
"Pagi Ayah, Bunda." Sapa Aleesha.
"Pagi Nak, kamu ada jadwal hari ini ?" Jawab Ayah balik bertanya.
"Iya Yah, nanti siang Icha berangkat. Icha ada seminar di puncak." Jawabnya sembari meletakkan secentong nasi di atas piringnya.
"Icha, rencananya, Ayah dan Bunda akan kembali ke Jogja pagi ini."
Entah apa yang sedang Ayah dan Bunda pikirkan. Pamit Bunda pagi ini membuat Aleesha sedikit terkejut. Karena sebelumnya, tidak ada pembicaraan sama sekali mengenai kepulangan Beliau ke kampung halaman.
"Tapi, kenapa buru-buru Bunda. Bukankah kita telah sepakat, Ayah dan Bunda akan lebih lama tinggal di sini." Pinta Aleesha.
"Icha, Ayah dan Bunda sudah terlalu lama meninggalkan rumah. Bunda berharap, kamu ada waktu luang untuk pulang, syukur-syukur kalau tidak sendirian."
'Aku tahu kemana arah pembicaraan Bunda. Apa boleh buat, meskipun di hati kecilku ada keinginan yang sama, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali harus menunggu.'
"Icha, kalau boleh Ayah tahu, bagaimana kelanjutan perkenalanmu dengan putra Hendra Purnama ?" Pertanyaan Ayah mengagetkan Aleesha.
Dia hentikan sejenak suapan di tangannya.
"Kami masih belum begitu akrab Ayah. Butuh waktu untuk bisa mengenal satu sama lain." Jawab Aleesha tanpa ekspresi.
"Yah." Bisik Bunda sembari memegang pergelangan tangan Ayah, seolah memberikan kode agar Ayah tidak terlalu banyak memberikan pertanyaan kepada Aleesha.
"Icha, Ayah dan Bunda tidak akan memaksa. Semua keputusan ada di tangan kalian. Meskipun sebenarnya, kami berharap bisa melanjutkan apa yang diamanatkan Almarhumah ibumu." Sela Bunda.
"Ayah, Bunda, sebenarnya, Icha setuju dengan perjodohan ini, tapi Icha berharap kedekatan kami murni karena ketertarikan satu sama lain, bukan keterpaksaan."
Ayah dan Bunda saling pandang mendengar apa yang Aleesha sampaikan.
"Ayah pahan Nak, Ayah percaya Icha bisa meraih kebahagiaan Icha sendiri. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu."
"Terimakasih Ayah."
Senyum mengembang di bibir cantik Aleesha. Dia tau betul apa makna dari kalimat yang Ayah nya sampaikan.
Disaat seperti itulah sikap manjanya keluar. Dipeluknya Ayah dan Bunda bergantian.
Itulah Ayah, yang selalu bijak dalam mengambil keputusan. Bukan karena latar belakang Beliau sebagai seorang pendidik, tapi memang sejak kecil, Aleesha selalu diberikan kebebasan berpendapat maupun dalam hal mengambil keputusan.
***
° Ting tong ...
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk Nak."
Widya, asisten Aleesha yang datang bersama Ridwan driver freelance yang selalu siap mengantarkan kemana saja Aleesha berpetualang.
"Terimakasih Bunda, apa Mbak Aleesha sudah siap ?"
"Sudah dong, Ayah dan Bunda juga sudah siap." Sahut Aleesha dari dalam sembari menentang dua buah travel bag pribadinya dan milik kedua orangtuanya.
"Ayah dan Bunda mau ikut kami juga ke puncak ?" Mimik wajah khas Widya terlihat tegang dengan mata sedikit melotot.
__ADS_1
"Enggak lah, mana boleh Bunda ganggu acara kalian." Jawab Beliau.
"Kita antarkan Ayah dan Bunda terlebih dahulu ke stasiun."
"Siap Mbak."
Sigap Ridwan melaksanakan instruksi Aleesha, yang sudah siap dengan dua buah travel bag di tangan kanan dan kirinya.
"Titip Aleesha ya, ingetin dia kalau melenceng dari jalan seharusnya." Canda Bunda kepada Widya.
"Kebalik Bun, Mbak Icha yang sering nasehatin saya."
Perjalanan masih panjang, usai mengantarkan Ayah dan Bunda ke stasiun untuk kembali ke kampung halaman.
Di dalam hati, Aleesha selalu berdoa, semoga apa yang Ayah dan Bundanya inginkan segera bisa dia wujudkan.
"Wid, acara kita mulai jam berapa ?"
Tanya Aleesha mencoba mengalihkan pikirannya ke topik pekerjaan hari ini.
"Eehmm...sesuai yang dijadwalkan, Mbak Icha memberikan materi pada jam ke dua acara seminar hari pertama dan kedua. Kemudian lusa kita live yang akan diliput langsung oleh beberapa stasiun televisi, salah satunya 'AP tv' sebagai stasiun TV swasta nomor satu di negara kita." Jawabnya menirukan tulisan yang dia baca.
'AP tv' bukankah itu stasiun TV swasta milik keluarga besar Purnama ?' Pikir Aleesha sejenak.
"Setelah itu, apa kita masih ada acara ?"
"Iya Mbak, di hari terakhir ada gala dinner, bebas yang penting suka-suka bersama." Ucapnya centil.
'Pasti akan terasa menyenangkan jika hati ini tidak terbebani begitu banyak pikiran.' Gumamnya dalam hati.
'Tapi beban pikiran apa yang kamu tanggung Cha ?' Tanya salah satu sisi hatinya.
"Masih ada banyak waktu untuk istirahat Mbak." Kata Widya mengingatkan.
"Iya Wid."
"Mbak Icha harus tetap jaga kesehatan, jangan terlalu diforsir tenaganya."
"Iya bawel."
"Xixixixixix...."
Samar-samar terdengar suara Ridwan cekikikan lirih, melihat perubahan mimik wajah Widya yang duduk manis di sampingnya.
"Apa lo." Gerutunya tak kalah lirih.
***
Entah berapa lama Aleesha terlelap di dalam perjalanan. Yang dia rasakan, udara yang dikeluarkan dari pendingin mobilnya semakin terasa menggelitik.
Tandanya, tempat yang mereka tuju sudah hampir sampai. Di salah satu hotel berbintang yang ada di kawasan puncak inilah Aleesha harus menyalurkan bakat dan ilmunya untuk para peserta seminar besok.
"Kamu sudah booking hotel Wid ?"
"Sudah Mbak, saya dan Mas Ridwan di penginapan kecil sebrang jalan. Kalau Mbak Icha sudah ada tiket khusus bersama tamu undangan lain di hotel bintang lima depan sana."
__ADS_1
Jika tidak jauh-jauh hari, akan sangat sulit untuk mendapatkan penginapan, apalagi Aleesha melihat betapa banyaknya para pengunjung saat itu. Bukan hanya mereka yang menghadiri seminar, tapi juga tamu umum yang sengaja meluangkan waktu untuk berwisata.
"Kenapa gak sekalian saja bareng sama saya ?"
"Penuh semua Mbak."
"Hhhmmm...kalau kamu gak telat booking juga gak akan penuh kali."
"Gakpapa Mbak. Lagian, lebih enak di pinggiran gini Mbak, lebih nyaman." Jawab Widya sembari membungkam mulutnya sendiri.
"Hhhmmm... terserah kamu saja, yang penting kamu siap disaat aku membutuhkan."
"Siap Mbak."
Widya yang selalu sibuk dan sigap menyelesaikan setiap kebutuhan Aleesha.
"Mbak Icha, saya sudah cek in. Ini kartu undangan dan kunci kamar Mbak Icha."
"Oke."
"Kalau begitu, saya cek in dulu ya. Selamat beristirahat." Pamitnya dilanjut menuju penginapan yang dia pesan untuk Ridwan dan dirinya sendiri.
Sampai di dalam lobi hotel, tidak ada seorangpun yang dia kenal saat ini. Tapi, dari sejak dia keluar dari dalam mobil, seolah ada sepasang mata yang sedang memperhatikan.
'Ah... mungkin hanya perasaanku saja.' tepisnya.
"Aleesha !"
Seseorang memanggil namanya. Aleesha menoleh dan memastikan siapa pemilik suara yang memanggilnya.
"Key ? Kau kah itu ?"
"Siapa lagi coba, gadis cantik, menarik, energik yang selalu ingat kepada sahabatnya dari berbagai sisi." Sindirnya halus.
"Ahahahhah...maaf, habisnya makin montok sekarang." Balas canda Aleesha.
"Seksi kali, montok." Gerutunya.
"Idih, ngambek dia."
"Tau ach."
Hari-hari Aleesha tidak akan terasa sepi, setelah ada Keysha di tempat ini.
"Kamu sendirian ?" Tanya Aleesha memastikan kalau mereka bisa saling melengkapi, karena sama-sama hadir sendiri.
"Eehmm...kasih tau gak ya."
"Apaan sih, jawab Key."
"Mau atau ajah."Jawabnya sambil berlalu meninggalkan Aleesha dengan sejuta tanya.
"Key, tunggu, tunggu." Panggil nya mengikuti menuju pintu lif yang hampir tertutup.
Tapi belum juga pintu lif mengatup, seseorang mencegahnya dari luar.
__ADS_1
Deg...
Next On -------------->