
“Kenapa wajahmu kacau sekali?”
Luna dan Felix yang melihat kedatangan Ace langsung bergegas bangkit dari duduk mereka. “Dua moggart baru dibawa ke lab hari ini oleh Flyod dan Beatrice, dan Luna yang menangani mereka seperti biasa,”
Felix berinisiatif menjawab terlebih dulu.
“Dua moggart baru?”
“Benar, kudengar itu berasal dari distrik yang selama ini damai-damai saja. Mereka mendapat perintah langsung dari Ketua.”
Ace mengangguk, tangannya terjulur untuk mengelus kepala Luna, “Kerja bagus, sekarang beristirahatlah kalian berdua.”
Luna mengangguk dan tersenyum riang. Begitu Ace berjalan menjauhi keduanya, Felix menggantikannya mengelus-elus kepala Luna.
“Gadis Kucing, kamu sudah bekerja keras. Mau hadiah, tidak?” kelakarnya.
Luna pun menepis tangan Alfredo dengan main-main. “Kalau kamu benar-benar mau memberikanku hadiah, cukup belikan aku sushi salmon dari kedai yang baru dibuka di distrik Utara."
“Hanya itu?”
“Hu-um. Yang banyak, ya.”
Felix pun tersenyum. “Apapun untuk Kucing Betinaku.”
Luna langsung memasang tatapan berbinar.
_________
Sementara itu, Beatrice baru saja membersihkan dirinya. Ia kesal setengah mati begitu mendapatkan informasi bahwa Orion sedang tidak berada di kantor hari ini.
Terlebih lagi, tidak ada seorangpun yang tahu kemana perginya pria itu selain fakta bahwa dia melesat pergi malam-malam dengan pakaian serba hitam.
Seolah-olah pria itu memberikan tugas kepadanya dengan sengaja untuk menghindar dan pergi bahkan sebelum dirinya sempat kembali pulang.
Dengan sehelai gaun mandi yang membungkus tubuh seksinya, Beatrice berjalan ke sisi kasur dan membuka laci pada lemarinya.
Ia teringat sebuah kertas kecil yang terakhir kali ia curi dari ruangan pria itu, yang berisi tulisan kecil mencurigakan. Beatrice mengambil kertas itu dan menatapnya lamat-lamat.
Psyche.
Apa itu?
__ADS_1
Terdengar asing tapi juga familiar dalam waktu yang bersamaan. Beatrice merasa dirinya pernah mendengar sesuatu tentang hal tersebut. Psyche. Psyche. Psyche.
Wanita itu terus mengulang kata yang terdapat pada secarik kertas tersebut.
Ah???
Beatrice jatuh terduduk di atas kasurnya.
Bukankah itu adalah sebuah ramuan? Sebuah ramuan untuk membunuh spirit atau jiwa yang berada dalam tubuh seseorang, karena Psyche sendiri memiliki berbagai macam arti seperti 'kematian', 'roh' dan 'jiwa'.
Beatrice pernah mendengar cerita tentang seorang saudagar, manusia yang tubuhnya dihinggapi demon beast, seekor monster berkepala banteng yang kehilangan tubuhnya dan mengambil alih tubuh lemah manusia tersebut.
Berbagai macam kerusakan dilakukan oleh orang itu, bahkan memakan nyawa ribuan manusia yang tidak berdosa. Sebab manusia biasa yang lemah tidak dapat melawan apa-apa, mereka meminta bantuan kepada seorang Alchemist yang Beatrice sendiri tidak ketahui namanya siapa sampai sekarang.
Tetapi satu hal yang pasti, Alchemist yang satu ini pasti adalah orang yang begitu hebat sehingga mampu membuat ramuan yang mampu membinasakan parasit berupa demon beast yang haus akan darah tersebut.
Karena sejauh yang ia ketahui, belum pernah ada penyihir-penyihir lain yang sanggup membuat sesuatu dengan efek sedahsyat itu. Tidak heran jika harga yang diberikan begitu mahal, karena mungkin hanya ada satu Alchemist sehebat dia di dunia ini.
Akan tetapi, apa urusan yang Orion miliki dengan ramuan ini? Apakah pria itu hendak mendapatkannya dan saat ini tengah pergi untuk menemui Alchemist itu? Untuk apa pria itu membutuhkannya? Siapa orang yang hendak menggunakan ramuan itu? Apa yang sebenarnya sedang terjadi dan makhluk apakah yang hendak Orion basmi?
Beatrice merasa dirinya baru saja menemukan sebuah harta karun yang terkubur begitu dalam. Sebuah rahasia yang selama ini Orion telan seorang diri. Wanita itu memeluk tubuhnya sendiri, gemetaran, tapi bukan karena takut.
Beatrice gemetar akan sensasi bahwa dirinya mengetahui hal yang tidak ada orang lain manapun ketahui. Hanya ia, dan pria pujaan hatinya.
Anastasya.
Sosok wanita cantik berbahaya yang belum lama ini sempat mengamuk dan menyerang begitu banyak orang, termasuk Ace dan Aidyn sekalipun.
Beatrice sendiri bahkan sudah menaruh curiga akan fakta mengapa wanita itu hanya dikurung dalam bola berkekuatan sihir cahaya tersebut.
Beatrice pun bangkit, ia merasa dirinya tidak bisa bersantai sekarang. Ada banyak hal yang harus ia cari tahu dan kerjakan. Semua ini masih misteri, ia tidak bisa langsung percaya dengan pemikirannya yang berasal dari secarik kertas kecil saja.
Meskipun kemungkinannya ada, ia tidaklah sebodoh itu untuk menarik kesimpulan secara bulat dengan cara yang segegabah ini. Wanita itu pun langsung mendandani dirinya dengan apapun yang dilihatnya pertama dari dalam lemari dan kemudian keluar dari kamarnya untuk melakukan observasi.
Tetapi dalam tiap langkahnya itu, Beatrice tidak pernah bisa berhenti berpikir akan satu hal.
Mungkinkah dugaannya … benar?
_________
Saat ini Orion tengah beristirahat di sebuah penginapan sederhana setelah perjalanan jauhnya selama dua hari. Sambil menenggak minuman, mata pria berputar diam-diam untuk mengamati situasi.
__ADS_1
Bangunan itu seluruhnya terbuat dari kayu berkualitas tinggi, cukup besar dengan total sebanyak empat lantai. Lantai pertama yang merupakan kedai atau tempat makan dan juga untuk menjamu tamu, dan tiga lantai lainnya yang berisi kamar untuk pelanggan tidur maupun hanya sekedar singgah.
Tempat seperti ini adalah spot yang paling sempurna untuk bisa mendapatkan informasi-informasi kecil yang sebenarnya sangat berguna. Sebuah keputusan tepat baginya untuk mampir.
Dua meja di depannya, Orion mendengar tiga orang pria paruh baya minum-minum sambil bercengkrama. Ketiganya berbicara sayup-sayup, tapi telinganya dapat menangkap semua pembicaraan itu dengan sangat jelas.
“Kau tahu apa yang kudengar dari kurir kenalanku?” ucap pria satu.
“Apa? Jangan ceritakan tentang gosip murahan dari orang-orang yang merasa diri mereka hebat itu, aku tidak butuh."
"Ceritakanlah sesuatu yang hebat, yang besar!” pria dua menimpali.
“Tidak! Kali ini kau pasti akan menyukainya!”
“Cepat katakan tapi jangan keras-keras!”
Pria satu memajukan tubuhnya sehingga wajah mereka kini semua berdekatan, lalu ia berbisik, “Ada seseorang yang melihat naga berkepala dua hidup kembali.”
Deg!
Orion seketika tercekat mendengarnya.
“Naga berkepala dua? Keren sekali. Bagaimana caranya makan, apa dia harus makan dua kali lebih banyak daripada naga normal berkepala satu?”
Pria ketiga memukul kepala temannya itu. “Bukan itu yang harusnya kau pikirkan, bodoh! Tapi fakta bahwa ada seseorang yang melihat naga kembali, itu lebih penting!”
“Bukannya naga terakhir kali terlihat sudah sangat lama? Mana mungkin tiba-tiba muncul lagi begitu?” pria itu kembali bertanya sembari mengusap kepalanya yang kesakitan.
Pria yang memulai topik pembicaraan tersebut menaikkan bahunya dan menggeleng. “Aku juga tidak tahu. Tapi kabar ini lah yang belakangan begitu heboh dibincangkan oleh para kurir saat ini.”
Orion terdiam membisu.
Kurir disini bisa diartikan sebagai sekelompok orang-orang yang selalu bertransaksi secara gelap, saling mendistribusikan barang dan informasi yang begitu berharga maupun rahasia.
Mereka juga bukan hanya terdiri dari manusia biasa saja, banyak pula penyihir yang tengah berada dalam penyamaran termasuk dalam kelompok itu.
“Bukankah ini membingungkan, bagaimana bisa seekor naga terlihat dan tidak ada satupun kehebohan yang terjadi? Apakah kita masih bisa hidup dan minum bir seperti sekarang jika itu memang benar?!”
Ketiga pria itu termenung sesaat. Sementara
Orion kini merasa syok, ia tidak sangka bahwa ada orang lain yang sempat melihat naga yang berhubungan dengan Ana.
__ADS_1
Bersambung