Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 12. Kenangan Yang Tak Terlupakan


__ADS_3

Widya nampak gelisah. Sejak siang tadi terlihat berjalan mondar mandir di depan ruang rias.


"Mbak Wid, mana Mbak Aleesha ?" Tanya lirih seorang juru rias, yang membuka sedikit pintu ruang rias dan memanggil pelan nama Widya, berharap tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.


"Uuffhh...bikin kaget saja. Sebentar ya, kita tunggu sebentar lagi." Pintanya tak kalah lirih.


"Takutnya, kalau telat, riasan Mbak Aleesha gak maksimal."


"Iya, iya, biar saya jemput ke kamarnya." Jawab Widya sembari berlalu.


"Haduh, bikin panik saja ini Mbak Aleesha. Sudah tahu malam ini malam penting bagi dia. Mana pakai acara begadang lagi. Kalau sakit kan saya juga yang repot." Omelnya lirih, tanpa peduli ada beberapa pasang mata yang melihat mulutnya komat-kamit sendiri.


"Aleesha belum turun ?" Tanya Asbram saat melihat asisten pribadi calon istrinya yang kelihatan sedikit arogan menekan tombol open pada liff.


"Oh, Pak Bram. Maaf, saya tidak melihat Anda datang."


"Kamu kembali saja, siapkan keperluan Aleesha. Biar saya panggil dia."


"Hahhh... tapi_"


"Saya hanya ingin membantu demi suksesnya acara malam ini." Potongnya mencari alibi.


"Baik Pak." Jawabnya sambil berlalu.


Dalam pikiran Widya, berputar banyak pertanyaan. Apa dan siapa sebenarnya Asbram Purnama, yang selama ini tidak dia ketahui sama sekali.


'Apa sebenarnya hubungan mereka ya ?' Tanya hati kecilnya.


'Pak Bram begitu perhatian sama Mbak Aleesha. Bahkan, malam itu, Beliau rela meninggalkan makan malam bersama kliennya, hanya untuk memastikan kalau Mbak Aleesha baik-baik saja.' masih dengan berbagai pertanyaan di hatinya.


"Padahal, selama ini apapun yang terjadi dengan Mbak Aleesha, aku tahu semuanya, tapi ini ?" Gumamnya lirih.


"Tapi apa ?" t


"Eh, Mbak Keysha, bikin kaget saja." Jawabnya cengengesan.


"Aleesha mana ?" Tanya Key sembari memperhatikan sekeliling, mencari keberadaan sahabatnya.


"Mbak Aleesha, Dia_"


"Hei, kalian masih di sini rupanya. Aleesha mana ?"


Belum juga Widya selesai menjawab pertanyaan Keysha, sudah datang Dokter Arya dengan pertanyaan yang sama.


"Mbak Aleesha masih di kamarnya Dok. Mungkin masih mempersiapkan keperluan untuk acara malam ini. Sebentar lagi juga keluar." Jawabnya mencoba menebak situasi yang ada di lantai atas, dimana Aleesha tinggal.


"Kita langsung ke aula dulu Dok. Sudah disiapkan makan malam juga di sana." Ajak Keysha.


"Boleh."


"Kami duluan ya Wid."


"Silahkan Mbak, Dokter Arya, selamat menikmati."


"Bye."


Malu-malu, Widya membalas lambaian tangan Dokter Arya.


"Is is is ... Udah ganteng, pinter, dokter lagi. Uuppss..." Lirihnya sembari membungkam mulutnya sendiri.

__ADS_1


'Ngomong-ngomong, apa kabar dengan Mbak Aleesha dan Pak Bram ya.' Pikirnya kembali.


***


Tok ... tok ... tok ...


Asbram mengetuk pintu kamar Aleesha. Bukan hanya ingin memastikan kesiapannya untuk naik ke atas panggung malam ini. Tapi juga ingin melihat kondisi kesehatannya.


"Siapa ?"


"Ini saya."


Ceklek ...


"Pak Bram."


"Apa kamu baik-baik saja ?"


"Saya, tidak apa-apa Pak." Jawabnya berusaha tetap tangguh.


"Tapi_"


"Tidak apa-apa, sebentar lagi saya turun." Jawabnya memotong.


"Ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Asbram merasa sedikit bersalah.


"Terimakasih Pak, saya ambil tas dulu, sebentar lagi saya turun." Ulangnya, Aleesha terlihat tidak begitu fokus dengan apa yang mereka bicarakan.


"Ya, silahkan."


Pintu tertutup, saat Aleesha kembali masuk untuk mengambil tas jinjingnya di dalam.


"Eh, Sha." Panggilnya terlambat.


Matanya tajam menatap lurus ke depan. Seakan tidak rela jika buruannya lepas dari pandangan.


'Aleesha, Dia rela mengorbankan waktu dan kesehatannya demi aku. Apa memang dia jodoh yang Tuhan takdirkan untukku.' Gumamnya dalam hati.


'Entah kenapa bayangan masa kecil itu selalu hadir seolah menyampaikan dialah jodohku. Tapi kemana akan aku cari ? Apakah dia benar-benar ada untukku.'


Antara nyata dan maya, Asbram kembali mengingat seseorang yang pernah dan masih singgah di hatinya. Seseorang di masa lalu yang tidak pernah akan dia lupakan seumur hidupnya.


*Flashback On


"Cupu, cupu, cupu !"


Teriak segerombolan anak nakal yang mengitari seorang anak laki-laki, sembari melemparinya dengan buah-buahan yang sudah tak layak makan.


"Huu ... dasar anak manja, anak mama, huuu !" Olok salah seorang dari mereka.


Namun anak itu hanya diam, tanpa berani melawan, merunduk melindungi wajahnya dari lemparan.


Dialah Asbram Purnama, yang pendiam dan kutu buku. Sifatnya sekarang bertolak belakang dengan masa kecilnya yang kelam.


"Hei anak manja ! Kenapa diam saja, lawan kami kalau berani !" Tantang seorang yang lain.


"Halah, anak Mama mana berani sama kita !" Teriak seorang lagi.


Refleks, bocah itu menengadahkan wajahnya. Dia lihat satu persatu gerombolan anak nakal yang seharusnya dia sebut teman itu.

__ADS_1


"Eh, berani dia lihatin kita !" Tunjuk salah satu dari mereka.


Dengan kasar dia tarik kacamata yang bertengger di hidungnya.


"Jangan !" Teriak Bram memohon.


Namun terlambat, mereka sudah melempar dan menginjakknya hingga patah.


"Hei, mau kemana ?"


Sebuah pertanyaan halus, namun diiringi dengan tarikan pada krah bajunya, agar Bram tidak bisa mengambil kembali kacamata nya yang sudah patah menjadi dua.


Buk ... buk ...


Karena berusaha melawan, sebuah tonjokan melayang ke bahu dan pipinya. Asbram jatuh tersungkur tepat di hadapan seorang gadis kecil yang sedang berjalan menuntun sepeda.


"Hei ! Apa yang kalian lakukan !" Teriaknya lantang.


"Apa kamu ! Jangan ikut campur, ini urusan cowok." Jawab salah seorang dari mereka.


"Beraninya main keroyokan."


Antara berani dan takut, bocah perempuan itu menghardik mereka.


"Minggir Cha, jangan ikut-ikutan."


"Ah, kelamaan !" Satu kali lagi pukulan keras mengenai dada gadis kecil yang tadi dipanggilnya 'Cha'.


"Akhh." Rintihnya kesakitan.


Bukan hanya dadanya, yang dirasa sakit. Tapi pelipis mata gadis itu juga berdarah. Bahkan keluar begitu deras dari luka-luka di tangan Asbram kecil.


"Eh gimana ini, Chacha berdarah." Bisik lirih seseorang diantara mereka.


"Jangan takut, kita gak salah, dia sendiri yang jatuh kena batu." Sangkal seorang diantaranya.


"Tapi, kalau kamu tidak pukul dia, gak mungkin dia jatuh." Tuding seorang lagi.


"Salah siapa pasang badan, aku kan mau pukul anak manja itu." Jawab salah satunya membela diri.


"Hei, kamu tidak apa-apa ?" Tanya Bram kecil saat melihat gadis kecil itu mulai mengatupkan matanya.


"Tolong !"


"Tolong !"


Mereka semakin panik dan kebingungan mendengar teriakkan Bram.


"Bagaimana ini, sebaiknya kita pergi dari sini." Ajak salah seorang dari mereka.


"Tapi, kasihan Chacha, dia kan teman kita juga." Masih ada sedikit rasa iba diantara mereka.


"Jangan bodoh, apa kamu mau disalahkan karena membuat Chacha terluka." Gertak seorang lagi.


"Tolong, panggil seseorang untuk menolong temanmu ini, kasihan dia." Pinta Bram memohon.


Namun mereka hanya diam dan saling menatap. Sementara Aleesha semakin lemah tak berdaya, bahkan sudah tidak terdengar lagi rintihannya.


"Eh, lihat Chacha, dia pingsan atau mati ya ?" Celoteh salah seorang dari mereka.

__ADS_1


"Diam !" Teriak Asbram jengkel, mendengar percakapan mereka yang tidak punya belas kasihan.


Neck On ------------>


__ADS_2