
Hai."
Belum sempat Key menjawab pertanyaan Aleesha, Dokter Arya sudah terlebih dahulu menyapa.
"Mas." Balas Keysha kepada kekasihnya.
"Hai, Aleesha, kebetulan sekali Kita bertemu disini." Sapa Arya beralih kepada seorang wanita yang sejak lama Dia kagumi, bahkan masih sampai sekarang.
"Hai Dok, apa kabar ?" Jawab Aleesha balik menyapa.
"Fine. Kamu, sendirian. Asbram mana ?" Jawabnya balik bertanya, sambil tolah toleh mencari seseorang yang baru saja Dia tanyakan.
"Mas Bram_"
"Sorry, sorry, Saya tahu_"
"Mas." Sebuah sentuhan kecil di lengan Arya, sebagai kode, takut kalau kekasihnya salah bicara.
"Bukan begitu sayang, ya...kita kan semua tahulah siapa suami dari sahabat kita ini. Seorang Asbram purnama, mana mau Dia nongkrong di tempat seperti ini." Komentar Arya panjang lebar.
"Bisa saja Pak Dokter." Hanya kalimat itu yang bisa Aleesha sampaikan. Karena Dia sendiri tidak tahu dimana keberadaan suaminya sekarang.
'Ufff... ternyata cuma itu yang Mas Arya katakan. Aku pikir Dia akan membicarakan tentang hubungan Aleesha dan Asbram yang sedang renggang.' Pikir Key sempat khawatir.
"Duduk Sya, Kamu mau pesan apa ?" Pinta Arya yang sejak tadi melihat Aleesha betah berdiri saja.
"Oh, tidak, terimakasih. Saya sudah pesan sesuatu sama Widya disana." Tolaknya halus.
"Cha, gabung sama Kita saja disini." Kali ini Keysha yang meminta.
"Thanks Key, lain kali Aku gabung sama kalian." Tolaknya kembali, sembari melambaikan tangan perpisahan.
Entah apa yang sedang Aleesha pikirkan. Padahal sejak awal Dia meminta Ridwan untuk putar balik, hanya ingin bertemu dan bicara dengan Keysha. Tapi setelah ada Arya, Dia lebih memilih untuk menghindar.
'Aku tahu Kamu menghindar dariku Aleesha.' Gumam Arya dalam hati.
'Tidak seperti biasa, Mas Arya hari ini banyak bicara.' Pikir Keysha sedikit curiga.
"Mbak Icha, gak jadi gabung dengan Mbak Key ?" Tanya Widya kaget, melihat Aleesha tiba-tiba menggeser satu kursi kosong di sebelahnya.
"Enggak." Jawabnya singkat. Tanpa ba bi bu, Dia sambar gelas berisi orange juice milik Widya.
"Mbak Icha mau Kami pesankan sesuatu ?" Kata Widya menawarkan.
__ADS_1
"Tidak, terimakasih. Aku, ke toilet dulu." Jawabnya sembari berlalu.
Widya dan Ridwan saling menoleh
Mumpung Aleesha pergi ke toilet, Widya dan Ridwan segera menyelesaikan santap siangnya. Gak enak rasanya, makan sambil melihat wajah murung Aleesha.
"Pasti terjadi sesuatu lagi Yang." Bisik Ridwan kepada istrinya.
"Bisa jadi Mas." Jawabnya lirih.
Benar apa yang dipikirkan Ridwan dan Widya. Aleesha pergi ke toilet hanya untuk sekedar cuci tangan dan sedikit menghindar dari kondisi yang kurang nyaman.
'Kenapa Aku tidak bisa bersikap biasa saja di depan Arya. Kenapa Aku harus mengingat kejadian itu. Kenapa ?' Protes Aleesha pada dirinya sendiri.
Aleesha tertunduk di depan cermin sebuah toilet. Merenungi kembali sebuah pernyataan cinta yang tidak seharusnya Dia dengar beberapa pekan silam.
*Flashback On
"Aleesha tunggu." Cegah Arya saat mereka tanpa sengaja bertemu di sebuah cafe.
Dengan berat hati, Aleesha menghentikan langkah kakinya.
"Aku tahu Sha, ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Tapi Aku mohon, jawab dengan jujur. Apa benar Kamu tidak bahagia dengan pernikahan kalian ?" Tanya Arya point.
"Pak Arya, bahagia atau tidak, itu bukan urusan Anda." Jawab Aleesha mulai jengkel dicerca pertanyaan.
"Aleesha, kumohon jawab pertanyaan ku. Aku tidak rela jika Kamu hidup sengsara." Ucapnya membuat Aleesha naik darah.
"Jaga bicaramu Arya, siapa bilang Aku sengsara. Selama ini Aku hidup layak dan bahagia." Tegasnya.
"Bukan begitu Aleesha. Aku hanya ingin memastikan, kalau Kamu bahagia dengan pilihanmu." Pernyataan Arya kembali menekan Aleesha.
"Cukup Arya, Aku tidak suka Kamu terlalu ikut campur urusan pribadiku. Dan perlu aku tegaskan sekali lagi, Aku tidak pernah menyesal dengan keputusan ku."
"Aku peduli sama Kamu Sha, Aku sayang sama Kamu." Kekehnya.
"Dokter Arya yang Aku kenal bukan seorang yang merendahkan dirinya sendiri seperti ini. Ingat, sudah ada Keysha di sisihmu. Jangan sampai hubungan Kita renggang hanya karena hal sepele seperti ini." Komentar Aleesha menggelengkan kepala.
"Sepele Kamu bilang. Perlu Kamu tahu Sha, jauh sebelum Kamu memutuskan menerima perjodohan dengan Asbram, Aku sudah lebih dulu jatuh hati padamu. Bahkan jauh sebelum Aku mengenal Keysha." Ungkapnya jujur.
Bagai disambar petir disiang hari, Aleesha tidak pernah menyangka, akan mendengar hal itu dari seorang yang sekarang menjadi kekasih sahabatnya sendiri.
Aleesha hanya bisa diam tanpa komentar. Ingin rasanya mengumpat, memaki dirinya sendiri, namun Dia urungkan, lalu pergi meninggalkan Arya begitu saja. Dengan perasaan yang tidak bisa Dia ungkapkan.
__ADS_1
"Flashback Off
'Anday hal itu tidak terjadi, mungkin Aku masih bIsa bersikap biasa saja. Terutama dihadapan Key.' Keluhnya dalam hati.
Air kran menyala deras, beberapa kali Aleesha membasuh mukanya. Seakan membersihkan bayang-bayang Arya yang seharusnya tidak pada tempatnya.
"Mbak tidak apa-apa ?" Sapa salah seorang pengunjung yang kebetulan melihat sikap aneh Aleesha.
"Oh, tidak. Maaf." Jawabnya gugup.
Dia sambar beberapa tisu untuk membersihkan sisa air yang mengalir di wajah nya, sebelum akhirnya meninggalkan tempat yang Dia gunakan sebagai pelampiasan amarahnya.
Namun...
"Aleesha." Lagi-lagi Arya mengikuti aktivitasnya.
Langkah kaki Aleesha terhenti, karena jalan yang akan Dia lewati terhalang tubuh tegap Arya.
"Aku tahu Kamu mencoba menghindar dariku." Ucapnya kembali.
"Itu bukan mauku, keadaan yang membuatku semakin ilfil sama Kamu." Bantahnya.
"Cukup Sha, jangan berbohong pada hatimu sendiri. Katakan jika Kamu juga mencintai ku." Lirihnya.
"Stop Arya. Please, jangan memperburuk keadaan dengan ucapan - ucapan yang tidak bermutu."
Nada bicara Aleesha semakin meninggi. Dengan kuat Dia tepis sisi tubuh Arya untuk segera pergi dari tempat itu.
'Hatiku memang sedang kacau Arya. Tapi bukan berarti Aku dengan mudah bisa beralih pandangan begitu saja.' Dia tepuk-tepuk dadanya.
'Sakit rasanya telinga ini harus mendengar hal-hal yang seharusnya tidak pernah Aku dengarkan.'
Dari jauh sudah jelas terlihat langkah kaki Aleesha yang tergesa-gesa. Membuat Widya dan Ridwan segera berdiri dari tempat duduknya.
"Mbak Icha gak makan dulu ?" Tawar Widya.
"Tidak." Singkatnya sembari menyambar hand bag nya, saat memastikan kalau kedua partner kerjanya sudah menyelesaikan santap siangnya.
'Sudah kuduga, pasti ada sesuatu yang terjadi antara Mbak Key dan Mbak Icha.' Terka Widya dalam hati.
'Huff... untung tadi Aku segera menyelesaikan makan siangku. Kelihatan sekali kalau hati Mbak Aleesha sedang tidak baik-baik saja.' Komentar Ridwan dalam hati.
Seolah menjadi sebuah obrolan dari hati ke hati, keduanya saling pandang saling memastikan kalau penumpang di belakangnya duduk tenang dengan nyaman.
__ADS_1
Disaat-saat seperti ini, hanya diam dan tidak banyak bicara, itulah yang Widya lakukan. Meskipun sesuai dengan tugas baru yang Dia terima, ibu jarinya aktif melaporkan apapun yang terjadi dengan Aleesha melalui layar enam inci yang Dia pegang kemana-mana.
Next On ------------------------->