
"Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu untuk saat ini. Tolong mengertilah!" usirnya halus. Tidak seperti ketika berbicara dengan Beatrice.
Sebab, bagaimanapun juga Orion tau bagaimana tabiat Luna. Gadis kucing ini sangat berbeda jauh dengan Beatrice yang berani dan binal dengannya.
Hanya karena mereka pernah menghabiskan malam bersama, sejak saat itulah Beatrice berpikir telah memiliki dirinya. Hal, yang sangat Orion sesalkan kala itu.
"Tolong ... jangan mengusir ku. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Setidaknya, beri aku ijin untuk memeriksa keadaan tubuh mu saat ini," pinta Luna dengan memohon.
"Aku sudah baik. Tidak ada lagi yang perlu kau periksa. Terimakasih ... karena telah merawat ku. Mengertilah, kalian telah mencoreng harga diri ku sebagai seorang pria. Beri aku waktu untuk merangkai kepercayaan diriku lagi." Orion terus mencoba mengusir Luna dengan cara halus. Ia tau bahwa gadis kucingnya tengah menahan tangis saat ini.
"Aku tidak membencimu, aku hanya merasa tidak ada muka untuk berhadapan denganmu," jelas Orion yang , tak tega kala mendengar Luna terisak ketakutan begitu.
"Hiks! Aku tidak tidur dua hari dua malam. Aku ketakutan kau akan terbujur selamanya. Segala cara kucoba untuk membuatmu sadar. Bahkan, aku telah menusuk seribu jarum ke tubuhmu berharap kau marah lalu bangun. Tapi, kau tetap saja terpejam dengan napas yang membuatku takut setengah mati," tutur Luna sambil terus terisak.
Orion merasa dadanya seketika sesak. Betapa Luna begitu menghawatirkan keadaannya.
"Hiks, tak ada luka yang harus kujilati di tubuhmu. Sebab lukamu pulih sendiri. Walaupun begitu aku hanya bisa menatapmu semalaman berharap kau membuka mata. Akan tetapi ... ketika kau bangun, tatapan marah dan bencilah yang justru aku dapatkan darimu, aku--" Luna tak dapat lagi meneruskan ucapannya. Ia tergugu sambil menundukkan kepalanya.
Orion tak tahan lagi mendengarnya.
Kemudian ...
GREP!
Orion menarik raga mungil Luna kedalam pelukannya.
Sebuah dekapan dari pria kekar menutupi tubuhnya yang bergetar. Luna tau bahkan sangat tau, jika yang lengan kekarnya melingkar pada raganya adalah Orion seorang.
"Aku tidak marah padamu. Maaf, telah membuatmu khawatir. Maaf, telah membuatmu tidak tidur. Maaf, sebab aku telah menuduh dan mengira yang bukan-bukan padamu," ucap Orion di samping telinga Luna.
__ADS_1
Mendengar kalimat yang Orion ucapkan itu sontak membuat Luna mendongakkan kepalanya.
Pada saat itu juga Orion langsung menunduk. Dan, tentu saja hal itu membuat kedua pandangan dari keduanya beradu dalam satu titik lurus.
"Benarkah, kau tidak marah lagi?" tanya Luna memastikan, masih dengan sisa Isak tangisnya.
Bahkan ia berani menatap wajah itu lekat tak berkedip. Hingga hatinya kembali berdegup kencang dan seluruh sendinya lemas tak bertulang. Sebesar itu rasa dalam hatinya untuk mengagumi sosok seorang Orion.
"Aku tidak bisa marah pada gadis sepolos dan sebaik dirimu. Sebab itu, sebesar apapun rasa suka ku padamu. Aku tetap tidak bisa memperlakukan mu sebagaimana perlakuanku pada, Beatrice," jelas Orion jujur.
Entah kenapa kali ini ia berani mengungkapkan rasa yang sebenarnya pada Luna. Mengingat begitu besar perasaan gadis itu padanya.
Bahkan, pengorbanan Luna cukup luar biasa selama ini padanya. Orion merasa, Luna memang pantas mendapatkan kejelasan darinya.
Sontak kalimat yang keluar dari bibir seksi Orion membuat kedua pipi Luna merona merah. Gadis itu kembali menundukkan kepalanya dan melesak kedalam pelukan Orion semakin dalam dan erat. Ia tersenyum.
Begitupun, dengan Orion. Pria itu melengkungkan bibirnya dan menarik raga Luna semakin erat kedalam pelukannya.
Akan tetapi, perbuatannya hari ini, telah membuka kedua mata hatinya. Jika, selama ini Beatrice juga menganggapnya hanya sebagai partner pemuas napsu saja. Bahkan, wanita itu bisa memperlakukan dirinya serendah itu. Ketika raganya lemah tak berdaya.
Meskipun, Orion mendengar bantahan demi bantahan dari Beatrice. Akan tetapi hati dan penglihatannya tak dapat di bohongi. Ia tak mampu melihat kejujuran dan ketulusan dari raut wajah Beatrice tadi.
Hanya ada raut kaget lantaran kepergok. Sungguh, di luar dugaannya. Ia pikir, wanita itu memang peduli.
"Kau sudah percaya kan, jika keadaan ku sudah tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi?" tanya Orion pada Luna.
Gadis yang di ajaknya bicara tidak menyahut hanya terasa sebuah anggukan kecil di balik himpitan lengan kekarnya. Orion. kembali menyunggingkan senyumnya. Sungguh, ia tak bisa marah pada si gadis kucing. Ia telah terlanjur menyayangi Luna.
Hanya gadis ini yang menyukainya sepenuh hati. Seketika, Orion pun di hinggapi rasa bersalah dan takut.
__ADS_1
Bersalah lantaran ia tak dapat membalas rasa cinta Luna yang begitu besar dan tulus padanya. Takut, jika kemudian hari sikapnya akan membuat gadis baik hati ini sakit dan terluka.
Ketika keduanya tengah syahdu tenggelam dalam pikiran masing-masing. Orion, seketika merasakan ada sesuatu yang besar tengah terjadi.
"Ada sesuatu yang tengah terjadi di suatu tempat. Aku harus ke markas mencari tau!" ujar Orion yang serta merta langsung melepas pelukannya terhadap Luna.
"Aku juga merasakannya. Bahwa sesuatu yang besar dan hebat sedang terjadi. Marabahaya besar sedang kembali mengintai mu. Tetapi,, kau bahkan belum makan apapun semenjak bangun dari pingsan selama dua hari," timpal Luna dengan segenap kekhawatirannya.
"Kalau begitu, aku akan membuatkan sesuatu untukmu. Kau datanglah ke ruang makan, jangan pergi sebelum kau isi perutmu!" titah Luna hendak berlalu, tapi Orion dengan cepat mencekal lengannya kemudian menariknya, dan ....
Cup!
Kecupan singkat nan manis mendarat di kedua bibir mungil milik Luna. Semburat senyum malu tercetak jelas pada wajahnya yang memerah itu.
"A–apa ini ucapan terimakasih?" tanya Luna dengan segala sikap manis Orion padanya. Ia tak mau besar hari apalagi besar kepala. Menanggapi setiap tingkah laku dan perbuatan pria menawan yang tengah tersenyum padanya saat ini.
"Anggap saja begitu. Aku berhutang budi padamu. Jika bukan karena kesigapan mu mengeluarkan racunku kala itu. Mungkin nyawaku ini telah lepas dari tubuhku," terang Orion jujur dari hati.
"Ah, itu tidak benar. Kau tidaklah berhutang apapun padaku." Luna mengibaskan tangannya menolak ungkapan Orion.
Cup!
Kecupan manis itu mendarat lagi.
"Terimakasih, Karena telah memberikan semua hal tulus itu padaku. Kau memiliki hati yang mulia dan bersih. Tidak semua manusia murni memiliki hati seperti mu. Satu hal, jangan berharap banyak padaku. Sebab, aku tidak bisa memberikan yang kau mau. Aku tidak pantas untuk gadis sebaik dirimu, kucing manja!" goda Orion sambil menarik ujung hidung mancung Luna.
Akan tetapi, kata-katanya barusan membuat semburat kecewa dan sedih itu nampak dari wajah manis Luna.
"Katanya mau buatkan aku makanan. Jangan sampai nanti aku pingsan bukan lantaran melawan musuh tapi karena kelaparan. Itu akan sangat memalukan," sindir Orion yang mana pada akhirnya membuat Luna tertawa kecil.
__ADS_1
bersambung