
Masih di tempat yang sama, Aleesha mencurahkan isi hatinya. Ada perasaan lega dan puas. Karena apa yang dia pendam selama ini bisa tercurahkan.
"Cha, jangan bilang Kamu tidak tahu dimana suamimu ?" Tanya Keysha yang sejak tadi menunggu jawaban Aleesha.
"Entahlah Key, mungkin Dia sudah bahagia bersama perempuan itu." Lirihnya.
"Maksudmu, Dia benar-benar pergi ?"
"Waktu itu, Dia janji, Dia akan kembali, tapi ..." Ucapannya terhenti, berbagai memory pahit terlintas di benaknya. Terutama saat terakhir Dia benar-benar bertemu dengan perempuan yang namanya sudah terpatri di hati Asbram sejak kecil.
*Flashback On
"Mohon maaf Ibu, silahkan mengisi daftar tamu terlebih dahulu." Sapa ramah seorang petugas penerima tamu.
"Sudah, lalu apa lagi ?" Tanya perempuan itu sedikit ketus.
"Terimakasih Ibu, mungkin ada yang bisa Kami bantu ?"
Kembali petugas penerima tamu bertanya.
"Mbak ini tuli apa memang gak paham Saya bicara." Ketusnya.
"Ibu, mohon maaf, Saya _"
"Saya kan sudah bilang, Saya mau bertemu Pak Asbram." Potongnya.
"Baik Ibu, sudah Kami catat. Saat ini Pak Asbram sedang ada meeting dengan klien. Jadi mohon maaf, jika Ibu belum bikin janji sebelumnya, Kami belum bisa memastikan, pukul berapa Pak Asbram bisa ditemui. Silahkan tunggu terlebih dahulu, atau akan Kami hubungi kembali jika Ibu sedang terburu-buru atau ada keperluan lain." Jawabnya sopan menjelaskan.
Braaakkkk...!
Satu gebrakan telapak tangan jatuh di atas meja resepsionis.
"Bilang sama Pak Asbram, Chacha ingin bertemu." Kekehnya.
"Ibu, sekali lagi Saya mohon maaf, mohon Ibu duduk terlebih dahulu di ruang tunggu. asisten Pak Asbram sedang membuat schedule dengan Ibu." Jawabnya masih bersabar.
"Ribet, terlalu banyak aturan. Kalian belum tahu siapa saya, lihat saja nanti !" Gerutunya panjang lebar.
Perempuan yang menyebut dirinya dengan sebutan 'Chacha' itu akhirnya mau menuruti apa yang resepsionis sampaikan, untuk menunggu di ruang tunggu.
Meskipun harus dengan sedikit ngedumel. Dia rela berlama-lama menunggu, demi bertemu pujaan hatinya.
"Siapa sih Dia, arogan banget. Ibu Aleesha yang istrinya Pak Bram saja tidak sekasar itu."
"Gak tahu, Aku juga baru melihatnya hari ini."
"Iya, cantik saja enggak, gayanya selangit. Seperti Dia saja yang punya StarTV.
Bisik-bisik di balik meja resepsionis.
"Ada apa ? Ada masalah ?" Tanya Aleesha yang nongol tiba-tiba dan sempat mengagetkan mereka.
"Eh Ibu, selamat datang Ibu. Maaf, Kami tidak memperhatikan kedatangan Ibu." Sapa mereka salah tingkah.
"Tidak apa-apa."
Seperti biasa, senyum manis Aleesha selalu mengembang di bibirnya.
"Ada yang bisa Kami bantu Ibu."
"Saya ingin bertemu Bapak. Bapak ada di ruangannya ?" Jawab Aleesha balik bertanya.
"Bapak sedang ada meeting dengan klien Ibu. Silahkan, Ibu mau menunggu di ruang tunggu, sebentar lagi mungkin meeting sudah selesai. biiar Kami sediakan minum untuk Ibu." Tawar mereka.
"Tidak, terimakasih. Biar Saya tunggu di ruang Pak Bram saja."
"Oh iya, silahkan Ibu." Ucapnya selalu ramah.
Ruang kerja Asbram ada di lantai empat. Butuh waktu cukup untuk berjalan ke arah sana.
'Sebentar lagi meeting mereka selesai, tepat waktunya saat istirahat siang.' Pikir Aleesha yang berencana mengajak suaminya untuk makan siang.
"Tunggu !"
Baru beberapa langkah Aleesha berjalan menuju lift, seseorang telah menghadangnya.
__ADS_1
"Anda siapa ? Kenapa diizinkan masuk begitu saja. Sedangkan Saya, harus masih menunggu." Cerocosnya tiba-tiba.
"Saya_"
"Perkenalkan, Saya Chacha. Calon istri pemilik Star TV." Potongnya sembari mengulurkan tangan.
Cukup lama Aleesha menerima jabat tangan yang menjulur kepadanya. Rasa heran membuat dia mengernyitkan sisi dalam alisnya.
'Chaca ? Jadi, perempuan ini yang selama ini Mas Bram cari-cari.' Pikir Aleesha dalam hati.
"Aleesha."
"Oh, iya iya iya, Saya tahu, Saya tahu." Ucapnya penuh selidik.
"Anda mengenal Saya ?" Tanya Aleesha yang berfikir, mungkin suaminya sudah memperkenalkan dirinya kepada perempuan ini.
"Saya pernah melihat Anda di TV." Celetuknya.
Geram, namun tetap bersabar. Itulah Aleesha.
'Perempuan itu, ngapain Dia disini. Dan Bu Aleesha, apa yang sedang mereka bicarakan.'
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata tanpa sengaja menemukan mereka berdua.
"Bu Aleesha, silahkan, Pak Bram sudah menunggu di ruang kerjanya." Sapa David buru-buru untuk mencegah sesuatu hal akan terjadi.
"Terimakasih."
"Eh, tunggu, tunggu !" Teriaknya berusaha mencegah kepergian mereka.
'Haduh, mau apa lagi ini orang.' Pikir David geretan.
"Kamu kan yang nusulin Mas Bram waktu itu kan ?"
Pertanyaannya membuat David semakin geram.
'Mas Bram ? Perempuan ini terdengar begitu akrab mengeja nama Mas Bram. Sedekat apa sebenarnya mereka, kenapa begitu yakin Dia perkenalkan dirinya sebagai calon istri pemilik StarTv.' Pikir Aleesha dalam hati.
"Ee... ibu Aleesha silahkan ke ruang kerja Pak Bram terlebih dahulu. Nanti, Saya segera menyusul." Sela David ditengah - tengah rasa curiga yang menyelimuti pikiran Aleesha.
"Silahkan Ibu."
"Oh iya....Saya punya banyak PR yang butuh penjelasan darimu." Kata Aleesha sebelum meninggalkan asisten pribadi suaminya bersama wanita misterius.
"Uffhh ... Apa yang Anda inginkan sebenarnya ?" Tanya David point, berbalik ke arah gadis yang menyebut dirinya Chacha.
"Saya hanya ingin bertemu dengan Mas Bram." Jawabnya. Ada rasa takut dari nada bicaranya.
"Pak Bram sedang sibuk dan tidak bisa diganggu." Tegasnya.
"Siapa Kamu, berani melarang ku ?" Kekehnya sembari melotot.
"Bukan_"
"Bukan apa ? Atau...Saya rasa ini tempat yang tepat untuk mengumumkan hubunganku dengan Mas Bram." Celotehnya terdengar lirih namun seperti sebuah peringatan. Bahkan tidak memberikan sedikit celah untuk David berbicara.
Seperti yang Dia lakukan saat ini, tanpa peduli dengan sekitarnya, memaksa dan menuntut David untuk menuruti permintaannya.
'Kali ini Aku harus sedikit mengalah. Tapi ingat, jika suatu hari nanti, Kamu akan termakan dengan omonganmu sendiri.' Komentar sisi hati David.
"Tolong, jangan bikin gaduh. Di sini banyak mata yang haus berita. Jadi, saya mohon, jaga sikap Anda." Pinta David sedikit melunak. Merasa sadar akan resiko yang akan terjadi, jika Chacha berulah di ladang usahanya.
"Oke, tapi dengan satu syarat." Jawabnya, serasa di atas angin.
"Syarat apa ?"
"Bawa Saya ke ruang kerja Mas Bram."
"Iya, nanti Saya_"
"Sekarang." Potongnya masih dengan nada mengancam.
Dengan sangat terpaksa, David menggiring Chacha ke ruang kerja Asbram. Sudah ada Aleesha menunggu di sana.
Tok tok tok...
__ADS_1
"Ya." Jawab Aleesha dari dalam.
"Maaf Ibu, terpaksa Saya harus mengantarkan Mbak Chacha ke sini." Kata David, merasa belum bisa berbuat apa-apa.
"No problem." Jawab Aleesha sangat tenang, masih pada posisinya duduk di sofa, dengan surat kabar di tangannya.
"Hai, Kita berjumpa kembali." Sapa Chacha.
"Silahkan duduk." Jawab Aleesha.
"Hhmmm... Saya rasa, Saya lebih cocok duduk di sini." Ucapnya meminta tempat yang Aleesha duduki saat ini.
"Jaga sikap Anda, disana banyak tempat duduk." Cegah David berusaha menghentikan sikap kurang ajar Chacha.
"Tidak apa-apa Vid, silahkan kalau Anda mau."
Lagi-lagi Aleesha memilih untuk mengalah, menghindari keributan yang tidak ada gunanya.
"Nah, gitu dong... " Ucapnya sembari meletakkan pantatku pada sofa khusus yang Asbram sediakan untuk istrinya.
"Bu Aleesha, maaf...Saya_"
"Tidak apa-apa Vid, ini bukan salahmu kok." Jawab Aleesha bijak.
"Apa yang kalian bicarakan. Saya tidak suka kalian berbisik-bisik di hadapan Saya." Maki Chacha.
"Vid, sampaikan ke Mas Bram, kalau tadi Saya datang. Saya keluar dulu." Capek dan kesal yang tertahan. Itulah yang Aleesha rasakan saat ini.
"Tidak seharusnya Ibu mengalah. Karena Ibu lebih berhak berada di tempat ini." Pinta David.
"Hei, kalian berdua membicarakan saya !" Teriak Chacha merasa dicuekin sejak masuk ke ruang kerja Asbram.
"Jangan khawatir, tidak ada gunanya Kami membicarakan hal yang tidak penting seperti Anda." Jawab Aleesha sedikit kesal.
"Kurang ajar sekali Kamu, awas ya...lihat saja nanti kalau Aku sudah menjadi nyonya besar di sini, Aku pastikan kalian akan hengkang dari perusahaan ini." Ancamnya.
"Jangan sombong dan jangan bermimpi itu semua akan terjadi."
"Apa ! Berani sekali Kamu_"
"Stop !"
Teriak Asbram yang tiba-tiba masuk dan melihat pemandangan di ruang kerjanya.
"Mas Bram, Aku kangen sekali." Balas Chacha, berlari dan langsung memeluk pria pujaan hatinya.
"Cha, tolong ini di kantor." Tolak Bram melepas pelukan Chacha.
Tanpa banyak berkomentar, Aleesha langsung berjalan menuju pintu keluar.
"Aleesha, tunggu, Aleesha." Panggil Asbram tanpa Dia pedulikan
"Mas Bram, tunggu, mau kemana !" Teriak Chacha saat Asbram berusaha mengejar istri sahnya.
"Tunggu disini, Aku segera kembali." Pintanya.
Asbram masih mendapati istrinya saat sedang menunggu di depan pintu lift.
"Aleesha, Kita perlu bicara." Ditariknya pergelangan tangan Aleesha, hingga tidak sempat memasuki ruang lift.
"Maaf, Aku tahu diri, meskipun Aku yang berhak berada di sana, tapi Aku sadar, bukan Aku yang dibutuhkan." Jawabnya sembari menarik tubuhnya menjauh dari suaminya.
"Aleesha, tolong dengarkan Aku."
"Jangan di sini, Aku menunggu dan akan mendengarkan Mas di rumah." Ucapnya sambil berlalu memasuki ruang lift.
Demi menjaga nama baik dan mencegah keributan di kantor, Aleesha memilih untuk mengalah dan berharap ada titik terang yang baik nanti di rumah.
Namun, hingga malam menjelang, pagi mulai datang dan kembali malam lagi, Asbram tidak kunjung datang. Bahkan sekedar pesan saja tidak Dia dapatkan.
Sampai saat inipun Aleesha tidak tahu kemana dan dimana perginya Asbram.
*Flashback Off
Next On ---------------->
__ADS_1