
Rintik hujan di pagi hari, menambah suasana mendung di hati Aleesha semakin pekat. Duduk sendiri, termenung tanpa senyum menghiasi.
Pandangannya kosong, menerawang jauh, menembus celah-celah udara diantara rintik air hujan. Sesekali, Dia lirik handphone yang setia menemani sepanjang hari. Berharap ada kabar dari seseorang yang dia nanti.
Dua hari sudah Asbram menghilang. Tanpa kabar, tanpa Aleesha tahu keberadaannya dimana.
'Dimana kamu Mas, apa sebenarnya yang terjadi, kenapa kamu pergi begitu saja, tanpa memberi kabar sedikitpun.' Tanya Aleesha dalam hati.
Hawa dingin memaksa dia untuk memeluk lututnya sendiri. Dia letakkan dagunya pada lutut yang berjejer. Hidupnya kian terpuruk. Seorang pengantin yang ditinggalkan pasangannya di malam pertama, tanpa salam perpisahan.
( "Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif. Atau berada di luar jangkauan." )
Hanya suara itu yang terdengar, setiap kali Aleesha mencoba menghubungi suaminya.
Tutt...tutt...tutt...
"Hallo, selamat siang Mbak Aleesha. Oh, maaf, Ibu Asbram." Sapa David, saat Aleesha memutuskan untuk menghubungi asisten pribadinya melalui sambungan seluler.
"Pagi Pak David." Jawabnya terdengar letih.
"Siap Ibu, ada yang bisa Saya bantu ?" Tanya David masih dengan nada ramah dan ramai terdengar seperti tidak pernah terjadi apa-apa di lingkungan kerja mereka.
"Maaf Pak David, boleh Saya tahu, Pak Asbram ada dimana ?"
Sejenak David terdiam dan berpikir.
'Apa maksud Ibu Aleesha, dengan tanya Pak Asbram dimana ?'
Pertanyaan Aleesha bukan saja membuat David heran, tapi juga bingung, masih belum mengerti apa sebenarnya yang terjadi.
"Hallo, Pak David. Apa Anda mendengar Saya ?" Kembali Aleesha bertanya.
"Eh, oh...iya Bu, maaf, tapi saya kurang mengerti dengan pertanyaan Anda. Bukankah Pak Asbram ada bersama Ibu ?" Jawab David kembali bertanya.
"Tidak Pak." Ucapannya terhenti.
"Maksud Saya, Asbram sudah pergi dua hari yang lalu. Tepatnya di malam pernikahan kita." Imbuhnya, menahan sesak di dada.
"Baik Ibu, Saya coba mencari tahu keberadaan Pak Asbram." Tutupnya segera.
Berharap agar Aleesha tidak banyak bertanya, sebelum Dia sendiri tahu dimana dan apa yang sedang dilakukan bosnya.
'Dimana Kamu Bram, bagaimana bisa Kamu tinggalkan Aleesha dimalam pengantin kalian.' Pikir David geram.
'Apa mungkin, dia tahu sesuatu tentang Chacha.' Pikir David mencoba menebak.
Dalam keadaan darurat, Dia tinggalkan pekerjaannya.
"Nisa, cansel semua jadwal pertemuan Saya dan Pak Bram minggu ini." Pesannya kepada sekretaris pribadinya.
"Tapi Pak, bagaimana dengan pertemuan sponsor besok."
__ADS_1
"Undur. Tunggu sampai kami kembali." Jawab David sembari berlari.
"Mbak Nisa." Panggil salah satu staf karyawan.
"Ada apa ?" Tanyanya kembali.
Sama-sama tidak tahu apa yang terjadi, Anisa hanya mengangkat bahunya, seolah tidak mau tahu urusan bosnya, meskipun Dia sendiri penasaran dengan apa yang terjadi.
***
"Bodoh Kamu !" Entah siapa orang yang dia temui dan Dia maki-maki saat ini.
"Tapi Pak, Saya pikir Pak Bram pasti senang mendengar berita ini." Ucap seseorang yang berpawakan kurus tinggi itu membela diri.
"Iya, tapi Kamu harus lihat situasi Pak Bram saat itu seperti apa !" Makinya lagi.
"Maaf Pak, Saya tidak tahu. Saya pikir Saya sudah melakukan tindakan yang benar. Karena waktu itu nomor Pak David tidak bisa saya hubungi, jadi Saya langsung menghubungi Pak Bram." Terangnya panjang lebar, mengharap pembenaran.
"Kacau, kacau semuanya." Gerutu David, mengacak rambutnya sendiri.
"Maaf Pak."
"Ya sudah. Sudah terlanjur terjadi juga. Sekarang, beri Saya alamat dimana Asbram menginap." Pintanya.
Kling ..
"Itu Pak, sudah saya kirim lewat WA."
Saat itu juga David segera meluncur ke alamat yang dia terima via WhatsApp.
'Pantas saja dua hari ini Kamu tidak bisa saya hubungi Bram. Saya pikir Kamu menghabiskan malam pengantin bersama Aleesha, ternyata.' Gerutunya dalam hati.
Tepat pukul dua belas tengah malam, David sampai di penginapan yang Asbram tinggali.
Tok tok tok ...
Tiga kali sudah David mengetuk pintu. Tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Sepi sekali, tidak ada jawaban dari dalam. Apa Aku salah alamat." Omelnya sendiri.
"Tapi benar, ini sesuai alamat yang di kirimkan joko." Gumamnya sendiri.
"Maaf Den, nyari siapa ya ?" Tanya seorang Bapak - bapak yang mungkin sedang berjaga malam atau kebetulan lewat saja.
"Oh, maaf Pak. Saya mencari penginapan Pak Jaya. Apa betul ini tempatnya ?" Tanya David ingin memastikan.
"Iya betul Den. Apa Aden perlu temy menginap ?"
"Iya Pak, kebetulan Saya mencari teman Saya yang sedang ada pekerjaan di kota ini. Dan Saya dikasih alamat ini." Ucapnya menunjukkan sebuah alamat.
"Iya betul ini alamatnya Den. Kalau boleh Bapak tahu, temannya siapa ya Den ? Kebetulan Bapak yang menjaga tempat ini."
__ADS_1
"Oh, syukurlah. Iya Pak, namanya Pak Asbram."
"Pak Asbram yang dari kota itu ya Den. Ini tempatnya, Pak Bram tinggal disini."
"Terimakasih banyak Pak. Kalau begitu saya buka satu kamar untuk istirahat malam ini Pak."
"Baik Pak, tunggu sebentar ya."
Tak berapa lama, David menerima kunci kamar yang tempatnya tepat berhadapan dengan penginapan yang Asbram tempati.
"Ah... lumayan cukup nyaman untuk istirahat" Gumamnya sendiri sembari merebahkan tubuhnya.
David melepaskan semua rasa lelah dan penat di punggung setelah seharian mengendarai mobilnya. Hingga perlahan matanya terpejam, larut di dalam mimpi panjang.
Menjelang pagi, udara semakin sejuk menusuk. Menarik selimut dan merapatkan guling, menjadi pilihan yang tepat untuk menikmati sejuknya udara pagi di desa.
Berbeda dengan penghuni penginapan sebrang, yang sudah smart di pagi hari. Olahraga pagi dan menikmati segarnya udara di pagi hari, menjadi kebiasaan baru baginya.
Namun ada yang berbeda kali ini. Dengan gaya layaknya bikers, Dia bermaksud ingin menyusuri jalan dengan supermoto yang entah dia beli atau dia sewa dari mana.
Brrmmm...bbrrrmmm...
David yang ingin melanjutkan mimpi panjangnya, segera terbangun oleh suara bising knalpot yang menderu. Seketika itu dia ingat dengan misinya datang ke desa ini.
"Tidak di kota, tidak di desa, sama saja. Berisik !" Gerutunya.
Dia tengok jam yang semalam tidak sempat dia lepaskan, masih manis melingkar di pergelangan tangannya.
"What's ! Sudah jam enam. Perasaan baru sebentar Aku tidur." Lompatnya menuju kamar mandi sekedar untuk membasahi wajahnya.
"Jam segini masih kelihatan gelap, dingin lagi." Gumamnya sendiri.
Dari dalam terdengar percakapan dua orang yang suaranya tidak begitu asing bagi dia. Sengaja Dia sibak korden yang menjadi penghalang masuknya sinar mentari pagi, sekedar untuk memastikan apakah pemilik suara itu orang yang Dia cari
"Asbram." Ucapnya, seolah bicara pada dirinya sendiri.
Betul saja, memang Asbram yang sejak pagi tadi berbincang dan menyalakan motor cross nya untuk berjelajah kampung.
'Ternyata benar, Kamu ada di sini Bram. Tidak terlalu sulit untuk menemukanmu.'
David masih memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama, apa hal yang sedang mereka berdua perbincangkan.
Namun, David segera membuka pintu kamarnya, ketika Asbram mulai melepaskan standar motornya,
"Tunggu !"
Dengan lantangnya Dia teriak, bermaksud menghentikan aktivitas Bos mudanya tersebut.
Entah apa yang membuat David sedikit kesal, bahkan sampai lupa bahwa selain sahabat, Asbram juga bosnya dalam dunia kerja antara mereka.
Next On ------------------->
__ADS_1