
Sang Alchemist mengeluarkan sebuah botol ramuan , lalu membukanya di atas wajah mantan juniornya itu.
“Ini adalah cairan yang mampu melelehkan wajahmu, jadi, bagian mana yang seharusnya aku hancurkan?" Sang Alchemist yang marah mengatakan hal itu sambil menggoyangkan botol itu, membuat orang di bawahnya meronta-ronta ketakutan setengah mati.
“Ahhhh! Aku mohon! Aku mohon jangan lakukan itu, Senior. Ampuni aku, ampuni aku! Tolong katakanlah apapun yang kau inginkan dariku, aku akan memenuhinya! Tapi jangan lukai wajahku,” tangisnya ketakutan.
“Hm, benarkah?”
Orang itu mengangguk patah-patah sambil terus menatap ngeri botol kecil yang ada di atas wajahnya.
“Kalau begitu, cepat katakan siapa orang yang kau berikan potion itu.”
“Ya-yang mana?”
Philip tak tahan lagi dan semakin mengeratkan cengkraman tangannya lalu memiringkan botol yang sepenuhnya terbuka itu hingga orang dibawahnya kembali menangis kencang.
“Brengsek, yang kau buat untuk menyaingi Psyche milikku! Cepat katakan sekarang atau aku siram kau dengan—”
“AKU TIDAK TAHU—AKHHH! Sungguh, aku tidak tahu. Dia menggunakan penutup wajah dan juga jubah. Yang kuingat, rambutnya panjang berwarna coklat, tubuhnya terlihat seksi meskipun ditutup oleh jubah yang kebesaran itu. Tingginya … tingginya sekitar 6 kaki. Yang pasti, dia bukanlah seorang manusia biasa!”
Philip berdecak tidak puas dengan jawaban itu, tapi ini sudah lebih dari cukup, justru akan sangat mustahil jika orang itu secara terang-terangan menunjukkan wajah atau memperkenalkan dirinya.
“Begitu? Baiklah.”
Mendengar jawaban seniornya, sang junior kurang ajar itu merasa sedikit tenang. Sedikit saja.
“S-sudah, 'kan? Jadi, lepaskan aku?”
Philip pun tersenyum lagi, sangat manis.
“Dasar bajingan tidak tahu malu.”
CURRRRR
Cairan panas itupun disiramnya ke dua bola mata si mantan junior, membuat Alchemist jahat itu berteriak dan memegang kedua matanya kesakitan.
“PHILIP KAU IBLIS. SAKIT SEKALI, SIALAN. AAAAKHHHH!!!”
“Jika aku iblis, lalu kau apa? Tenang saja, cairan itu tidak akan merusak wajahmu sama sekali. Kau hanya akan mengalami kebutaan permanen, dan jangan coba-coba untuk melakukan transplantasi. Dalam waktu setengah jam, racun itu akan langsung masuk ke dalam otakmu. Tidak akan ada gunanya kau melakukan transplantasi menggunakan mata elang sekalipun.”
__ADS_1
Philip kemudian membuka pola sihir untuk berteleportasi langsung menuju markas akademi, meninggalkan mantan juniornya yang masih meraung-raung menghancurkan barang di rumahnya sendiri. Sesampainya di sana, ia segera mencari keberadaan Orion yang kebetulan sedang bercengkerama dengan Ace.
“Kau sudah kembali?” Orion terlebih dahulu menyadari keberadaannya. “Bagaimana dengan. penyelidikanmu?” tanyanya lagi.
Philip mengangguk. Kedua pria di hadapannya pun langsung paham dengan isyarat itu.
“Bagaimana dengan yang ada disini?” tanya Philip.
Ace mendengus pelan, “Kami memiliki dua orang yang dicurigai. Bagaimana denganmu?”
“Orang itu mengatakan bahwa dia adalah seorang wanita dengan tinggi 6 kaki dan rambut panjang berwarna coklat.”
Keduanya kompak mengucapkan, “Itu Beatrice!"
Orion mengepalkan kedua tangan kuat-kuat. “Aku tidak menyangka wanita itu sampai melakukan hal ini. Sebenarnya apa yang dia inginkan? Dan bagaimana dia bisa mengetahui rencanaku maupun Psyche?”
Ace menggeleng, berusaha menenangkannya. “Tidak perlu emosi dan bertanya-tanya untuk saat ini. Kita tidak akan menemukan jawabannya. Mari kita lakukan sidang, hanya anggota yang terjun langsung ke pertempuran saja.”
Philip setuju dengan hal itu. “Biarkan aku ikut, aku akan menyembunyikan penampilanku.”
“Baiklah,”.
“Sekarang, kita harus mendiskusikan hukuman yang tepat untuknya.”
“Dimana Beatrice dan Ketua?" heran Flyod yang tak Kenapa mereka dikumpulkan di aula lagi.
Tiba-tiba, Orion muncul dari pintu belakang.
“Aku disini,” katanya. “Semuanya, duduklah dengan tenang di tempat kalian.”
Tidak lama kemudian, wanita berambut merah tersebut muncul dari pintu depan.
Kedatangannya yang terakhir kali merupakan hal yang telah direncanakan oleh Orion dan juga Ace. Wanita itu merasa kebingungan saat menyadari tidak ada lagi kursi yang tersisa untuknya duduk.
“Kau, berdirilah di sana,” ucap Orion pelan.
“Apa?” tanya wanita itu tak percaya. Apalagi ketika Orion yang tidak menyebut namanya.
“Orang yang akan melalui persidangan ini adalah kau.”
__ADS_1
Flyod langsung berdiri mendengar itu, “Maksudnya?"
Orion pun langsung mengeluarkan bola cahaya dari sihirnya untuk memerangkap Beatrice. Persis seperti yang dilakukannya terhadap sang istri beberapa waktu yang lalu. Semua yang hadir dalam persidangan itu terkejut, menahan napas mereka.
Flyod yang merasa tidak terima dengan apa yang dilihatnya itu hampir menerjang maju jika saja sang ahli Alchemist tidak melepas sihir yang menahan kedua tangan dan kakinya.
“Bajingan itu siapa! Kenapa kau memberikan mantra sihir kepadaku?!” teriak Flyod.
“Diamlah. Kau dengarkan saja baik-baik persidangan ini," kali ini Ace membuka suaranya.
Pria tubuh kekar yang juga memiliki rambut berwarna merah, terpaksa menutup mulutnya karena dia sangat menghormati sang Mantan Ketua. Ia pun duduk kembali di atas kursinya dengan kedua tangan dan kaki yang terikat oleh sihir.
“Orion? Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mengurungku disini?” Beatrice berteriak, meronta-ronta ingin lepas dari bola itu.
“Apa kau mengenali ramuan ini?”
Orion mengeluarkan sebuah botol kecil dengan cairan berwarna coklat kemerahan. Beatrice yang melihat itu terkejut setengah mati.
“Itu … itu….”
Itu adalah Psyche yang ia curi dari Orion. Dan Beatrice terkejut karena benda itu saat ini berada di tangan ketua mereka, pria yang telah menjadi obsesi nya.
“Apa kau bingung darimana aku bisa mendapatkannya?” tanya Orion. “Oh Beatrice, kau itu adalah seorang amatir. Kamera yang kau pasang di ruanganku saja masih terpasang. Aku bisa melihatmu mencuri cairan ini dari dalam laciku. Lalu bagaimana aku bisa menemukannya dari tempatmu? Tentu saja aku punya cara. Jika kau bisa mencurinya dariku, aku juga bisa mengambilnya kembali darimu.”
“Sebenarnya, apa cairan itu? Apa yang dicuri Beatrice hingga kita harus melakukan persidangan ini?” kini giliran Aidyn yang bertanya.
Orion maju beberapa langkah, mendekati tempat duduk mereka, berdiri tepat di depan bola kuasa yang tengah mengurung tersangka.
“Kalian semua yang berada disini adalah orang-orang yang telah menyaksikan secara langsung pertarungan kami melawan Drake." Orion menarik napas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan. “Kenyataannya, Drake sudah mati beberapa saat yang lalu. Kematiannya itu bersamaan dengan hari dimana Anastasya, istriku, mengamuk dan melukai beberapa di antara kalian semua. Pada saat itu, Drake sengaja memecah fragmen jiwanya ke dalam tubuh istriku dan membuatnya mengandung anak naga, yang merupakan dirinya sendiri.”
Semuanya terperanjat tidak percaya.
“Saat aku mengurung Ana dengan bola cahaya seperti yang aku lakukan dengan Beatrice saat ini, Ana setengah sadar memberitahuku bahwa dia mengandung anak seekor naga. Keinginan membunuhnya sangat kuat, dia ingin membinasakan dunia ini kecuali kalian semua jadi budaknya. Tetapi itu adalah keinginan Drake yang merasukinya. Aku berniat untuk membunuh janin yang saat itu belum tumbuh besar di perutnya dengan ramuan kematian bernama Psyche, kalian telah mempelajarinya beberapa saat lalu, bukan?”
Sang Alchemist ikut itu pun ikut maju mendekati Orion dan berdiri di sebelahnya.
“Tuan yang sekarang berada di sampingku ini adalah Tuan Alchemist Agung yang mampu menciptakan Psyche. Kami telah melakukan perjanjian spiritual demi keuntungan masing-masing, dan aku mendapatkan Psyche darinya. Tapi, wanita ini," Thunder menoleh ke arah Beatrice, “menukarnya dengan ramuan yang bertujuan untuk melawan Psyche. Yang terjadi selanjutnya adalah, Drake yang berada di dalam perut istriku tumbuh dalam satu malam dan lahir di keesokan harinya. Cahaya yang membuat malapetaka terjadi dimana-mana sehingga banyak manusia tak bersalah menjadi korban adalah akibat dari menetasnya telur naga tersebut.”
Aidyn menutup mulutnya tak percaya, sedangkan
__ADS_1
Ana hanya mendengarkan semua itu dengan sendu, seraya memeluk tubuhnya sendiri.
...Bersambung ...