
"Wake up, Man!" panggil Felix dan Blactone bersamaan. Mereka ikut tegang menyaksikan bagaimana Orion begitu tersiksa dengan racun yang menjalar di tubuhnya.
Mungkin jika itu bukan Orion, atau jika itu mengenai mereka, pasti takkan bertahan sejauh ini lantaran membusuk karena efek racun yang memang membakar dan mematikan setiap sel-sel dalam tubuh.
"Aku sudah mengikat racun itu untuk tidak menjalar ke atas. Aku harus mempertahankan jantungnya agar tetap berdetak serta mengunci peredaran darahnya. Mungkin, kestabilan dari organ hati sedikit terganggu. Maafkan aku, hanya sebatas ini yang mampu kulakukan," lirih Luna penuh sesal.
Bahkan ia hampir menangis melihat keadaan Orion yang begitu menyedihkan. Seluruh tubuhnya biru dengan bibir yang kering pucat. Bahkan kedua mata Orion tidak dapat terbuka.
"Keadaannya sangatlah lemah, meskipun kesadaran masih belum pergi. Kita harus membawanya ke markas. Mungkin, Ace juga bisa membantu," ucap Felix memberi arahan.
Ia pun tak tega melihat pemimpin mereka tergeletak tak berdaya seperti ini. Seandainya ia bisa dan mampu, sudah pasti ia akan menolongnya.
Pria ini meskipun pernah berkelahi dengan Orion perkara Luna beberapa waktu lalu. Akan tetapi Felix tak menyimpan dendam sama sekali. Karena kehadiran Orion membawa kemajuan untuk semua penyihir.
Blactone yang kekar, membawa Orion di punggungnya. Lalu, Felix dengan kemampuan seadanya mencoba untuk berteleportasi.
"Mommy! Hurry up!" teriak Luna yang tak jadi masuk lantaran ingat pada ibu angkatnya itu yang tak lain adalah Aidyn.
Segera wanita paruh baya yang masih segar dan cantik itu melayang melesat ke atas bukit dengan kuasa sihirnya.
Tak lama, Aidyn datang dan membantu dengan kuasa sihirnya.
Luna menarik tangannya dan mereka berdua masuk berpindah tempat.
Di markas akademi.
"Apa yang terjadi dengannya! Katakan!" seru Beatrice mencecar Luna dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Akan tetapi, Luna menepis tangan Beatrice yang menekan kedua bahunya.
"Diamlah! Tidak ada yang bisa kau lakukan seandainya tahu pun!" sarkas Luna yang segera berlari memasuki ruang pengobatan.
"Gadis kucing menyebalkan!" Tak ayal Beatrice ikut juga mengekor di belakang Luna.
Hatinya berdebar kencang, seluruh tubuhnya gemetar kala melihat keadaan Orion yang begitu lemah.
__ADS_1
Di sana ternyata sudah ada Ace dan juga yang lainnya.
"Hanya kekuatan yang berasal dari dalam tubuhmu lah yang mampu mengeluarkan racun itu," ucap Ace pasrah.
"Aku ... argh!"
Orion melenting dan berteriak keras hingga seluruh urat pada tubuhnya menonjol dan membengkak.
Tubuhnya yang membiru dengan urat yang menonjol membuat penampilan Orion begitu menyeramkan.
Orion menyeringai dengan kedua mata yang mendelik. Dapat dibayangkan betapa rasa sakit yang tengah ia derita saat ini.
"Orion! Tubuhmu panas! Kami tidak bisa menyentuhmu! Kendalikan dirimu! Kendalikan kekuatan dari dalam tubuhmu, sebelum ... racun itu menyerang jantungmu!" titah Ace.
Aidyn pun ikut miris, hatinya ikut teriris melihat salah satu anggotanya menderita dan tersiksa seperti itu tanpa dapat mereka bantu sedikit pun.
Apalagi Luna dan Beatrice. Kedua wanita ini telah berurai air mata, tapi sebisa mungkin mereka tahan isak itu.
Bagaimana tidak, jika keadaan
Orion saat ini bagaikan orang yang tengah sekarat.
"Fokuskan diri mu pada kekuatan itu, Orion. Kami tau kau adalah yang terkuat. Bahkan dari seluruh anggota akademisi ini. Kau mampu mengesampingkan rasa sakit itu. Kami tidak bisa kehilanganmu. Itu tandanya, kau tidak boleh meninggalkan kami!" seru Flyod berusaha menyemangati kawannya itu.
Ia faham, jika musuh memang mengincar Orion , untuk melemahkan pertahanan akademi penyihir ini.
Melihat dan mendengar bagaimana seluruh anggotanya tak rela kehilangan serta takut jika ia menyerah.
Orion, dengan seluruh sisa tenaganya mencoba untuk memusatkan pikiran agar kuasa langit dan bumi merasuk kedalam tubuhnya.
Salah satu pahanya yang terkoyak, tiba-tiba sudah tidak lagi mengeluarkan darah hitam. Orion pun memejamkan matanya, tak lama kemudian seluruh tubuhnya bergetar. Hingga brangkar yang ia tiduri ikut bergerak-gerak.
"Hooaaaakkk!"
Orion berteriak kencang dan raganya melayang ke atas. Seluruh anggota mundur karena mereka tau akan ada hal besar yang akan terjadi. Sebab, Orion telah memanggil kuasa dari dua elemen yang ia miliki.
__ADS_1
Tak lama Kemudian ...
"Aaarrrggghh!"
Orion berteriak kala tubuhnya tersengat aliran laksana listrik. Pancaran cahaya itu keluar dari dalam tubuhnya. Kilatan berwarna keemasan itu mengelilingi raga Orion yang kini melayang di udara seraya membentangkan kedua tangannya.
Setelah itu, cahaya berangsur redup. Seiring tubuh Orion yang kembali ambruk ke atas brangkar.
Bruakk!
"Orion!" jerit Luna seraya menghampiri pria yang teramat ia sukai ini.
"Bangun! Kembalilah! Kau tidak boleh mati!" teriak Luna sambil terus menangis dan berteriak. Namun, ia tidak berani menyentuh raga Orion.
"Jangan berkata seperti itu! Dia tidak akan mati. Dia pemimpin kita yang terkuat, kau tau!" pekik Beatrice menampik ucapan Luna yang membuatnya takut.
Ia tidak akan sanggup menghadapi kenyataan jika Orion benar-benar tiada. Meskipun ia cukup tau betapa hebat racun dari dua dimensi itu. Jika yang terkena bukanlah pria yang pernah tidur dengannya ini, mungkin tubuh mereka sudah meledak dan hancur.
Di tempat lain.
Ana memasang senyum sinis di wajah cantiknya. Ia tenang ketika tau bahwa Drake akan kembali berevolusi menjadi lebih dan semakin kuat lagi.
Dengan begitu sebelah sayapnya akan tumbuh lagi. Ternyata perkiraannya benar, penyatuan mereka telah membuat perpaduan yang hebat. Bahkan, Ana merasa kekuatannya juga semakin bertambah.
Dirinya yakin, dengan kekuatan ini akan mampu menghancurkan aliansi dan menguasai dunia manusia. "Aku akan melangsungkan ras naga. Aku menyukai ras kalian, drake. Kita berdua pasti bisa memimpin dunia ini. Kau, tidak perlu kembali ke asalmu." Ana berkata pada Drake seraya menatap kedua mata sang naga yang telah kembali berwarna kuning.
Pertanda jika, naganya ini yang juga sebagai pasangannya, sudah melewati penderitaannya yang menyiksa.
"Kraaaaaa ..., kau telah menyembuhkanku, Ana. Aku berjanji, akan mengalahkan mereka semua setelah tenaga ku pulih kembali. Kita ... akan menguasai dunia," ucap Drake yang kini dapat bicara bahasa manusia.
"Tentu saja, nagaku sayang. Aku akan melahirkan anakmu. Dan kita akan membuat koloni baru untuk menempati dunia yang indah ini!" sahut Ana, lalu ia kembali menciumi naganya.
Pergumulan hebat pun kembali mereka lakukan di dalam gua yang luas dan hangat itu. Sebab, naga tidak suka gua yang lembab. Sebab itu, Ana menghias dan mendekorasinya agar Drake dan juga dirinya nyaman di tempat ini.
"Ana ... Kraaaa ...!" Sang naga legendaris yang perkasa mengerang kencang. Ketika benihnya kembali di semburkan ke dalam tubuh Ana.
__ADS_1
Wanita setengah manusia, setengah Animagus itu pun ambruk di atas raga Drake. Ia cukup lelah memainkan semuanya sendirian.
...Bersambung ...