
Aleesha menghela nafas panjang, sebelum akhirnya berusaha untuk membuka suara.
"Gakpapa Key, aku cuma bingung saja."
"Bingung kenapa ?" Tanya Keysha penasaran, sembari menyerahkan sepaket coklat titipan dari Dokter Arya.
"Apaan ini, tumben-tumbenan bawa coklat, gak takut embem itu pipi." Komentar Aleesha menerima coklat dari Keysha.
"Enggak, karena bukan aku yang beli." Jawab Key datar.
"Terus, dari mana kamu dapat ?"
"Titipan dari Dokter Arya, untuk tuan putri biar gak boring." Ucapnya masih tanpa ekspresi.
"Tuan putri ? Tunggu deh, maksudnya kenapa ini ?" Tanya Aleesha, curiga dengan perubahan mimik wajah Keysha.
"Ah, udah nikmatin aja. Lanjut ceritanya yang tadi dong." Hindar Keysha dari pembicaraan mengenai Dokter Arya.
"Eh, tapi ngomong-ngomong, waktu Aku masih oknam, Dokter Arya sempat telfone kalau dia di Singapore. Tapi, pagi itu kenapa tiba-tiba dia muncul di Rumah Sakit ya ?" Tanya Aleesha mencoba mengingat - ingat kejadian kaburnya dari Rumah Sakit pagi itu.
"Tau." Komentar Keysha masa bodoh.
"Aku juga belum sempat ngucapin terimakasih lagi." Gumam Aleesha.
"Hhmmm."
"Kamu kenapa sih, jutek amat." Lagi-lagi Aleesha dibuat heran dengan sikap acuh sahabatnya.
"Kenapa apanya, lanjut ceritanya dong."
"Cerita dulu, kenapa ?" Ganti Aleesha yang menggebu ingin tahu.
"Gak jadi cerita nih, ya udah Gue pulang aja kalau gitu."
"Iya, iya, gitu aja ngambek."
"Lekas." Tegas Keysha bersiap ingin dengar.
"Jadi, kemaren itu, Tante Rose datang ke sini." Awal ceritanya.
"Tante Rose ?"
"Iya, Mama Asbram."
"Oh ya ! Sudah sedekat apa kalian ?" Kepo Keysha semakin menjadi.
"Itulah Key. Tante Rose begitu baik, perhatian, bahkan Beliau tidak mengizinkan aku memanggilnya Tante. Meskipun kami tidak berjodoh, Tante Rose tetap memintaku untuk memanggilnya 'Mama'." Lanjut Aleesha mulai melo.
"Bagus dong, apalagi kalau kalian benar-benar berjodoh."
"Entahlah Key. Karena, menurut cerita Tante Rose, Asbram punya masa lalu yang tidak bisa dia lupakan." Gumamnya.
"Maksudnya, dia punya cewek lain gitu ?"
"Lebih tepatnya, teman masa kecil yang berkesan di hatinya."
"Terus, apa hubungannya dengan hubungan kalian ?"
"Dia belum bisa melupakan gadis masa kecilnya."
__ADS_1
"Aneh, sakit dia itu. Tidak masuk akal ini Cha. Kenapa dari awal, Asbram tidak datangi saja itu gadis masa lalunya. Ajak nikah, kelar urusan. Dengan begitu tidak akan ada hati yang tersakiti." Ketus Keysha kesal.
"Itu dia masalahnya Key, Bram belum menemukan dimana keberadaan gadis itu."
"Hah ! Lalu, apa lagi yang dia harapkan ?"
"Namanya juga cinta Key, apapun keadaannya. Mungkin, Bram ingin memastikan terlebih dahulu bagaimana status dan keadaan gadis itu sekarang. Lalu_"
"Lalu apa ! Lalu, kalau dia menemukan gadis itu, masih single, sehat, cantik, dia akan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan kalian, dan lebih memilih wanita itu. Begitu maksud Kamu Cha !" Komentar Keysha jengkel.
Mata Keysha bergerilya, seolah meniti setiap jengkal tubuh Aleesha yang terdiam usai kalimat terakhirnya dia potong.
"Cha."
"Hhmmm."
"Sudahlah, jangan sakiti hatimu sendiri. Kalau memang Kamu tidak nyaman dengan perjodohan ini, jangan dilanjutkan." Ucap Keysha.
Sejenak Aleesha berfikir, tentang apa yang Key sampaikan. Entah nasehat atau lebih tepatnya sebuah saran yang dia sendiri tidak tahu, harus mengikuti atau tetap melanjutkan rencana kedua orangtuanya.
Aleesha menatap wajah sahabat dekatnya penuh arti.
"Aku tidak suka melihat seorang Aleesha yang terpuruk, tanpa semangat hanya karena hatinya dipermainkan seorang laki-laki." Imbuhnya.
Kali ini bukan hanya sebuah tatapan hangat, tapi juga dihiasi dengan senyum manis di bibirnya.
"Jangan sedih lagi ya... Isi waktu luangmu dengan kegiatan positif. Kembalilah menjadi Aleesha yang dulu lagi, yang semangat dan penuh rasa percaya diri."
Senyum Aleesha semakin manis mengembang, diiringi dengan anggukkan mengiyakan.
"Jangan beri ruang untuk yang namanya air mata kesedihan. Oke !"
"Terkadang, cinta memang aneh Cha. Cinta itu seperti hantu. Datang tak diundang, pergi tak diantar." Gumam Key sendiri.
"Cinta juga bisa membuat jiwa-jiwa kesepian menjadi tenang. Tapi tidak sedikit, yang merasakan cinta seperti petaka. Atau bahkan ada juga yang mengalami cinta tidak akan pernah bisa hadir dalam diri seseorang." Oceh Key lirih.
"Dan aku merasa, sahabatku ini sedang merasakan jatuh cinta." Komentar Aleesha.
Key hanya bisa melongo dan menatap tajam wajah sahabat nya.
'Bagaimana kamu tahu kalau Aku sedang jatuh cinta Cha.' Gumamnya dalam hati.
Ting tong...ting ting...
Belum selesai Keysha berfikir, sudah dikagetkan dengan bunyi bel yang kerap terus menerus.
"Siapa Cha ?"
"Gak tahu, gitu amat neken bel nya." Komentar Aleesha sembari berjalan memastikan siapa yang datang.
Ceklek...
"Widya."
"Mbak Icha gakpapa Mbak ?" Pertanyaan Widya terdengar sangat khawatir.
"Kenapa sih ? Memangnya ada apa ?"
"Ee_"
__ADS_1
"Kenapa Cha ? Ada masalah ?"
Ucapan Widya terhenti, saat Keysha ikut andil dalam percakapan mereka.
"Tau nih Widya."
"Eh...ada Mbak Keysha juga."
"Hallo Wid, apa kabar ?"
"Baik Mbak." Jawab Widya cengengesan, kelihatan sekali kalau ada yang sedang dia sembunyikan.
"Kenapa Wid ? Kok kelihatannya ada masalah ?" Tanya Keysha penasaran.
"Enggak ada apa-apa Mbak, aman. Cuma khawatir saja sama Mbak Icha. Takutnya kalau kesepian, pasti galau gak karuan. Hehheheh..." Jawabnya berlagak blo'on.
Aleesha paham betul bagaimana sifat Widya. Meskipun kelihatan slebor, tapi dia sangat berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu. Apalagi kalau hal itu bersifat rahasia.
"Tapi, untungnya ada Mbak Keysha yang menemani." Tambahnya lagi.
"Oke kalau begitu, sudah ada Widya juga di sini. Saya pamit duluan ya Cha." Ucapnya.
"Kok pamit ?" Tanya Aleesha yang masih ingin berlama-lama bersama sahabatnya, meskipun sebenarnya lebih penasaran dengan sikap Widya.
"Udah hampir waktunya panggilan jiwa." Seloroh Keysha sembari menunjuk pergelangan tangannya.
"Oke, take care ya."
"Bye..."
"Bye..."
Widya segera menarik tangan Aleesha sepeninggalnya Keysha.
"Kenapa Wid ?"
"Gawat ini Mbak, gawat !"
"Gawat apanya ?"
"Saya tidak bisa menjelaskan detailnya. Sekarang, lebih baik Mbak Icha siap-siap, kita pergi." Pintanya.
"Wid, ngomong yang jelas. Pergi kemana ? Masalah apa ?"
"Pokoknya Mbak Icha nurut saja. Yang jelas, kita pergi ke tempat orang yang bisa menjelaskan masalah ini." Kekeh Widya.
"Masalah apa !" Teriak Aleesha mulai jengkel.
"Mbak Icha tenang dulu, ini penting, karena menyangkut kehormatan dan harga diri Mbak Icha." Kata Widya, masih belum mau berkata jujur.
"Ayo Mbak, jangan mengulur waktu lebih lama lagi."
Aleesha hanya menurut saja, apa yang diinstruksikan asistennya. Selama Widya ikut bekerja dengannya, baru kali ini sikapnya terlihat serius.
'Apa sebenarnya yang terjadi ? Baru beberapa hari Aku banyak berbaring dan istirahat, tapi tiba-tiba ada masalah yang Aku sendiri tidak tahu, itu apa.' Komentar sisi hati Aleesha.
'Bahkan, Widya berani bicara dengan nada lebih tinggi kepadaku, dengan dalih kehormatan dan harga diri.' Gumamnya dalam hati.
Namun Aleesha tetap diam, bertahan, meskipun berbagai pertanyaan berputar-putar di kepalanya.
__ADS_1
Next On ---------------------->