
Tok ... tok ... tok ...
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Siapa ?" Teriaknya lemah.
"Room service."
Aleesha menarik handphone yang sejak siang tadi bertengger di atas nakas dengan mode hening. Berharap tidak satupun terdengar nada dering yang akan mengganggu tidurnya sore ini.
Terpampang jelas pada layar handphonenya, waktu menunjukkan pukul dua puluh satu lebih tiga puluh menit. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan pesan yang belum sempat dia baca.
'Apa yang dilakukan room service malam-malam begini.' Pikirnya dalam hati.
"Maaf, Saya tidak sedang membutuhkan bantuan apa-apa." Jawabnya, malas untuk bangkit dari ranjangnya.
Usai mengisi acara pagi tadi, Aleesha memang buru-buru turun dari panggung dan berjalan tergesa menuju kamarnya. Pandangan matanya berkunang-kunang, kepalanya terasa pusing.
Dia berharap dengan istirahat sebentar, bisa memulihkan stamina nya kembali. Tapi ternyata dugaannya salah. Sudah hampir empat jam dia beristirahat, tubuhnya semakin terasa kurang nyaman.
"Tolong buka sebentar." Pinta ulang dari seseorang yang mengaku dirinya sebagai room service tadi.
'Sepertinya saya mengenali suara itu.' Pikirnya mengira-ngira.
Diintipnya seseorang yang sedang berdiri membelakangi pintu.
'Bram.' Gumamnya dalam hati.
Antara percaya dan tidak percaya, Aleesha berbalik, menata hatinya sembari merapikan rambutnya yang kusut.
Ceklek ...
Detak jantungnya seakan berhenti berdetak, saat jelas terlihat Asbram yang berdiri di depan matanya.
'Masya Allah, ini benar-benar Asbram. Tapi apa yang dia lakukan di sini ? Apakah ada hubungannya dengan pekerjaan ataukah ada misi pribadi yang akan dia sampaikan ?' Tanya Dia dalam hati.
"Pak Bram."
'Sumpah, menyebut namanya saja jantungku rasanya mau copot.'
"Boleh saya masuk ?"
Deg ...
'Oh my God, pandangan matanya meruntuhkan isi dunia.' Lebay dikit gakpapa lah ya.
Sesaat, dunia seakan berhenti berputar. Serasa sebuah mimpi, seorang Asbram datang berkunjung.
"Hhhhmmmm." Gumam Bram sekaligus menyadarkan Aleesha.
"Oh, silahkan."
Ucapnya sembari menepi memberikan jalan. Tidak baik sebenarnya menerima tamu lawan jenis, sendirian di dalam kamar.
Tapi apa dikata, mana bisa Aleesha menolaknya. Apalagi dia calon suami pilihan kedua orangtuanya.
'Tidak apalah, yang penting aku masih bisa menahan diri...uuppss.' Kata hati Aleesha sembari membayangkan hal yang mustahil. Namun segera tersadar, sehingga dia bungkam mulutnya sendiri.
Asbram menghentikan langkahnya, berbalik dan meneliti gerak gerik tuan rumah yang masih berdiri mematung bersandar pada daun pintu yang belum tertutup.
__ADS_1
"Masih berapa lama mau berdiri di situ ?" Tanya Bram kemudian.
"Oh, maaf. Silahkan duduk." Jawabnya.
'Tapi, tumben dia menemuiku secara pribadi. Ada apa ? Apa maksud dan tujuannya ?' Masih dengan rasa penuh curiga.
"Mau minum apa Pak ?" Tanya Aleesha basa basi.
"Kamu sakit ?" Bukannya menjawab pertanyaan Aleesha, Asbram malah balik bertanya.
Wajah Aleesha terlihat merah merona. Antara malu dan senang merasa diperhatikan, Aleesha menggelengkan kepala pelan.
Sejenak keduanya saling diam, bingung mau bicara apa. Terlihat sekali ada rasa canggung pada diri Aleesha. Dia mainkan jari jemari tangannya untuk mengurangi rasa ketidaknyamanan yang ada.
Berbeda dengan Asbram, Dia lebih tenang, santai dan asyik dengan telepon genggam di tangannya. Entah apa atau siapa yang dia hubungi. Yang jelas bibirnya diam, namun jemari tangannya masih terlihat sibuk memainkan layar tujuh inci di tangannya.
Tok ... tok ... tok ...
Sebuah ketukan pada pintu kamarnya, membuyarkan lamunan Aleesha.
'Siapa lagi itu ?' Pikirnya dalam hati.
"Buka saja." Kata Bram meminta.
Dia sempatkan membuka lubang intip pada pintu untuk kembali memastikan siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
'Ini baru petugas hotel. Tapi, siapa yang memesan makanan sebanyak ini ke kamar ku ?' Pikirnya sembari membukakan pintu.
"Ada apa Mas ?"
'Apaan sih Cha, sudah jelas itu mas-mas datang bawa makanan, masih saja ditanya ada apa.' Komentar sisi hatinya.
"Pesanan ?" Tanya Aleesha heran, merasa tidak pernah memesannya.
"Saya yang memesan. Tolong tata di meja balkon." Perintahnya.
"Baik Pak."
'Apaan sih, main perintah saja. Itu juga mas nya nurut aja diperintah.' Gerutu sisi hati Aleesha.
'Ini ruang pribadi saya Mas, ngapain kalian berbuat seenaknya begini.' Lagi-lagi kesal dalam hatinya.
Namun Aleesha hanya bisa diam, bengong dan menunggu, keajaiban apa yang akan terjadi berikutnya.
Lampu balkon sedikit redup, hanya sinar lilin yang menambah cahaya di sekitarnya. Aleesha masih diam mematung, tidak tau apa yang harus dia lakukan.
Seorang tamu yang tiba-tiba datang ke kamarnya dan seenaknya saja mengatur ruang pribadinya.
"Silahkan Pak, Bu, makanan sudah siap. Selamat menikmati." Ucap petugas hotel sebelum meninggalkan mereka berdua. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Aleesha. Bahkan, sikapnya masih menunjukkan kebingungan yang tak terkira.
"Tunggu !" Panggil Bram kembali, kepada kedua petugas hotel tersebut.
"Ada lagi yang bisa kami bantu Pak ?" Tanya mereka berbalik.
"Tidak, terimakasih. Ini sedikit tips buat kalian."
"Terimakasih Pak."
Dua lembar uang ratusan ribu Bram berikan kepada keduanya.
__ADS_1
"Biasakan mengucapkan terimakasih kepada setiap orang yang baik dan mau membantu kita." Sindirnya kepada Aleesha.
'Gak perlu diingatkan, udah tau juga kali. Cuma, barusan aku diam, karena aku masih heran saja.' lagi-lagi Aleesha hanya bisa menggerutu di dalam hati.
Sifat dan sikap Asbram memang susah di tebak. Terkadang dia diam seperti tidak pernah saling mengenal. Terkadang bersikap biasa saja. Tapi kali ini, lebih berusaha untuk akrab dan seolah sudah saling dekat satu sama lain.
"Widya bilang, kamu belum makan." Kata Bram tanpa dijawab oleh Aleesha.
"Duduklah, mari kita makan." Ucapnya kemudian.
"Tapi, saya_"
"Aku juga belum makan tadi." Imbuhnya.
Benar-benar diluar dugaan. Tidak pernah terbayangkan, jika Asbram akan mengajaknya dinner seperti ini.
'Tapi, apa ini sebenarnya. Apa ada hal yang akan dia sampaikan, sehingga harus membuat suasana seperti ini.' Masih dengan negatif thinking di benaknya.
"Kenapa ? Kamu tidak suka ? Atau, mau aku ganti menu lain ?" Tanya Bram saat melihat Aleesha masih merunduk, diam, memainkan sendoknya. Pandangannya pun kosong jauh menerawang sesuatu.
"Oh, tidak perlu, ini sudah cukup, terimakasih." Ucapnya sembari memalingkan pandangan.
"Atau, kamu tidak suka aku disini ?"
"Bukan, bukan begitu. Tapi saya hanya heran saja dengan sikap Anda."
"Kenapa harus heran ?"
"Sejak awal, saya mengenal Anda, tidak biasanya Anda bersikap seperti ini."
"Begitukah ? Tapi bukankah kita diperkenalkan, untuk saling mengenal satu sama lain."
Jawaban Asbram sangat mengena di hatinya.
Bahkan sampai Aleesha tidak mampu menjawab apa-apa lagi. Sudah menjadi konsumsi dia sehari-hari, untuk saling berhadapan dan menghadapi begitu banyak orang dengan berbagai sifat dan karakter.
Tidak pernah ada rasa canggung, gugup atau resah yang tak beralasan. Namun, kali ini beda. Aleesha harus benar-benar mengumpulkan mental dan fisiknya, hanya untuk menghadapi satu orang saja.
"Ah, sudahlah, jangan biarkan makanan menunggu kita slaing beradu argumentasi."
Perlahan, Aleesha memainkan sendok garpu di tangannya, sebagaimana peran mereka semestinya.
Cukup lama mereka berbincang sembari menyelesaikan makan malamnya, hingga petugas hotel kembali dipanggil untuk membersihkan peralatan makannya.
"Jangan lupa minum obat dan kembali istirahat."
Lagi-lagi, Aleesha tercengang dengan kalimat perhatian yang terucap dari bibir Asbram.
"Aku pergi dulu, ingat minum obatnya, istirahat yang cukup akan membuatmu bangun lebih fresh besok pagi." Ucapnya sebelum pamit kepada Aleesha.
"Terimakasih." Jawabnya senang merasa diperhatikan.
"Jangan GeEr, Saya hanya tidak mau acara saya tertunda karena pembicaranya sedang tidak sehat."
'Idih, siapa juga yang GeEr. Kamu saja yang terlalu terpesona dengan ku.' Protes Aleesha dalam hati.
Dalam hati, ada kepuasan tersendiri dengan senyum mengembang yang disembunyikan, dibalik sikap Asbram yang dingin namun penuh perhatian.
Next On --------------->
__ADS_1