
*Aleesha POV
Dimana Aku ?
Kenapa gelap sekali ?
Kenapa tidak ada seorangpun di sini ?
Pertanyaan itu berputar - putar di benakku. Bagiku dunia hampa saat ini. Bumi yang Aku pijak seakan tidak berpenghuni.
"Ayah !" Teriakku keras, saat kulihat punggung tegap seorang pria berjalan membelakangiku.
Namun Beliau tetap saja berjalan, bahkan tanpa menoleh ke arahku sedikitpun. Selang beberapa langkah, kulihat seorang perempuan dengan paras yang cantik, anggun dan Aku, Aku mengenali wajah cantik itu.
"Ibu !" Teriakku lagi.
Namun kali ini mereka mendengar teriakanku. Ibu menoleh ke arahku, seraya menengadahkan kedua tangannya lebar-lebar untuk menyambutku.
Seketika kakiku tak bisa berhenti melangkah. Tak sabar rasanya ingin kudekap pelukan hangat ibuku yang selama ini belum pernah Aku rasakan.
Namun, baru beberapa kali Aku langkahkan kakiku, Ayah kembali merangkul ibu, mengajaknya untuk pergi meninggalkanku.
"Tunggu Ayah, Ibu !" Teriakku berkali - kali.
Aku tersenyum bahagia, saat keduanya menoleh ke arahku.
"Kembalilah Nak, tempatmu bukan disini." Hanya itu saja pesan Ayah.
Tapi apa maksudnya, Aku tidak mengerti.
"Chaca, Kami sangat menyayangimu. Karena sangat sayangnya Kami kepadamu, maka Kami tidak akan membawamu pergi." Terang Ibu.
"Tapi, tapi kenapa Bu ? Kenapa Yah ?" Berontakku.
"Semua tidak bisa Kami jelaskan. Pulanglah Nak, Ayah dan Bunda Aida menunggumu." Bagitu jari Ibu menunjuk jauh dibelakangku.
Aku menoleh ke belakang, ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya. Dan Aku yakin, Ayah dan Bunda Aida tahu jawabannya.
Tetapi yang Aku cari tidak ada. Ayah dan Bunda Aida tidak ada di belakangku, lalu kepada siapa Aku bertanya. Dan disaat bersamaan, Ayah san Ibuku juga menghilang. Entah ke arah mana mereka pergi.
"Ayah, Ibu !" Isakku tertahan.
Dadaku terasa amat sakit. Kurasakan sesuatu terhentak dari tubuhku.
Samar-samar kudengar suara tangis Bunda Aida. Tangis kesedihan yang teramat dalam.
__ADS_1
"Aleesha."
Suara itu, suara yang sangat Aku kenali, suara yang selalu Aku rindukan. Namun, entah kenapa, suara itu terdengar tidak seperti biasanya.
"Bunda, Bunda yang sabar ya. Kita sama-sama mendoakan kesembuhan Aleesha." Entah suara siapa lagi ini. Sepertinya masih sangat asing bagiku.
"Aleesha, bangun Nak, bangun." Tangis Bunda semakin terdengar pilu.
Bukan hanya Bunda, banyak sekali suara-suara asing yang Aku dengar saat ini.
Tapi dimana mereka, mengapa mereka menangisiku. Apa sebenarnya yang terjadi padaku.
Ditengah kesesatan, Aku melihat cahaya yang sangat terang. Semakin lama, cahaya itu semakin mendekat kearahku.
Sosok tinggi, tegap, putih dan berparas tampan seolah keluar dari cahaya yang menyilaukan itu.
"Kemarilah Nak, Aku akan menunjukkan jalan yang tepat untukmu." Ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Tanpa pikir panjang, Aku mengikuti kemana Beliau akan membawaku.
"Disana, ada pintu keluar, dimana sudah banyak orang yang menunggumu." Lanjutnya, menunjuk ke arah pintu gerbang berwarna keemasan, yang tertutup sempurna.
Aleesha mengikuti instruksi yang diberikan. Perlahan, Dia berjalan menuju pintu gerbang yang ditunjuk.
Disanalah mulai kulihat satu persatu orang-orang yang menyayangiku, menunggu kedatanganku.
Mendengar teriakan Bunda, Dokter segera datang dan menyelesaikan tugasnya.
"Mbak Aleesha, Mbak Aleesha bisa mendengar suara Saya ?" Tanya Dokter memastikan. Aku hanya bisa menjawabnya dengan satu kedipan mata.
Tidak ada yang bisa Aku lakukan. Tangan dan kakiku seakan terasa kaku. Tidak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan menoleh atau sekedar menganggukkan kepala saja, Aku tidak mampu. Namun, Aku masih bisa merasakan sentuhan nya.
"Alhamdulillah." Ucap syukur Bunda Aida. Entah sejak kapan Bunda ada di sini. Separah apa, dan sefatal apa akibat dari peluru yang menembus dada kiri ku ?
Kenapa wajah-wajah panik mereka perlihatkan padaku.
"Sebaiknya, keluarga menunggu di ruang tunggu. Biar pasien bisa istirahat dengan baik." Begitu kata Dokter yang Aku dengar.
Terbukti, mereka semua keluar, menjauh dari tempatku berbaring. Team Dokter dan perawatnya juga ikut keluar dari ruang rawat ku, usai memastikan Aku dalam kondisi baik-baik saja.
'Dia, kenapa ada dia juga di sini.'
Sosok terakhir yang kulihat berjalan keluar dari ruangan ini. Pria yang tidak mengharapkan kehadiranku menjadi bagian dari hidupnya, Dia ada diantara keluarga besarnya.
Tapi entah kenapa, Aku masih mau berkorban untuk Dia. Bahkan membencinya saja Aku tidak bisa.
__ADS_1
'Uuhhh...air mataku, kenapa tiba-tiba air mataku mengalir. Dan kenapa tanganku terasa berat sekali untuk digerakkan. Bahkan, Aku tidak bisa menghapus air mataku sendiri.
Kupejamkan mata ini, berharap bisa menghentikan derasnya air mataku, agar tidak seorangpun dari mereka tahu ada cairan bening mengalir di pipiku.
'Jangan sampai ada yang melihat Aku menangis.' Pintaku dalam hati.
Namun Aku salah, semua diluar dugaanku. Kurasakan ada sentuhan lembut di pipiku. Sentuhan yang belum pernah kurasa sebelumnya.
'Tangan siapa ini, jemarinya lembut menyeka air mataku. Apakah ini tangan Bunda, yang kembali mendekatiku, untuk menyeka air mataku.' Tebakku dalam hati.
'Bukan, ini bukan tangan Bunda.'
Jemari ini lebih lembut dari tangan tangan seorang Ibu yang sudah mulai keriput dimakan usia.
Ingin rasanya kubuka mata ini. Sekedar untuk memastikan, siapa pemilik hati yang lembut, yang sudi menghapus air mata dipipiku.
Tidak hanya di pipi, jemari lembut itu sekarang berpindah di keningku. Menyibak anak rambut yang menutupi keningku.
'Siapa Dia ?'
Rasa penasaran menuntutku untuk membuka kelopak mataku. Namun, Aku tak mampu.
"Aleesha, Kamu bisa mendengarku ?" Bisik suara yang sangat Aku kenali. Kali ini, bukan hanya kudengar suaranya, tapi juga kurasakan hembusan nafasnya.
Perlahan kubuka mataku. Tak kusadari, wajah tampan itu tepat berada di depanku.
"Maafkan Aku." Ucapnya sekali lagi.
Aku masih saja diam. Bukan karena sombong, tapi memang tidak tahu, apa yang harus Aku katakan.
"Bicaralah padaku." Pintanya lagi.
Bukan menjawab pernyataannya, tapi Aku lebih memilih menutup kembali kelopak mataku.
"Istirahatlah Aleesha. Aku berharap Kamu pulih kembali esok hari." Ucapnya sembari memegang lembut jemari tanganku.
Andai saja bisa kutepis, pasti akan Aku singkirkan jauh dari sisiku. Aku tidak mau perlakukan dan perhatiannya akan mempengaruhi sisi hatiku.
"Tanganmu dingin sekali." Gumamnya lirih.
Entah apa yang dia lakukan, Aku hanya bisa merasakan kehangatan dari selimut tebal yang tadinya hanya sebatas pinggang, sekarang sudah menutup seluruh tubuhku dengan sempurna.
Tak berapa lama, kudengar langkah kakinya yang semakin menjauh dari pendengaranku. Perlahan kubuka kembali mataku, tidak seorangpun ada di ruangan ini.
Namun, Aku masih bisa mendengarkan perbincangan mereka di ruang tunggu. Bisa dipastikan, Aku tidak sendiri di tempat ini.
__ADS_1
Menikmati rasa nyeri yang semakin dalam pada bekas luka tembak di dada sebelah kiriku. Sama seperti yang Asbram katakan, Akupun ingin pulih kembali esok hari ketika matahari mulai menampakkan sinarnya.
Next On --------------------------->