
Brakkk ...
"Pak Bram, apa yang Anda lakukan disini ?" Tanya Aleesha saat melihat Asbram dalam keadaan gontai sedang berusaha membuka pintu kamarnya.
"Apa kamu tidak lihat, kalau saya mau masuk kamar saya." Jawabnya tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Bapak salah kamar Pak, mana cardlock Bapak, biar saya bantu."
Sampai disini, Aleesha masih bersikap sabar dan sopan.
"Sialan. David ! Panggil petugas hotel, kartu saya tidak cocok." Teriaknya ngelantur.
"Pak Bram, berikan cardlock Bapak, biar saya bantu buka."
"Kamu cari sendiri, yang mana kartunya." Jawab Asbram sembari melemparkan dompetnya ke lantai.
Aleesha menarik satu per satu selipan kartu yang ada di dalam dompetnya. Namun tidak satupun dia temukan cardlock dari hotel.
"Astagfirullah, jadi dari tadi dia berusaha membuka pintu menggunakan kartu ATM." Gumam Aleesha, saat dia temukan kartu ATM yang tergeletak di lantai.
"Pak Bram, dimana kartu Bapak ?"
"Hhhhmmmm."
"Pak Bram, bangun dong. Jangan tidur do depan pintu begini." Gerutu Aleesha kesal.
"Asbram !" Teriaknya tak terkendali.
Antara kesal dan kasihan, Aleesha menarik tubuh kekar Asbram ke dalam kamarnya.
"Mimpi apa saya semalam, tidur saja belum sudah mimpi buruk seperti ini." Omelnya sendiri.
"Hhuufff...berat juga ni orang." Sambungnya lagi.
Dengan sedikit usaha, Aleesha berhasil membawa Asbram ke sofa.
"Akhirnya." Keluhnya berpeluh - peluh.
"Hooeeekkk..."
"Hei, jangan muntah disini !"
Tapi sudah terlanjur, semburan benda cair tertumpah dari mulutnya.
Bukan hanya mengotori kemeja yang Bram kenakan, tapi juga pinggiran sofa dan karpet yang ada di bawahnya.
"Oh My God, joroknya." Keluhnya sembari menekan jidatnya sendiri.
Entah dengan alasan apa, mau tidak mau Aleesha harus membantunya keluar dari rasa tidak nyaman.
Dia lepas kemeja yang kotor dan bau alkohol dari tubuh Asbram. Dia seka leher dan tangannya menggunakan handuk basah hangat agar aroma alkohol nya berkurang.
'Kenapa Aku hanya bisa menatapmu lama, disaat kamu tidak sadarkan diri Bram.' Gumamnya dalam hati.
"David, tuang lagi !" Cercauan Asbram masih tidak sadarkan diri.
Dia berjalan tak tentu arah dengan mata yang masih terpejam, hingga akhirnya terjatuh di atas ranjang Aleesha.
"Hei, jangan di situ !" Teriaknya, namun terlambat.
Asbram sudah kembali mendengkur dengan tubuh terlentang di zona yang paling nyaman.
__ADS_1
"Uuffhh ... Sungguh merepotkan."
Bahkan, pekerjaannya belum selesai sampai disitu. Aleesha harus membersihkan pinggiran sofa dan melipat karpet yang basah untuk diberikan ke laundry besok pagi.
Hingga akhirnya, dia rebahkan tubuhnya di atas sofa yang baru saja selesai dia bersihkan. Tanpa bantal dan selimut, tak kuat rasanya menahan kantuk.
***
"Uuffhh..."
Asbram menggeliat merasakan tubuhnya yang sakit, capek tak terkira. Masih setengah tersadar, dia membuka matanya lebar-lebar.
Perlahan dia sibak korden yang menghalangi masuknya sinar matahari pagi. Asbram mengernyitkan dahinya, merasakan lingkungan nya ada yang beda.
'Aneh, kenapa view nya berbeda ?' Pikirnya dalam hati.
Dia berbalik dan meneliti sekitar ruangan.
'Memang berbeda, ini bukan kamarku. Lalu dimana aku ?' Tanya hatinya.
Tidak ada siapa - siapa di sini. Tidak seorangpun bisa dia tanya di ruangan ini. Namun Dia menemukan sesuatu yang pastinya sudah dia kenal.
Sebuah blazer tergantung di dekat pintu dan beberapa stel sepatu perempuan.
"Ini kamar seorang wanita." Gumamnya sendiri.
Rasa dingin membuatnya sadar bahwa pada saat ini dia sedang telanjang dada.
"Dimana kemejaku, apa yang terjadi padaku semalam ?" Tanyanya sendiri, mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
Ddrrrttt ... ddrrrttt ... ddrrrttt ...
Terdengar sebuah handphone bergetar di atas nakas. Saat dia dekati, ternyata itu bukan handphone miliknya.
"Aleesha ?"
Ceklek ...
Belum hilang rasa heran akan kejadian demi kejadian yang dia alami pagi ini. Tiba-tiba, dikagetkan dengan hadirnya seorang Aleesha yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Sudah bangun ?" Tanya Aleesha saat Bram tanpa berkedip menatap wajahnya.
"Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu ?" Jawabnya balik bertanya.
"Hah, mengetuk pintu ? Ini kamar saya Pak, buat apa saya mengetuk pintu." Terdengar nada kesal dari bibir cantik Aleesha.
'Iya juga ya, bodohnya aku.' Komentar Bram dalam hati.
Asbram memalingkan wajah, menghindar dari rasa malu.
"Aku sudah ambilkan sarapan untukmu. Kalau mau silahkan, kalau tidak mau juga tidak apa-apa." Kata Aleesha sedikit ketus.
"Lalu_"
"Lalu kemeja Bapak, sudah saya masukkan binatu bersamaan dengan karpet dan blazer saya yang terkena muntahan." Sambungnya memotong ucapan Asbram.
Tanpa pamit, tanpa menunggu jawaban dari seseorang yang dia ajak bicara, Aleesha berbalik menuju pintu kembali.
"Tunggu."
Asbram memanggil, sebelum sempat dia buka handle pintu kamarnya.
__ADS_1
"Aauuu....ssshhh." Keluhnya, sembari memijit ringan bagian tubuhnya yang terasa sakit.
Pahanya terantuk pojokan sofa, saat buru-buru menyusul kepergian Aleesha.
Gatal sebenarnya kaki Aleesha ingin membantu. Hatinya selalu tergerak, jika melihat seseorang sedang membutuhkan bantuan.
Namun rasa gengsi, membuat dia harus mengurungkan niatnya.
"Masih ada yang harus saya bantu Pak ?"
"Oh, tidak, terimakasih. Tapi_"
"Tapi kalau sudah tidak ada lagi yang diperlukan, saya permisi. Atau mungkin Bapak ingin kembali ke kamar Bapak ?" Potongnya lagi.
"Ya, maaf, saya_"
"Sama-sama." Lagi-lagi Aleesha memotong kalimat yang belum selesai Asbram ucapkan, sembari membukakan pintu, memberi ruang untuk tamunya segera keluar.
Tanpa banyak bertanya lagi, Asbram segera kembali ke kamarnya. Kesadaran dia membuat nya ingat dimana dia letakkan cardlock nya.
'Astaqfirullah, jadi di dalam saku celananya dia simpan cardlock nya semalam.' Batin Aleesha yang sempat memperhatikan kepergian Asbram sebelum akhirnya dia tutup pintu kamarnya.
***
Hari pertama mengikuti seminar. Sejak awal dibukanya acara hingga menjelang dia naik ke atas panggung, wajah Aleesha terlihat lelah dan sering menguap.
"Mbak Icha, persiapan, sebentar lagi waktunya Mbak Icha tampil." Kata Widya mengingatkan.
"Hhhhmmmm."
Widya merasa ada yang beda dengan Aleesha hari ini. Dia lebih banyak diam, kurang bersemangat dan yang membuat heran lagi, belum pernah dia mendengar jawaban 'hhmmmm' dari bibir leader-nya selama dia aktif sebagai asisten pribadinya.
"Mbak Icha sakit ?" Tanya Widya kembali memastikan.
"Enggak Wid, aku hanya capek dan sedikit kurang tidur. Leherku juga rasanya sakit." Jawabnya lemah sembari memijit ringan tengkuknya.
"Tapi, Mbak Icha masih siap naik panggung kan ?" Kembali Widya memastikan kesiapan Aleesha untuk mengisi puncak acara hari ini.
"Semoga."
"Kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk CA kita yang tercinta, Aleesha Zavira !"
Musik pengiring terdengar nyaring. Tepuk tangan dan sorak sorai para peserta seminar juga terdengar sangat antusias.
'Aku tidak boleh mematahkan semangat mereka. Seperti biasa, aku harus lebih semangat dibandingkan mereka.' Kata hatinya.
"Ayo Mbak Aleesha, kamu bisa." Gumam Widya lirih, saat melihat Aleesha memaksakan diri untuk tetap semangat.
"Apa ada yang salah dengan leader mu ?" Tanya Bram tiba-tiba mengagetkan dari belakang.
"Oh, Pak Bram, maaf. Hari ini Mbak Aleesha baru kurang enak badan." Jawabnya hampir tak terdengar.
"Dia sakit ?"
"Iya Pak, tadi sempat mengeluh sedikit pusing, lehernya sakit dan mengantuk karena semalam tidak bisa tidur."
"Tidak bisa tidur ? Why ? Apa kamarnya kurang nyaman ? Atau perlu saya carikan kamar yang lain ?" Kembali Widya diberondong banyak pertanyaan, yang sebenarnya ingin tahu lebih tentang Aleesha.
"Maaf Pak, saya kurang tahu. Karena Mbak Aleesha tidak menceritakan keluhannya secara detail.
"Hhhhmmmm."
__ADS_1
'Ternyata dia begitu menjaga rahasia, bahkan dengan asisten pribadinya sekalipun.' Komentar Bram dalam hati.
Next On ------------->