Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 27. Pengorbanan


__ADS_3

Brraaakkkk !


Pintu terbuka bersamaan dengan teriakan Aleesha yang menggigil ketakutan.


"Asbram." Panggil Aleesha mencoba berlari menuju pintu yang sudah dibuka paksa.


Namun perhitungan Aleesha salah. Baru melangkahkan sebelah kaki kanannya, dengan cekatan Anton meraih tubuh mungil Aleesha, ke dalam cengkraman lengannya.


"Stop disitu, atau Kamu akan kehilangan kekasih hatimu !" Ancamnya, sembari menodongkan sebuah belati ke leher Aleesha.


"Hentikan Anton, kita bisa bicara baik-baik." Cegah Asbram meminta.


"Anton plis, jangan bikin keadaan semakin runyam." Rengek Aleesha yang sesekali merasa kesakitan karena dekapan kuat tangan kekar Anton.


"Diam Kamu Aleesha ! Kamu sudah melanggar perjanjian Kita." Gertaknya.


"Bukan Aku, tapi Kamu sendiri yang mengulur waktu. Coba jika tadi Kamu terima apa yang Kamu minta, tanpa banyak permintaan lain, mungkin ini tidak akan terjadi." Omel Aleesha.


"Diam !"


"Aahhh... !"


Aleesha berteriak kesakitan, saat satu goresan kecil mengenai kulit rahangnya.


"Anton ! Stop Anton ! Kita bisa bicarakan apa yang Kamu inginkan." Bujuk Asbram, mencoba mencegah segala sesuatu terjadi lebih dalam.


"Siapa yang bisa kupercaya, tidak ada yang bisa kupercaya lagi di dunia ini." Ucapnya mulai panik.


Pada dasarnya, Anton orang baik. Hanya keadaan yang merubah sifat baiknya menjadi buruk.


'Apalagi, didalam hatinya tergores nama Aleesha, tidak mungkin Dia akan menyakiti nya.' Pikir Asbram.


"Anton, percaya padaku, jika kita bisa bicara baik-baik, semua akan berakhir dengan baik pula." Sekali lagi Asbram meminta.


Sembari mengulur waktu, menunggu kedatangan pihak berwajib.


'David, dimana David, kenapa lama sekali.' Geram Asbram dalam hati.


Baru saja Asbram memikirkan dimana keberadaan David, Dia sudah mengendap-endap di belakang Anton. David masuk melalui pintu jendela belakang yang sedikit terbuka.


Buukkk !


Sebuah pukulan mendarat di punggungnya. Belati terlepas dari tangan. Sehingga Aleesha bisa melepaskan diri dari dekapan Anton.

__ADS_1


Entah sudah mati rasa, atau mungkin pukulan David yang kurang kuat, sehingga Anton masih bisa bergerak bebas lepas menuju sebuah laci kecil yang didalamnya terdapat sebuah senjata api ilegal yang entah dia dapat darimana.


"Jangan mendekat, atau Aku selesaikan kalian semua di sini." Ancamnya sembari menudingkan senjata.


Bahkan, dengan senjata itu pula, dia berusaha mendapatkan pergelangan tangan Aleesha. Namun, dengan cepat Asbram melompat, meskipun sempat jatuh tersungkur, Dia berhasil meraih tubuh Aleesha.


Dalam kondisi kalut, panik, diliputi rasa dendam, Anton benar-benar menarik pelatuk pistolnya yang dia arahkan kepada Asbram. Entah dorongan dari mana, reflek, Aleesha membalikkan tubuhnya, menghalangi peluru yang akan menembus dada seorang pria yang saat ini masih menjadi kandidat pendamping hidupnya sampai saat ini.


"Aleesha !"


"Mbak Aleesha !"


Duoorr !


Sebuah timah panas berhasil menyusup melalui bahu sebelah kiri tubuh Aleesha. Darah segar mengalir membasahi baju dan tangannya.


Aleesha masih tersadar, Dia masih tersenyum, bukan rasa sakit yang dia rasakan karena tembusan timah panas. Namun lebih rasa lelah yang saat ini menggelayuti tubuhnya.


Berbagai cerita kehidupan dia dapatkan hari ini. Rasa cinta, pengorbanan, kasih sayang, perjuangan hidup, bahkan kebencian pun menyatu di dalamnya.


Namun, entah bagian mana yang dia lakukan saat ini. Memaparkan tubuhnya untuk ditembus sebuah peluru, menggantikan tubuh seseorang yang seharusnya menjadi sasaran.


Apakah ini sebuah pengorbanan ?


Atau hanya sebuah kesalahan yang harus dia tanggung dan dia rasakan semata ?


Entahlah...yang pasti, semua yang ada di sini berteriak menyebut namanya. Khawatir akan keselamatan dirinya.


"Aleesha, apa yang Kamu lakukan ?" Sayup-sayup, Aleesha masih mendengar suara merdu seorang pria yang terdengar khawatir terhadap dirinya.


Dia masih bisa merasakan, setelah sesuatu menembus bahunya, ada seseorang yang mendekap tubuhnya, meletakkan kepalanya di atas sebuah pangkuan.


Bahkan, Dia masih bisa merasakan sebuah sentuhan lembut pada bibirnya. Membasuh aliran darah yang sempat mengalir pada ujung bibirnya karena sebuah benturan.


"Bertahanlah Aleesha, Dokter akan segera menolongmu." Bisik Asbram, saat melihat mata Aleesha perlahan mulai terpejam.


Hingga akhirnya pemilik suara yang dekat sekali dengan telinganya itu mendekap dan mengangkat tubuhnya.


Ya, Asbram menggendong Aleesha, setengah berlari, ada rasa khawatir pada mimik wajahnya. Khawatir akan kehilangan sesuatu di dalam hidupnya.


"Ambulan, tolong, panggilkan ambulan untukku !" Teriak Asbram.


"Asisten kami sudah menghubungi rumah sakit terdekat. Sebentar lagi ambulan akan datang." Jawab salah seorang anggota kepolisian.

__ADS_1


"Aleesha, buka matamu Aleesha." Ucapnya sembari menepuk-nepuk ringan pipi Aleesha.


Bibir Aleesha masih tersenyum, tenang, tidak ada desis keluh kesakitan, namun entah kenapa Dia tidak bisa berkata apa-apa. Dadanya mulai sesak, bahkan ingin membuka mata saja, terasa sangat berat.


'Ya Allah, peluru ini hanya menyisip pada bahuku, bukan pada jantungku. Maka kuatkan Aku untuk bisa kembali melihat indahnya dunia-Mu.' Do'a nya dalam hati.


Semakin lama, kesadaran Aleesha semakin menurun. Hingga akhirnya Dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi, bahkan suara-suara kekhawatiran itu perlahan mulai hilang.


Tidak berselang lama, sebuah ambulan dari Rumah Sakit Bhayangkara sudah tiba. Asbram membawa dan mendampingi sendiri bidadari penyelamatnya menuju Rumah Sakit. Sedangkan David, Widya dan Ridwan, masih sibuk dengan kejadian yang ada di dalam tempat kejadian perkara.


Perjalanan dari TKP menuju Rumah Sakit, cukup memakan waktu. Membuat Asbram tak henti-hentinya memperhatikan kondisi Aleesha yang terbaring lemah dengan selang oksigen melingkar di wajahnya.


'Kenapa Kamu berbuat sebodoh ini Aleesha.' Keluhnya dalam hati.


Tak terasa air matanya merembes, menimbulkan buih pada kelopak matanya.


Ini untuk yang kedua kalinya, Asbram merasakan pengorbanan seorang wanita. Memandang sekilas wajah Aleesha, Asbram teringat seorang gadis kecil yang hingga saat ini masih singgah di hatinya.


Perlahan, Asbram menyibak rambut Aleesha yang menutupi sebagian keningnya. Terlihat jelas betapa cantik wajah gadis yang mungkin benar-benar ditakdirkan untuknya.


'Bekas luka ini, kenapa sama persis dengan luka yang yang pernah Chaca alami.' Kembali Asbram mengingat kejadian di masa lalu.


Dimana untuk pertama kalinya, ada seorang gadis yang berani berkorban untuknya. Chaca, gadis kecil yang belum sempat dia kenal, sudah pergi, dan hingga saat ini Asbram kehilangan jejaknya.


'Ah, mungkin hanya sebuah kebetulan saja.' Pikirnya dalam hati. Antara percaya dan tidak


***


"Angkat tangan ! Letakkan senjata !"


Perintah dari salah seorang pihak berwajib, yang tadi sempat dihubungi Asbram, sebelum mereka melakukan pelacakan kepergian Aleesha.


Namun Anton masih saja tidak mengindahkan perintah, Dia sempat berjalan mundur dan berusaha melarikan diri.


"Berhenti !" Teriak salah seorang anggota. Tapi Anton masih tetap berusaha untuk berlari.


Duoorr !


Terpaksa, salah seorang anggota yang lain meluncurkan timah panasnya mengenai betis kanan untuk melumpuhkannya.


Anton terduduk lemah, Dia tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Meskipun Dia berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri, namun di hatinya ada rasa khawatir tentang keselamatan Aleesha.


"Ambil senjatanya." Perintah pemimpin dalam misi pembebasan Aleesha. Tangan Anton mulai terasa sakit karena borgol yang melingkar di kedua pergelangan tangannya.

__ADS_1


Next On ---------------------->


__ADS_2