
"Apa ini Pak Bram, bagaimana Saya bisa mempercayakan produk - produk Saya ke Perusahaan Bapak." Maki Mr. Berkant, dengan bahasa Indonesia nya yang belum begitu fasih.
Dia seorang pengusaha terkenal dari Turki.
Pertemuan Asbram pagi ini, membicarakan tentang kerjasama pemasaran produk dari negara asalnya yang masuk ke Indonesia melalui perusahaan makanan yang keluarga purnama punya.
Namun suasana pagi yang tadinya penuh dengan humor, seketika berubah menjadi tegang, saat desainer produk dari perusahaan Asbram tak kunjung datang.
"Kami mohon maaf Tuan, beri Kami waktu untuk mendesain ulang, Kami akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan Tuan." Kata Asbram yang harus menahan amarah karena kesalahan kecil yang team desainernya buat.
"Mana bisa begitu, Saya tidak punya banyak waktu." Tolaknya kecewa.
"Kami mohon tunggu sebentar Tuan, sebentar lagi desainer pengganti akan segera datang." Pinta Asbram mencoba meyakinkan.
"Tidak perlu, Saya benar-benar sangat kecewa. Buang-buang waktu Saya saja." Omelnya sendiri, sembari menghabiskan sisa minuman yang ada di gelas nya.
"Selamat pagi." Sapa Aleesha memecahkan keheningan, sekaligus menghentikan langkah kaki Mr. Berkant untuk pergi meninggalkan meja pertemuan mereka.
Asbram dan semua yang hadir melongo melihat kedatangan Aleesha yang mereka pikir tidak tahu dengan ketegangan suasana yang ada.
"Hallo Miss Aleesha." Balas Mr. Berkant dengan mimik wajah yang tiba-tiba berseri.
"hello Mr. Berkant, nice to meet you."
"Nice to meet you too. Saya penggemar berat Anda, Saya senang datang ke Bali bisa bertemu Anda." Nada bicaranya terdengar ramah dan ceria.
"Oh ya, what makes you happy about bali ?" Tanya Aleesha basa basi.
"I like everything about bali. Terutama semua tentang Anda Miss Aleesha." Jawabnya tanpa ingat kejadian buruk yang baru saja terjadi.
"Sure ?"
"Yes, I am sure."
"But, why does your face look gloomy ?"
"Oh, ya itu, Saya_" Ucapnya terbata.
"Silahkan duduk Tuan, mungkin ada yang bisa Saya bantu ?" Pinta Aleesha.
Serasa dihipnotis, pengusaha paruh baya yang tadi sempat marah-marah dan tidak mau menerima saran dari Asbram itu, tiba-tiba menurut dengan Aleesha begitu saja, bahkan mulai bercerita detail mengenai permasalahan yang Dia alami pagi ini.
__ADS_1
"It's oke, itu bukan masalah besar. Semua bisa diatasi." Kata Aleesha meyakinkan, setelah Dia mencoba menjelaskan dengan rinci dan panjang lebar.
"Saya percaya dengan Miss Aleesha. Kinerja Misa Aleesha sudah tidak diragukan lagi." Pujinya berkali-kali.
"Dan satu hal lagi, perusahaan Tuan tidak salah memilih StarTV sebagai wadah pemasaran produk di negara Kami. Karena sudah teruji dan terbukti hasilnya." Penuh percaya diri Aleesha memberikan pengertian.
"Iya, iya ,iya, Saya percaya dengan Miss Aleesha. Pak Asbram, Saya ambil kontrak kerja dengan StarTV." Putusnya.
"Baik, Kita akan segera kerjakan, termasuk desain produk juga akan segera Kami kirimkan ke email Tuan."
"Oke, Saya tunggu."
"Semoga kerjasama ini bisa berlanjut dan membuahkan hasil yang maksimal."
"Tentu, dan jangan lupa, semua ini berkat Miss Aleesha. Kalau bukan karena Dia, mungkin kita belum ada kata sepakat." Tutupnya sebelum pergi meninggalkan ruang pertemuan mereka.
"Bukan Tuan, semua karena memang StarTV yang luar biasa." Sanggah Aleesha merendah.
"No, no, no, Miss Aleesha extraordinary." Kekehnya memuji.
Tidak banyak bicara, Asbram masih diam mematung, memandang wajah Aleesha dengan penuh kebanggaan.
"Kenapa ? Aku, jelek ya pagi ini ?" Ucapnya salah tingkah, saat tamunya sudah berlalu pergi.
"Betapa bodohnya Aku." Gumam Asbram lirih, membuat Aleesha membelalakkan mata.
"Selama ini Aku buta, Aku tidak pernah menyadari kesempurnaan yang Allah berikan untukku." Celoteh Asbram sembari membelai lembut anak rambut yang menutupi sebagian kening Aleesha.
Reflek, Asbram mengecup kening yang kini sudah tidak tertutup lagi. Kalau saja tidak terdengar suara David berdehem, mungkin Asbram lupa kalau mereka sedang berada di tempat umum, dan masih di kelilingi banyak orang.
"Maaf, maaf, silahkan duduk." Ucapnya tersadar, banyak mata yang memandang.
"Mulai saat ini, kita akan membahas setiap projects baru yang kita dapatkan, dengan penasehat baru Kita." Lanjutnya sembari memandang ke arah Aleesha.
"No, no, no." Komentar Aleesha mengikuti apa yang Mr. Berkant ucapkan tadi.
"Saya hanya akan memberikan nasehat Saya untuk CEO StarTV yang keras kepala. Untuk masalah pekerjaan, no." Tegas Aleesha menambahkan komentarnya.
Sebagai reaksi gemasnya, Asbram meremas lembut jemari Aleesha sembari melotot ringan ke arah istrinya.
"Huh..." Widya mendengus panjang mendengar komentar Aleesha, sembari menepuk nepuk dadanya sendiri.
__ADS_1
Spontan keduanya mengalihkan pandangan.
"Kenapa Wid ?" Tanya Aleesha.
"Hah, gakpapa, lega aja." Jawabnya asal.
"Lega kenapa ?" Kekeh Aleesha pengen tahu.
"Ya, lega saja. Secara, kalau Mbak Aleesha ikut Pak Bram, Saya ikut siapa ?"
"Ikut Ridwan lah." Jawab Aleesha dan Asbram bersamaan.
"Hmmm...sudah mulai kompak sekarang." Gerutu Widya lagi.
Asbram yang biasanya cuek, hari ini terlihat riang dan ramah sekali.
'Selamat ya Mbak, Saya senang melihat tawa lepas Mbak Icha. Mbak Icha pantas mendapatkan kebahagiaan seperti ini.' Komentar Widya dalam hati.
'Baru kali ini, Aku merasakan bahagia melihat canda dan tawa lepas Mas Bram. Terimakasih Ya Allah.' Gumam hati kecil Aleesha.
Bukan hanya Widya, bahkan mungkin netizen ikut merasakan kebahagiaan yang Aleesha rasakan saat ini.
'Aku berharap, ini akan berlanjut, sampai Kita kembali ke rumah nanti.' Pintanya dalam hati.
"Mbak Icha, hei...kenapa bengong ?" Senggol Widya mengagetkan. Membuyarkan lamunan penuh harapan di hari terakhir mereka berada di Pulau Dewata.
Tak terasa, ada yang membendung di balik kelopak matanya. Namun segera Dia tersadar, tidak boleh lagi ada air mata yang mengalir di saat-saat hari bahagianya. Terutama hari ini, hari yang penuh canda dan tawa.
Bahagia yang Aleesha rasakan, tidak dapat lagi Dia ungkapkan dengan kata-kata.
"Waktunya kembali." Celetuk Aleesha mengalihkan pandangan dari lelehan air mata bahagia yang hampir keluar dari kelopak matanya.
"Yakin, mau pulang ?" Canda Widya setengah menggoda.
"Sayang, Kamu tidak ingin membeli sesuatu untuk oleh-oleh ?" Tanya Asbram menyela, sebelum Aleesha sempat menjawab pertanyaan Widya.
"Ehmmm... ada sih, tapi_"
"Tapi tidak usah lama-lama, Kita jalan sekarang." Lagi-lagi sikap girang Asbram membuat sisa orang yang ada membelalakkan mata.
Apalagi, baru kali ini mereka melihat Asbram terang-terangan merangkul pundak Aleesha di depan umum. Melenggang pergi tanpa peduli lagi, dengan siapa Dia datang dan dengan siapa Dia kembali.
__ADS_1
Sedangkan yang ditinggal hanya bisa menggelengkan kepala, seolah berkata 'inilah rasanya kalau sedang jatuh cinta, dunia milik berdua, yang lain numpang lewat saja'.
Next On ---------------------------->