Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 44. Pernikahan Widya & Ridwan


__ADS_3

Awan putih terlihat cerah menghiasi langit biru. Sinar mentari pagi ikut hadir menghangatkan suasana.


Aroma bunga kanthil tercium semerbak, memikat setiap insan yang mencium wanginya. Menebarkan wewangian khas pengantin baru.


Suara merdu gamelan adat jawa diperdengarkan. Semua undangan yang hadir terlihat bahagia bersuka cita. Begitupun dengan kedua mempelai. Duduk bersanding dengan wajah penuh kebahagiaan.


Ya ... hari ini hari spesial untuk Widya. Asisten pribadi Aleesha yang setia menemani kemanapun Aleesha pergi. Pertemuan dan kebiasaan bekerja bersama dengan Ridwan, driver freelance yang siap mengantarkan kemanapun mereka bertugas, menjadi awal tumbuhnya benih-benih cinta pada keduanya.


"Selamat ya Wid, semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek." Tulus Aleesha memberikan selamat.


"Terimakasih Mbak Icha. Semuanya berkat Mbak Icha. Widya tidak akan seperti ini kalau bukan karena Mbak Icha." Jawabnya bahagia.


"Selamat ya Wan, jaga Widya baik-baik." Giliran Ridwan yang mendapatkan ucapan.


"Siap Bos, pasti Saya akan menjaganya Mbak." Candanya serius.


"Oh ya, Pak Bram mana ?" Tanya Widya, saat melihat pria di sebelah Aleesha bukan Asbram, tapi David, asisten pribadi Asbram.


"E_"


"E...maaf, Pak Bram ada agenda di luar kota. Jadi, Saya yang mewakili atas nama pribadi dan Star TV, mengucapkan selamat menempuh hidup baru." Potong David memberikan penjelasan.


Aleesha hanya diam, mengangguk, mengiyakan pernyataan David. Apapun dan bagaimanapun keadaan yang sebenarnya, Aleesha tidak perlu mengatakan hal itu kepada Widya dan Ridwan.


"Iya Pak David, terimakasih atas kehadirannya." Ucap Ridwan mewakili istrinya menjawab ucapan selamat dari asisten pribadi orang nomor satu di Star TV.


"Silahkan Pak David, Mbak Aleesha." Kata kerabat dari kedua mempelai, mempersilahkan Aleesha dan David untuk menempati dan menikmati hidangan yang sudah disediakan.


'Keysha mana ya, kok belum kelihatan. Penasaran dengan siapa Dia datang.' Gumamnya dalam hati.


Tak berapa lama, terlihat satu pasangan yang sangat mencolok diantara banyaknya tamu undangan yang hadir.


'Itu Key, dengan siapa Dia datang ?' Tanya Aleesha dalam hati, saat melihat sahabatnya naik ke panggung mempelai.


"Widya, selamat ya, semoga samawa." Ucapnya memberikan selamat.


"Terimakasih Mbak, segera menyusul, Saya tunggu undangannya." Balas Widya.


Turun dari panggung mempelai, pandangan mata Keysha menyapu seluruh ruangan, mencari-cari keberadaan sahabat.


"Hai." Lirihnya seakan berbisik sembari melambaikan tangannya, saat Dia menemukan dimana Aleesha berada.


"Key, itu yang datang bersama Key, Dokter Arya bukan sih ?" Ucapnya setengah bertanya.


"Iya Mbak." Reflek David menjawab.


'Arya, jadi Arya pria yang membuatnya Keysha berbunga-bunga. Arya, akhirnya Kamu melabuhkan hatimu kepada sahabatku.' Komentar Aleesha dalam hati.


Terkadang cinta bukan hanya datang dari pandangan pertama, tapi kebiasaan bersama juga ikut peran aktif dalam menyatukan dua insan.


Seperti saat ini, dua pasangan yang Aleesha lihat, adalah hasil dari pertemuan yang intens mereka kerjakan karena dalam satu profesi pekerjaan.


'Lalu ... atas dasar apa pertemuan ku dengan Mas Bram ?' Tanya sisi hati Aleesha.


Jika saja ini bukan tempat umum, mungkin setetes cairan bening akan ikut mengomentari pertanyaan Aleesha.


"Aleesha." Sapa Key ikut bergabung satu meja dengan Aleesha.


"Cantiknya sahabat ku." Komentar Aleesha.

__ADS_1


"Kamu lebih cantik."


Keduanya saling memuji.


"Halo Sha, apa kabar ?" Kali ini gantian Dokter ganteng Arya yang menyapa.


"Alhamdulillah, baik Dok." Jawab Aleesha sembari mengernyitkan kedua alisnya.


"Kenapa, ekspresi nya begitu ?" Tanya Keysha mengambil alih pembicaraan.


"Ini, kalian beneran nih ?"


"Memang apa yang Kamu lihat ?"


"Kalian berdua_"


"Iya, doakan kami ya." Potong Keysha setengah berbisik terdengar girang.


"Oh... akhirnya, sahabatku yang satu ini tidak jomblo lagi." Komentar Aleesha ikut senang.


"Iya dong, masak kalah sama Widya." Kelakar Keysha.


"Selamat ya Dok, jaga si bawel ini untukku."


"Tentu." Cuma satu kata itu yang keluar dari bibir Dokter ganteng idaman kaum hawa.


'Ada apa dengan Arya, sikapnya tidak seperti biasanya.' Tanya Aleesha dalam hati.


Entah kenapa, hari ini Dokter Arya memang tidak begitu banyak bicara. Bahkan, senyum saja terlihat mahal.


"Asbram tidak hadir Vid ?" Tanya Dokter Arya kepada David.


'Bahkan, menanyakan keberadaan suamikupun tidak langsung kepadaku.' Pikir Aleesha mulai over thinking.


"Maaf Pak, Saya yang mewakili Pak Bram mendampingi Ibu Aleesha. Kebetulan hari ini Pak Bram ada acara di luar kota yang tidak bisa di tinggal." Jawab David mencoba menutupi sebuah kebohongan.


"Maklumlah orang sibuk. Siapa sih yang gak tahu Pak Asbram. Beruntung sekali lo, bisa bertemu apalagi bertatap muka langsung dengan Dia." Komentar Keysha, sedikit ada nada sindiran di sana.


Reflek, Keysha memandang ke arah sahabatnya. Meskipun Dia tahu David berbohong, tapi Keysha tetap mencoba untuk percaya, bahwa suami sahabatnya itu benar-benar sibuk, sehingga tidak bisa menghadiri undangan pernikahan asisten pribadi istrinya.


'Kasihan Kamu Sha, Kamu tidak pantas diperlukan seperti ini. Coba jika dulu Kamu mau menerima sinyal - sinyal cinta dariku.' Kata hati Arya, yang sebenarnya Dia sendiri juga mengetahui kondisi hati Aleesha.


Takut akan emosi sahabatnya yang tak terbendung, Aleesha mencoba mengalihkan pembicaraan. Apalagi ada David di antara mereka.


***


Rentetan acara demi acara telah terlaksana dengan lancar. Dari awal prosesi yang digelar, baik secara adat maupun modern telah berjalan dengan sempurna.


Satu persatu, undangan bersalaman berpamitan, baik kepada keluarga besar, maupun kepada kedua mempelai. Namun tidak dengan Aleesha, Dia harus ikut serta merayakan kebahagiaan asistennya dengan mengikuti acara intern team malam nanti.


Banyak mata mengalihkan pandangan kepada Aleesha. Sebagian ada yang tersenyum kagum, ramah menyapa. Tapi ada juga yang bertanya-tanya, dimanakah pendamping nya.


Pembawaannya yang tetap tenang, ramah, berjalan dengan anggun dan senyum manis mengembang, membuat banyak orang berdecak kagum.


Tapi entah apa yang ada di pikiran Asbram, sehingga Dia begitu tega meninggalkan istri secantik dan sebaik Aleesha.


Drrttt ... drrttt ... drrttt.. Handphone David bergetar.


Dia lirik nama yang tertera pada layar tujuh inci di handphonenya.

__ADS_1


"Siapa Vid ? Kenap tidak diangkat ?"


"Oh , bukan siapa-siapa Mbak." Jawabnya gugup.


Aleesha tidak mau banyak bertanya, itu haknya David mau angkat panggilan atau tidak. Bahkan tidak terbesit sedikitpun nama Asbram yang menghubungi


Drrttt ... drrttt ...


Namun, lagi-lagi handphone David bergetar. Mengharuskan bagi dirinya untuk menjawab.


Kebetulan pada waktu yang bersamaan, Aleesha sedang berbincang dengan Keysha dan suaminya.


"Cha, kami duluan ya ?" Pamit Keysha.


"Iya Key, hati - hati di jalan."


"Thanks Cha."


Sebuah ciuman hangat mendarat di pipi kiri dan kanan Aleesha.


Setelah kepergian Key dan Dokter Arya, kembali Aleesha mencari keberadaan David yang masih berbincang di handphonenya.


"Tapi Pak, bagaimana dengan Ibu Aleesha ?"


Tanpa David sadari, Aleesha mendengar pembicaraan Dia melalui telepon.


"Belum tahu Pak, mungkin akan selesai pukul sembilan lebih."


"Baik Pak."


Sambungannya terputus, entah karena low bat atau memang sengaja dimatikan.


"David, Kamu bisa pulang lebih dulu. Biar Saya tinggal sebentar di rumah singgah untuk ikut mempersiapkan acara intern team nanti malam." Pintanya kepada asisten pribadi suaminya.


Selama Widya mengambil cuti untuk persiapan pernikahan, David banyak membantu pekerjaannya. Seperti saat ini, ketika mobil pribadinya dihias untuk digunakan sebagai mobil pengantin, David juga yang memberikan jasanya untuk mengantarkan kemanapun Aleesha pergi.


"Tidak apa-apa Mbak, Saya juga akan menunggu Mbak disini." Kata David, merasa punya tanggung jawab.


"Tidak perlu, ditinggal saja. Kamu juga perlu istirahat. Lagipula, bukankah ada tugas lain yang lebih penting dari Pak Asbram." Tolaknya halus.


'Mbak Aleesha mungkin mendengar pembicaraanku dengan Pak Bram di telepon.' Pikirnya.


"Baik kalau begitu. Hubungi Saya kalau acaranya sudah selesai. Biar Saya jemput Mbak kembali."


"Tidak perlu, Saya juga belum tahu, selesai jam berapa. Lebih baik Kamu istirahat, biar nanti Saya pesan taxi online, atau nebeng sama anak-anak yang lain." Tolaknya lagi.


"Mbak yakin ?"


"Tentu saja."


"Baiklah kalau begitu, Saya pamit terlebih dahulu." Putusnya mengakhiri percakapan.


"Iya, hati-hati dijalan."


Alesane masih berdiri mematung, mengantarkan kepergian David lepas dari pandangan matanya.


'Kemana Asbram meminta David untuk melakukan tugas lain, tanpa harus memperdulikan ku.' Pikirnya mulai buruk sangka.


Next On ------------------------>

__ADS_1


__ADS_2