System Magic Power

System Magic Power
Bab#55. Ingatan Ana.


__ADS_3

Ia lalu membawa Anastasya menuju kamarnya, kemudian meletakkannya di atas kasur.


Membersihkan wanita itu, memakaikannya baju baru yang sangat lembut dan nyaman, menyisir rambutnya dengan begitu pelan dan hati-hati, menyemprotkan wewangian yang dulu begitu disukai Ana lalu menyelimuti dan ikut tidur di sampingnya.


Seketika, pria berusia 30 tahun itu merasa lelah dalam satu pekan yang ditahannya selama ini menghampirinya secara bersamaan.


Tubuhnya pegal, matanya berat, dan bibirnya terasa begitu kering. Orion sekali lagi menatap


Ana selama beberapa saat sebelum mengecup pipinya dan berkata, “Selamat beristirahat,” lalu memeluknya dan ikut terlelap.


Merasakan sesuatu di perutnya, Ana terbangun. Ternyata seseorang memeluknya dari belakang sepanjang ia terlelap, tangan itu begitu besar dengan jari jemari yang lentik.


Ia berbalik dan menemukan wajah tampan dari seorang pria berambut coklat gelap. Pria ini, suaminya, dia adalah Orion.


Ana pun bergerak pelan-pelan memindahkan tangan pria itu dari atas tubuhnya untuk bangun dan mengambil segelas air sebab tenggorokannya terasa kering. Tetapi kakinya menabrak sesuatu sehingga ia mengeluarkan suara, “Ah!” karena sakit.


Ah, dia membentur sebuah box bayi yang terbuat dari kayu Pinus.


Apa? Box bayi?

__ADS_1


Ana hampir saja melompat kaget. Beralih memandang wajah Orion yang terlelap dengan damai, menyadari bahwa rambut pria itu tidak menjuntai sebahu seperti terakhir kali dia lihat.


Apakah dirinya tengah bermimpi? Atau kembali ke masa lalu?


Ana kemudian teringat saat Orion, mengatakan bahwa dia adalah istrinya. Dimana pada saat itu, dirinya hanya mengiyakannya saja tanpa benar-benar percaya.


Tetapi apa yang dilihatnya saat ini entah mengapa terasa begitu familiar, seperti deja vu. Peristiwa dan kejadian yang sudah pernah ia lihat dan alami.


Kakinya melangkah menuju box bayi, melihat segumpal makhluk kecil yang begitu rapuh itu tengah tertidur dengan pulas sambil sesekali menggerakkan bibirnya seolah tengah menghisap sesuatu.


Tiba-tiba, wanita itu merasakan kedua matanya panas dan tanpa sadar kristal bening berjatuhan dari kelopaknya.


Ana kaget dan menadahkan kedua tangannya, melihat rintikan air mata yang berjatuhan kini semakin deras dan mengaburkan pandangannya hingga ia tidak bisa lagi melihat dengan jelas.


Wanita itu kemudian jatuh terduduk, sebelah tangannya merambat ke atas box bayi seolah mencari pegangan hidup. Ana pada saat ini merasa jika melepaskannya, maka ia akan runtuh dan tak bersisa.


Begitu lama dirinya menangis, namun baik Orion maupun bayi mereka masih tertidur dengan begitu pulas. Setelah Ana merasa puas mengeluarkan semua emosi yang membumbung di hatinya, wanita itu bangkit berdiri dan melangkah keluar dari kamar.


Sekali lagi, Ana merasakan hatinya kembali mencelos melihat betapa pria itu mencintainya.

__ADS_1


Ia mendambakan rasa cinta itu. Ia ingin merasakannya sekali lagi. Ia ingin kembali bersama Orion dan menjalin hubungan yang hangat seperti ini.


Begitu Ana hendak kembali ke kamarnya dan menuju ke dalam pelukan Orion, tiba-tiba dunia di depan matanya lenyap. Ia kini berada di dalam ruangan hampa berwarna putih, sendirian.


Wanita itu kemudian sadar bahwa kedua kaki dan tangannya ditahan menggunakan metal, bahkan mulutnya juga ditutup dengan sebuah perekat yang membuatnya tidak bisa mengeluarkan suara.


Ana merasa ketakutan, tubuhnya gemetaran dan ia menangis. Ia ingin Orion datang menyelamatkannya, ia merindukan sang suami, dirinya bahkan belum sempat memeluk anak mereka yang terakhir kali masih tertidur dengan tenang itu.


Pikirannya berkecamuk oleh semua dugaan dan kekhawatiran hingga seorang pria tinggi besar dengan taring di antara giginya. Pria itu mengenakan jubah serba hitam datang bersama seseorang di sampingnya.


Pria itu memanggil dengan sebutan Professor. Ana pun bergerak-gerak gelisah, suara teriakannya tertahan oleh perekat, ia ingin dibebaskan dan pergi dari sini.


Akan tetapi yang terjadi selanjutnya justru kesadarannya yang perlahan-lahan menghilang setelah dirinya di masukkan kedalam sebuah tabung kaca.


Ketika, Ana membuka mata, seorang Profesor yang terakhir kali dilihatnya itu sudah terbujur kaku lantaran luka bakar yang sedemikian hebat.


Ana melihat percikan api di mana-mana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2