Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 19. Kegaduhan Tak Terduga


__ADS_3

Dari balik dinding kaca terlihat seorang Ibu dan seorang pria yang duduk santai mendengarkan penjelasan dari seorang petugas administrasi Rumah Sakit.


"Bagaimana bisa seperti itu !"


Terdengar kemarahan seorang Ibu dari dalam sebuah ruangan administrasi.


"Maafkan kami Ibu, tapi apa yang pihak kami lakukan sudah sesuai dengan prosedur." Ucapnya memberikan pembelaan.


"Iya, saya tahu. Tapi bukankah kalian sudah mendapatkan memo khusus dari Pak Bram."


"Ma, sudahlah. Lagipula Dia sudah baik-baik saja." Sela Asbram sebelum pihak administrasi membantah kembali.


"Bram, Mama cuma _"


Tok ... tok...tok...


Mama Rose menghentikan ucapannya, setelah tiga kali terdengar pintu diketuk seseorang dari luar.


"Bram." Sapa seorang Dokter yang sudah pasti sangat mereka kenal.


"Permisi Tante, maaf boleh saya ikut bergabung ?"


Ucap Arya meminta izin untuk memberikan penjelasan.


"Silahkan." Jawab Mama Rose singkat.


Masih terlihat kemarahan pada mimik wajah Mama Rose. Itulah yang memaksa Arya merasa berkewajiban untuk meluruskan. Karena apapun yang terjadi hari ini ada campur tangan Dia juga.


"Silahkan Sus, Suster bisa kembali beraktivitas." Pinta Dokter Arya.


"Terimakasih Dok."


Gini tinggal Mama Rose, Bram dan Arya yang ada si dalam ruangan itu.


"Jadi begini Tante, Saya merasa harus turut bicara disini. Karena kebetulan Saya juga yang bertanggungjawab atas keluarnya pasien." Lanjut Arya langsung pada duduk persoalannya.


Karena sebelum Dia mengetuk pintu, asisten pribadinya sudah terlebih dahulu memberikan penjelasan mengenai apa pokok bahasan yang sedang mereka ributkan di dalam.


"Atas nama pribadi saya minta maaf, tapi apa yang kami lakukan sudah sesuai prosedur administrasi. Dan lagi, mengingat kondisi pasien juga sudah berangsur membaik." Terangnya lebih lanjut.


"Iya Arya. Tante tahu apa yang Kamu lakukan sudah benar. Tapi, minimal ada pemberitahuan dari pihak Rumah Sakit kepada keluarga pasien. Dan disini yang bertanggungjawab adalah Saya. Kan ada Bram juga, kalian sudah saling mengenal sejak kecil. Kenapa tidak hubungi Bram sebelumnya." Kata Mama Rose panjang kali lebar tambah tinggi.


Asbram dan Arya saling pandang, dan mencoba saling mengerti apa makna kalimat yang terucap dari bibir Mama Rose.


"Ma, sudahlah, jangan mempersulit dan memperpanjang masalah." Cegah Bram, sebelum Arya semakik curiga lebih dalam.


"Ah, sudahlah. Lebih baik antar Mama ke apartemen Aleesha sekarang." Pinta Mama Rose mengakhiri perdebatan.


'Izin ? Tanggungjawab ?


Hubungan seperti apa sebenarnya yang terjalin di antara keluarga Tante Rose dan Aleesha, kenapa sekelas keluarga Purnama mempermasalahkan hal sepele seperti ini.' Selidik Arya di dalam hati.


Kepergian Mama Rose dan Asbram meninggalkan berbagai macam pertanyaan di dalam hati Dokter Arya.


'Apa Aku coba tanyakan hal ini kepada Widya.' Pikirnya dalam hati.


'Ah tidak. Lebih baik besok aku temui Aleesha langsung di kediaman nya.'


***

__ADS_1


Drrttt... drrttt... drrttt...


Handphone Asbram bergetar, ditengah-tengah omelan Mama Rose yang masih berlanjut sepanjang jalan menuju apartemen Aleesha.


"Hallo, ya Vid. Iya atur saja dulu. Sebentar lagi Aku ke kantor." Begitu sepenggal kalimat yang terdengar.


"Kenapa Bram ?" Tanya Mama Rose ingin tahu.


"Ada hal penting yang harus Bram tangani di kantor." Jawabnya singkat.


"Terus Mama bagaimana ?"


"Aku antar Mama sampai Apartemen Aleesha." Jawabnya lagi masih dengan nada datar.


Benar saja, Asbram menurunkan Mama Rose tepat di depan pintu utama apartemen.


"Nanti Bram jemput kalau urusan Mama sudah selesai." Ucapnya sebelum pergi.


Mama Rose menggelengkan kepala, menatap kepergian putranya.


"Selamat pagi Ibu, ada yang bisa kami bantu ?" Tanya seorang satpam, saat melihat gerak tubuh Mama Rose yang membutuhkan informasi.


"Oh, iya Pak. Saya Ibu Rose, bisa minta tolong ditunjukkan alamat atas nama Ibu Aleesha ?" Jawab Mama Rose terus terang.


"Baik Ibu, silahkan ditunggu terlebih dahulu, saya bantu cek datanya kepada petugas pengelola."


"Terimakasih Pak."


Tidak berapa lama, Bapak satpam kembali mendekati Mama Rose.


"Mohon maaf Ibu, silahkan, ada Mbak Diva di sebelah sana yang akan membantu." Tunjuknya kepada seorang perempuan yang sudah berdiri di balik meja kerjanya dengan senyum manis mengembang di bibirnya.


"Selamat pagi Ibu, ada yang bisa kami bantu ?" Sapanya sembari mempersilahkan Mama Rose untuk duduk.


Tidak ada pesan khusus pada memo penghuni apartemen. Termasuk Aleesha, itu berarti Dia menerima dan mempersilahkan siapa saja yang akan berkunjung ataupun bertamu ke rumahnya.


"Silahkan Ibu, isi daftar tamu terlebih dahulu." Ucapnya sembari menyerahkan buku tamu.


"Mohon maaf Ibu, harus menunggu terlalu lama." Ucapnya setelah Mama Rose menyerahkan kembali buku tamu yang tadi Beliau isi.


"Tidak apa-apa Mbak."


"Ini nama dan nomor apartement atas nama Ibu Aleesha, kebetulan tidak ada memo khusus, jadi besar kemungkinan Ibu Aleesha open house kepada setiap tamu yang datang. Apalagi, kalau saya tidak salah dengar, Ibu Aleesha baru pulang dari Rumah Sakit."


"Iya betul, Saya juga masih khawatir dengan kondisi kesehatannya." Jawab Mama Rose mulai ikut basa basi.


"Ibu Aleesha, selain cantik, cerdas juga sangat perhatian dengan kami yang ada di sini." Pujinya kemudian.


"Alhamdulillah." Komentar Mama Rose merasa bangga.


Ingin rasanya Mama Rose mendengar cerita tentang Aleesha lebih lanjut. Tapi keinginan itu Beliau tahan, mengingat posisinya saat ini. Meskipun tidak semua orang tau kalau Beliau seorang publik figur, minimal bisa menjaga agar terhindar dari awak media.


***


Ting tong ... ting tong ...


"Ya !"


Terdengar seseorang menjawab dari dalam. Suara seorang laki-laki yang membuat Mama Rose harus mengernyitkan dahi.

__ADS_1


'Suara siapa ? apa aku tidak salah pintu ?' Pikirnya dalam hati.


Ceklek...


Seorang laki-laki masih muda yang membukakan pintu.


"Maaf, apa benar ini rumah Ibu Aleesha ?" Tanya Mama Rose mendahului.


"Iya betul, silahkan masuk." Jawab laki-laki yang tak lain adalah Ridwan, sopir Aleesha yang baru saja masuk mengantarkan pesanan.


"Siapa Mas ?" Teriak seorang perempuan dari dalam.


'Siapa lagi itu ? sepertinya juga bukan suara Aleesha.' Komentarnya dalam hati. Mama Rose hafal betul, seperti apa suara Aleesha. Meskipun bisa dihitung jari, berapa kali dia bertemu dengan calon menantunya.


Perlahan Mama Rose mengikuti Ridwan dari belakang, memasuki ruangan yang tertata cantik dan rapi.


"Ibu Rose, maaf, saya pikir tadi siapa. Mari Ibu, silahkan duduk."


"Terimakasih."


Kali ini Mama Rose tidak mungkin salah, karena Beliau tahu siapa perempuan yang baru saja menyambutnya.


"Bagaimana keadaan Aleesha Wid ?" Tanya Beliau.


"Eee...Mbak Aleesha, Dia ... " Antara gugup dan takut, karena secara tidak langsung, Widya ikut andil atas kaburnya Aleesha dari Rumah Sakit.


Mama Rose beranjak dari tempat duduknya, melihat sikap Widya yang tidak meyakinkan, secara acak Beliau menyusuri setiap ruang, mencari keberadaan Aleesha.


"Aleesha ?"


"Tante."


"Mama cemas sekali Nak ?"


"Saya, tidak apa-apa Tante."


"Tapi Mama tetap saja khawatir, kenapa kamu harus keluar dari Rumah Sakit tanpa sepengetahuan Bram ?"


"Eee...Saya, tidak... maksud Saya bukan ..."


Entah keterangan atau alasan apa yang akan Dia ungkapkan.


"Sudah, sudah, Mama sudah lega setelah melihat keadaanmu sekarang."


"Iya Tante." Jawab Aleesha lebih lega, tidak harus mencari alasan untuk disampaikan.


"Sudah berapa kali Mama bilang. Biasakan panggil Mama."


"Iya, Ma."


Mereka berbincang cukup lama di dalam kamar. Bahkan, Mama Rose tidak mengizinkan Aleesha untuk turun dari ranjang. Entah cerita apa yang sedang mereka ungkapkan bergantian. Yang jelas, ada kebersamaan, kegembiraan dan nyambung satu sama lain.


"Siapa Mbak ?" Tanya Ridwan lirih sembari menaik turunkan alisnya memberi kode.


"Itu Nyonya besar Star Group, Ibunya Pak Asbram, calon mertua Mbak Aleesha." Bisik Widya tak kalah lirih.


"Hhhaaahhhh !"


Widya langsung membungkam mulutnya sendiri, menyadari apa yang dia sampaikan sebuah hal yang sangat mengejutkan bagi Ridwan.

__ADS_1


"Maaf, Aku keceplosan." Ucapnya sembari memberikan kode kepada Ridwan, untuk tidak buka suara kepada siapapun.


Next On ------------------------------->


__ADS_2