
"Icha, Bunda hanya ingin melihatmu bahagia Nak. Dan Bunda percaya, Asbram bisa membahagiakanmu." Keyakinan seorang Ibu.
"Apalagi, setelah kejadian itu. Banyak sekali pemberitaan miring tentang kalian." Lanjut Beliau.
"Bunda betul Aleesha. Dengan bersatunya kalian, akan mengurangi pemikiran negatif pada semua orang yang mengenal kalian. Terutama, semua masyarakat di kampung halaman kita." Imbuh Ayah, mencoba meyakinkan hati Aleesha.
"Tapi, Icha belum yakin Bun. Mungkin Asbram bukan jodoh yang Allah ciptakan untuk Icha." Gumamnya, tanpa berani menatap wajah kedua orangtuanya.
"Apa tidak ada sedikitpun rasa suka diantara kalian. Tanyakan itu pada hatimu yang paling dalam Nak. Insting seorang ibu tidak bisa dibohongi." Kekeh Bunda.
Aleesha hanya menggelengkan kepala, antara tidak atau entahlah.
"Lalu, kenapa sampai ada kejadian yang memicu pemikiran negatif orang lain terhadapmu ?" Tanya Bunda kembali.
"Bukankah kejadian itu, sudah bisa menjadi satu bukti bahwa memang ada sesuatu di hati kalian ?" Ganti Ayah lebih ingin tahu.
"Tidak Yah, tidak ada yang terjadi malam itu. Semua karena salah paham saja." Bantah Aleesha.
Sarapan pagi ini, terasa hambar. Rasa lapar yang dia rasakan sejak membuka mata, kini telah berganti kenyang sebelum bisa menikmati hidangan.
Suasana kembali hening, hanya suara sendok yang beradu dengan piring saja yang terdengar.
*Ting tong ... Assalamu'alaikum
Bel berbunyi memecah keheningan pagi ini.
"Ada tamu Nak, siapa pagi-pagi begini berkunjung. Mungkin Widya ?" Tanya Bunda mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Eh... biar Icha yang buka Bunda." Cegah Aleesha dan segera mengambil alih.
Ceklek ...
"Assalamu'alaikum." Sapa tamu dari luar yang tak lain adalah Asbram dan kedua orangtuanya.
"Wa'alaikumsalam, Tante, Om, silahkan masuk."
"Terimakasih cantik. Bunda sama Ayah ada ?"
"Ada Tante, silahkan."
Berjalan beriringan, Aleesha hanya melirik sekilas pria ganteng di sampingnya. Bahkan untuk sekedar mengucapkan 'selamat pagi' saja terasa berat keluar dari mulutnya.
"Selamat pagi, Mbak Aida, Mas Herman." Sapa Papa Purnama di pagi yang cerah itu.
"Selamat pagi, MasyaAllah, mimpi apa Saya semalam. Pagi-pagi kedatangan tamu agung." Canda Bunda Aida membalas sapaan tamunya.
__ADS_1
Cukup kaget, karena kedatangan keluarga Purnama pagi itu tanpa rencana dan janji sama sekali.
"Silahkan, silahkan, silahkan duduk. Kita sarapan bareng - bareng." Ajak Ayah Herman yang membuat Aleesha salah tingkah, karena tinggal dua tempat duduk yang berjejer saja, yang tersedia untuk dia dan Asbram.
"Wahh ... baunya enak sekali, kalau masakan Mbak Aida dijamin mantul. Kebetulan sekali, ini kami juga bawakan sarapan untuk kita nikmati bersama." Komentar Mama Rose.
"Serasa seperti sedang piknik kita." Kelakar Papa Purnama di tengah-tengah menikmati sarapannya.
"Papa bisa saja, kelihatan sekali kalau kurang piknik." Canda Mama Rose menimpali.
Aleesha dan Asbram ikut tersenyum, disaat dua pasangan satu angkatan itu bercanda dan tertawa bersama.
"Mbak, Mas, ada yang perlu Kita bicarakan, mengenai anak-anak Kita." Kata Mama Rose mengawali pembicaraan, ketika mereka sudah berpindah ke ruang tamu.
Sedangkan Aleesha, dia masih sibuk di dapur. Mencuci piring dan membersihkan sisa sarapan pagi mereka. Sejak kecil, Dia terbiasa mandiri dengan semua pekerjaan di rumah.
"Eehmmm... ternyata seorang Aleesha, yang terkenal smart diluar, mau juga berkotor-kotor di dapur." Komentar Asbram yang tanpa disadari Aleesha, sejak tadi bersandar di dekat meja tepat di belakang Aleesha, dengan kedua tangan bersedekap.
"Sejak kapan Kamu disitu." Tanya Aleesha tanpa menoleh ke lawan bicaranya.
"Sejak Kamu fokus dengan pekerjaanmu." Jawabnya enteng.
"Mau jus ?" Tawar Aleesha usai menyelesaikan pekerjaannya.
"Boleh."
"Eh...Kamu ngapain disini ? Kenapa gak ikut gabung di depan ?" Tanya Aleesha yang melihat Asbram tiba-tiba duduk di sofa sebelahnya.
"Kamu sendiri ngapain disini ?"
"Aku kan tuan rumah, suka-suka Aku mau dimana saja." Jawab Aleesha datar.
"Tapi, bukankah alangkah lebih baiknya, jika tuan rumah ikut menghormati tamunya di depan." Kalimat nasehat Asbram setengah menyindir.
"Nanti saya ke depan." Kata Aleesha lirih, sembari memegang pangkal pundaknya sebelah kiri yang sedikit terasa nyeri.
"Bagaimana lukamu, sudah baikan ?" Tanya Asbram, merespon reaksi Aleesha.
"Alhamdulillah, sudah mendingan."
"Kapan jadwal kontrol lagi."
"Lusa."
"Kabari Aku, biar Aku antar."
__ADS_1
"Terimakasih."
Jawaban Aleesha kali ini terlalu singkat untuk didengar. Entah karena sedang malas, atau memang enggan untuk bicara.
"Oke, kita kedepan. Jangan sampai ada pemikiran negatif lagi tentang kita kali ini." Ajak Asbram.
"Silahkan." Ucap Aleesha sembari berdiri, mempersilahkan tamunya untuk berjalan terlebih dahulu.
"Asbram, Aleesha, sini Nak. Ada beberapa hal yang ingin Kami sampaikan." Pinta Bunda, saat mereka mulai terlihat di ruang tamu, tempat kedua orang tua mereka berbincang.
"Asbram, Aleesha, kami sudah berembug. Dan Kami juga sudah memutuskan, agar pertunangan kalian dipercepat." Kata Papa Purnama mengawali pembicaraan.
"Bahkan sebenarnya Kami berharap, tidak perlu ada tunangan, tapi langsung ke pernikahan." Lanjut Beliau.
Aleesha membelalakkan mata. Mendengar acara pertunangan saja, membuat Aleesha kaget. Apalagi langsung menikah. Keluh rasanya bibir Aleesha, tak mampu lagi untuk berkata apa-apa.
"Bagaimana Aleesha, Asbram ?" Ayah, sempat memberikan penawaran dan menunggu jawaban agar mereka memilih dengan benar.
"E...Saya_"
"Beri Kami waktu, biar Kami pikirkan terlebih dahulu Yah." Potong Aleesha.
"Aleesha, Mama yakin Asbram setuju dengan keputusan Kami. Apa yang Kami putuskan adalah jalan yang terbaik untuk kalian." Kata Mama Rose mengambil alih pembicaraan.
"Tapi Ma_"
"Sayang, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Mama percaya itu." Sekali lagi Mama memotong tanpa menunggu alasan apa yang akan Aleesha utarakan.
'Bukan begitu Ma, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Seorang wanita bisa menjalani itu jika ada dukungan dari seorang pria. Tapi, apakah itu berlaku untuk Asbram. Di hati Asbram, sudah terlanjur terpatri nama seseorang yang Aku sendiri tidak tahu itu siapa. Lalu bagaimana caraku untuk bisa membuat dia mencintaiku.' Keluh batin Aleesha.
Tanpa sengaja, pandangan mata mereka beradu. Aleesha segera memalingkan muka, sebelum cairan bening yang menggenang di kelopak matanya terjatuh.
"Ma, Pa, Om dan Tante. Mengenai perjodohan ini Saya mohon izin, Saya minta waktu untuk bicara empat mata dengan Aleesha." Ucap Bram yang mengerti betul bagaimana perasaan Aleesha saat ini.
"Silahkan Nak. Bunda percaya kepadamu."
Asbram menarik pergelangan tangan Aleesha, setelah mendapatkan izin dari kedua orang tuanya.
"Lepaskan Bram, apa lagi yang ingin kamu bicarakan." Tolak Aleesha.
"Stop Aleesha, jangan egois. Kita akan menjalaninya." Ucap Bram.
"Kamu yakin." Kalimat itu bukan hanya untuk Bram, tapi juga untuk meyakinkan hatinya sendiri.
"Kenapa tidak ?"
__ADS_1
Tidak ada jalan lain. Tiga lawan satu, sudah pasti Aleesha harus mengikuti dan menjalani perjodohan ini. Meskipun Dia sendiri tidak tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.
Next On -------------->