
Orion pada saat ini sama sekali tidak berpikir bahwa 'Keparat' yang disebutkan oleh Philip adalah orang yang sama dengan yang ingin ia cari.
Mungkin lebih tepatnya, panggilan itu ditujukan kepada seseorang yang telah menciptakan ramuan berbahaya ini. Oleh karena itu, pria berambut coklat gelap itu bermaksud membawa penyihir muda ini ke kastil akademi untuk membereskan segalanya.
Termasuk untuk menemui Ace dan menjelaskan segala hal yang selama ini telah ia sembunyikan. Philip merasa dirinya telah dimanfaatkan dan hanya bisa pasrah saat diseret untuk menemui seorang penyihir kawakan yang mungkin memiliki usia dua kali lipat darinya.
Entah kenapa dia tak bisa menolak apapun perlakuan Orion padanya. Padahal sebelumnya belum pernah ada penyihir manapun yang bermain bertindak semena-mena begini.
Ace lantas terkejut mendengar cerita Orion padahal baru berjalan setengah saja.
“Jadi benar, naga itu sengaja memecah fragmen jiwanya karena dia sudah sekarat dan menanamkannya di perut istrimu agar bisa terlahir kembali dengan kondisi yang jauh lebih baik? Dia ... mungkin tidak pernah memperkirakan kehadiran Burung Phoenix yang membantu pihak kita dan akhirnya membuat naga itu mati sia-sia," ucap Ace dengan rona kaget yang sungguh kentara di wajahnya.
Philip sontak menatap kedua pria di hadapannya itu bergantian, kebingungan dengan apa yang baru saja ia dengar. “Hei, apa barusan yang ku dengar itu benar? Maksdnya ... burung Phoenix? Burung Phoenix membantumu? Apa maksudnya ini? Bukannya kau membunuhnya di gua itu?” cecar Philip bagaikan petasan uang dinyalakan dan meletus bersamaan.
Orion hanya baja menggeleng karena penyihir yang ia bawa sebegitu cerewet. Orion memperlihatkan cincin dimensi yang masih setia terpasang pada ibu jarinya. Hal itu tentu saja membuat Philip memekik tidak percaya, sambil menunjuk-nunjuk wajah Orion dengan heboh.
“Woaahhh ... Pantas saja, pantas saja! Sialan, kau!" Philip menepuk bahu Orion dengan keras. " Selama ini aku pikir kau sungguhan sangat hebat karena sanggup membunuh makhluk itu! Ternyata ... kau justru membuatnya jadi bawahanmu, bagaimana bisa?!” heran Philip dengan mulut menganga dan mata cerahnya yang membulat sempurna.
“Aku tidak membuatnya jadi bawahanku.” Orion berdecak, menyangkalnya. Ingin rasanya ia memukul mulut Philip dengan sepatu.
__ADS_1
Ace pun ikut bergabung ke dalam pembicaraan keduanya.
“Saat Burung Phoenix melawan Drake kala itu, aku bisa mengerti bahwa dia memiliki dendam pribadi terhadapnya, dan dendam itu memilki persamaan dengan apa yang terjadi kepadamu. Kurasa dia merupakan monster yang selain cerdas, juga melankolis,” katanya lalu terkekeh.
“Benarkah?” tanya keduanya bersamaan.
Terlihat, lucu.
Ace mengangguk. “Ya, bahkan dia mengucapkan itu dengan sangat lantang. Mengatakan untuk membalaskan dendam keluarganya, dan juga temannya, aku hampir menangis terharu saat mendengarnya," jelas Ace lagi.
“Wow, keren sekali ...!" Philip pun menoleh ke arah Orion, yang wajahnya sudah tidak berbentuk karena malu, sambil bertepuk tangan lengkap dengan kedua matanya yang berbinar.
Orion mengangguk lagi, entah sudah berapa kali dirinya mengangguk hari ini.
“Wow, hari ini harusnya tercatat sebagai legenda. Aku tahu Burung Phoenix tidak pernah tertarik untuk mengacau pada manusia, tapi mereka juga merupakan makhluk yang sangat sombong. Bagaimana mungkin dia bisa bersikap begitu bersahabat denganmu?”
Philip sungguh tak habis pikir.
Orion pun juga bertanya-tanya mengenai hal yang sama. Ia tidak menyangka akan menjalin hubungan kekerabatan bersama makhluk mematikan yang agung itu.
__ADS_1
“Apa mungkin, karena aku dan dia berbagi duka yang hampir sama?" gumam Orion, seraya menatap ke arah cincin unik yang melingkar di ibu jarinya.
Ace seketika teringat akan sesuatu. “Lalu kenapa Drake bisa lahir secepat itu? Setahuku, naga setidaknya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bertelur dan menetas?"
Orion dan Philip saling bertukar tatapan selama beberapa saat lalu beralih menatap Ace dengan wajah yang serius.
“Inilah yang ingin kami bereskan. Ramuan yang diberikan oleh Orion pada saat itu bukan ramuan milikku, cairan dalam botol itu sudah ditukar oleh seseorang. Kami berdua bisa mengetahuinya karena kami telah melakukan perjanjian spiritual," jelas Philip dengan menahan geram. Dia ingin tau siapa orang yang telah bermain mempermainkannya.
“Apa? Siapa yang sanggup melakukan hal sekejam itu? Bagaimana bisa?” Ace sungguh terkejut.
“Itu terjadi saat kita mengadakan pertemuan hari itu, terlebih lagi kita berdua melakukan pembicaraan pribadi selama beberapa waktu. Saat itu, aku dengan begitu ceroboh meninggalkan Psyche di dalam kantorku sehingga seseorang memiliki kesempatan untuk menukarnya,” jelas Orion terperinci.
Ace merasa marah setelah mengetahui bahwa orang itu merupakan salah satu Akademisi.
“Maafkan aku, kebodohan serta keegoisanku telah memakan begitu banyak korban jiwa. Aku bersedia untuk menebus dosaku kepada mereka, berikan aku hukuman apapun setelah masalah ini selesai," ucap Orion tulus.
Pria itu bahkan membungkuk ke arah Ace hingga tubuhnya membentuk sudut siku-siku. Ace pun membiarkannya dalam posisi itu selama beberapa saat. Karena bagaimanapun juga, pria di hadapannya ini juga tidak bisa dikatakan tidak bersalah.
“Sudah cukup, bangunlah. Saat ini yang harus kita lakukan adalah untuk menangkap pelakunya dan memberikan hukuman yang berat. Tindakannya sudah menyebabkan begitu banyak kerusakan, kerugian, dan juga korban jiwa dari para manusia yang tak tahu apa-apa," titah Ace setelahnya.
__ADS_1
...Bersambung ...