Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 45. Lelah


__ADS_3

'Aku tidak tahu, harus mulai perjalananku dari mana lagi. Semua usaha sudah Aku lalui. Apa mungkin ini saatnya Aku menyerah ?'


'Aku lelah, Aku merasa sudah tidak ada harganya lagi. Aku selalu ingin berusaha menjadi seorang istri yang patuh kepada suami, seorang istri yang lilah menerima apa adanya. Tapi apa yang Aku dapatkan. Hanya kebohongan dan kebohongan yang Aku terima.'


Jedeaaeeeerrrrr....


"Aacchhh... !"


Gelegar suara langit mulai intens terdengar. Diikuti pijar kilat bersautan.


"Ayo cepat, keburu hujan. Kita berteduh di halte bus sebelah sana." Ajak seorang ibu kepada putrinya.


"Pelan-pelan Mama, Adek capek." Keluhnya manja.


"Sini, Papa gendong. Uuhhh...anak Papa makin gede, makin berat gendongannya." Balas sang Ayah memberi perhatian.


"Adek kan mamamnya banyak Papa. Bial gede sepelti kakak - kakak itu." Tunjuknya pada segerombolan anak muda mudi yang sama-sama berlari menuju halte.


Sebuah gambaran keluarga kecil yang harmonis dan bahagia. Saling mendukung, saling mengisi kekosongan, saling memberikan perhatian satu sama lain.


Keluarga kecil seperti itulah yang Aleesha impikan selama ini.


'Betapa bahagianya, jika itu bisa terwujud di dalam hidupku.' Komentar sisi hatinya.


Pandangan Aleesha tak berkedip melihat wajah cantik, mungil dan tingkah lucu anak itu. Sampai-sampai, tidak Dia rasakan tetesan air hujan sedikit-sedikit mulai membasahi tubuhnya.


"Tante, cepat lali...kebulu delas. Nanti Tante bisa sakit kalau kehujanan." Celotehnya lucu dengan suara cedal, sembari menarik lengan baju Aleesha.


"Oh iya sayang." Jawabnya tersadar dari lamunan.


"Icha, tidak boleh begitu sayang." Kata Mama dari gadis cilik itu.


'Icha, nama yang sama dengan panggilan masa kecilku.' Komentar hati kecil Aleesha.


"Tidak apa-apa Ibu, namanya siapa sayang ?" Tanya Aleesha ingin memastikan.


"Chicha." Jawabnya malu-malu.


"Aisyah Tante." Kata sang Mama menegaskan.


"Nama yang cantik, secantik anaknya." Komentar Aleesha setengah bergumam.


"Timakasih Tante." Jawabnya dengan gaya menggemaskan.


Irama tetesan air hujan semakin semakin merdu terdengar. Membuat suasana malam semakin sunyi.


"Ayo sayang, itu bus nya sudah datang." Kata si Ibu sembari mempersiapkan diri menyambut kedatangan angkutan umum yang mereka sebut bus.


"Holle, sebental lagi kita pulang ya Ma." Jawab si anak.


"Iya sayang."

__ADS_1


"Tante, Tante pulang naik bis sama Icha kan ?"


Kali ini pertanyaan itu Dia tujukan untuk Aleesha.


"Iya, eh... tidak sayang. Rumah Tante dekat sekitar sini saja."


"Tapi kok, kenapa Tante ikut tunggu bis juga ?" Tanyanya kembali, lebih kritis.


"Karena tadi Tante mau ikut berteduh sama Icha." Jawab Aleesha sembari mencuci gemas pipi Aisyah.


"Yaahhh ... " Komentarnya kecewa.


"Kalau begitu Kami duluan ya Mbak." Pamit si ibu menjelang bus semakin mendekat.


"Iya, silahkan ibu."


"Da Tante."


"Dada sayang, sampai berjumpa kembali." Balas Aleesha riang. Seolah tidak ada beban pikiran yang sedang menggelayut di tubuhnya.


Malam semakin larut. Tidak seorangpun tertinggal di halte. Gini Aleesha duduk sendiri, sunyi, sepi, tanpa seorangpun tersisa di sana.


Hanya rintik air hujan yang menemani. Entah siapa yang Dia tunggu. Dan entah kemana arah tujuan Dia pulang. Rasa lelah di dalam hati membuat Dia merasa putus asa.


Masih terlintas jelas di dalam ingatannya. Beberapa jam yang lalu, di dalam sebuah pesta, semua teman dan relasinya datang bersama pasangan. Tapi Aleesha, selalu sendiri. Masih sama seperti hari-hari sebelum Dia menerima ijab kabul seorang laki-laki.


Sebagian dari mereka ada yang tersenyum tulus, tapi ada juga yang senyumnya mengejek.


•Masih di kediaman Widya


"Mbak Aleesha, belum dijemput ?" Tanya salah seorang undangan yang juga teman seperjuangan karirnya saat melihat Aleesha berdiri mematung, sibuk dengan handphone ditangannya.


"Oh belum, sebentar lagi." Jawabnya sembari menyembunyikan nyala handphone di tangannya yang terpampang sebuah aplikasi ojek online.


"Oke, duluan ya Sha." Pamitnya.


"Bye." Ucapnya melambaikan tangan.


"Hai Sha, jemputan lo belum datang ?"


Satu pasangan berlalu, keluar lagi satu pasangan menyapa. Dengan tatapan sedikit sinis.


Namanya Rima, Dia teman Aleesha saat kuliah dulu. Dia datang bersama suaminya, Aldi. Waktu masih duduk di bangku kuliah, Aldi menaruh hati terhadap Aleesha.


Tapi alih-alih ingin fokus dengan belajar dan mengejar karir, Aleesha mengabaikan perhatian dan perasaan Aldi terhadapnya. Hingga timbul sedikit rasa sakit hati karena adanya kasih tak sampai.


"Oh belum, sebentar lagi." Jawaban yang sama Dia sampaikan.


"Atau, mau bareng sama kita ?" Imbuhnya menawarkan tumpangan.


"Tidak, terimakasih. Sebentar lagi juga jemputan Saya sampai." Jawabnya sedikit ragu. Karena dari awal Dia buka aplikasi ojek online, belum ada satupun yang nyambung.

__ADS_1


"Kamu ini, mana mau istri seorang pemilik perusahaan besar, tenar dan bonafit seperti Ibu Aleesha mau naik mobil buntut sama kita." Komentar Aldi setengah meledek.


"Bukan begitu, tapi beneran kok, sebentar lagi asisten suami Saya sudah datang." Jawab Aleesha terpaksa berbohong.


Entah apa yang membuat Rima harus menekan pinggang suaminya dengan siku sebelah kirinya, saat melihat perubahan pada raut wajah Aleesha


"Oke, kalau begitu, Kami jalan dulu ya Sha." Pamitnya.


"Oh, iya, silahkan."


"Bye Sha." Ucapnya melambaikan tangan.


"Bye, take care ya Rim." Balas Aleesha melambaikan tangannya.


"Mbak Aleesha, Pak David belum datang ?"


Baru saja Aleesha ingin berlalu dari tempat itu, sang pengantin yang tak lain asisten pribadinya menyapanya, saat tidak sengaja melihat Aleesha masih di luar sendiri.


"Eh, belum Wid. Paling sebentar lagi. Soalnya tadi David ada tugas untuk menggantikan Mas Bram menghadiri meeting bersama klien. Jadi, bisa jadi, Dia masih terjebak macet." Jawabnya mengarang cerita.


"Atau, biar Mas Ridwan saja yang antar Mbak pulang." Lanjutnya sedikit memaksa.


"Jangan, masak mempelai pria keluar di malam pengantin." Tolaknya.


"Tapi ini sudah malam lo Mbak atau Mbak Icha menginap di sini saja."


"Tidak, tidak, terimakasih Wid, ini sebentar lagi David sampai kok. Gakpapa, Kamu kembali ke dalam, kan masih ada tamu keluarga juga di dalam." Tolaknya, dibumbui sedikit candaan.


"Bener nich gakpapa." Ucap Widya setengah bertanya untuk memastikan kalau ownernya aman.


"Gakpapa Widya." Jawabnya yakin.


"Baik, kalau begitu Aku ke dalam dulu ya Mbak, maaf Aku selalu ngrepotin Mbak Icha, tapi saat Mbak Icha perlu teman, malah Aku tidak bisa diandalkan." Keluhnya sendiri.


"Sudah, gakpapa. Sana, buruan ke dalam, entar ada yang kehilangan lo..." Jawab Aleesha mencoba menyenangkan hati orang lain, meskipun sebenarnya hatinya sendiri sedang galau.


'Tidak apa-apa Wid, asal kalian bahagia, Aku juga ikut bahagia. Sudah waktunya untuk Kalian menikmati hidup bahagia, setelah sekian lama Kalian berdua selalu menemani perjalanan karirku.' Tak terasa setetes air mata hampir jatuh membasahi pipinya.


Entah sampai kapan Dia harus menunggu sendiri di depan rumah Widya. Sedangkan semakin banyak orang keluar masuk dari rumah Widya, yang mau tidak mau harus tetap menyapa di saat bertatap mata dengan Aleesha.


Mungkin ini memang sudah menjadi resiko yang melekat untuk seorang publik figur seperti Aleesha. Baik, buruk kehidupan pribadi dan rumah tangganya, selalu menjadi sorotan dan konsumsi publik.


Perasaan yang tak terbendung itulah, yang membuat Dia harus menghindar dari banyak orang. Sedikit bergeser mencari lokasi yang agak jauh dari sapaan orang, hingga akhirnya terdampar di sebuah halte yang sudah mulai sepi tak berpenghuni.


*Flashback Off


"Mbak Aleesha !"


Terdongak kaget saat seseorang memanggil namanya.


Next On --------------->

__ADS_1


__ADS_2