Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 22. Awal Petaka


__ADS_3

"Kita mau kemana Wid ?" Tanya Aleesha mulai merasa resah.


Sebuah perkampungan yang Dia tidak pernah tau ini dimana. Bahkan Aleesha belum pernah menginjakkan kakinya di daerah itu.


Dalam hati Aleesha mulai merasa ada yang tidak beres dengan asistennya. Entah pikiran buruk dari mana yang membuat hatinya merasa sedikit tidak percaya dengan ketulusan hati asistennya kali ini.


"Mas Ridwan, tidak adakah diantara kalian yang ingin menjelaskan ini kepada saya ?" Geram hati Aleesha.


Ridwan hanya berani melirik sedikit reaksi kesal Aleesha melalui kaca spion dalam.


"Wid, plis, apa sebenarnya yang terjadi ?" Rintihnya memohon.


"Mbak Icha tenang dulu, saya juga sedang berfikir." Meskipun masih dalam tanda tanya besar, namun setidaknya jawaban Widya mewakili rasa peduli Dia terhadap atasannya.


Drrttt... drrttt... drrttt...


Handphone Widya bergetar. Tanpa melirik, siapa yang menghubungi, Widya langsung menggeser tombol hijau ke atas.


"Hallo, iya Pak, kami sudah memasuki area yang Bapak tunjukkan_"


"Baik Pak."


Hanya itu sepenggal kalimat yang Aleesha dengar.


'Siapa yang menghubungi Widya, dan apa sebenarnya yang terjadi ?' Keluh Aleesha dalam hati.


'Maafkan saya Mbak, terpaksa Saya tidak ceritakan hal ini kepada Mbak Icha. Semua atas permintaan Pak Bram. Karena Beliau yakin, jika saya cerita, pasti Mbak Icha tidak akan mau ikut saya ke tempat ini.' Gumam Widya dalam hati, sesaat setelah sempat melirik wajah Aleesha yang kelihatan resah.


"Mas Ridwan, pertigaan di depan, kita belok kanan." Kata Widya mengikuti petunjuk.


"Baik Mbak."


'Kemana sebenarnya mereka membawaku pergi, dan siapa yang akan mereka temui. Apa mereka merencanakan hal buruk terhadapku ?' Pikiran Aleesha mulai kacau.


'Ah, tidak - tidak. Tidak mungkin Widya berbuat jahat kepadaku.' Komentar sisi hatinya.


'Siapa tahu, namanya juga manusia, kalau kepepet, apapun akan dia lakukan. Tidak pandang itu orang dekat ataupun jauh.' Sambung sisi hatinya yang lain.


"Kita sampai Mbak."


Lamunan Aleesha buyar oleh ucapan Widya.


Entah apa yang ada di dalam pikiran Aleesha saat ini.


Sebuah bangunan etnik dikombinasikan dengan era milenial, terpampang di depan mata. Rumah ini sepi, seperti tanpa penghuni. Namun terawat, terlihat jelas dari tidak adanya debu sedikitpun menempel pada lantainya.


"Wid_"


Ucapan Aleesha terhenti, ketika melihat sosok pria yang sudah pasti dia kenal menghampiri mobilnya.


'David ?'


"Ibu Aleesha, silahkan, Atasan kami sudah lama menunggu." Sapanya.


Aleesha menatap dalam wajah Widya yang hanya dibalasnya dengan kedipan mata.


'David, atasan ? Sudah pasti yang dia maksud adalah Asbram. Lalu apa ini maksudnya ?' Pertanyaan yang sama masih berputar - putar di kepalanya.

__ADS_1


"Mari, saya antarkan." David mengulangi lagi ajakannya, saat melihat Aleesha hanya diam, memandang heran ke arahnya.


"E...Widya ?"


"Kami sudah siapkan tempat sendiri untuk asisten Ibu Aleesha." Jawabnya.


Pria yang satu ini memang to the points. Sikapnya yang terlihat dingin namun tegas, mempunyai karakter tersendiri yang menonjol dan tidak suka basa-basi.


Aleesha mengikuti langkah kemana David membawanya. Sedangkan Widya dan Ridwan, mereka berdua menempati ruang yang sudah disiapkan.


"Silahkan Bu."


David mempersilahkan Aleesha untuk masuk, setelah membukakan pintu untuknya.


Sebuah ruang yang cukup lebar untuk sebuah ruang kerja. David menutup kembali pintunya, membiarkan dua insan ini menyelesaikan masalahnya.


"Eh, Pak David !" Teriak Aleesha, saat David sudah tidak terlihat oleh pandangan matanya.


"Duduklah."


Sapa pemilik suara yang sudah pasti dia kenal.


"Ada apa ini ?" Tanya Aleesha.


Terdengar ada nada emosi yang tertahan.


"Ada yang harus Anda ketahui." Jawab Asbram, sembari meletakkan beberapa lembar foto di atas meja yang mereka hadapi.


"Apa ini ?"


"Apa maksudnya ini !"


Jari telunjuknya mengarah ke sebuah foto dirinya. Bukan hanya dirinya, tapi ada seorang lagi yang dia papah di dalam foto itu.


Masih teringat jelas di dalam benaknya. Kejadian salah kamar waktu seminar di puncak beberapa hari yang lalu. Bahkan Aleesha sendiri tidak pernah menduga, kalau Asbram akan mengetuk pintu kamarnya.


"Saya tidak tahu. Tapi yang jelas, seseorang ingin mengambil keuntungan dari foto-foto itu." Kata Asbram tanpa menjelaskan detailnya.


"Maksudnya, ada yang sengaja mengambil gambar ini ?"


"Hhhhmmmm." Jawabnya sembari mengatupkan kedua kelopak matanya.


"Laki-laki itu, mencoba memeras Saya dengan foto-foto yang dia edit sedemikan rupa. Dia juga akan menyebarkan dan memperbanyak jika Saya tidak memenuhi permintaannya." Ucapnya santai sembari memainkan sebuah pena di tangannya.


"Terus, apa yang jadi masalah ?"


Pertanyaan Aleesha membuat Asbram mengernyitkan dahinya.


"Apa sulitnya bagi seorang Asbram memenuhi permintaannya ?"


Masih dengan gayanya yang cool, Asbram tetap duduk bersandar memainkan pena di kedua tangannya.


"Atau mungkin, maksud undangan Saya hari ini, Anda ingin Saya membayar lima puluh persen dari permintaan yang diajukan ?"


"Kamu pikir, orang seperti mereka, akan puas dengan satu kali permintaan ?" Jawabnya kembali bertanya.


'Benar juga apa yang Asbram bilang, belum tentu masalah ini akan selesai dengan sekali bayar. Meskipun orang itu sudah janji akan menghapus file jika sudah dibayar. Tapi tidak ada yang tahu, ulah apa selanjutnya yang akan dia lakukan untuk memenuhi keinginannya.' Pikir Aleesha begitu keras.

__ADS_1


"Lalu, apa yang akan Anda lakukan ?" Tanya Aleesha sedikit lunak.


"Memenuhi tanggapan yang lain." Jawab Asbram masih begitu tenang.


"Maksudnya ?"


"Kita akan penuhi anggapan yang lebih positif dari perkiraan dia." Jawab Asbram masih dipenuhi teka-teki.


"Jelaskan yang benar." Komentar Aleesha geregetan.


"Dia beranggapan, kita melakukan hal-hal di luar batas, dengan kata lain ... " Asbram memberi jeda penjelasannya.


Sedangkan Aleesha, masih menunggu dengan seksama.


"Anda pasti tahu apa yang Saya maksud." Lanjutnya.


"Sebuah sk*nd*l ?" Pelan dan penuh hati-hati, Aleesha menyebutkan satu kata yang terdengar menjijikkan di telinganya.


"Salah satunya."


"Lalu, apa rencana Anda ?"


"Kita akan ambil sisi sebaliknya, kita akan penuhi anggapan publik, kita bikin konferensi pers, bahwa kita memang benar-benar ada hubungan resmi."


Serasa petir di siang hari. Asbram yang secara terang-terangan tidak menghendaki perjodohan antara dirinya, kali ini menawarkan diri untuk mengumumkan secara resmi hubungan mereka.


'Tidak, itu tidak akan terjadi. Sekarang, terang-terangan kamu permainkan perasaanku Bram.' Gejolak hatinya.


"Aku tidak mau !" Tegas Aleesha menolak.


Tanpa mendengar penjelasan Asbram lebih lanjut, Aleesha menyambar tas nya dan berdiri hendak berlalu.


"Masih ada waktu. Pikirkan nama baikmu, reputasimu sebagai seorang publik figur akan hancur dalam sekejap."


Sebuah ancaman yang sebenarnya memang benar adanya.


Ceklek...blam !


Aleesha yang sedikit keras kepala, tidak lagi mendengar apa yang Asbram sampaikan.


"Bagaimana Bram, apa yang kalian bicarakan ?"


David segera masuk dan meminta penjelasan, hasil seperti apa yang mereka sepakati.


"Kita tunggu saja, apa yang akan terjadi selanjutnya."


Meskipun merasa bingung dengan jawaban sahabat sekaligus atasannya, tapi David yakin ada solusi dari masalah yang dia hadapi saat ini.


"Mbak Aleesha, bagaimana Mbak ?"


Tidak hanya David, Widya yang harap-harap cemas, begitu antusias ingin mengetahui hasil kesepakatan yang mereka peroleh.


"Kita pulang, aku ingin sendiri."


Widya tidak berani berkutik. Terlihat jelas sekali, Aleesha sangat tertekan. Apalagi dengan kondisi kesehatannya saat ini. Yang harus Widya lakukan, hanyalah memenuhi permintaannya untuk pulang ke apartemen tempat tinggalnya.


Next On ------------------->

__ADS_1


__ADS_2