Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 38. Pulang


__ADS_3

'Ada apa sebenarnya, sepertinya Pak Saleh sedang ada masalah yang ditutup-tutupi.' Tebak David dalam hati, yang lebih peka melihat situasi dibandingkan dengan Asbram.


Rasa penasaran, membuat hati dan pikiran David mempengaruhi kakinya untuk berjalan mengikuti.


Kecurigaan David seakan terjawab, Pak Soleh berhenti dan duduk sendirian di sebuah gubuk yang ada di pinggir sawah jalan desa, bukan menemui seseorang seperti yang Dia sampaikan saat berpamitan dengan Asbram di warung.


"Cuaca sedang bagus hari ini Pak." Sapa David basa-basi.


"Eh...iya Nak. Hari ini cerah, setelah beberapa hari yang lalu turun hujan."


"Alhamdulillah, perkenalkan Pak, Saya David." Ucapnya mengulurkan tangan.


"Saya Pak Soleh Nak." Jawab Beliau menjabat tangan.


"Bapak, pemilik sawah ini ?"


"Oh, bukan, Bapak hanya mengolahnya." Ucapnya setengah tertahan.


"Sepertinya, kita pernah ketemu. Tapi dimana ya ?" Tanya Beliau lebih lanjut.


Belum ada lebih dari satu jam mereka berpapasan, tapi Pak Soleh sudah lupa kapan mereka berjumpa.


"Iya Pak, Saya yang tadi tidak sengaja menabrak Bapak di depan warung lontong sayur." Jawab David mengingatkan.


"Oh, iya-iya. Bapak ingat sekarang. Maaf Nak, maklum sudah tua." Ucapnya merendah.


"Nak David kelihatannya bukan orang sini ya ?" Tanya Pak Saleh, tersadar kalau memang baru hari ini mereka bertemu.


"Saya memang bukan asli sini Pak. Kebetulan Saya ada pekerjaan di desa ini, jadi bisa sekalian menikmati sejuknya udara yang belum tercemar polusi di desa ini." Jawabnya terlalu panjang.


Sebentar saja, sudah terlihat kalau mereka berdua mempunyai kecocokan dalam berbincang. Entah karena ada hobi mereka yang sama, atau memang, David yang piawai dalam bersosialisasi dan membawa diri dalam suasana apapun.


Drrttt ....drrttt...


Handphone David bergetar, menghentikan sejenak obrolan mereka berdua.


Terlihat nama 'Bog Bos Purnama' pada layar handphonenya.


"Selamat pagi Pak" Sapa David melalui sambungan selulernya


"Pagi Vid, Kamu lagi dimana ?" Jawab Beliau kembali bertanya.


"Saya, masih di Desa Maju Makmur Pak."


"Ada Asbram ?"


"Oh, Pak Bram masih sarapan di warung sebrang Pak."


"Hhmmm, ya. Bilang sama Asbram, kalau masih peduli sama Mama dan Papanya. Suruh Dia segera pulang." Tegas Beliau.


"Baik Pak."


Belum sempat David menanyakan lebih lanjut, Beliau sudah mematikan handphonenya.

__ADS_1


'Bagaimana ini, Aku belum berhasil mendapatkan informasi apa-apa di tempat ini. Tapi Pak Purnama sudah menyuruhku untuk kembali. Apa ini ada hubungannya dengan schedule Beliau untuk melaksanakan ibadah haji tahun ini.' Pikirnya dalam hati.


"Ada masalah Nak ?" Tanya Pak Saleh, yang sejak tadi memperhatikan perubahan mimik wajah David setelah selesai berbicara dengan big bosnya.


"Oh... tidak Pak, cuma Saya diminta untuk segera kembali ke kantor. Karena atasan kami akan melaksanakan ibadah umroh."


"Oh... Bapak pikir ada masalah apa."


"Baik Pak, mohon maaf, sepertinya Saya harus pamit dulu." Ucapnya mohon diri.


"Iya Nak, silahkan Nak. Hati-hati dijalan, semoga perjalanannya lancar." Balas Beliau.


Kalau bukan karena tugas dan harus segera mengajak bos mudanya untuk kembali, ingin rasanya David tetap tinggal untuk berbicara lebih dekat dengan Pak Soleh.


Hari itu juga David memaksa Asbram untuk kembali ke rumah.


***


•Kediaman Keluarga Purnama


Semua orang terlihat sibuk di rumah itu. Begitu juga dengan Aleesha. Statusnya sebagai menantu di tengah - tengah keluarga besar Purnama, membuat Dia lebih sibuk menyambut banyaknya tamu yang datang, sekedar untuk memberikan Do'a agar perjalanan Bapak dan Ibu Purnama diberikan kelancaran dalam menjalankan ibadah haji.


"Istrinya Asbram canntik sekali Jeng." Komentar salah seorang kerabat dari jauh.


"Iya dong, siapa dulu Mama mertuanya." Balas Mama Rose bangga.


"Dari awal Saya sudah senang melihat mereka berdua. Cocok, pasangan yang serasi." Sanjung yang lain.


"Semoga bahagia selalu ya Jeng." Do'a salah seorang teman Mama Rose.


"Iya, Saya juga belum lihat dari tadi." Komentar yang lain.


"Asbram _"


"Mas Bram, sudah dalam perjalanan Ma. Sebentar lagi juga datang." Ucap Aleesha, membantu, saat Mama Rose kebingungan harus menjawab apa.


'Kamu begitu anggun dan sabar menghadapi Asbram Nak. Bahkan disaat Mama merasa bersalah dan bingung dengan sikap Asbram, Kamu masih yakin kalau Dia bakalan pulang hari ini.' Komentar sisi hati Mama Rose.


Tatapan mata Beliau lembut memandang anak menantunya.


'Maafkan Aleesha Ma, Aleesha belum bisa memenuhi keinginan Mama. Tapi Aleesha yakin, suatu saat kebahagiaan itu akan ada untuk Aleesha.' Kata hatinya.


Entah kenapa, memikirkan semua itu membuat Aleesha sedikit pusing. Tubuhnya limbung dan hampir jatuh terhuyung saat menyalami tamu undangan tasyakuran dan Do'a sebelum keberangkatan haji keluarga Purnama.


"Aleesha, Kamu kenapa Nak ?" Sontak Mama Rose kaget melihatnya.


"Oh, tidak apa-apa Ma. Icha hanya sedikit agak pusing." Jawabnya asal.


"Lebih baik, Kamu istirahat dulu ya Nak."


"Tidak apa-apa Mama, Icha sehat kok." Bantahnya.


"Enggak-enggak, Mama tidak mau Kamu kenapa-kenapa." Kekeh Beliau.

__ADS_1


"Kamu gakpapa Cha ?" Tanya Key bangkit dari tempat duduknya.


"I am fine, it's oke."


Entah kenapa tiba-tiba Aleesha merasa pusing dan mual malam itu. Mungkin karena terlalu banyak memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu dia pikirkan.


Apalagi, mendengar pembicaraan ibu-ibu undangan yang menyanjungnya sebagai pasangan serasi. Berat rasanya jika harus menerima kenyataan bahwa dia adalah pengantin yang tak diinginkan.


"Waahhh... kelihatannya, Jeng Rose akan segera momong cucu." Celetuk salah seorang undangan.


"Alhamdulillah, Do'a kan ya Jeng."


Mama Rose mengamini semua Do'a yang terbaik untuk kebahagiaan putra sulungnya.


Meskipun, kenyataan lain bagi Aleesha.


'Bagaimana Saya bisa hamil Bu, apalagi disentuh, disapa saja tidak.'


Sesak rasanya dada Aleesha. Jika tidak ada banyak orang, mungkin dia sudah teriak dan menangis sejadi-jadinya.


"Cha, Cha." Sigap Keysha menopang tubuh mungil yang semakin terlihat kecil itu.


"Aku_"


"Lebih baik Kamu istirahat dulu di dalam." Ajak Keysha.


"Tapi_"


"Ayolah, jangan dipaksakan." Paksanya.


"Aleesha, turut apa yang Key katakan. Mama tidak mau Kamu sakit."


"Ehm...iya Ma."


Dengan berat hati, Aleesha berjalan menuju kamar tamu yang tersedia banyak di kediaman keluarga Purnama.


"Kamu kelihatan pucat Cha." Komentar Keysha yang menemani sahabatnya.


"Gakpapa, Aku cuma kecapekan saja." Jawabnya.


"Ya sudah, rebahkan dulu tubuhmu. Istirahatlah. Biar Aku temani Tante Rose di depan."


"Makasih ya Key."


Namun belum sempat Aleesha merebahkan tubuhnya dengan benar, di luar terdengar riuh, bagai suara banyak penggemar bertemu idolanya.


"Ada apa Key ?"


"Gak tahu itu, ada apa ya ?"


"Aku akan keluar melihatnya."


"No, no, no ... Kamu tetap disini, biar Aku yang melihatnya." Cegah Keysha saat Aleesha akan kembali turun dari ranjangnya.

__ADS_1


Tidak terlalu jelas, apa yang terjadi di luar, yang pasti, Aleesha berharap bukan sesuatu yang membahayakan.


Next On ---------------->


__ADS_2