System Magic Power

System Magic Power
Bab#42. Menyelamatkan Keduanya.


__ADS_3

Sunyi.


Seorang pria berambut coklat gelap kini nampak tenggelam dalam keheningan di dalam ruangannya.


Pikirannya berkecamuk, berbagai macam hal seolah tengah berkelahi di dalam kepalanya. Ia tidak bodoh, sungguh. Apa yang dilakukan oleh Beatrice terakhir kali terlalu jelas mengatakan betapa wanita itu masih tertarik kepadanya.


Ia tidak ingin menciptakan konflik tidak berguna di antara mereka, karena satu hal yang mestinya benar-benar ia khawatirkan saat ini adalah Ana. "Bagaimana caranya aku bisa menyelamatkan dia dan juga dunia secara bersamaan?" gumam Orion seraya mencengkeram kepalanya.


Sekali lagi, pria itu benar-benar paham betapa istrinya merupakan ancaman bagi semua orang, terutama manusia. Katakanlah ia egois, karena sesungguhnya Orion tidaklah sekuat itu untuk menghabisi orang yang ia cintai dengan kedua tangannya sendiri.


Orion nyatanya tidak akan mampu mengotori dirinya dengan darah Ana secara langsung. Ia bukan seorang bajingan berdarah dingin yang tak punya hati. Hatinya masih berdegup panas dan sesekali membara mengingat bagaimana mereka memadu kasih dahulu kala.


Orion masihlah seorang manusia, meskipun tidak utuh, tapi dia bukan iblis. Ia takkan sanggup untuk mengambil nyawa seseorang yang sangat ingin ia lindungi di dunia ini. Namun di sisi lain, tanggung jawabnya sebagai ketua akademi sihir ini sungguh membebani pikirannya.


Ia harus segera membuat keputusan dengan tegas. Tidak ada banyak waktu untuk berpikir. Tidak ada banyak pilihan, untuknya mencoba pilih-pilih.


Haruskah ia memilih cinta, atau tanggung jawab?


BRAK!!!


Kekalutan itu berakhir dengan Orion yang menggebrak mejanya.


Deru napasnya begitu cepat dan patah-patah, ia menggosok wajahnya dengan kasar.


Persetan!


Sebut ia tidak waras, ia tak lagi peduli. Biarkanlah sekali ini hatinya yang mengambil alih, sebab


Orion telah bertekad untuk menyelamatkan keduanya dengan cara apapun.


Apapun.


Meski nyawanya yang harus jadi taruhannya.


“Sudah buat keputusan?”


Ace langsung mengerti alasan Orion menemuinya saat ini. Pria di sampingnya itu pasti telah mengambil keputusan kuat, yang tak dapat lagi diganggu gugat, dan ia hanya harus bersiap dengan apapun yang hendak dikatakan oleh Sang Ketua saat ini.


Ace yang melihatnya kembali larut dalam pemikirannya sendiri pun mendesah lelah. “Katakanlah, kau tidak mungkin menemuimu semata-mata hanya untuk menghibur dirimu yang kesepian, 'kan?”


“...”


“...”


“Aku telah membuat keputusan.”

__ADS_1


“Oke.” Kan! Benar apa dugaannya.


“Aku akan menyelamatkan keduanya.”


“Aku sudah tahu kau pasti akan— hah? Apa maksudmu?”


Ace melotot tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


“Dunia dan istriku,” tegasnya sekali lagi. “Manusia-manusia itu, aku pasti akan menyelamatkan mereka semua. Namun aku juga tidak akan mampu mengotori kedua tanganku sendiri dengan darah orang yang kucintai, kau pasti mengerti maksudku bukan?”


Orion menatap penyihir kawakan itu lamat-lamat. Garis wajahnya begitu keras dan tegang, tapi sorot matanya justru mengatakan hal lain.


Ada sedikit titik yang menunjukkan bahwa Orion masihlah seorang manusia. Hanya sedikit, begitu tipis, namun Ace mampu menangkap secuil keputusasaan di dalamnya.


Ia yang beberapa saat lalu matanya masih membelalak, kini balik menatap dengan penuh arti.


“Tapi apakah itu mungkin?”


Orion menghirup udara di sekitarnya sekali lagi, dengan khidmat merasakan oksigen itu masuk menuju paru-parunya. Kedua matanya yang tajam memicing ke arah langit, menyaksikan awan yang bergerak dengan begitu damai.


Surainya yang terang diterpa angin, bersamaan dengan kalimat penuh harap yang sebentar lagi ia ucapkan kepada seseorang di sampingnya.


“Bahkan meskipun itu mustahil, akulah yang akan menciptakan kemungkinan itu.”


__________


Apakah kejadian itu membuatnya berharap lebih? Beatrice mulai menyesali tindakannya yang impulsif. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana ia menemui Ana yang tengah terperangkap dalam bola cahaya tanpa diketahui oleh siapapun.


Beatrice telah memikirkan hal ini selama beberapa saat.


Bagaimana jika aku membebaskan saja?


Ia ingin Ana kembali mengamuk dan mengacaukan dunia. Buatlah keributan yang besar, bunuhlah manusia sebanyak yang wanita itu inginkan.


Membuaslah! Menjadi liarlah! Cipratkan darah ke seluruh penjuru dunia! Ciptakan teriakan demi teriakan yang memekakkan telinga! Hingga tidak ada lagi yang bisa Orion lakukan selain membunuhnya.


Membunuh wanita yang jadi penghalang dirinya untuk menggapai cintanya bersama pria yang ia damba-dambakan segenap jiwa.


Beatrice menggigiti kuku panjangnya, matanya memicing hingga terlihat ilusi seakan-akan irisnya membara. Bagaimanapun juga, wanita setengah Animagus itu harus mati, dan ia harus melihat eksekusinya di depan mata.


Tetapi, bagaimana?


Bola kuasa yang memerangkap wanita jadi-jadian itu sepenuhnya berada dalam pantauan Orion.


Apa yang harus ia lakukan untuk bisa menemukannya, lalu membuat benda itu meledak dengan sendirinya?

__ADS_1


Beatrice tidak percaya diri dan berpikir bahwa kekuatannya tidak mungkin mampu memecahkan benda berkuasa sihir tinggi seperti itu. Tingkatan sihirnya belum sampai ke sana.


Ia harus memutar otak, mencari jalan keluar sebelum semuanya terlambat.


Beatrice tidak mungkin membiarkan Orion kembali bersama istrinya, karena dialah yang harus mengisi posisi itu!


Sementara, Beatrice yang tengah asik berkecimpung dengan rencananya sendiri, Felix melakukan patroli sekaligus mencari keberadaan seseorang yang ia rindukan.


Haih, siapa gadis itu.


Kala itu ia pernah menangkap basah Luna yang bersantai di gazebo belakang bangunan akademisi ini, maka ia pun mencoba untuk kembali mendatangi tempat itu dengan perasaan yang menggebu-gebu.


Benar saja dugaannya.


Bibir Felix melengkung ke atas, matanya berbinar dengan semangat hendak menemui pujaan hatinya.


Entah sejak kapan dia menyukai gadis yang dulu suka ia ganggu itu.


Bahkan, awalnya Felix sangat tidak menyukai mahkluk Animagus seperti Luna.


Ya benci dan cinta itu sekatnya setipis kulit ari bukan?


Kakinya melangkah cepat, tanpa sadar mulai berlari kecil. Hingga kini gadis itu tepat berada di depannya tengah menumpu dagu dengan begitu lucu, ditambah lagi telinga kucingnya bergerak-gerak menggemaskan.


Luna nampaknya tidak sadar jika telinga kucingnya mencampakkan diri. Bahkan ekornya juga.


Kalau boleh berlebihan, sesungguhnya


Felix gemas setengah mati hingga ingin melahapnya sekarang juga.


“Ah! Siapa kamu?!”


Luna, berteriak lucu, badannya mematung tegak mencoba melepas tangan seseorang yang menutupi kedua matanya.


“Apakah Kucing Betinaku telah melemah hingga ia tidak lagi ingat dengan bau calon kekasihnya ini?”


Telinga itu berdiri dan bergetar seolah tidak terima dengan pertanyaan yang baru saja ia dengar.


Gadis itu membalikkan tubuhnya, menatap Felix dengan matanya yang runcing serta bibir ranum merah yang terlihat mengerut lucu.


“Calon kekasih apa! Percaya diri sekali, kamu itu bukan Tuan Orion.” Luna membuang muka setelah mengatakan itu, seolah merajuk.


Tidak bohong, Felix melihat hal itu tetap menggemaskan tapi di waktu yang bersamaan ia juga merasa kesal.


Tuan Orion, Tuan Orion … Persetan! Tidakkah gadis itu melihat ke arahnya sedikitpun? Kenapa harus sang ketua yang sudah memiliki istri? Pria itu juga terlalu tua untuk Luna yang masih kekanak-kanakan seperti ini.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2