
Tetes embun pagi mulai sejuk merasuk di pori-pori kulit putih Aleesha. Pagi-pagi betul, ketika di rasa tubuhnya sudah membaik, Dia berjalan menuju balkon Rumah Sakit yang ada di pintu belakang kamar rawat inapnya.
'Ternyata Dia pergi dan tidak akan mungkin kembali.' Pikir Aleesha saat Dia tidak lagi menemukan Asbram di ruang rawat inapnya sejak Dia membuka mata.
"Hallo Wid, Kamu dimana ?" Tanya Aleesha melalui sambungan selulernya.
"Ini Widya masih di rumah Mbak."
Aleesha mengernyitkan dahinya, saat mendengar suara Ridwan yang menjawab panggilan selulernya.
"Ridwan ?"
"Iya, Saya Mbak."
"Mau ke Rumah Sakit jam berapa ?"
"Sebentar lagi kami berangkat Mbak. Tinggal menunggu Widya, masih sakit perut Mbak." Terangnya.
"Iya Wan, jangan lama-lama ya. Saya sudah gak betah berlama-lama di sini."
"Ini Mbak, ini Widya sudah selesai."
"Hallo, gimana Mbak ?" Sambung Widya berganti.
"Jangan terlalu siang, segera keluarkan aku dari sini." Rengek Aleesha.
"Ahahhaha ... Mbak Aleesha ada-ada saja. Bagaikan di sandera saja." Komentarnya Widya.
"Ini rasanya lebih dari di sandera Widya."
"Iya deh, suka-suka Mbak Aleesha saja. Ini Saya sudah on the way. Langsung ke loket depan ya."
"Iya, buruan."
Mereka sama - sama menyudahi percakapan. Jarak tempuh rumah Widya dengan Rumah Sakit memang tidak terlalu jauh. Jadi tidak akan memakan banyak waktu.
"Mohon maaf, boleh Saya tahu hubungan Anda dengan Ibu Aleesha ?" Tanya seorang petugas kesehatan di Rumah Sakit.
"Saya Widya, Saya asisten pribadi Ibu Aleesha dan Saya juga yang bertanggungjawab dengan semua hal yang menyangkut Ibu Aleesha." Jawab Widya terdengar kesal.
Kesal, karena apa yang sudah dia upayakan kelihatannya tidak akan membuahkan hasil.
"Sekali lagi mohon maaf, tapi disini ada memo, untuk semua biaya perawatan Ibu Aleesha sudah ditanggung oleh Perusahaan Star Group."
"Tapi, Ibu Aleesha sendiri yang meminta saya untuk menyelesaikan administrasi." Lanjut Widya.
"Mohon maaf Ibu Widya, saya hanya menjalankan tugas. Dan disini juga tertulis, jika apapun yang berhubungan dengan Ibu Aleesha menjadi tanggung jawab Bapak Asbram, selaku CEO Star group."
Widya membenarkan apa yang disampaikan pihak administrasi Rumah Sakit. Bingung, itu yang saat ini dia rasakan. Mencari sebuah jalan keluar sembari memainkan jemari tangannya.
"Kenapa Wid ?" Jawab Aleesha melalui sambungan selulernya.
Terpaksa Widya menghubungi Aleesha dan menyampaikan apa yang disampaikan pihak administrasi Rumah Sakit.
"Hallo Mbak, maaf, Saya tidak bisa menyelesaikan administrasi Rumah Sakit, karena _"
__ADS_1
"Karena apa ?" Belum lagi Widya menyelesaikan ucapannya, Aleesha sudah tergesa untuk menyela.
Dengan sabar dan terperinci, Widya berusaha menerangkan apa yang dia dengar dari pihak Rumah Sakit.
"Jadi begitu Mbak, pada intinya, pihak Rumah Sakit bisa memberikan izin keluar jika pasien sudah dinyatakan benar-benar sehat."
Tut... tutt... tutt...
Lagi-lagi Aleesha menutup teleponnya, sebelum Widya selesai bicara.
"Saya yang dirawat, jadi Saya lebih tahu bagaimana kondisi tubuh Saya sendiri."
"Iya Ibu, tapi untuk saat ini, kami belum berani karena belum ada rekomendasi dari Dokter." Jawab petugas administrasi sabar.
Sedangkan Widya yang sedikit menjauh dari loket, buru-buru mendekat, setelah mendengar keributan yang bersumber dari ruang administrasi Rumah Sakit.
'Itu kan, suara Mbak Aleesha.' Pikir Widya bergegas menajamkan pendengarannya.
"Mbak Icha."
Benar saja, Aleesha sudah sedikit bersitegang, senam jantung di pagi hari.
"Ada apa ini ?" Seorang Dokter muda hadir di antara mereka.
"Dokter Arya." Sapa salah seorang petugas Rumah Sakit.
"Arya." Gumam Aleesha lirih.
"Ada apa Sus ? Ada yang salah dengan pasien ?" Tanya Dokter Arya, sembari mengangkat telapak tangannya, memberi kode supaya Aleesha diam saat akan mencoba menyela percakapannya.
"Begini Dok, Ibu Aleesha bersikukuh ingin keluar dari Rumah Sakit. Sedangkan Dokter belum mengizinkan dan pada catatan kami, ada memo penanggungjawab pasien." Terangnya panjang kali lebar kali tinggi.
"Pasien meminta secara langsung Sus."
"Iya Dok, tapi_"
"Saya yang akan bertanggungjawab atas diri saya sendiri." Potong Aleesha.
"Dasar keras kepala." Gumam lirih Dokter Arya.
Mendengar itu, Widya menahan tawa, membungkam bibirnya sendiri.
"Bikinkan surat lanjutan untuk rawat jalan." Pinta Dokter Arya.
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu Bapak Asbram terlebih dahulu Dok ?"
"Tidak !" Sela Aleesha, sebelum Dokter Arya sempat menjawab.
"Aleesha."
Kalimat Arya terhenti hanya sampai panggilan namanya saja.
"Bubuhkan nama saya sebagai penanggung jawab." Perintah Arya selanjutnya.
Aleesha tersenyum penuh kebebasan. Entah apa yang membuat Dia begitu kekeh ingin segera keluar dari ruang yang sebenarnya tidak pernah seorangpun ingin menempatinya.
__ADS_1
"Dokter Arya." Panggil seorang suster ketua.
"Iya Sus."
"Apa yang harus Saya sampaikan, jika Pak Asbram kurang berkenan dengan apa yang Saya lakukan ?"
"Jangan khawatir, bilang saja Saya yang bertanggung jawab. Jadi suruh Asbram untuk menghubungi Saya langsung." Tunjuk Arya kepada dirinya sendiri.
"Baik Dok."
Aleesha yang sudah mengantongi izin keluar dari Rumah Sakit, segera pergi meninggalkan ruang yang meskipun bisa dikatakan bagus, tapi tidak seorangpun menginginkannya.
Entah apa yang ada di dalam benaknya, bahkan dia sampai lupa belum mengucapkan terimakasih kepada Dokter Arya yang sudah membantunya.
Tubuh lemasnya bersandar pada pintu mobilnya. Dari balik kaca jendela, pandangan matanya menatap jauh keluar. Tidak seorangpun tau apa yang sedang dia pikirkan.
Drrttt ... drrttt ... drrttt...
"Mbak, Dokter Arya menelfon." Kata Widya memberi tahu.
"Hhhmmm..." Jawabnya masih dengan posisi yang sama.
Widya menggelengkan kepala. Kelakuan Aleesha kali ini memang luar biasa. Karena tidak biasanya Dia seperti ini.
"Ya, hallo Dok." Sapa Widya yang akhirnya menjawab panggilan Dokter Arya, setelah sekian kali terlihat panggilan tak terjawab pada telepon genggam Aleesha.
"Kamu dimana Wid ?" Tanya Arya langsung pada pokok pembahasan.
"Kami, Kami dalam perjalanan pulang ke apartemen Mbak Aleesha Dok."
"Dimana Aleesha?"
Widya menoleh ke jok bagian belakang, memastikan kalau majikannya dalam keadaan baik-baik saja.
"Maaf Dok, Mbak Aleesha sedang tidur di jok belakang." Lirihnya.
Terdengar Arya menghela nafas panjang, memaklumi sifat keras kepala Aleesha.
"Sekali lagi saya maaf Dok, bahkan kami sampai lupa belum berpamitan kepada Dokter Arya. Dan terimakasih banyak sudah dibantu." Jawab Widya berasa sudah komplit.
"Kenapa harus buru-buru ?"
"Oh, kalau itu karena, karena _"
"Karena takut ketahuan Asbram."
"Oh, iya itu juga salah satunya." Jawab Widya gugup.
"Aleesha, Aleesha, benar-benar keras kepala." Gumamnya sendiri usai menutup percakapannya dengan Widya.
'Tapi, aneh deh, kenapa juga Aleesha harus menghindar dari Asbram. Bukankah kebanyakan orang seharusnya senang, kalau perusahaan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada diri kita.' Tanya hati Arya.
'Lagipula, bukan kebiasaan Aleesha yang menghindar dari orang lain.' Pikirnya kembali.
Belum juga terjawab semua pertanyaan yang ada di kepalanya, sudah terdengar ricuh keributan di luar yang sempat menyebut namanya.
__ADS_1
Terpaksa Arya beranjak dari ruang kerjanya, menuju tempat dimana dia mendengar suara sedikit gaduh di luar.
Next On ------------------>