Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 53. Selalu Orang Ketiga


__ADS_3

"Icha." Merdu suara itu terdengar di telingaku.


Rasanya seperti mimpi, saat Aku benar-benar melihatnya. Disana, diseberang sana, ku dapati Dia yang selama Aku cari.


"Mas Bram."


Perlahan ku ayunkan kakiku, ku sibak kerumunan banyak orang yang menghalangi pandanganku.


"Mas Bram !" Terdengar ada seseorang memanggil namanya dengan lantang.


"Kemana saja sayang, sudah lama Aku mencari mu."


"Aku merindukanmu Mas."


"Aku juga."


Ku Hentikan langkah kakiku, saat seorang wanita mendahului langkah kakiku. Mendekat dan memeluk erat orang yang sama ada di hatiku.


"Mas Bram." Lirihku, tanpa mampu berseru.


Tanganku melambai, sembari ku panggil namanya. Tapi Mas Bram tidak pernah mendengarnya. Bahkan melihat ke arahku saja, Dia enggan.


"Apa yang salah dengan ku ? Kenapa Mas tidak mengenaliku ?" Rintih ku sembari ku remas kuat jantung yang berdegup kencang. Sakit, sakit hati ini, melihat adegan mesra yang seharusnya itu milikku.


"Mas Bram, Mas, tunggu Mas. Mas Bram !"


Semakin keras Aku memanggilnya, semakin Dia tidak mendengar ku. Bahkan semakin pergi menjauh dariku.


"Jangan, jangan tinggalkan Aku. Jangan pergi, jangan pergi."


"Mbak Icha, Mbak tidak apa-apa ?" Panggil Widya sembari menggoyang-goyangkan pelan lengan Aleesha.


"Tidak, tidak apa-apa." Jawabnya gugup.


'Ternyata, ini hanya mimpi.' Pikir Aleesha dalam hati.


"Mbak Icha mimpi buruk ya ?" Kembali Widya bertanya.


"Tidak Wid. Tidak apa-apa." Lagi-lagi jawaban yang sama Dia berikan.


'Apakah ini sebuah pertanda, kalau Mas Bram akan pergi meninggalkanku ?' Pikirnya mulai over thinking.


"Ibu-ibu dan Bapak-bapak, sembari kita mulai mendarat, mohon pastikan punggung kursi dan meja Anda berada dalam posisi tegak. Pastikan juga sabuk pengaman Anda terkait dengan baik dan seluruh barang bawaan tersimpan di bawah kursi di depan Anda, atau di penyimpanan atas. Terima kasih."


Pengeras suara instruksi dari pramugari membuyarkan lamunan Aleesha.


"Sebentar lagi pesawat akan mendarat, Kamu pastikan Ridwan sudah di tempat penjemputan saat kita turun."


"Sudah Mbak, barusan Mas Ridwan WA kalau Dia sudah ada di lobby penjemputan."


Aleesha mengangguk, mengiyakan pernyataan asisten nya.


'Ya Allah... seharian ini Mbak Icha tidak banyak bicara. Semoga besok Dia tidak akan banyak diam saat acara sudah dimulai." Resah, gelisah, Widya merasakan dalam hati.


Tidak lama, pendaratan burung besi berjalan lancar, keduanya sampai di tujuan. Seperti yang Widya katakan, Ridwan sudah stay di sana.


"Selamat siang Mbak Aleesha. Bagaimana perjalanan lancar ?" Sapanya akrab seperti biasa.

__ADS_1


"Alhamdulillah, lancar." Jawabnya simple.


"Mbak Aleesha kenapa ? Tidak seperti biasanya, Kamu bikin masalah Yang ?" Bisik Ridwan kepada istrinya.


"Gak tahu, lagi galau mungkin. Sejak kemarin gak fokus, banyak diam." Jawabnya tak kalah lirih.


"Kita langsung in hotel ya Mas, biar Mbak Icha istirahat dulu." Kata Widya memberikan instruksi.


"Siap Ndan." Jawabnya bercanda, mencoba mencairkan suasana.


Tapi semakin Ridwan dan Widya banyak bercanda, semakin membuat Aleesha memalingkan muka. Alhasil, diam lagi seribu bahasa.


***


Pukul delapan lewat tiga puluh menit waktu Indonesia bagian tengah. Widya sudah on time menjemput owner nya untuk mempersiapkan diri.


Hari ini, hari pertama Aleesha membuka agendanya di Bali. Sesuai jadwal yang Widya pegang. Ada dua tempat yang harus Aleesha datangi di hari pertama.


"Mbak Icha, semangat." Kata Widya sembari mengepalkan tangannya ke atas.


Namun masih dengan wajah datar, Aleesha tersenyum simpul.


Melihat sikap owner nya, ada rasa khawatir dalam diri Widya. Namun di luar dugaan, Aleesha bisa membawa suasana lebih meriah dan hasilnya profit yang lebih besar.


Begitupun dengan seminar - seminar berikutnya, tidak ada kendala sama sekali.


'Saya yakin, Mbak Icha seorang yang profesional. Tidak mungkin menyerah dengan keadaan apapun.' Pikir Widya senyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa senyum - senyum begitu ?" Tanya Aleesha yang tanpa sengaja melirik asisten pribadinya menyembunyikan senyumnya.


"Gakpapa Mbak, Saya senang saja hari ini. Pengennya senyum terus." Jawabnya bercanda, mencoba mencairkan suasana.


Ada nada salah paham pada kalimat yang Dia lontarkan.


"Waduh, mulai gak enak nih." Lirih Widya bicara sendiri.


"Kenapa ?"


Meskipun lirih, tapi Aleesha sempat mendengarnya.


"Mulai gak enak, karena pasti Mbak Icha salah paham. Padahal Saya senang karena hari ini Mbak Icha sudah berhasil mengisi acara dengan lancar." Ralat Widya menerangkan.


"Memang acara-acara sebelumnya, Saya pernah melakukan kesalahan ?" Tanya Aleesha semakin ketus.


"Enggak Mbak, bukan begitu. Maksud Saya_"


"Apa ? Pasti dalam pikiran Kamu, hari ini tidak akan berjalan lancar, karena Aku lama vakum. Gitu kan ?" Kata Aleesha yang kali ini terdengar merajuk.


"Bukan begitu Mbak Icha..."


'Hahh...kalau orang lagi galau, susah diajak bicara. Mau dijelasin sampai berbusa juga gak bakalan bisa nerima.' Gerutu Widya dalam hati.


Sengaja Aleesha membuat Widya jengkel. Entah apa yang Dia pikirkan saat ini. Yang jelas Aleesha bisa tertawa terbahak-bahak, saat melihat perubahan raut wajah Widya yang tiba-tiba memerah memendam amarah.


"Tau gak Wan, Saya paling suka melihat istri Kamu kalau lagi bete." Canda Aleesha mengajak Ridwan ikut berkomentar, yang sejak tadi hanya diam menjadi pendengar.


Sebenarnya, dalam hati Ridwan takut mendengar perdebatan mereka. Terutama takut kalau istrinya membuat kesalahan dan membuat Aleesha marah.

__ADS_1


"Iya Mbak, kalau lagi cemberut makin manis Dia." Celoteh Ridwan berusaha mengimbangi.


Suasana berubah, saat ketiganya berkelakar, tertawa dan bercanda bersama.


'Sudah lama rasanya, Aku tidak merasakan hal seperti ini.' Komentar Aleesha dalam hati. Dengan begitu, hilang sudah rasa sakit dan kesedihan yang menyelimuti hati.


"Mbak Icha tidak lupa kan, kalau besok malam kita ada acara penghargaan di purnama hall." Kat Widya mengingatkan.


Lagi-lagi, raut wajah Aleesha berubah seketika, saat mereka membicarakan pekerjaan. Karena semua pekerjaan yang Aleesha jalani saat ini, tidak luput dari bayang-bayang Asbram purnama. Apalagi, acara puncak dari berbagai seminar yang dia laksanakan di Bali, akan bertempat di salah satu hotel milik keluarga Purnama.


"Oh, iya. Saya hampir lupa. Itu konsep acaranya bagaimana ?" Tanya Aleesha sedikit gugup.


"Rundown nya ada di laptop satunya. Nanti saya kirimkan deskripsinya juga ke Mbak Icha." Jawabnya.


"Iya, terimakasih."


Suasana kembali hening, saat keduanya menikmati keramaian kota Denpasar yang penuh dengan lalu lalang wisatawan.


"Keysha." Gumam Aleesha, saat seseorang yang sangat Dia kenal berjalan sendiri menyusuri pinggiran taman di salah satu sudut kota Bali.


"Mana Mbak ?" Seketika Widya juga mencari.


"Tapi, itu tadi beneran Key bukan ya ?" Pikirnya ingin memastikan.


"Apa, kita perlu putar balik Mbak ?" Kali ini Ridwan yang bertanya setengah mengusulkan.


"Boleh Mas, kita balik sebentar."


Ternyata benar adanya, Keysha duduk sendiri di teras sebuah caffe, menikmati secangkir kopi yang aromanya menenangkan hati.


"Hai, boleh duduk di sini ?" Sapa Aleesha menggoda.


"Oh, maaf ini sudah ada yang menempati." Jawab Key sibuk dengan gadget di tangannya, tanpa menoleh sedikitpun ke arah sumber suara.


"Hhhmmmm... tempat siapa ya kira-kira ?" Lanjut Aleesha.


Seketika Key mendongakkan wajahnya, senyum manis tersungging di bibir Aleesha.


"Icha, oh ... " Histerisnya memeluk Aleesha.


"Idih, kayak puluhan tahun gak ketemu saja." Komentar Aleesha.


"Kamu kok tahu Aku ada di sini ?" Tanya Key heran.


"Tahu lah, siapa dulu dong ?"


"Percaya dech. Eh ... Ngomong-ngomong, Kamu sama siapa ?" Kepo nya meneliti sekitar kiri kanan Aleesha.


"Tu ... " Jawab Aleesha menunjuk ke arah sejoli yang sedang duduk berdua berbincang dengan waiters untuk memesan sesuatu.


"Kamu sendiri ?"


"Aku_"


"Hai."


Entah kenapa, detak jantung Aleesha berdetak begitu kencang, saat mendengar seseorang menyapanya dari belakang.

__ADS_1


Next On --------------->


__ADS_2