
Maka dengan begitu yang Orion butuhkan saat ini adalah ramuan ajaib langka dan tidak dapat ditemukan di negeri ini.
Konon di negeri seberang ada seorang Alchemist yang mampu menciptakan ‘Psyche‘, sebuah ramuan yang sanggup memusnahkan makhluk ataupun roh negatif dari dalam tubuh tanpa menimbulkan resiko di kemudian hari.
Tetapi, tentu saja ada harga yang sangat mahal yang harus dibayar untuk itu. Alchemist ini juga tidak akan menerima sembarang orang, maupun sekedar uang. Ia hanya akan melakukan permintaan apabila calon konsumennya itu mau menuruti keinginannya, dan itu biasanya sangat sulit untuk dilakukan.
Singkatnya, dia memberi harga yang begitu mahal untuk sebotol kecil ramuan sebab dari awal dia sesungguhnya tidak ingin mengerjakan permintaan itu.
Orion sendiri belum pernah bertemu maupun melihat wajah Alchemist yang kerap diagung-agungkan ini. Bahkan namanya pun sudah seperti hal yang tidak boleh disebutkan, sangat dilarang, sebuah tabu bagi masyarakat.
Namun Alchemist ini sangat terkenal di kalangan para penyihir. Sebab itu Orion akan mencoba menemuinya dan meminta bantuan, tidak masalah semahal apapun biaya yang dibutuhkan.
[ Anda tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menemukan Alchemist itu Tuan. ]
"Lau apa yang harus aku lakukan. Kau selama ini diam saja tak membantuku!" kesal Orion pada sistem.
[ Karena selama ini pun anda mampu menyelesaikan semuanya tanpa bantuan sistem. Saya muncul karena memang kali ini tuan membutuhkan saya. ]
"Kau! Ah, sudahlah!"
Obrolan mereka benar-benar berhenti.
Tok Tok.
Belum sempat ia menjawab, orang yang berada di balik pintu sudah masuk tanpa basa-basi.
Ah, wanita itu rupanya.
Beatrice langsung menutup pintu hingga terdengar bunyi 'klik' dan tersenyum tipis ke arah sang Ketua Akademisi. Wanita berambut bergelombang dengan warna merah menyala itu menghampiri meja Orion, lalu menumpu tubuhnya dengan kedua tangan di atas meja hingga kini kepala keduanya sejajar.
Sekaligus, untuk menggoda pria itu dengan menampilkan belahan dada yang mengumpat di balik gaun yang tengah dikenakannya.
Orion pun akui jika wanita ini benar-benar sangat atraktif, kecantikannya yang dewasa mampu membuat pria mana saja dimabuk kepayang. Dirinya sendiri pun pernah tergoda, tapi ia tidak akan lagi melangkah dan terjatuh ke lubang yang sama.
Tidak akan pernah.
“Kenapa kau datang kesini?” tanya
__ADS_1
Orion dengan nada yang rendah, cenderung acuh tak acuh. Perhatiannya dialihkan menuju kertas-kertas laporan yang menumpuk di atas meja secara terang-terangan, membuat Beatrice geram karena godaannya ternyata diabaikan.
“Kau terus mengurung diri di dalam ruangan sempit ini, bahkan belakangan aku melihatmu selalu tenggelam dalam pikiranmu sendiri. Apa ada yang mengganggumu? Bisakah aku membantu?” tanya Beatrice seakan peduli.
“Tidak ada.”
“Ah, benarkah?” Beatrice menutup mulutnya dengan satu tangan, bertingkah seolah dirinya terkejut. Sangat palsu, siapapun bisa melihat kepalsuan yang tercetak dengan jelas seperti itu. Lagipula, wanita itu juga terlihat memang sengaja melakukannya.
“Tapi aku bisa membantumu untuk istirahat sejenak, bagaimana?” Jari-jemarinya yang lentik itu membelai wajah Orion dengan begitu perlahan.
Orion mengerti sinyal yang diberikan oleh wanita itu, tapi ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Maka iapun menyingkirkan tangan Beatrice yang berada di depan wajahnya dengan halus.
“Kau tidak perlu repot-repot. Ah, jika kau memang benar-benar ingin membantuku, aku punya satu tugas untukmu.”
Beatrice mengernyit, tak suka dengan ide tersebut. “Apa itu?”
Orion pun mengeluarkan sebuah berkas dari dalam laci lalu menyerahkannya kepada wanita penggoda di hadapannya ini.
“Bisakah kamu pergi menangani masalah yang ada disini? Ada sebuah distrik yang mengalami kekacauan karena moggart yang belum teridentifikasi menyerang rumah-rumah warga di malam hari. Bawa makhluk itu kemari dalam keadaan hidup.”
“Oh ayolah, yang benar saja? Kenapa aku harus melakukan itu, aku bisa membantumu hal yang lain. Misalnya jika kamu butuh teman untuk malam—”
“Karena aku percaya kau bisa menanganinya,
Beatrice.”
Wanita itu sontak terdiam. Ekspresinya masih menunjukkan dirinya kesal tapi, Orion tahu wanita ini terpengaruh dengan kata-katanya.
“Huh,” wanita itu menghela napas pasrah. “Baiklah, akan kulakukan untukmu. Tapi…,” Beatrice sengaja berjalan mengitari meja lalu berdiri tepat di samping kursi Orion. Badannya membungkuk, ia lalu membisikkan sesuatu ke telinga pria itu.
“Aku harap kau menyiapkan sebuah reward begitu aku berhasil kembali dan membawa makhluk itu ke depan matamu.”
CUP!
Ia mengecup pipi Orion, membuat pria itu terkesiap kaget dan segera membuang muka. Orion memilih untuk mengabaikan Beatrice yang menyeringai senang.
Orion berdiri dan berjalan kedepan, Untuk melepas sihirnya pada sebuah daun. Dauh itu akan memanggil orang yang ia kehendaki.
__ADS_1
Tanpa ia sadari menjatuhkan sesuatu, dan Beatrice melihat sebuah kertas kecil terjatuh di depan meja. Terdapat sebuah tulisan yang ia yakini adalah tulisan tangan Orion.
Wanita itu segera melepaskan sepatu hak tingginya dan menjepit kertas itu dengan dua jari kaki lalu dimasukkan ke dalam sepatu sebelum ia kenakan kembali. Tidak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam.
Beatrice kembali memasang ekspresi sebelumnya.
“Flyod?"
"Flyod, kau pergilah temani Beatrice ke tempat ini.” Orion menyerahkan dokumen yang barusan kembali diletakan oleh Beatrice di atas meja.
“Hah? Aku harus pergi bersamanya?!” seru Beatrice tidak terima.
Flyod sendiri sebenarnya tidak terlalu suka dengan fakta bahwa Orion memanggilnya, tapi ia masih tahu diri untuk memenuhi panggilan ketua mereka.
Ditambah lagi keberadaan Beatrice di dalam ruangan berdua saja dengan Orion semakin membuat panas dadanya. Namun, apa yang baru saja ia dengar kini entah kenapa seolah membuat segala kekesalan yang tadi ia rasakan menguap entah.
“Kau akan mendapat banyak bantuan darinya, kalian berdua cocok untuk tugas ini.”
“Tapi—”
“Baik, aku akan melaksanakan tugas Anda dengan baik.” Akhirnya Flyod tersenyum sumringah, ia melirik ke arah Beatrice dengan wajah yang cerah.
“Kalian boleh pergi sekarang.”
“Tapi aku— hei, lepas! Aku masih membicarakan sesuatu dengan Tuan Orion!" pekik Beatrice meronta dari rangkulan Flyod.
“Sudah cukup Bee, beliau telah memerintahkan kita untuk pergi sekarang.”
Orion hanya menatap datar pemandangan Beatrice yang ditarik paksa oleh Flyod dan begitu bayangan keduanya sudah tidak terlihat lagi dari balik pintu, ia menghela napas kasar dan bersandar di kursinya.
Lelah, itulah yang Orion rasakan saat ini.
Pikirannya sangat berkecamuk, ia sengaja menempatkan mereka berdua dalam satu tugas yang sama untuk membuat keduanya berada jauh dari penglihatannya meskipun hanya untuk sementara. Dua orang yang sangat merepotkan, pikirnya.
Sekali lagi, Orion mencengkeram rambut dengan kedua tangannya.
Bersambung
__ADS_1