
Asbram masih tidak mengerti, apa sebenarnya yang Aleesha pikirkan. Semua kejadian yang menimpanya, sudah jelas-jelas sebuah tindakan kriminalitas. Tapi dengan mudahnya dia memaafkan, bahkan mencabut tuntutannya terhadap Anton.
"Saya akan mencabut tuntutan Saya terhadap saudara Anton." Kaget, Asbram mendengarnya.
"Kamu sudah gila Aleesha. Apa Saya tidak salah dengar !" Bentak Asbram geram.
"Sekali lagi Saya sampaikan. Saya, Aleesha, korban penembakan yang dilakukan saudara Anton. Saya mencabut berkas tuntutan terhadap saudara Anton." Begitu pernyataan yang Aleesha berikan kepada pihak yang berwajib.
"Aleesha !"
"Pak Bram, Saya sudah pikirkan betul-betul. Saya yakin, Anton bukanlah seorang penjahat. Keadaan yang membuat dia harus berbuah jahat." Bela Aleesha.
Asbram mengacak rambutnya sendiri, menahan amarahnya.
"Maaf Pak Bram, kalau boleh saya sarankan, lebih baik hal ini dibicarakan terlebih dahulu dengan pengacara Bapak." Begitu usul Pak Ali, salah seorang anggota kepolisian yang sudah kenal baik dengan Asbram.
"Bapak benar, kita tidak boleh bertindak gegabah Aleesha." Pinta Asbram sedikit melunak.
"Tapi apapun yang terjadi, cabut tuntutan terhadap Anton." Kekeh Aleesha.
"Oke, tapi kita minta pertimbangan pengacara kita terlebih dahulu."
Asbram mulai mengalah dan mengikuti permainan Aleesha.
"Baik, kalau begitu kami permisi dulu Pak. Biar nanti pengacara kami yang mengurusnya." Pamit Asbram.
"Silahkan Pak, apapun keputusan yang Bapak ambil, itulah keputusan yang terbaik untuk Bapak."
"Terimakasih Pak."
Lagi-lagi sifat keras kepala Aleesha membuat bingung Asbram. Dengan sisa sedikit rasa kesal, Asbram mengendarai mobilnya dengan kasar dan agak kencang.
"Hentikan Bram, Aku takut." Rengek Aleesha memohon.
Ccciiiiiitttttt ...
"Aahh !" Reflek Aleesha menjerit saat Asbram mendadak menginjak pedal rem.
Jantungnya berdetak kencang. Rona merah pada raut wajah Aleesha sangat terlihat kalau dia ketakutan.
"Takut kamu bilang ?" Tanya Asbram dengan nada mempertegas.
Aleesha hanya diam, menata nafasnya, telapak tangannya dingin dan berair.
"Kemana rasa takutmu saat Anton mengarahkan pistolnya kepadaku ? Kenapa dengan lantang Kamu menghadangnya." Kata Asbram mengingatkan kembali peristiwa silam.
"Kemana rasa takutmu, saat Kamu dengan tegas mencabut kembali tuntutan terhadap Anton. Apa Kamu pikir dia tidak akan melakukannya kembali ?" Tanya Asbram bertubi-tubi.
"Aku, Aku hanya tidak tega melakukannya Bram." Lirihnya.
"Tidak tega ? Lalu apa dia juga mempertimbangkan rasa tidak tega itu terhadapmu !" Bentak Asbram, mencoba membuka mata hatinya.
"Tapi _"
__ADS_1
"Tapi apa ? Apa yang dia janjikan, sehingga dengan mudah kamu berbalik !" Potong Asbram sembari memukulkan kepalan tangannya pada badan stir mobil di hadapannya.
Aleesha merunduk, mengingat kembali pertemuan singkat di kantor polisi sesaat, dimana dia diberi waktu membesuk Anton tadi.
*Flashback On
"Aleesha, bagaimana keadaanmu ? Apa Kamu tidak apa-apa ?" Tanya Anton, ada rasa khawatir tersirat di wajahnya.
"Alhamdulillah, Aku baik-baik saja." Jawab Aleesha apa adanya.
"Maafkan Aku Aleesha. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Bahkan Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk terhadapmu." Lirihnya sembari menitikkan air mata.
"Semua sudah berlalu. Aku harap, hal ini tidak akan terjadi lagi." Pinta Aleesha.
"Tidak Aleesha, ini semua terjadi diluar kuasaku. Aku panik saat itu. Aku bingung apa yang harus Aku lakukan." Ucap Anton terhenti oleh senggukan tangisnya.
"Jika Aku bisa mengulang kembali, Aku hanya ingin berbuat hal yang lebih baik. Meskipun Aku tahu, tidak ada lagi tempat yang baik untukku." Lanjutnya.
"Itu semua masih bisa terjadi Anton."
"Mana mungkin Sha, sudah tidak ada lagi yang percaya kepadaku. Apalagi jika mereka tahu, Aku seorang narapidana yang dikasuskan karena percobaan pembunuhan terhadap pengusaha muda yang sedang naik daun." Gerutunya.
"Kamu bisa kembali seperti Anton yang dulu, jika Kamu mau berubah dan bertindak lebih baik lagi." Ucap Aleesha meyakinkan.
"Aku akan ingat ucapanmu Aleesha. Aku berjanji, Aku akan kembali menjadi Anton yang dulu."
*Flashback Off
"Semua terserah padamu, Aku hanya bisa mengingatkan." Masih dengan nada geram, Asbram mulai melajukan kembali kendaraannya.
"Hhhhmm." Jawabnya seolah enggan lagi berbicara.
Tidak ada perbincangan sepanjang perjalanan menuju kantor pengacara.
"Kamu yakin, akan tetap mencabut tuntutan itu ?" Tanya Asbram kembali memastikan.
"Kita temui pengacara terlebih dahulu."
Asbram berjalan mendahului Aleesha menuju kantor Pak Andi, pengacara keluarga Purnama yang telah bertahun-tahun mendampingi dalam hal apapun yang berkaitan dengan hukum.
"Selamat siang Pak Asbram." Sapa seorang karyawati yang tentunya juga sudah mengenali sosok seorang Asbram Purnama.
"Siang."
"Silahkan Pak. Pak Andi sudah menunggu." Lanjutnya memberikan informasi.
Tanpa mereka sadari, Pak andi sudah memantau dan mendapatkan laporan mengenai apa yang Asbram dan Aleesha ributkan di kantor polisi.
Tok...tok...tok...
"Masuk." Jawab Pak Andi dari dalam ruangannya.
"Selamat siang Pak, ini Pak Asbram dan Ibu Aleesha sudah hadir."
__ADS_1
"Terimakasih, suruh langsung masuk." Pinta Beliau.
Seperti rumah sendiri, Asbram langsung masuk usai mengetuk pintu ruang kerja Pak Andi.
"Aleesha, Asbram." Sapa Beliau.
Dengan wajahnya yang terlihat badmood, Asbram langsung duduk di sofa yang ada di ruangan itu, bahkan seakan tidak mendengar sapaan si pemilik ruangan.
"Pak Andi, maaf_"
"Saya sudah tahu maksud kedatangan kalian." Kata Pak Andi memotong ucapan Aleesha.
Sudah bertahun-tahun lamanya Beliau ada diantara keluarga Purnama. Beliau tahu betul bagaimana sifat Asbram.
"Tadi Pak Ali sempat menghubungi Saya." Lanjut Beliau.
"Ya. Aleesha ingin mencabut gugatannya. Mungkin hatinya luluh karena ungkapan perasaan yang pernah Anton utarakan kepadanya." Sindir Asbram tanpa menoleh kepada yang bersangkutan.
"Apa maksudmu, Aku bahkan tidak ingat akan hal itu." Sanggah Aleesha.
"Bram, kita dengarkan dulu apa pendapat Aleesha." Komentar Pak Andi menengahi.
"Maaf Pak, mungkin ada benarnya kita lanjutkan perkara ini, agar menjadi efek jera untuk Anton." Kata Aleesha mengawali keterangannya.
"Tapi, apa yang Anton lakukan semua karena keadaan. Sebenarnya, Anton orang baik. Saya tahu betul bagaimana sifat dia. Karena kita sudah lama sekali bekerjasama." Lanjutnya.
"Lalu, apa rencanamu ?"
Tanya jawab kali ini, tanpa ada komentar Asbram sama sekali. Seakan Dia sudah tidak mau peduli lagi.
"Saya ingin, Pak Asbram menarik kembali tuntutan itu, dan mengembalikan Anton pada kehidupan Dia, dengan syarat. Agar dia bisa melanjutkan kehidupannya bermasyarakat."
Pandangan mata Aleesha tertuju kepada Asbram.
"Oke, Aku turuti apa maumu. Tapi ingat, jika Dia membuat ulah sekali lagi, Aku tidak akan mengampuninya." Jawab Asbram, yang sebenarnya Dia punya rencana sendiri.
"Terimakasih Pak, Saya tahu bapak orang yang baik." Puji Aleesha.
"Baiklah, saya akan urus semuanya." Imbuh Pak Andi melegakan hati Aleesha.
"Lalu, apa rencana kalian mengenai gosip yang beredar di dunia maya." Kembali Pak Andi mengingatkan tentang nama baik mereka yang belum surut dimakan gosip.
"Mungkin Dia lebih mementingkan orang lain, tanpa peduli nama baik dia sendiri." Komentar pedas Asbram.
"Jangan khawatir Pak Bram, Saya akan melakukan klarifikasi. Setelah itu Saya akan pergi jauh dari kehidupan Anda."
Asbram berusaha menahan emosi, mendengar jawaban Aleesha. Sebenarnya sakit hati Aleesha berkata seperti itu. Tapi apapun itu, dia harus tetap menanggung sendiri konsekuensinya.
"Oke, yang pasti, sebagai penasehat hukum kalian, Saya hanya bisa kasih saran. Pikirkan baik-baik, langkah apa yang harus kalian ambil. Terutama kamu Asbram, duniamu akan berlanjut. Jadi, pertimbangkan kembali apa yang pernah Saya sampaikan ke David."
Asbram mengingat kembali, saran yang pernah David sampaikan, agar mereka melakukan jumpa pers dan memberikan keterangan kebenaran mengenai hubungan mereka.
'Tidak mungkin, apa Aleesha setuju dengan hal itu, meskipun memang kami sebenarnya dijodohkan. Tapi yang kulihat saat ini, hati Aleesha menolak perjodohan itu. Bahkan Dia lebih memilih mencabut perkaranya.' Pikir Asbram dalam hati.
__ADS_1
"Dalam hal ini, kalian berdua harus kompak. Dan akan lebih meyakinkan publik, jika kalian melibatkan kedua orang tua." Begitu saran yang diberikan Pak Andi.
Next On ---------------------->