Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 08. 706 vs 709


__ADS_3

Deg ...


Jantung Aleesha terasa berdegup kencang, saat mengetahui siapa gerangan yang memasuki lif yang sama.


'Asbram, apa dia sendirian ?' Tanya hatinya.


Tentu tidak, ada seseorang mengikuti dari belakang.


•David


Begitu Dia dipanggil. Dia asisten pribadi Asbram Purnama, sekaligus sahabatnya sejak kecil.


"Wait."


Dari jauh terdengar seseorang memintanya untuk menunggu sebelum pintu lif tertutup.


'Dokter Arya, apakah ini hanya sebuah kebetulan, atau memang mereka berangkat bersama.' Pikir Aleesha dalam hati.


Sembari menunggu Dokter Arya, ada sedikit kekacauan di dalam lif. David, asisten Asbram, sedang mencari sesuatu, sehingga memporak-porandakan barang bawaannya.


"Ada apa Vid ?"


"Sebentar Pak, kelihatannya ada berkas saya yang ketinggalan." Tangannya masih sibuk menyibak satu persatu berkas yang dia pegang.


"Mungkin masih belum terbawa di mobil."


"Pak Bram istirahat terlebih dahulu, Saya coba cek di dalam mobil." Pamit David sembari berlalu.


Dengan gayanya yang cool, kedua tangannya berkacak pinggang di dalam saku, Asbram hanya mengedipkan mata dan setengah mengangguk menjawab pamit asistennya.


"Hei Vid, mau kemana ?"


"Ada berkas saya yang tertinggal di dalam mobil." Jawabnya.


"Oke."


Pintu lif tertutup dan mulai bergerak menuju lantai yang mereka tuju masing-masing.


Disaat itulah Arya seakan heran, mengetahui penghuni di dalam lif yang sudah pasti dia kenali semua.


"Hei...orang hebat berkumpul disini. Asbram, Aleesha, Keysha...luar biasa." Komentarnya memandang satu persatu lawan bicaranya.


"Kalian saling kenal juga ?" Tanya Aleesha.


"Kita kan satu profesi Cha." Jawab Keysha.


"Upss...maaf, saya lupa."


"Yang seharusnya tanya itu saya, Dokter Arya mengenal Aleesha juga ?"


"Key...jangan heran kalau semua pengusaha dan profesional seperti kita mengenal seorang Aleesha. Seorang wanita karier yang sukses di bidangnya. Betul begitu Bram ?"


"Kenapa ? Eh, iya." Jawabnya gugup.


Kalimat Arya yang penuh volume, membuat Asbram salah tingkah. Wajahnya terlihat memerah, entah karena malu atau merasa tersinggung dengan kalimat yang Arya lontarkan.


Bukankah seharusnya dia yang lebih mengenal sosok Aleesha dibandingkan orang lain. Tapi kenapa harus orang lain yang lebih mengagumi calon istrinya.


'Kenapa kamu kelihatan gugup Mas, apa kamu tidak ingin mengakui kalau kamu juga mengenalku ?' protes Aleesha dalam hati.


"Oh ya, kalian mungkin belum tau Beliau ini Bapak Asbram Purnama, Direktur Utama APtv. Bram ini Aleesha, sudah tidak asing lagi bagi kita. Namanya sering muncul dalam berbagai acara di stasiun televisi. Dan ini Keysha, Dokter Keysha satu profesi dengan saya."


"Hallo, salam kenal Pak Bram." Ucap Keysha sembari mengulurkan tangan.


"Hai, salam kenal." Jawab Asbram, menjabat tangan mereka satu persatu.


'Benar juga, kamu memang tidak ingin semua orang tau kalau kita saling mengenal Mas.'


Entah apa selanjutnya yang mereka obrolkan, seolah Aleesha tidak mendengar dan tidak mau tau. Hatinya terlanjur membeku dengan sikap Bram kali ini.


'Memang, kita belum saling mengenal lebih jauh. Tapi minimal kamu sampaikan kalau kita pernah berkenalan.' Tangis hati Aleesha.


"Cha, halloo... Aleesha !" Panggil Keysha setengah membentak.


"Key, mulai dech."

__ADS_1


"Heran saya, ditanya dari diam saja. Lagi mikirin apa Buk ?" Seloroh Keysha.


"Gak mikirin apa-apa."


"Kalau gak mikirin apa-apa, coba jawab, saya tadi tanya apa ?"


"Memangnya tanya apa ?"


"Tuh kan ?"


"Sudah, sudah, mungkin Aleesha capek, jadi kurang fokus." Sela Dokter Arya.


"Kamu di lantai berapa Aleesha ?" Tanya Keysha mengulang.


"Saya di lantai tujuh."


"Gitu kek dari tadi." Gerutu Keysha.


Kling ...


Sampai di lantai lima, pintu lif terbuka. Dokter Arya dan Keysha keluar.


"Key, kamu di sini ?" Tanya Aleesha.


"Udah tau nanya."


"Sewot amat."


Begitulah Aleesha dan Keysha, sejak dulu sampai sekarang, masih saja sering berdebat, bahkan dalam hal sekecil apapun.


"Bye."


"Bye." Aleesha membalas lambaian tangan Keysha.


Kali ini tinggal Asbram dan Aleesha yang ada di dalam lif. Rasa canggung membuat keduanya tidak saling bicara. Bahkan, Aleesha lebih nyaman memalingkan wajahnya ke sisi lain ruang lif, meskipun di dalam hatinya sebenarnya ingin sekali menyapa.


"Apa kabar Aleesha ?" Akhirnya satu kalimat tanya keluar dari bibir Asbram Purnama.


"Baik Pak."


"Iya."


'Seperti biasanya, memangnya kapan saya terbiasa memanggil namamu, bukannya baru sekali kita bertemu dan aku manggilmu Mas.'


Tidak ada percakapan lain diantara mereka sebelum akhirnya pintu lif terbuka.


Kling ...


Lantai tujuh, Aleesha keluar dari dalam lif. Tidak disangka, Asbram juga keluar mengikuti Aleesha.


"Anda mengikuti saya ?"


"Hhmmm... mana bisa begitu, saya akan menuju kamar saya." Jawab Asbram sembari menunjukkan kartu kamar di telapak tangannya.


( 706 )


Begitulah tertulis pada kartu yang ada di telapak tangan Asbram.


"Tujuh kosong sembilan." Gumam lirih Aleesha mengintip kartu kamar miliknya.


Seakan sudah ada yang mengatur. Kamar mereka berseberangan.


"Selamat istirahat." Ucap Bram sebelum menghilang dari balik pintu kamarnya, tanpa menunggu jawaban dari seorang yang dia sapa.


"Selamat beristirahat Mas." Jawab Aleesha sendiri.


***


Waktu makan malam telah tiba, namun enggan rasanya bagi Aleesha untuk keluar dari kamarnya.


Udara dingin membuatnya bermalas-malasan, bahkan mengabaikan rasa lapar yang tadi sempat melanda.


Dia memilih menikmati zona nyaman di atas ranjang, usai menerima telepon dari Bunda.


Angan-angan nya menerawang jauh di awan. Menghayalkan kedekatan nya dengan pria pujaan hati di kemudian hari.

__ADS_1


'Kenapa aku harus menjalani kisah cinta yang rumit ? Sebuah cinta dalam perjodohan. Padahal sebenarnya, tanpa dijodohkan pun, aku sudah jatuh cinta sejak lama.' Gumamnya sendiri.


'Akankah suatu hari bisa menjadi nyata ? Tapi bagaimana jika dia tidak menyetujui perjodohan ini dan pergi meninggalkan ku ?' Pikirnya lagi.


"Aleesha, Aleesha, bangun dari mimpi. Cinta monyet dipikirin. Kejar yang nyata dan ada di depan mata." Teringat makian Keysha waktu mereka masih sama-sama duduk di bangku kuliah.


Waktu itu ada seorang senior yang menyatakan cinta kepada Aleesha, namun dia tolak. Dengan alasan, sudah ada pria lain di hatinya. Seorang pria yang menjadi kenangan nya di masa kecil dulu.


'Mungkin kamu benar Key, ini hanyalah cinta monyet.' Tak terasa setitik cairan bening menetes dari balik kelopak matanya.


Kling ...


Satu pesan masuk membuyarkan lamunan Aleesha.


("Mbka Icha, kami tunggu di resto.")


Sebuah pesan dari Asisten pribadinya, meminta untuk segera turun makan malam.


Kling ...


Belum sempat dia balas pesan dari Widya, satu pesan lagi masuk untuknya.


("Cha, sudah turunkah ? Kalau belum, aku tunggu di lobi ya ?")


Dua pesan itu seolah memaksa kakinya untuk melangkah keluar kamar. Demi mempersingkat waktu, Aleesha hanya menyambar sebuah cardigan yang tergeletak di atas sofa untuk membalut lengannya yang putih. Tanpa make up, bahkan tanpa merapikan rambutnya.


'Sudah malam gini, siapa juga yang akan memperhatikan.' pikirnya.


Ddrrrttt ... ddrrrttt ... ddrrrttt ...


Handphone nya bergetar tanpa henti, sebentar Widya, sebentar Keysha yang memanggil.


Setengah berlari dia membuka pintu kamarnya, sembari menggeser tombol hijau pada layar handphonenya. Tak peduli siapa yang beruntung menerima panggilannya kali ini.


Ceklek ...


Entah secara kebetulan atau memang sudah menjadi takdir Tuhan, Asbram membuka pintu kamarnya tepat pada waktu yang sama.


Namun seolah tidak ingin terlihat buruk, Aleesha pergi begitu saja tanpa menyapa.


"Iya bawel, ini turun, wait ya." Balasnya kepada lawan bicaranya di handphone.


Asbram hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh Aleesha. Bahkan ketika Aleesha berusaha menekan tombol close karena tidak mau berbagi ruang lift untuknya.


Namun dengan cekatan Asbram telah lebih dulu berhasil menginjakkan kakinya ke dalam.


"Kamu menghindar dariku ?"


"Tidak." Jawab Aleesha singkat.


Mungkin karena cuma berdua, Aleesha merasakan udara di dalam lift semakin panas, membuat rasa sesak di dada.


"Uuffhh..." Keluhnya lirih.


Namun Bram tetap cuek tanpa respon sedikitpun.


Kling ...


'Oh, akhirnya keluar juga.'


Lega rasanya setelah pintu lift terbuka pada lantai yang mereka tuju.


"Ya Allah, Icha ! Kamu habis terjun dari lantai sembilan ?" Goda Keysha yang hampir beku menunggu sahabatnya datang.


"Apaan sih."


"Bajunya, mana rambut acak-acakan, gak pakai make up lagi."


Aleesha serasa dikuliti mendengar kritikan dari sahabat nya yang super duper kritis itu.


"Biasa aja kali, masih mending Gue, no lihat ada yang cuma pakai piyama, ada juga pakai baju kurang bahan." Gerutu Aleesha sembari merapikan rambut dan pakaian nya.


"Lagian, cuma makan malam biasa juga." Tambahnya.


"Iya, iya, apapun yang kamu kenakan, seperti apapun wujudnya pasti cantik, gitu kan. Hhmmm..." Canda mereka sembari tertawa lepas, menuju tempat dimana sudah di sediakan oleh panitia.

__ADS_1


Next On --------------->


__ADS_2