangnya,
Orion tidak benar-benar kehilangan seluruh fokusnya sehingga ia bisa menghindari damage yang besar.
Ukuran burung itu dua kali lebih besar dari tubuhnya, dan semakin besar ketika dia melebarkan sayapnya.
Uhukk ... uhukk!
Orion kembali terbatuk-batuk lantaran debu yang membumbung di sekitar tubuhnya, ia mengutuk kecerdasan otak Burung Phoenix yang jelas-jelas menimbulkan kerugian di pihaknya.
Pada titik ini, bahkan jika monster ini dapat berbicara Orion mungkin tidak akan terkejut lagi.
__ADS_1
“KENAPA, MANUSIA RENDAHAN SEPERTIMU BERANI-BERANINYA MENGACAUKAN RUMAHKU!!!”
Sialan.
Orion kejengkang lantaran kaget.
Sumpah ia akan menarik lagi kata-katanya barusan.
Ia terkejut bukan main.
Kalau boleh jujur mengaku, ia justru kaget setengah mati dan hampir tersedak dengan ludahnya sendiri!
“Brengsek, kau–kau ... bisa bicara?”
Burung Phoenix kembali melengking marah.
“KATAKAN APA TUJUANMU SEBELUM AKU MEMBUNUHMU!!!”
" Aku sungguh tidak menyangka, selain memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, monster ini bahkan mampu untuk diajak bicara. Apakah mungkin bagiku untuk bernegosiasi dengannya?" batin Orion.
Ah, tidak. Thunder harus membunuhnya untuk mengumpulkan kuasa.
DUARRR!
Orion memutuskan mengangkat tongkatnya, lalu menyerang burung Phoenix tanpa aba-aba.
Setelahnya Orion melesat ke belakang, kemudian melayang di udara. “Apa kau pikir aku jauh-jauh pergi kesini untuk berbicara denganmu? Jangan narsis, dasar monster!” pekik Orion dengan seringainya.
Sungguh mengejutkan.
Serangan Orion barusan ternyata tidak menyebabkan kerugian apapun pada tubuh Burung Phoenix, sepertinya ia terlalu ragu-ragu tadi. Sehingga teknik sihir yang ia keluarkan hanya sebatas medium.
"Gila! Mahkluk apa yang sedang ku hadapi ini. Bahkan seranganku barusan tidak berefek apapun padanya," geram Orion.
“KAU PIKIR ... KAU MAMPU MEMBUNUHKU? MANUSIA LEMAH!!"
Suara itu sangat memekakkan telinga, tidak nyaman untuk didengar. Nadanya begitu melengking namun juga serak di waktu yang bersamaan, mirip seperti mikrofon yang sedang mengalami kesalahan teknis sehingga semua orang harus menutup kedua telinga mereka.
...Bersambung....
__ADS_1