
Lampu indikator di atas pintu ruang operasi mulai padam, pertanda tindakan di ruang bedah sudah selesai.
Jekleekk ...
Seorang laki-laki berpakaian serba hijau, dilengkapi dengan penutup kepala, keluar dari ruang operasi, diikuti beberapa perawat di belakangnya.
"Dokter, bagaimana kondisi menantu Saya ?" Tanya Mama Rose, sengaja menegaskan kata menantu untuk memastikan reaksi putranya.
Namun tidak sesuai harapan. Asbram hanya terdiam, berdiri mendekati Dokter dengan gayanya yang tetap cool tanpa reaksi sama sekali.
"Ma, tenang dulu, biar Dokter menjelaskan." Cegah Papa lirih, saat Mama antusias mulai ingin bertanya macam-macam.
"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Namun, pasien belum sadarkan diri." Kata Dokter.
"Alhamdulillah..."
Layaknya paduan suara, mereka bersyukur dan berharap Aleesha segera sehat kembali.
"Apa, itu, tidak ada hal yang membahayakan Dok ?" Tanya Asbram dengan nada belepotan.
"Sebenarnya tadi Kami team Dokter sempat merasa kesulitan untuk mengeluarkan peluru dari bahunya. Karena terselip diantara rongga dada dan hampir mengenai salah satu organ vitalnya." Terang Dokter.
Mama Rose hanya bisa beristighfar sembari membungkam mulutnya sendiri.
"Kedepannya, apa ada sebab akibat yang akut untuk pasien Dok ?" Tanya Asbram kembali ingin memastikan.
"Kemungkinan terasa nyeri saat proses maupun setelah penyembuhan mungkin ada. Tapi Kami berharap tidak akan ada hal yang lebih berat dari itu." Jelasnya lagi.
"Berapa lama Aleesha sadar Dok ?" Kali ini Mama Rose kembali bertanya dengan suara bergetar.
"Kita tunggu saja Ibu, semua tergantung dari kondisi daya tahan tubuh pasien itu sendiri."
'Ya Allah, terimakasih, karena Engkau masih memberikan keselamatan untuk Aleesha. Sembuhkan Dia, jangan Engkau tambah lagi beban dalam hidupnya.' Ucap Syukur Mama Rose dalam hati.
"Baik, kalau begitu Saya permisi dulu. Pasien bisa dibesuk nanti setelah dipindahkan ke ruang rawat."
"Terimakasih Dok." Kata Asbram mengakhiri percakapan mereka.
"Widya, Mama minta tolong, ambilkan keperluan Aleesha di apartemennya. Siapkan beberapa baju ganti yang mudah di pakai, juga keperluan sehari-hari untuk Aleesha." Pinta Mama Rose.
"Baik Bu."
Widya segera pamit dan menyiapkan apa yang diminta Mama Rose. Begitupun dengan Asbram.
"Kamu mau kemana Nak ?" Tanya Mama Rose, saat putranya ikut berbalik, berjalan menuju koridor rumah sakit.
"Bram mau urus administrasi dulu Ma." Jawabnya.
"Segeralah kembali Nak."
Seperti biasa, tanpa menunggu instruksi, David mengekor di belakangnya. Karena tidak mungkin seorang Asbram hanya akan mengurus administrasi. Masih banyak hal yang harus dia selesaikan saat ini.
__ADS_1
"Selamat siang Pak, ada yang bisa kami bantu ?" Sapa seorang petugas administrasi.
"Pasien atas nama Aleesha." Hanya kalimat itu yang keluar dari bibirnya.
Meskipun begitu, petugas administrasi sudah tanggap dan langsung menyiapkan berkas-berkas atas nama pasien yang dia minta.
"Untuk ruang rawatnya, mau dipindahkan kemana Pak ?" Pertanyaan selanjutnya.
Namun Asbram hanya menyerahkan sebuah kartu debet dan meminta agar pasien diberikan fasilitas VVIP di rumah sakit ini.
Asbram kembali meninggalkan ruang administrasi yang telah menyelesaikan urusannya.
"Kita ke kantor polisi Vid." Ajak Asbram, dengan nada yang sedikit emosi.
"Tunggu Bram, sebaiknya, untuk sementara Kamu jangan nongol dulu di depan kamera." Pinta David sebagai teman.
"Siapa yang mau nongol depan kamera !" Jawabnya jengkel.
"Bram, mana bisa kamera tidak memburumu. Dengan Kamu datang ke kantor polisi saja, sudah pasti akan banyak mengundang wartawan berdatangan." Jawab David lebih kesal.
Entah apa yang Asbram pikirkan saat ini. Bahkan Dia tidak bisa berfikir lebih jernih lagi.
"Pikirkan strategi apa yang harus kita lakukan setelah Aleesha sadar nanti. Karena sudah banyak pemberitaan negatif tentang kejadian ini. Termasuk saat kalian di hotel."
"Apa_" Komentar Bram tertahan.
"Dari mana mereka dapatkan video itu ?" Lanjutnya lirih.
"Kamu ini berlagak bodoh atau memang sedang dalam vase bodoh."
"Dunia kita dunia entertaint, serba digital, begitu mudah bagi mereka mendapatkan informasi apapun." Lanjut David mengingatkan.
"Kamu punya usul ?"
"Hanya ada satu jalan untuk bisa menutup rapat omongan di luar."
"Apa ?"
"Kalian harus benar-benar menikah."
Asbram tersentak mendengar usulan David.
"Gila Kamu !" Umpatnya lirih.
"Hanya itu jalan satu-satunya."
"Itu tidak mungkin David, kamu tahu kan kenapa ?"
"Apa ? Karena masa lalu yang hilang ? Itu lebih gila Bram !"
"Pasti ada jalan lain." Gumamnya sendiri.
__ADS_1
"Pikirkan lagi, hanya itu saran dariku, demi menjaga reputasi kalian berdua." Kata David mengakhiri percakapan mereka, sembari pergi meninggalkan Asbram dengan kegundahan hatinya.
***
Kediaman keluarga Hermantoro
Sinar mentari pagi yang biasa menyapa saat ini tak terlihat entah kemana. Mungkin masih terlelap, di tengah dinginnya awan gelap.
Seperti kebanyakan para pemalas yang lebih memilih meringkuk di dalam selimut, saat kehangatan di luar tak lagi dia rasakan.
Berbeda dengan Ayah Herman dan Bunda Aida saat ini. Meskipun dingin menyapa, awan hitam gelap tak terkira, Beliau tetap menjalankan aktivitasnya.
"Ini kopi tawarnya Yah, lengkap dengan pisang goreng krispi kesukaan Aleesha." Begitu Bunda Aida menyuguhkan santap pagi untuk Ayah.
"Sini Bun, duduk sini." Pinta Ayah.
"Sebentar, Bunda masih harus menyelesaikan mencuci sayuran di belakang." Tolak Beliau.
"Nanti saja masak nya, hujan - hujan begini memang pas di temani yang hangat-hangat. Tapi kurang pas kalau tidak ditemani sama Bunda." Rayuan Ayah dimulai.
"Halah... biasanya juga gimana." Komentar Bunda malu-malu.
"Memangnya Bunda mau masak apa ?"
"Bunda mau masak yang enak-enak, ada sop jamur lengkap dengan sambel dan perkedel kesukaan Aleesha."
"Hhhhmmmm...dari tadi Aleesha, Aleesha, Aleesha saja yang Bunda sebut. Kesukaan Ayah mana ?" Goda Ayah di pagi yang terasa sejuk menusuk.
Entah sudah seberapa sering pagi ini Bunda sebut nama Aleesha.
"Gak tahu Yah, sejak kemarin Bunda keinget Aleesha terus." Komentar Bunda sedikit melo.
"Bunda kangen ya, ditelepon saja sana." Jawab Ayah menepis kegundahan hati Bunda.
"Nanti saja, masih terlalu pagi." Ucap Bunda sembari berlalu kembali menuju dapur.
Di dalam hati sebenarnya Ayah juga merasakan apa yang Bunda rasakan. Tapi itulah beda Ayah dan Bunda. Ayah masih bisa menutupi risau di dalam hati.
Di dalam keheningan, Ayah meraih remote tv di atas nakas. Hanya ada berita selebritis dan dunia anak-anak, yang ada pada semua chanel televisi pagi ini.
"Bunda ! Bunda !" Teriak Ayah tiba-tiba.
"Ada apa Yah, mengagetkan saja."
Namun bukannya menjawab pertanyaan Bunda, Ayah masih saja terpaku dengan pandangan mata tajam ke arah televisi.
Melihat itu, seketika Bunda terduduk, diam seribu bahasa bahkan hanya mampu membungkam mulutnya sendiri tanpa bisa berkomentar apa-apa.
Tak terasa sebutir cairan bening jatuh membasahi pipinya. Tubuhnya lemas bersandar ke bahu Ayah yang selalu siaga untuk keluarga.
Firasat seorang ibu bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Terbukti, sesuatu terjadi pada putri kesayangannya.
__ADS_1
"Aleesha..." Lirihnya.
Next On ------------------------->