
"Kita kabur saja yuk."
"Ayo."
Serentak mereka meninggalkan Asbram dan Chacha sendirian.
"Jangan lari, tolong ! tolong !"
"Hei, ada apa ini ?" Tanya seorang Bapak-bapak yang kebetulan lewat.
"Tolong teman saya Pak, dia jatuh." Pinta Bram meminta tolong.
"Masya Allah, Chacha, kenapa kamu Nak ? Dia mengeluarkan darah banyak sekali. Kita bawa ke puskesmas ya Nak." Ajak Bapak itu.
Asbram hanya mengangguk mengiyakan. Di dalam hati dia berdoa, 'Semoga gadis itu baik-baik saja.'
"Bapak, mengenal anak itu ?" Tanya Asbram ditengah kegelisahan saat menunggu Dokter memeriksanya di ruang UGD.
"Iya Nak, dia sudah seperti anak kandung Bapak sendiri."
"Maksudnya ?" Tanyanya lagi belum paham.
"Chacha adalah putri dari saudara perempuan istri Bapak, rumahnya bersebelahan dengan Bapak. Dia sering main di rumah Bapak. Dan kebetulan saat ini, Chacha berada di rumah Bapak, karena Ayah dan Bundanya sedang ada acara di luar kota."
Lagi-lagi Asbram mengangguk. Entah paham atau tidak, yang jelas dia mengerti, kalau Bapak ini orang baik-baik bahkan masih saudara sama gadis kecil yang menolongnya.
"Pak, apa yang terjadi dengan Chacha Pak ? Bagaimana keadaannya ?"
Seorang ibu-ibu datang, tak henti-hentinya memberondong berbagai pertanyaan.
"Tenang dulu Buk, jangan panik. Dokter masih memeriksanya."
"Bagaimana Ibu gak panik Pak, apa yang akan Ibu katakan kepada Aida dan suaminya nanti. Mereka pasti akan marah besar sama Ibu." Tangisnya sesenggukan.
"Jangan berpikir yang macam-macam, kita doakan, Chacha baik - baik saja." Kata Pak Shaleh menenangkan istrinya.
"Bram, kamu tidak apa-apa Nak ? Mama mencarimu kemana-mana, kata orang Kamu jatuh dan dibawa ke puskesmas terdekat." Tak berapa lama, Mama Rose datang sendirian. Rasa khawatir dengan keadaan putranya, membuat nya panik dan tidak memperhatikan keadaan sekitar.
"Mas Bram tidak apa-apa Bu, tapi Chacha masih tak sadarkan diri." Jawab Pak Shaleh.
"Ma, dia terluka Ma, karena Asbram." Rengak Asbram waktu itu.
Asbram menangis tersedu, merunduk, merasa bersalah atas kejadian yang mereka alami.
"Kenapa Nak ? cerita sama Mama, apa yang terjadi dengan kalian ? Kenapa sampai seperti ini ?"
Asbram menggelengkan kepala. Entah takut atau memang tidak mau memperpanjang masalah. Yang dia khawatirkan saat ini adalah keselamatan gadis yang sudah menolongnya.
'Jika tidak ada dia yang menghalangi, mungkin aku yang terbaring di sana.' Pikirnya.
"Bram ? kalau kamu ada masalah, cerita sama Mama Nak." Bujuk Mama lagi.
__ADS_1
"Ibu, tolong beri ruang untuk Nak Bram istirahat, karena kelihatannya dia masih shock."
"Maaf Pak, Bapak orang tua temannya Asbram ?" Tanya Mama Rose.
"Bukan Bu, saya Pakdenya dan ini istri saya. Kebetulan Ayah dan Ibunya ada acara di luar kota. Jadi, untuk sementara, kami berdua yang bertanggungjawab atas dia saat ini." Kata Pak Shaleh menerangkan.
"Saya bingung, bagaimana memberitahu orang tuanya, mengenai kondisi dia saat ini." Keluh Bu Sholeh.
"Sudah lah Bu, Chacha pasti sehat. Lebih baik kita tunggu apa kata dokter nanti."
Ddrrrttt... ddrrrttt...
Handphone Mama Rose bergetar. Mama bangkit dari duduknya, sedikit menjauh dari kerumunan untuk mengangkat telepon.
"Ya Allah, bagaimana ini Nak ?"
"Kenapa Ma ?"
"Keluarga pasien?"
Belum sempat Mama Rose menjawab pertanyaan Asbram, seorang suster hadir diantara mereka menanyakan keluai pasien.
"Kami, kami orang tuanya Sus." Jawab Bu Shaleh terbata.
"Dokter ingin bicara dengan Bapak dan Ibu." Jawabnya.
"Kamu tunggu disini sebentar ya, Mama mau ikut bicara Bapak dan Ibu Shaleh dengan Dokter." Pamit Mama Rose kepada Asbram.
Kali ini Beliau merasa lebih panik dengan kondisi Chacha dibandingkan dengan kepanikan yang sebelumnya Beliau rasakan.
"Maafkan Aku, kamu terluka karena aku. Meskipun kamu tidak mengenalku, tapi kamu rela seperti ini untukku." Lirihnya.
Detail dia pandangi gadis yang terlelap di depannya. Pelipisnya yang terluka sudah diperban rapi.
"Aku janji, suatu hari Aku akan menjadi pria yang tangguh, agar aku tidak merepotkan banyak orang." Bisiknya lagi.
"Bram, kamu disini Nak ?" Tanya Mama Rose mengagetkan.
Bapak dan Ibu Shaleh, juga Mama Rose telah kembali. Ada perasaan lega pada raut wajah mereka.
"Maafkan kami Pak, kami harus pamit, segera ke Jakarta sore ini." Terdengar sedikit pembicaraan antara Mama Rose dengan Pak Sholeh.
Sontak hal itu membuat Asbram kaget.
'Jadi itu yang membuat Mama bingung dari tadi.' Pikirnya.
"Tidak apa-apa Ibu, saya yakin Ayah dan Ibu Chacha mengerti akan hal ini."
"Sampaikan permohonan maaf kami kepada kedua orang tua Chacha. Yang pasti, semua biaya pengobatan dan penyembuhan Chacha, akan menjadi tanggung jawab kami."
"Terimakasih banyak Ibu, semoga perjalanan Ibu dan keluarga, dimudahkan dan dilancarkan."
__ADS_1
"Amin."
Asbram semakin bingung, dia masih ingin disini. Sampai melihat pahlawan hatinya bangun dari tidur panjangnya.
"Ayo Nak, Kita hampir ketinggalan pesawat." Ajak Mama Rose.
"Tapi Ma_"
"Besok kita kemari lagi." Hibur Mama Rose, yang tahu pasti kalau putranya tidak ingin pergi saat ini.
"Sebentar Ma." Cegahnya lagi.
"Bram."
Asbram tidak mendengarkan panggilan Mamanya. Pegangan tangannya dia lepas dan lari, kembali ke sisi Aleesha yang masih tak bergeming.
"Aku pamit ya, semoga dikemudian hari, kita bisa bertemu kembali." Lirihnya di dekat telinga Aleesha.
Entah apa yang Asbram tinggalkan. Dia berusaha menggenggam kan sesuatu di tangan Aleesha.
"Hanya ini yang bisa aku tinggalkan untukmu, semoga dengan benda ini kita akan saling mengingatkan kelak." Bisiknya lagi.
"Bram."
"Biarkan saja dulu Bu, Anak Ibu sudah pasti bisa memperkirakan sendiri berapa menit yang dia butuhkan untuk bisa cepat sampai ke Bandara." Kata Pak Sholeh menenangkan Mama Rose.
Benar saja, Asbram bisa memperkirakan dengan tepat waktu sampai ke bandara.
"Suatu hari, kalian pasti akan dipertemukan. Entah dimana, kapan dan dalam situasi seperti apa, kita tidak tahu. Semua rencana Tuhan pasti indah untuk umatnya." Hibur Mama Rose.
Sudah jauh-jauh hari Asbram mengetahui, kalau di hari itu adalah hari terakhir dia bertempat tinggal di kampung halaman Papanya.
Karena usaha yang Papa Hendra rintis, mulai berkembang merambah ke manca negara. Hal itu mengharuskan keluarga besarnya berpindah tempat tinggal.
Sejak saat itu, Asbram mulai menjadi seorang anak yang pemberani. Dia mulai melatih dirinya dengan berolahraga dan belajar karate.
Apalagi sekarang tinggal di kota, jauh lebih keras dibandingkan waktu di desa dulu. Hingga sekarang, sikap manja dan kolokan sudah berganti dengan sikap yang dewasa, penuh rasa percaya diri dan bertanggung jawab.
*Flashback Off
' Aku masih berharap, kita benar - benar bisa bertemu, meskipun hanya di dalam mimpi. Gelang itu, jika dia masih menyimpannya, hanya gelang itu yang akan mengenalkan kita satu sama lain.' Lamun Bram, hingga tidak menyadari dengan kedatangan Aleesha.
"Hallo, Pak Bram. Bapak masih di sini ?"
Refleks Bram serasa terbangun dari mimpi panjangnya di masa lalu.
"Oh, ya."
"Kenapa Pak ?"
"Tidak, tidak apa-apa."
__ADS_1
Raut wajah Bram terlihat merah merona.
Neck On ------------->