
Aleesha Zavira membuka halaman demi halaman, schedule perjalanannya ke Bali. Entah bayangan apa yang terlintas di benaknya.
Sesekali Dia mainkan pena yang terselip di antara jemari tangannya. Namun, ada kalanya Dia diam, merenung dengan tatapan kosong entah kemana.
'H minus 2, kenapa Aku sudah merasakan nervous sekarang ? Atau mungkin, ini akibat dari terlalu lama Aku tinggalkan dunia karirku.' Pikirnya dalam hati.
Banyak orang, meninggalkan profesi dan karirnya dengan berbagai alasan. Begitu pula dengan Aleesha, kehidupan baru sebagai seorang istri membuat Dia lupa rutinitas yang membesarkan namanya.
Namun, apa sebenarnya yang Dia dapat. Hanya sebuah kekecewaan yang belum ada akhirnya. Dan mungkin inilah saat yang tepat untuk Dia bisa melupakan kekecewaan di dalam hatinya.
Seperti saat ini, Aleesha bukan hanya mencari kesibukan untuk melupakan perdebatan dengan suaminya, tapi Aleesha benar-benar sibuk dengan beberapa meeting dan persiapan seminar.
"Mbak Icha, semua dokumen dan beberapa dress code sudah Saya siapkan." Kata Widya melaporkan.
"Beberapa dress code ? Memangnya ada berapa seminar yang akan Kita kunjungi ?" Tanya Aleesha setengah berkelakar.
"Satu saja sih, tapi kan Mbak Icha bukan hanya mengisi acara seminar saja. Tapi juga menghadiri jamuan makan malam dan pertemuan - pertemuan dengan beberapa pesohor dari berbagai negara." Kata Widya menerangkan.
Entah paham atau tidak, Aleesha hanya mengangguk anggukkan kepalanya. Beberapa permasalahan di rumah membuat Dia minus konsentrasi.
"Satu lagi, acara besok juga akan di liput oleh beberapa stasiun TV di tanah air. So...Mbak Icha harus benar-benar tampil maksimal." Pinta Widya sembari mengedipkan sebelah matanya.
'Beberapa stasiun TV, pesohor dari berbagai negara, apa Mas Bram juga akan hadir dalam acara itu. Apa yang akan Aku katakan, sedangkan untuk berpamitan saja Aku tak mampu.' Gelisah Aleesha dalam hati.
"Mbak Icha, are you oke ?" Tanya Widya mulai resah dengan perubahan sikap Aleesha.
"Oke, fine." Jawabnya terpotong - potong, sembari merapikan beberapa lembar kertas yang berserakan di atas meja kerjanya.
"Aku tinggal dulu ya Wid, Aku capek, ngantuk." Pamitnya.
"Mbak Icha mau langsung pulang ?"
"Oh, ya." Jawabnya tidak meyakinkan.
Entah mau pulang kemana Dia malam ini. Tapi yang pasti, tidak kembali ke rumah mertuanya.
"Mbak Icha, mau Kami antar ?" Tanya Widya yang selalu peka dengan kondisi psikis Aleesha.
"Tidak, terimakasih. Saya bawa sendiri saja."
Widya mengangguk, tapi rasa khawatir akan keselamatan owner nya, Dia rela mengikuti kepergiannya dari belakang.
__ADS_1
'Apartemen, sudah kuduga, Mbak Icha tidak kembali ke rumah Bapak Purnama.'
Tebakan Widya selalu benar. Kondisi seperti apapun Aleesha saat ini, Widya lebih memahami nya.
"Segera hubungi Pak Asbram atau Pak David, agar mereka tidak khawatir dengan keadaan Mbak Icha." Pinta Ridwan kepada istrinya.
[ "Selamat malam Pak David, sekedar memberitahukan, bahwa Mbak Icha pulang ke apartemennya malam ini, terimakasih." ] Pesan singkat namun lengkap ini Widya kirimkan kepada David.
Sebenarnya Dia tidak mau jadi penghianat sebagai mata-mata dari suami Aleesha. Tapi semua Widya lakukan demi keutuhan rumah tangga owner nya.
***
Hari yang ditunggu telah tiba, hari dimana Aleesha terbang ke Pulau Dewata.
"Mbak Icha sudah siap ?" Tanya Widya yang menjemputnya di apartemen.
Aleesha hanya mengangguk, sebagai pengganti atas jawaban yang diberikan kepada asisten pribadinya.
Entah apa sebenarnya yang mengganjal di hatinya. Aleesha yang selalu nampak bahagia dan full power, hari ini terlihat seperti seorang anak yang kehilangan induknya.
Sedih, diam dengan raut wajah yang jelas sekali terlihat suram.
"Kita mampir ke kantor Mas Bram sebentar." Ucapnya yang ditujukan entah kepada asisten pribadinya atau driver yang mengemudikan kendaraannya.
"Masih ada waktu, kita ke Star TV dulu ya Pak." Pintanya kepada sopir yang tentunya bukan Ridwan. Karena Ridwan sudah berangkat terlebih dahulu melalui jalur darat, guna mempersiapkan keperluan transportasi selama Aleesha berada di Bali.
"Baik Bu."
Tidak perlu banyak waktu, cukup dengan satu kali putar balik, rombongan Aleesha sudah sampai di halaman utama Star TV.
Tanpa menunggu dibukakan pintu, Aleesha segera turun dan berjalan tergesa-gesa ke lobby.
"Selamat pagi Ibu Aleesha , selamat datang, ada yang bisa Kami bantu ?" Sapa salah seorang resepsionis dengan kedua tangan Saling menelungkup.
"Pagi Mbak, Saya mau bertemu dengan Pak David, ada ?"
Sengaja Aleesha menggunakan nama David untuk mengetahui keberadaan suaminya. Bukan tanpa alasan, tapi semata-mata untuk mengindari dari prasangka buruk orang lain tentang rumah tangganya.
Sebenarnya, jika tidak ada hal yang mengganjal di hatinya, Dia bisa saja langsung masuk ke dalam ruang kerja Asbram.
Tapi entah kenapa, hal itu belum bisa Dia ulang untuk pagi ini.
__ADS_1
"Mohon maaf Ibu, untuk beberapa hari kedepan, Pak David tidak masuk kantor, karena ada jadwal meeting dengan klien di luar kota."
"Oh, oke, terimakasih."
"Sama-sama Ibu Aleesha, happy weekend." Ucapnya memberikan salam perpisahan.
'David tidak ada di kantor, itu berarti Mas Bram juga ada schedule yang sama. Apa meeting luar kota yang dimaksud adalah jadwal yang sama denganku ?' Pikirnya dalam hati.
Aleesha kembali masuk ke dalam mobil dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab di hatinya.
"Sudah beres Mbak urusannya ?"
"Sudah." Lirihnya.
Pertanyaan itu cukup sampai disitu dan tidak Dia lanjutkan lagi, karena pada dasarnya Widya lebih tahu dimana orang-orang yang sedang owner nya cari.
'Hati memang tidak bisa berbohong. Aku tahu Mbak Icha sangat mencintai Pak Bram, mungkin masih malu untuk mengungkapkan. Maafkan Saya Mbak, lagi-lagi Saya harus menutupi ini dari Mbak. Saya berharap kelak Mbak akan selalu bahagia dengan apa yang Mbak capai saat ini dan nanti.' Do'a Widya dalam hati.
Tepat pada waktunya, mereka sampai di bandara dan segera melaksanakan check in. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam empat puluh menit.
"Keysha tidak jadi ikut ?" Tanya Aleesha memecahkan keheningan.
Selama perjalanan, Dia tidak banyak bicara. Sepertinya masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Oh, iya Mbak, Mbak Key tetap berangkat. Tapi jam terbangnya satu jam setelah penerbangan yang Kita ikuti saat ini." Kata Widya menerangkan.
"Oh." Komentarnya tanpa tambahan kalimat apapun.
Keysha memang berangkat belakangan. Karena Dia juga baru bilang kalau mau ikut, sehari setelah Widya memesan tiket pesawat untuk mereka berdua.
"Mbak Icha kelihatannya capek." Kata Widya mencoba berbasa-basi.
"Tidak, Aku hanya sedikit mengantuk." Jawabnya asal.
"Masih ada cukup waktu untuk tidur sebentar Mbak."
"Terimakasih Wid."
Berhenti sampai di situ. Widya tidak berani lagi untuk bertanya. Dia tahu betul bagaimana situasi dan kondisi owner nya saat ini.
Entah benar-benar lelah, karena kantuk yang bergelayut, atau capek hati dan pikiran yang menyerang. Tidak membutuhkan waktu lama, Aleesha sudah terlena dengan ayunan burung besi yang membawanya terbang ke angkasa.
__ADS_1
Meskipun tidak ada yang tahu, saat ini Dia benar-benar tidur atau sekedar memejamkan mata, menghindar dari keramaian dunia.
Next On -------------->