
Sesampainya di kediaman keluarga Purnama. Sudah banyak sekali kerabat, teman dan relasi bisnis Papanya yang hadir. Bahkan ada beberapa awak media yang juga tidak melewatkan acara tersebut.
Vid..." Ucapan Asbram terhenti.
David masih diam, menunggu kalimat kelanjutan apa yang akan Asbram sampaikan.
"Tolong rahasiakan pertemuanku dengan Chacha kepada Aleesha dan keluargaku." Lanjutnya.
"Sampai kapan ?" Tanya David seolah tidak perduli.
"Sampai, waktu yang tepat, Aku bisa ceritakan semuanya." Lirihnya.
"Hhmmm..."
Terlihat sekali, ada rasa tidak suka dari nada komentar David.
"Bahkan Kamu tidak menghubungi istrimu sama sekali." Ucap David setengah bertanya.
"Aku tidak tahu, harus berkata apa Vid." Lirihnya.
"Aku sendiri tidak tahu, dimana Asbram yang selama ini Aku kenal. Asbram yang bertanggungjawab dengan semua yang Dia lakukan." Sindir David halus.
Asbram tidak menjawabnya, Dia langsung keluar dari dalam kendaraan. Kedatangan mereka seolah mengobati rasa rindu banyak penggemar terhadap idolanya.
Bukan hanya awak media tapi juga ibu-ibu, teman Mama Rose ikut berdiri dan berisik menyambut kedatangan pangeran tampan keluarga Purnama.
"Asbram, akhirnya Kamu pulang Nak." Bisik Mama Rose, saat memeluk putranya.
"Maaf, Bram terlambat Ma."
"Tidak, acaranya baru saja akan dimulai."
Dalam sekejap, suasana kembali hening. Semua yang hadir mendengarkan sambutan-sambutan dan mengikuti pengajian.
Sesekali, pandangan mata Asbram menyapu seluruh ruangan. Sepertinya ada yang sedang dia cari.
'Aleesha, dimana Dia ?' Tanya hatinya.
'Itu Keysha, lalu dimana Aleesha.' Komentar sisi hatinya, saat melihat Keysha duduk diantara padatnya tamu undangan.
"Bram, dari kita datang, Aku belum melihat Aleesha. Apa Dia_"
"Aku juga tidak tahu, Aku belum sempat tanya Mama."
Bincang mereka lirih, bahkan hampir tak terdengar.
Memang betul, kedatangan Asbram fan David tepat pada saat acara sudah hampir dimulai. Belum ada waktu untuk Asbram menanyakan keberadaan istrinya.
'Seharusnya ada Aleesha yang menemani Mama saat ini. Tapi dimana Dia, kenapa tidak kelihatan disana. Bahkan, Bunda dan Ayah Aleesha juga tidak hadir. Apakah mereka betul-betul marah dan memutuskan hubungan silaturahmi dengan keluarga Purnama.'
Kalimat itu berputar-putar di kepala Asbram. Mengingat kesalahan yang Dia lakukan sudah cukup fatal. Dua pekan Dia tinggalkan istrinya, tanpa kabar. Dan lebih fatalnya, Dia pergi di saat malam pengantin
"Alhamdulillahhirabbil'alamin, acara demi acara sudah kita laksanakan bersama. Saya selaku pembawa acara, mewakili keluarga besar Bapak Purnama, mengucapkan terimakasih atas kehadiran Bapak, Ibu sekalian, dan mohon maaf jika ada salah kata yang kurang berkenan di hati Bapak, Ibu sekalian. Saya akhiri acara hari ini, Wabillahi taufiq walhidayah, waridho walinnayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu..." Begitu panjang MC menutup acara.
Dan memang acara penutupan inilah yang Dia tunggu, ingin segera berdiri dan mencari tahu, dimanakah keberadaan istrinya.
Tapi, untuk kesekian kalinya Dia harus kembali bersabar. Karena masih harus menemani Mama dan Papanya bersalaman menghantarkan kepulangan tamu undangan.
"Dira." Lirihnya memanggil sang Adek yang tiba-tiba nongol disebelahnya.
__ADS_1
"Hhmmm." Jawabnya enggan.
"Aleesha dimana ?" Lanjutnya.
"Abang kemana saja ?" Jawab Andira balik bertanya.
"Pamit dulu ya Jeng, semoga perjalanannya lancar, sehat, selamat sampai tujuan dan kembali pulang." Do'a salah seorang teman Mama Rose saat berpamitan pulang.
"Aamiin, terimakasih Do'a nya Jeng."
"Doakan saya juga agar bisa segera menyusul." Lanjutnya.
"Aamiin, pasti Jeng, pasti."
"Terimakasih, sudah hadir Tante." Kali ini giliran Asbram dengan manis mengucapkan salam.
"Bram, MasyaAllah...dari tadi Tante tidak melihat Kamu." Balas Beliau yang memang tidak mengetahui kedatangan Asbram.
"Iya Tante, tadi Asbram baru datang dari luar kota."
"Dulu Tante selalu mengidam-idamkan punya menantu seperti Kamu." Candanya.
"Ah... Tante bisa saja."
"Oh ya, Aleesha apa kabar ? Dia baik-baik saja kan Jeng ?"
"Alhamdulillah, tidak apa-apa Jeng. Mungkin cuma kecapekan saja, kurang istirahat. Karena semua acara hari ini Dia yang siapkan."
"Oh... Syukurlah, kalau begitu Saya pamit pulang dulu Jeng, Bram, salam buat istri Kamu. Semoga segera diberikan momongan."
"Aamiin..." Sebuah Do'a baik yang semua orang pasti akan mengamininya.
"Ma, dimana Aleesha ?" Akhirnya pertanyaan itu bisa Dia sampaikan.
"Mama juga belum lihat keadaannya. Tadi Dia sempat mau pingsan. Sekarang sedang istirahat di kamar tamu."
Asbram segera berbalik menuju kamar tamu yang Mama tunjuk.
Ceklekkk...
Pintu terbuka, Dia tidak sendiri. Ada Keysha disana juga bersama Dokter Arya yang sedang memeriksanya.
"Bram." Sapa Dokter Arya.
"Bagaimana keadaannya ?"
"Oh, Aleesha baik-baik saja. Dia hanya kecapekan. Semoga, dengan istirahat cukup, bisa pulih kembali."
"Terimakasih Dok."
"Cha, Kami pamit dulu ya." Bisik Keysha.
"Makasih Key."
"Kalau begitu, Kami permisi." Tambah Arya.
"Terimakasih Dok."
"Jangan biarkan Dia terlalu banyak pikiran." Bisik Arya kepada Asbram, tepat diambang pintu sebelum keluar.
__ADS_1
Asbram tidak menjawabnya, dan kembali berbalik menuju tempat dimana istrinya tadi beristirahat.
"Eh... Kamu mau kemana ?" Tanya Asbram kaget, melihat Aleesha sudah berdiri, turun dari ranjang, mengenakan sweater dan menenteng tas kecilnya.
"Sudah waktunya Aku pulang Pak."
Keluh rasanya bibir Aleesha untuk menjawabnya. Status tidak bisa merubah sikapnya saat ini. Baik dulu maupun sekarang, Asbram tetaplah orang lain baginya.
Sebuah janji suci pernikahan, hanya terukir indah diatas kertas. Tidak bisa Dia nikmati keindahannya pada kehidupan nyata.
"Tunggu." Cegahnya.
"Kamu masih belum sehat." Lanjutnya.
"Saya, tidak apa-apa." Jawabnya sambil berlalu.
Meskipun sebenarnya, Dia sedang tidak baik-baik saja. Tetapi tetap berusaha untuk tegar dan tidak mau terlihat lemah di hadapan pria yang sebenarnya ingin sekali Dia berusaha menjadi istri yang baik untuknya.
"Aleesha, please... diluar masih banyak orang. Apa Kamu tidak bisa berbelas kasih untuk menjaga nama baik hubungan kita ?"
'Apa, Aku tidak bisa menjaga nama baik hubungan kita !' Geramnya dalam hati.
"Apa Mas ? Apa Aku tidak salah dengar ? Sebenarnya siapa yang tidak bisa menjaga nama baik hubungan kita ?" Lirihnya.
Ingin rasanya Dia marah, tapi semuanya percuma. Percuma, karena tidak akan mungkin bisa mengubah keadaan.
"Ya, maksud Aku, tolonglah ... minimal untuk saat ini saja. Tetaplah disini." Pinta Asbram.
"Untuk apa ? Tidak ada manfaatnya untuk ku, semua hanya untuk kepentinganmu sendiri." Kekehnya lagi dan kembali berbalik menuju pintu keluar dari kamar ini.
Namun Asbram segera menghadang, menutupi handle pintu dengan tubuhnya. Disaat yang bersamaan, handphone di saku celananya berbunyi.
'Chacha.'
Sebuah nama yang sempat terlupakan sebentar, gini hadir kembali mengingatkan.
"Siapa ? Kenapa tidak diangkat ?" Tanya Aleesha yang tanpa sengaja sempat melihat nama Chacha tertera di layar handphonenya.
"Tidak apa-apa, tidak begitu penting." Jawabnya, sembari mengantongi handphonenya kembali.
"Sudah, beri Aku jalan. Biar Kamu bisa beristirahat dengan tenang."
"Ngawur, Kamu pikir Aku sudah mati, suruh istirahat dengan tenang." Omel Asbram.
"Uuppss...maaf, tapi bagiku, Kamu sudah tidak ada, sejak malam pengantin itu." Lirihnya.
Aleesha kembali duduk di sofa, menunggu kesempatan untuk bisa keluar dari dalam kamar. Meski kecil kemungkinan, karena tubuh kekarnya masih terpampang.
Drrttt... drrttt... drrttt...
Handphonenya kembali bergetar. Tiga kali sudah panggilan tak terjawab dengn pemilik nomor yang sama.
"Hallo." Akhirnya dia angkat juga.
"Hallo Mas, Mas Bram dimana ? Kenapa pergi tidak bilang-bilang, Aku khawatir tau." Jawabnya manja.
"Maaf Cha, mendadak, Aku harus pulang. Ada acara keluarga yang tidak bisa Aku tinggalkan." Ucapnya lirih, sedikit menjauh dari Aleesha. Bahkan, pembicaraan mereka, hampir tak terdengar oleh siapapun. Meskipun Aleesha samar-samar masih sempat mendengarnya.
'Suaranya seperti perempuan. Cha ? Siapa yang Dia telepon ?' Pikir Aleesha penuh tanda tanya.
__ADS_1
Next On ----------------------->