
Masih di tempat yang sama. Widya hanya mondar-mandir di area parkir apartemen. Tidak tahu lagi apa yang seharusnya mereka lakukan.
"Mas Ridwan, apa kita ikuti saja Mbak Icha pakai mobil rental ya ?"
"Tunggu dulu, jangan melibatkan orang lain." Cegah Ridwan.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan Mas, aku betul-betul khawatir dengan keselamatan Mbak Icha." Ucap Widya panik.
"Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa." Jawab Ridwan lebih tenang.
"Bagaimana Aku bisa tenang Mas, Mbak Icha dalam bahaya." Tuntut Widya makin panik.
Ridwan hanya tersenyum, tanpa berkomentar ataupun menanggapi pernyataan Widya.
"Kenapa Mas senyum-senyum sendiri seperti itu, Mas senang kalau Mbak Icha dalam bahaya, atau jangan-jangan Mas Ridwan ada hubungannya dengan kejadian ini." Tuduh Widya jengkel, tanpa bukti dan alasan yang kuat.
"Ngawur !" Maki Ridwan, sembari memelototi mulut ember Widya.
"Bagaimana saya gak ngawur, orang yang diajak bicara malah senyum-senyum sendiri, seolah senang melihat kepanikan orang lain." Kesal Widya makin menjadi.
"Sembrono kalau ngomong, kamu pikir Aku tega melihat Mbak Aleesha dimanfaatkan orang seperti itu."
"Terus, apa yang harus kita lakukan." Rengek Widya.
"Diam dan biarkan Aku berfikir."
Ccciiiiiitttttt ....
Ditengah-tengah perdebatan kecil, sebuah mobil Jeep Rubicon berhenti tepat di depan mereka.
"Masuk." Pinta pengemudi di dalamnya.
"Pak Bram, Pak David. Darimana mereka tahu kita disini ?" Bisik Widya kepada Ridwan, setelah mereka tahu siapa penghuni di dalam mobil Jeep yang tergolong mewah itu.
"Sssttt ... " Lagi-lagi Ridwan menutup mulut Widya agar diam.
"Kemana arah GPS yang ada di dalam mobil Aleesha ?" Tanya Asbram.
"Terpantau menuju arah desa terpencil yang ada di pinggiran kota ini Pak." Jawab Ridwan.
"Hallo Ndan, siap Ndan, kami sudah mengirimkan lokasi terkini korban. Ini kami juga dalam perjalanan ke arah sana. Terimakasih Ndan." Selarik kalimat yang terdengar dari bibir Asbram.
__ADS_1
'GPS, terpantau, jadi Mas Ridwan lebih cekatan untuk mengawasi Mbak Aleesha dan bekerja sama dengan Pak Asbram.' Komentar Widya dalam hati.
Tidak heran jika saat ini Ridwan melihat Widya yang senyum-senyum sendiri, mendengar percakapan mereka. Lega rasanya, melihat majikan bahkan partner kerjanya dilindungi orang-orang hebat.
Tidak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi, sudah memasuki jalan desa yang terlihat sangat sepi.
"Betul, ini jalannya Wan ?" Tanya David yang mengendalikan kemudi.
"Iya betul Pak. Ini masih lurus, ada tikungan di depan kita beloo kiri." Instruksi Ridwan.
Widya memperhatikan jalan dengan perasaan yang tidak karuan.
Sedangkan Asbram, dalam kondisi apapun dia tetap terlihat cool.
"Pak, Pak, stop Pak. Sebaiknya kita berhenti disini." Pinta Ridwan, memaksakan David untuk menginjak rem.
"Kenapa ?" Tanya David.
"Itu mobil Mbak Aleesha sudah terlihat. Kalau kita lebih mendekat, akan berbahaya bagi Mbak Aleesha." Terangnya.
"Ridwan benar, Kita jalan kaki dari sini. Tetap waspada sekitar, karena kita tidak tahu, orang seperti apa yang kita hadapi." Komentar Asbram, memberikan sarannya.
Entah apa yang terjadi di sana. Mungkinkah Aleesha dalam keadaan baik-baik saja, ataukah sesuatu telah terjadi padanya.
Membayangkan saja membuat bulu kuduk Widya merinding. Kalau saja tidak ada tangan kekar Ridwan menariknya, Widya yang merasa tidak sabar, ingin segera lari mendekati rumah yang diduga ada Aleesha di dalamnya.
"Aaaa ! Jangan macam-macam ! Kamu sudah melanggar perjanjian Kita !"
Terdengar teriakan Aleesha dari dalam.
Asbram meloncat mencari sumber suara dan lebih menajamkan pendengarannya. Dia memberi kode kepada David untuk menyebar ke arah berlawanan. Begitu juga dengan Widya yang masih tetap mengekor di belakang Ridwan.
"Teriak saja sekuat tenaga. Karena tidak akan ada seorangpun yang mendengar." Ancam seseorang di dalam.
"Stop Anton, Kita tidak pernah ada masalah sebelumnya. Jadi Saya mohon, berhenti berbuat tidak berguna seperti ini." Pinta Aleesha.
"Apa ? Tidak berguna ? Dengar Aleesha, Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku cukup tahu diri untuk tidak jatuh cinta padamu. Tapi apa ! Hatiku tidak bisa berbohong, kalau perasaan itu memang ada. Dan apa yang Aku terima saat Aku berusaha menyatakan cintaku padamu ? Apa ? Kamu jawab sudah ada seseorang di hatimu." Gelak tawa keluar dari mulut laki-laki yang Aleesha panggil Anton itu.
"Kamu tahu bagaimana perasaan ku saat itu Aleesha ?" Ucapnya sembari menepuk-nepuk keras dadanya sendiri.
"Aku masih bisa terima Aleesha, karena Aku sadar, cinta memang tidak bisa dipaksakan." Lirihnya.
__ADS_1
"Tapi setelah Aku tahu, siapa laki-laki yang bersarang di hatimu itu_" Ucapannya terhenti seiring dengan jari telunjuk mengarah kepada Aleesha.
"Dia orang yang sama, yang merampas kebahagiaan dan mata pencaharian ku ! Selamanya Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, jika Aku belum bisa membuat kehormatan dan reputasi Asbram Purnama hancur !" Teriaknya keras.
Bahkan terdengar sangat keras sehingga air mata Aleesha tak henti menetes.
"Aku, Aku tidak tahu tentang semua itu Anton. Jadi cukup, hentikan dendammu itu." Permohonan Aleesha.
"Cukup kamu bilang. Kamu pikir, dengan Aku berhenti, bisa mengembalikan kebahagiaan ku ? Ibuku mati karena Aku tidak bisa membawanya berobat lebih baik, Aku terjerat hutang dimana-mana dan terancam jadi buronan, itu semua karena siapa !"
Aleesha menggelengkan kepala. Antara tidak tahu dan memohon untuk menghentikan ceritanya.
"Semua karena Asbram ! Asbram penyebab kematian ibuku. Kalau saja dia tidak memecatku disaat aku membutuhkan banyak biaya, mungkin ibuku masih bisa tertolong." Rintihnya.
Terenyuh hati Aleesha mendengarkan. Tapi apa boleh buat, semua sudah menjadi takdir yang Kuasa.
"Semua sudah kehendak-Nya Anton. Dendam tidak akan mengubah segalanya. Kamu sudah dapatkan apa yang Kamu mau. Kamu bisa gunakan uang ini untuk mencukupi hutang-hutang mu dan hidup lebih baik dari sebelumnya." Nasehat Aleesha.
"Tidak Aleesha, masih ada satu hal yang belum bisa Aku miliki. Dan kesempatan inilah jalanku untuk bisa memilikinya." Pandangan nakal mata Anton, membuat Aleesha sedikit ketakutan.
"Jangan mendekat, apa lagi yang kamu inginkan, Aku sudah penuhi lima ratus juta untukmu." Suara Aleesha terdengar bergetar.
"Aku inginkan Kamu Aleesha, Kamu, jika Aku tidak bisa bahagia, Aku juga tidak mau melihat Asbram bahagia menikmati kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku." Ucapnya lebih mendekat ke arah Aleesha.
"Stop Anton, berhenti disitu !" Teriak Aleesha memohon.
"Percuma Kamu teriak, disini sepi tidak ada satupun yang akan mendengar. Jangan sungkan Aleesha, Kita nikmati saja. Sama seperti malam itu, Kamu menikmati malam panjang bersama Asbram." Ocehnya.
"Jaga bicaramu !"
"Jangan khawatir, selama Kamu nurut, Aku jamin, rahasiamu aman." Rayunya.
"Br*ngs*k Kamu ! Berikan kuncinya ! Tidak ada rahasia yang perlu Kamu jaga. Ambil uangku dan jangan pernah ganggu Aku lagi !" Suara Aleesha tertahan
"Tenang saja, pasti akan Aku berikan. Aku hanya ingin kita nikmati sebentar saja. Aku sudah memintamu baik-baik, tapi Kamu sendiri yang memaksaku untuk berbuat kasar Aleesha."
'Ya Allah, jangan biarkan setan merasukinya lebih dalam. Selamatkan Aku dari perbuatan bejatnya.' Hanya kekuatan doa yang bisa menyelamatkan Aleesha saat ini.
"Aku bilang berhenti, Aaaa... !"
Next On ---------------->
__ADS_1