Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 56. Malam Yang Berkesan


__ADS_3

23.00 Waktu Indonesia Bagian Tengah.


Aleesha duduk termenung, di teras balkon tempat Dia menginap, ditemani sebuah buku yang terkadang Dia buka untuk membaca isi didalamnya. Namun sesekali hanya Dia peluk, sebagai teman di sepanjang malamnya.


Rasa lelah usai mengisi acara malam puncak penghargaan bagi pengusaha muda Indonesia, tidak membuat Dia harus takluk dan menyerah pada zona nyaman.


"Terkadang, kita tidak sadar sedang berharap kepada orang yang tidak bisa diharapkan. Maka, jangan jadikan seseorang sebagai prioritas utamamu sementara kamu hanya jadi salah satu pilihannya saja." Lirihnya, seolah memberikan sebuah motivasi untuk dirinya sendiri.


Dia tutup kembali benda kotak tebal berisi lembaran - lembaran kertas yang tersusun rapi dan mereka sebut buku, untuk sekedar menelaah isi kalimat yang terucap dari bibirnya.


Drrttt ... drrttt ... drrttt...


Getaran handphone membuyarkan lamunannya.


"Bunda, video call." Gumamnya sendiri.


"Assalamu'alaikum Bunda." Sapanya berhasil menggeser tombol warna hijau pada layar handphonenya.


"Wa'alaikumsalam Nak, bagaimana kabarmu ?" Jawab Beliau balik bertanya.


"Alhamdulillah, Icha sehat Bunda. Bunda sendiri apa kabar ?"


"Alhamdulillah, Ayah, Bunda juga jamaah yang lain termasuk Papa dan Mama Purnama, selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wata'ala." Jawab Beliau sembari mengedarkan handphonenya, memperlihatkan keberadaan orang - orang yang Bunda sebutkan.


Mereka semua, orang-orang yang sangat Dia sayangi. Penyemangat hidupnya, yang selalu ada di hati Aleesha.


"Alhamdulillah."


"Asbram apa kabar Nak ? Kalian baik-baik saja kan ?" Tanya Bunda seolah tahu kegundahan yang Aleesha rasakan saat ini.


"Mas Bram sehat Bunda. Kami, baik-baik saja. Ini juga, Icha sedang ada acara di Bali bersama Mas Bram dan teman - teman." Jawabnya sedikit berbohong.


"Syukurlah kalau begitu. Bunda selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian."


Terlihat sekali, ada pancaran kebahagiaan di wajah Bunda. Dan itu yang memaksa Aleesha untuk tidak bisa berkata jujur dalam hal rumah tangganya. Aleesha tidak mau berbagi kesedihan deny kedua orangtuanya.


"Amin, terimakasih Bunda."


'Maafkan Icha Bunda, terpaksa Icha berbohong. Icha tidak mau membuat Bunda sedih.' Sesalnya dalam hati.


"Asbram mana Nak ?" Kali ini berganti Mama Purnama yang bertanya.


"Ehmm... Mas Bram masih ada pertemuan dengan klien di luar Ma." Lagi-lagi Dia tidak bisa jujur.


Sama seperti yang Dia lakukan kepada Bunda, wanita yang berbincang dengannya saat ini juga bagian dari hidupnya.

__ADS_1


"Oh ... Ya sudah Nak. Mama berdoa agar Mama segera bisa menimang cucu sepulang nya dari ibadah."


"Amin."


Tak kuasa rasanya hati Aleesha mengamini Do'a Mama Purnama.


'Bagaimana Aku bisa mengabulkan permintaan Mama dan Bunda, jangankan memberi momongan, berdekatan saja rasanya sudah tidak mungkin.' Pikir Aleesha menelaah kembali percakapan yang usai Dia lakukan dengan keluarga besarnya.


"Wid, pesankan tiket pesawat kembali pulang untukku besok." Satu pesan Dia sisipkan untuk asisten pribadinya.


Tidak mau berlama-lama memikirkan hal yang tidak mungkin akan terjadi, Aleesha memutuskan untuk segera meninggalkan pulau ini. Apalagi, Dia tahu, Asbram juga sedang berada di pulau yang sama.


Kling ...


"Tapi Mbak, bukankah besok Mbak Icha masih ada jadwal pertemuan dengan Mr. Dhaniel." Satu pesan jawaban, yang mampu membuat hati Aleesha bimbang.


Di satu sisi, Dia ingin segera meninggalkan pulau ini. Tapi di sisi lain, ada sebuah harapan yang mampu membuat perubahan dalam hidup kedepannya.


Sebentar Dia mainkan handphone nya. Sesekali terlihat Dia ketuk-ketukkan pada keningnya. Memikirkan, keputusan apa yang akan Dia ambil selanjutnya.


"Hallo Mbak, bagaimana Mbak ?" Masih berlanjut Widya memastikan bertanya melalui media chat nya.


Namun, Aleesha hanya membacanya. Masih belum tahu, balasan apa yang tepat untuk Dia sampaikan.


Tok ... tok ... tok ...


"Siapa ?" Tanya Aleesha saat memastikan seseorang ada di depan pintu kamarnya.


"Room service."


'Room service, ada apa malam - malam begini. Aku tidak memerlukan atau memanggil room service. Pasti ada yang tidak beres.' Pikirnya penuh waspada.


Dengan tangan sedikit gemetar, Aleesha mencoba menekan tombol hijau untuk menghubungi Widya.


"Buka Cha, ini Aku."


'Suara itu, seperti suara Mas Bram.' Meskipun ragu, tapi Aleesha mengenali suara suaminya.


Belum sempat panggilan itu terjawab, Aleesha kembali mematikan handphonenya.


"Cha." Panggilnya lagi.


'Dan hanya orang-orang terdekat yang memanggilnya 'Chacha', meskipun memang panggilan itu baru beberapa hari yang lalu Asbram sebutkan.


"Chacha, buka. Aku mau bicara."

__ADS_1


Merasa ada keraguan di hati tuan rumah, akhirnya si tamu mengakui siapa dirinya.


'Tapi, apa benar, itu Mas Bram.'


Dengan segenap keberanian, Dia buka perlahan pintu kamarnya.


Ceklekkk ....


"Mas Bram." Lirihnya sembari melepas bebas pengait pintu yang menghalangi keduanya.


Brrraaaakkkk !


Tidak sabar, tanpa banyak bicara, Asbram menutup kasar pintu kamar Aleesha. Mematikan setiap sudut ruangan yang menyinari wajah cantik istrinya, seolah tidak boleh seorangpun melirik bahkan menyentuh kulitnya.


Hanya Dia seorang, cukup Dia seorang, tidak untuk yang lain. Kemaren, saat ini dan untuk waktu yang akan datang.


"Mas." Ucapnya terhenti oleh sentuhan jari telunjuk Asbram.


"Kamu tercipta hanya untukku Aleesha." Lirihnya, sembari mengunci tubuh mungil Aleesha ke dalam pelukannya.


Sedangkan Aleesha, yang masih bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan berkata - kata pun Dia tak mampu.


Dalam keremangan cahaya, Dia telusuri wajah istrinya. Dia dorong mundur istrinya, Dia pagut dagu dan bibir ranum yang merah menggoda. Tanpa jeda, tanpa ada ruang perlawanan bahkan tanpa memberikan waktu untuk Aleesha sekedar bertanya.


Langkah mundur Aleesha terhenti. Tumitnya terantuk pada kaki sofa, membuatnya harus jatuh terduduk. Memudahkan Asbram untuk melancarkan serangannya.


Bukan serangan mematikan terhadap lawan. Tapi serangan yang bisa membuat lawannya kewalahan.


Aleesha hanya bisa melotot, merasakan sentuhan - sentuhan yang pernah sekali Dia rasakan sebelumnya. Bibirnya keluh tak mampu berkata apa - apa lagi. Suhu tubuhnya panas dingin. Detak jantungnya berdetak tak beraturan.


"Mas." Lirihnya tak mampu menolak.


Asbram tidak lagi peduli dengan penolakan yang istrinya lakukan. Bukan hanya bibirnya, tangannya pun ikut aktif bergerilya. Menyentuh setiap jengkal apa yang ada di depan mata.


"Cha." Bisiknya penuh makna.


Tidak puas sampai di situ, Asbram memboyong istrinya ke atas tempat tidur. Membuat Dia lebih leluasa menjalankan misinya.


Entah makhluk mana yang merasuki Asbram malam itu. Sedikit kasar Dia lampiaskan kerinduan hatinya. Teringat lagi kata - kata yang keluar dari mulut Arya.


Semakin terngiang di benaknya, semakin meluap emosi jiwanya. Meskipun begitu, Dia tetap lembut memperlakukan istrinya, menikmati malam yang tidak seorangpun mampu membayangkan.


Malam itu terasa sangat panas. Bahkan, pendingin ruangan pun tak mampu menyejukkan gemuruh cinta keduanya. Entah berapa kali mereka melakukan take. Dan adegan-adegan apa yang akan terjadi selanjutnya, hanya mereka yang tahu.


Yang pasti, malam ini milik mereka berdua. Malam yang sangat berkesan untuk setiap insan yang sedang di mabuk asmara.

__ADS_1


Next On ----------------------->


__ADS_2