System Magic Power

System Magic Power
Bab#39. Dilema Orion.


__ADS_3

"Ace, kurasa ada hal yang tidak beres pada wanita itu. Setahuku dua hari yang lalu dia meminta izin untuk kembali ke sungai. Karena memang moggart sejenis duyung ini harus kembali beberapa hari sekali ke dalam habitat mereka yang asli. Bahkan aku juga melihat jika hubungan mereka baik-baik saja. Anastasya, kupikir dia akan menjadi moggart yang baik. Kukira dia kan dapat membantu pemimpin kita memperkuat akademi ini," ungkap Aidyn.


"Aku harus memantau mereka cari dekat, Ai. Agar aku dapat masuk ke dalam pikiran wanita itu," ucap Ace tanpa ekspresi. Karena memang dirinya terkenal sebagai sosok pria yang dingin dan tak banyak bicara.


Anggota yang lain hanya mengangguk setuju atas apa yang di kemukakan oleh mantan ketua mereka ini. Menurut mereka, Ace pasti dapat menemukan jalan keluar dari permasalahan ini.


Flyod menggendong raga Beatrice yang terkulai lemah. Sementara, Luna dan Felix membantu beberapa penyihir lain termasuk murid baru yang terluka parah.  Sambil menahan geram, Felix membopong mereka satu persatu ke dalam bilik pengobatan Luna.


Ace, berpikir jika penyerangan ini terorganisir serta terencana dengan baik.


Ketika pintu gerbang sudah terbuka tampaklah dengan jelas di hadapan Ace dan Aidyn. Bagaimana keadaan kelas yang sangat kacau. Semua barang-barang rusak parah.


Bahkan dinding dari bangunan serta pilar-pilar beberapa telah menjadi puing dan berserakan di mana-mana. Keadaan sungguh sangat kacau dan mencekam.


Di mana pada saat ini, sosok Moggart   yang tengah melayang di udara, melancarkan serangan secara bertubi-tubi ke arah Orion.


Satu hal yang membuat tatapan dari Ace tak bergeming adalah, kuku laksana belati yang tercipta dari jari jemari Ana, ternyata mampu di lepaskan hingga kini menancap di beberapa tempat.


Aidyn bahkan hanya bisa menahan napasnya ketika ia melihat bagaimana cara Orion menghindar dari serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Ana.


Gambaran tentang Anastasya Georgina, adalah sosok wanita yang sangat cantik tanpa cela. Dengan ukuran tubuh yang ramping berisi, tinggi, serta kulit yang putih bersih. Rambutnya yang berwarna pirang terang menyapu hingga ke pinggang.


Hidung yang mancung serta kedua matanya yang bulat dan besar, sama sekali tidak nampak sebagai monster yang garang.

__ADS_1


Justru wanita yang saat ini tengah melayang di udara itu lebih terlihat menggemaskan. Kecuali pada saat dirinya menampilkan taringnya yang tajam. Bahkan ternyata lidahnya juga runcing, sudah dapat digunakan sebagai senjata juga.


"Sial! Kenapa kukunya bisa lepas kemudian tumbuh lagi. Makhluk, apa yang sebenarnya ada di hadapanku saat ini. Dijadikan apa sebenarnya istriku ini oleh profesor yang gila itu! Profesor brengsekk!" Orion menggeram kesal di balik perisainya. Hanya itulah satu-satunya cara untuk menghindari serangan demi serangan yang dilancarkan oleh wanitanya ini.


Sebab, Orion tidak sampai hati untuk membalas serangan Ana. Mana ada seorang suami yang akan melukai istrinya sendiri bukan. Sekalipun sang istri sudah menghancurkan keadaan begitu rupa. Melukai banyak orang di hadapannya.


Orion masih bertahan dan bersikukuh untuk menyadarkan Ana kembali. Tanpa sedikitpun menggores kulit sang istri. Dirinya tidak akan mungkin mampu melukai ataupun menyakiti Ana sedikitpun.


Apalagi, Orion merasa jika dia belum pernah sekalipun membahagiakan istrinya itu selama pernikahan mereka.


"Aku akan mencoba untuk menembus pikirannya," ucap Ace pada Aidyn yang berada di sebelahnya. Wanita yang memiliki rambut serta warna mata yang sama ini lantas mengangguk, namun Ia tetap berada pada siaga penuh.


Ace memejamkan kedua matanya dengan kedua tangan yang tempelkan pada pelipisnya. Pria berkepala plontos itu mencoba menembus pikiran yang berada di dalam kepala Ana. Mencari tahu apa rencana dari wanita yang kini tengah melayang di udara itu.


Aidyn terus mencari celah bagaimana untuk dapat mengalahkan makhluk yang satu ini. Tanpa harus melukainya sedikitpun. Bagaimanapun ia mengetahui isi hati yang dirasakan oleh Orion.


Apa yang Orion rasakan saat ini, meliputi kebimbangannya, kebingungannya serta tanggung jawab yang dipikul di atas pundaknya.


Di satu sisi, Orion tidak mungkin menghabisi Ana begitu saja. Aidyn begitu mengerti perasaan yang dialami oleh ketua akademi ini sekarang. Dilema yang menggelayuti bahunya begitu membingungkan.


Tentu saja hati nurani dari pria tersebut terbagi dua. Satu sisi tanggung jawabnya terhadap aliansi di mana ia memimpin para penyihir


yang mengharuskan ketegasan sikapnya terhadap sekecil apapun tindak kejahatan yang mengancam nyawa dan juga jiwa. Apalagi semua ini terjadi dalam markasnya.

__ADS_1


Satu sisi Orion juga mengemban tanggung jawab sebagai suami yang tidak mungkin dapat melukai istrinya sendiri apalagi jika sampai menghabisi nyawanya.


Sungguh Orion saat ini berada diantara pilihan yang sangat sulit.


[ KATAKAN APA RENCANAMU!! KENAPA KAU MENYERANG MARKAS KAMI DAN MELUKAI PARA AKADEMISI! KATAKAN ALASANMU ATAU KAMI TERPAKSA AKAN MENGHABISI KAMU SAAT INI JUGA! ]


Ace menyampaikan pesan kepada Ana melalui kuasa telepati-nya.


Ternyata tindakannya barusan, seketika membuat Ana menggeram kesal. Makhluk cantik nan seksi itu, menggeram kesal.


Sosok mahkluk dengan pakaian panjang berpotongan terbuka, yang mana menampakkan sebagian dari kemolekan tubuhnya, begitu cepat menoleh ke arah Ace.


Bukan itu saja. Secepat kilat juga, Ana nampak melesatkan kuku dari sepuluh jemarinya yang panjang menyerupai belati tajam.


Seketika, itu juga Aidyn menghalau serangan tersebut menggunakan tongkat sihirnya. Aidyn memanggil angin besar untuk menghalau, tapi gagal.


Dan ...


Slep slep slep!


Trang!


"Ace!!"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2