
"Aleesha !"
"Mbak Aleesha !"
"Icha, Cha !"
Samar-samar terdengar banyak suara memanggilnya.
'Tapi, siapa mereka ? Kenapa mereka memanggilku ?' Pikir Aleesha.
'Oh, kepalaku berat sekali. Dimana aku ?'
Perlahan Aleesha membuka matanya. Matanya bergerilya mengitari seluruh isi ruangan.
Aleesha ingat betul, kalau dia tidak sedang berada di kamarnya saat ini.
Perlahan dia angkat kepalanya, namun tangan kirinya terasa nyeri. Dilihatnya ada selang infus menghiasi pergelangan tangannya.
Dari kejauhan terlihat Widya memejamkan mata pada sandaran kursi.
"Wid." Panggilnya sembari menopang kepalanya sendiri.
"Mbak Icha, Alhamdulillah, Mbak Icha sudah sadar." Girang hati Widya.
"Sejak kapan aku tidur ?" Tanya Aleesha.
"Jangan bercanda Mbak, Mbak Icha memang terlelap, tapi bukan tidur."
'Pingsan ? Bagaimana aku bisa pingsan ?' Pikir Aleesha mengernyitkan dahinya.
Ini kali kedua dia pingsan selama mengikuti acara di puncak. Namun kali ini lebih serius dari sebelumnya dan harus dilarikan ke rumah sakit.
"Ini masih larut malam Mbak, sebaiknya Mbak Icha lanjutkan istirahatnya."
'Larut malam ?' pikirnya.
"Ini dimana Wid ?"
"Mbak Icha di rumah sakit Harapan Sehat."
"Jam berapa sekarang ?"
"Baru jam dua lewat empat puluh lima menit."
"Masih larut malam." Gumamnya.
"Sudah, jangan terlalu banyak bicara. Mbak Icha harus banyak istirahat. Biar segera sehat dan beraktivitas kembali." Pinta Widya.
Aleesha hanya mengedipkan mata, mengingat kembali rentetan peristiwa bagaimana hingga dia sampai di tempat ini, hingga akhirnya matanya terpejam kembali.
Ddrrrttt... ddrrrttt...
Handphone Widya bergetar, dia segera berjalan menjauh dari tempat tidur Aleesha setelah membenahi selimutnya sampai ke dada.
Dia ambil handphone yang sejak tadi bergetar di dalam saku celananya.
"Pak Bram."
Sebuah nama besar yang jarang bahkan hampir tidak pernah melintas di depan layar handphonenya.
"Hallo, selamat malam Pak." Jawabnya lirih.
"Hallo Widya, bagaimana kondisi Aleesha ?" Tanya Bram terdengar khawatir.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Mbak Aleesha sudah sadar Pak. Sebentar tadi kami sempat bicara, tapi sekarang Mbak Aleesha sudah kembali tidur.
"Hhmmm, terimakasih."
Tanpa mengucap salam, atau kalimat penutup, Bram sudah mematikan handphone nya.
"Idih, dasar kulkas dua pintu. Belum juga saya selesai bicara, udah main tutup aja." Gerutu Widya sendiri.
Dia kembali masuk ke dalam ruang tunggu pasien untuk beristirahat sejenak sembari menemani atasannya yang sudah terlelap karena pengaruh obat.
Widya punya peran penting dalam kesempatan Aleesha. Sebelum pulang, Asbram sudah menitipkan tanggungjawab itu kepadanya.
Dia juga melarang Widya untuk tidak menghubungi kedua orangtua Aleesha.
"Tidak perlu, jangan sampai membuat orang tua Aleesha khawatir. Dokter akan menanganinya dengan baik." Begitu Dia pesan semalam.
***
"Bram." Sapa Mama Rose saat melihat putranya sedang berdiri di depan dinding kaca balkon rumahnya.
"Pagi Ma."
"Kapan kamu pulang Nak ?"
"Tadi hampir subuh." Jawabnya, masih dengan posisi dan ekspresi yang sama.
"Sejak pulang ke rumah, Mas Bram berdiri di situ Nyah, belum beralih sama sekali." Bisik Mbok Monah kepada Mama Rose.
Mama Rose memperhatikan putranya dengan seksama.
'Pasti ada sesuatu yang terjadi disana.' Tebak Mama Rose dalam hati.
"Bagaimana acaranya kemaren Nak ? Sukses ?" Tanya Mama Rose penuh selidik.
Naluri seorang Ibu, pasti bisa merasakan apa yang sedang putranya rasakan saat ini.
"Bram, Mama tahu, raut wajah kamu tidak bisa berbohong. Katakan, apa yang terjadi ?"
Sebenarnya, Bram tidak ingin membawa persoalan dunia kerjanya di rumah. Tapi kali ini berbeda, apa yang dia hadapi semalam, berhubungan dengan wanita pilihan Mamanya.
"Tidak terjadi apa-apa Ma, cuma_"
"Cuma apa ?" Kali ini Papa Hendra memotong.
"Aleesha semalam dilarikan ke Rumah Sakit." Jawabnya datar.
"Aleesha ? Kenapa dia Nak ? di Rumah Sakit mana ?" Tanya Mama tanpa jeda.
"Di Rumah Sakit Harapan Sehat. Mungkin karena kecapekan dan kurang istirahat."
"Lalu, bagaimana keadaan dia sekarang ? siapa yang menemaninya?"
"Ada Widya, asisten pribadinya. Usai subuh tadi, Bram telf, kata Widya, dia sudah siuman." Keterangan Bram, lumayan komplit.
"Oh, syukurlah. Apa perlu Mama hubungi Tante Aida ?"
"Tidak, jangan Ma, kita tunggu perkembangan dari Dokter dulu saja. Kalau ada apa-apa, baru kita hubungi Mas Hermanto dan Mbak Aida." Usul Papa Hendra di setujui oleh Bram.
Mendengar apa yang dua pria pujaan hatinya diskusikan saat ini, Mama Rose menjadi lega. Sedikit demi sedikit, Asbram sudah menunjukkan ketertarikannya dengan Aleesha pilihan kedua orangtuanya.
"Bram, antar Mama besuk calon menantu Mama." Pinta Mama Rose terang-terangan.
"David yang akan mengantarkan Mama nanti." Jawabnya sembari berlalu meninggalkan meja makan.
__ADS_1
"Bram !"
Dia menghentikan langkah kakinya, berdiam sejenak, sebelum akhirnya berbalik ke arah Mama Rose kembali.
"Buka hatimu, jangan mengharapkan yang tidak pasti dan tidak ada untukmu."
"Ma_"
"Mama tahu ini perkara hati, tapi apa yang kamu harapkan dari masa lalu !" Kalimat Mama Rose mulai meninggi.
"Sebelum Bram tahu, bahwa dia benar-benar bukan jodoh Bram, Bram akan pertimbangkan permintaan Mama."
"Asbram !"
"Mama jangan khawatir, apapun yang terjadi dengan diri Bram, Bram sendiri yang tahu. Bram akan mencarinya, memastikan dimana dan bagaimana dia."
"Sudah sekian lama Nak, apa yang kamu cari. Kita tidak tahu dimana dia, siapa dia, bagaimana dia, apakah dia sudah menikah atau belum. Penantianmu akan sia-sia, hanya buang-buang waktu saja." Mulai perdebatan di pagi hari.
"Jika itu benar-benar terjadi, Bram tidak akan memaksa. Tapi sebelum Bram tahu sendiri, Bram akan perjuangkan." Sanggahnya sembari berlalu.
"Asbram Purnama !" Teriak Mama Rose jengkel.
"Sudah, sudah, jangan dilanjutkan. Kita hanya bisa menuntun, semua keputusan di tangan dia sendiri." Nasehat Papa Hendra.
"Keras kepala." Gerutu Mama.
"Sama seperti yang bilang." Komentar Papa tanpa merasa berdosa.
"Kok Mama, Papa itu yang diturun." Sanggah Mama agak ngambek.
"Mana ada ? Papa mah santai orangnya." Kali ini giliran Papa dan Mama Rose yang berdebat.
"Gak ada, Mama yang banyak ngalah."
"Masak sih, perasaan Papa deh."
"Pa_"
"Iya deh ! Mama yang suka marah, Papa mah enggak." Andira turut buka suara.
"Andira !" Teriak Mama merasa diprovokasi.
Perdebatan di meja makan, bagi keluarga Purnama bukanlah hal yang serius. Gelak tawa terdengar memenuhi ruangan.
"Berangkat Ma, Pa, Assalamu'alaikum." Pamitnya sambil berlalu. Andira pergi untuk menjalankan aktivitas belajarnya di sekolah usai menghabiskan sarapan paginya.
Begitupun Papa, yang ikut berlalu setelah puas membuat Mama Rose cemberut di pagi hari.
Belum lagi Mama berbalik untuk kembali masuk ke dalam rumah, setelah mengantarkan keberangkatan Papa di depan pintu, terdengar mobil Bram kembali masuk melewati pintu gerbang.
"Selamat pagi Bu Rosema."
"Pagi Vid."
Ternyata David, asisten pribadi Asbram yang datang. Seperti janji putranya tadi sebelum berangkat ke kantor, dia akan meminta David untuk mengantarkan Mama Rose membesuk Aleesha.
"Pak Bram meminta saya untuk menjemput Bu Rose ke Rumah Sakit."
"Di mana Bram ?"
"Ada di kantor Bu, hari ini jadwal Pak Bram lumayan padat." Jawab David yang tahu betul mengenai jadwal kerja bos mudanya.
Next On ---------------->
__ADS_1