System Magic Power

System Magic Power
Bab#37. Kau Harus Menghabisinya!


__ADS_3

Orion belum bisa bahagia dengan keadaan dunia yang seperti sekarang. Meskipun pria itu telah kembali menemukan istrinya yang telah lama hilang.


Orion juga nampak senang setelah mengetahui bahwa, Flyod dan Beatrice kembali menjadi pasangan. Pria itu berharap, Flyod dapat menjaga Beatrice agar tak lagi mengganggu hubungannya dengan Ana.


Bagaimana dengan Luna di gadis kucing? Orion memang menyayangi gadis itu. Perasaan sayangnya tentu masih ada. Tapi hanya sebatas kakak dan adik. Setelah, Ana kembali ke sisinya. Di dalam hati dan pikirannya saat ini hanyalah Anastasia Georgina seorang.


Pria itu tak peduli jika Ana pernah beberapa kali bercinta dengan berbagai mahkluk selain dirinya. Menurut, Orion semua itu lantaran Ana telah diambilnya memory ingatannya. Bahkan, kini Ana menjadi bukanlah manusia murni lagi.


Banyak hal yang dipikirkan dalam kepala pria itu. Apalagi, Ana tidak kembali sejak kemarin. Entah, bagaimana cara agar ia dapat menjemputnya.


Bahkan kini Orion   hampir gila memikirkan masalah ini saja. Baru saja ia merasakan kebahagiaan, dapat bersama lagi dengan istri yang telah lama hilang dari dalam hidupnya.


"Ketua! Ketua!"


Tiba-tiba sebuah panggilan yang berasal dari teriakan seseorang di luar markas akademi menarik perhatian Ace dan juga Orion.


"Ada apa!"


Ace maju seraya membuka gerbang dari aula besar tersebut.


"Nona Ana, mengamuk dan melukai beberapa akademisi yang tengah berlatih!" lapor orang itu dengan napas tersengal-sengal.


"Orion! Apa maksudnya ini? Ana kembali dan melukai orang-orang! Apa ada yang bisa kau jelaskan!" Cecar Ace dengan tetapan yang menyorot tajam kearah Orion.


"Aku akan memeriksanya dan akan, ku pastikan jika memang itu dia, aku akan tetap menghukumnya!"


Secepat kilat, Orion langsung bergegas pergi ke tempat di mana laporan tadi berasal.


"Mana mungkin jika itu Ana-ku."


Orion yang sudah sampai di tempat kejadian segera membuka pintu yang tertutup rapat. Pintu setinggi empat meter itu ia dorong sekuat tenaga.

__ADS_1


Ternyata di dalam ruangan itu sudah ada Gretel si penyihir muda dan juga Beatrice. Mereka berdua berusaha menghalau Ana yang telah menyerang membabi buta menggunakan kuku-kuku panjangnya yang setajam pedang.


"Anastasya!"


Teriak Orion sambil melesat mendekat dan menangkis serangan dari Ana, yang ingin melukai salah satu muridnya yang baru berusia 14 tahun itu.


Gretel langsung menyingkir. Gadis berambut pirang yang dikepang dua itu merangsek ke arah Beatrice


"Hentikan tindakanmu! Atau ... aku tidak akan segan untuk menghukum kamu!" kecam Orion. Bahkan pria itu telah memegangi tangan Ana yang mengeluarkan kuku sepanjang 30 cm.


Seakan tak merasa bersalah, Ana hanya menyeringai, hingga menampakan gigi taringnya. Ia sungguh tak peduli dengan ancaman dari Orion. Wanita itu bahkan tak peduli dengan apapun yang dikatakan oleh pria tampan nan gagah di hadapannya ini.


"Memangnya kau pikir kau itu siapa? Bisa menghalangi apa yang ingin aku lakukan! Kraaa!" Ana menyeringai dan hendak menyerang menggunakan tangan satunya lagi.


Felix yang baru datang berniat membantu Orion. Tetapi, seketika langkahnya terhenti karena melihat tanda dari telapak tangan sang ketua yang diangkat ke atas.


Lantas ia pun bergerak membantu Beatrice dan Gretel untuk menyelamatkan para murid yang terluka.


Kebetulan mereka tengah berkumpul untuk membicarakan sesuatu di ruangan ini. Entah kenapa, wanita itu tiba-tiba datang dan menyerang mereka secara membabi buta dan tanpa alasan.


"Kenapa kau lakukan ini, Ana? Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu ... dan apa rencanamu? Apakah ini perlakuanmu kepada tempat yang telah menyelamatkanmu, serta menerimamu dengan baik!" pekik Orion,


terus mencecar pertanyaan ke arah wanita cantik  yang dia pikir dapat di tarik ke pihaknya.


Sesaat, Orion merasa ada yang aneh terhadap diri Ana. Entah kenapa tatapan mata dari wanita ini begitu buas dan beringas. Seakan-akan napsu membunuh itu telah mendarah daging dalam jiwa. Seakan-akan jika dirinya benar-benar haus darah.


"Aku tidak memerlukan alasan untuk menghabisi kalian!" pekik Anastasya, yang mana membuat Orion seketika membelalakkan kedua matanya.


Kraaaa!!


Ana mengeluarkan lidahnya yang seketika menjadi begitu panjang dan tajam. Untung saja Orion  dapat berkelit dengan cepat. Karena jika tidak maka wajahnya bisa saja terbelah menjadi tak berbentuk lagi.

__ADS_1


"Ana! Apa yang kau lakukan! Apa kau lupa akan kata-katamu pada malam itu!" teriak Orion yang tidak percaya jika Ana menyerangnya.


Orion benar-benar tidak percaya jika pada saat ini, Aja akan menyerang dirinya sungguhan. Jika saja dirinya tidak berkelit dengan cepat, serangan itu sudah pasti akan melukainya dengan parah.


Orion sungguh tidak habis pikir kenapa wanitanya bisa berubah begitu cepat. Ia tidak dapat menduga sama sekali jika wanita cantik yang mampu mengembalikan kebahagiaannya Setelah sekian lama mereka berpisah, ternyata hari ini membuatnya kaget setengah mati.


Ana terus mengamuk menyerang tak tentu arah. Kekuatannya ternyata sangatlah besar meskipun racun-racun itu telah hilang dari tubuhnya. Akan tetapi kemampuan dari genetik moggart yang di tambah sihir, ternyata memiliki kekuatan maha dahsyat.


Ke-sepuluh kuku jari yang terdapat pada tangannya, dapat memanjang kemudian berubah kaku dan tajam layaknya belati. Kuku-kuku tajamnya itu, bukan hanya dapat melukai permukaan kulit. Akan tetapi juga dapat memenggal kepalamu.


"Hentikan, Ana! Apa yang kau lakukan!" Orion berusaha melempar benda apa saja asalkan itu dapat menghalau setiap gerakan Ana yang ingin melukai para akademisi.


Bagaikan tuli, Ana seakan tak mau mendengar apapun yang Orion teriakkan padanya. Wanita cantik yang saat ini membabi buta dengan kebengisannya itu laksana monster yang tak mengenal ampun.


Ana melompat kesana dan kemari. Menyerang para penyihir muda ini dari segala sisi. Bahkan, Beatrice yang berada di bagian depan, menggerakkan tongkat sihirnya ke depan, tapi ...


Crashh!


Perisai yang di bentuk oleh Beatrice ternyata mampu di patahkan dengan mudah oleh Sihir yang Ana lempar padanya. Seketika dirinya terlempar keras kebelakang, hingga menabrak tumpukan benda-benda yang telah di hancurkan oleh wanita monster itu.


Pekikan telah bercampur dengan teriakan menggema dalam ruangan itu. Karena, keadaan Beatrice yang terkulai lemah, hingga beberapa teguk darah segar langsung keluar dari mulutnya.


"Beatrice!" teriak, Flyod. Pria macho yang memiliki warna rambut yang sama dengan Beatrice, dengan cepat menghampiri raga lemah wanita yang telah menerima dirinya kembali itu.


"Beatrice, bertahanlah!" Flyod yang menghampirinya langsung mengangkat tubuh lemah wanita yang ia cintai itu ke atas pangkuannya. Ia tak peduli dengan darah dari Beatrice, yang mana akan membasahi tubuhnya juga.


"Fly, wanita iblis itu, telah mengambil pria yang aku sukai. Sekarang dia datang dan berniat untuk membunuhku. Kau, tidak bisa diam saja, Fly!" Kau harus menghabisinya, demi aku!" ucap, Beatrice terputus-putus. Ia memegangi bagian dadanya terasa sesak akibat serangan yang diarahkan oleh Ana padanya.


Betapa sakitnya hati Flyod, ketika wanita yang dikhawatirkannya malah memikirkan pria lain. Bahkan, memberi perintah padanya untuk membantunya membalaskan dendam. Entah di mana letak hati nurani milik Anastasya Georgina.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2