Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 50. Miskomunikasi


__ADS_3

Bila jodoh tak kan kemana.


Mungkin kalimat itu yang tepat untuk Asbram saat ini. Bidadari kecil yang sekian tahun menghilang dari hidupnya, gini sudah ada di depan mata.


Semua tidak Dia dapatkan dengan mudah. Namun penuh dengan rintangan, perjuangan bahkan dibumbui dengan sebuah penghianatan.


Sebenarnya Allah Maha tahu, apa yang hambanya butuhnya, bukan apa yang hambanya inginkan. Meskipun dengan berbagai macam cara, Anisa ingin memikat hati Asbram. Namun dengan kuasa-Nya Allah membuka mata batin Asbram dan menunjukkan jika Anisa bukan gadis yang Dia cari selama ini.


Jika harus mengingat kembali, masa-masa dimana Dia meninggalkan istrinya, bayangan rasa bersalah selalu bergelayut di dalam benaknya.


Berfikir, ya...saat ini pangeran tampan yang sedang dimabuk asmara, sedang berfikir, bagaimana caranya untuk memikat hati istrinya, membuat Dia merasa senang dan bahagia. Karena sampai saat ini, Asbram belum bisa membuat Aleesha percaya akan cintanya.


Drrttt... drrttt... drrttt...


"Ya Vid."


Sebuah panggilan dari orang yang tidak bisa Dia lewatkan.


"Saya hanya mau mengingatkan, kalau lusa Bapak ada pertemuan intern dengan Mr. Daniel di Bali." Kata David mengingatkan.


'Bali... mungkin ini kesempatan ku untuk memperbaiki hubunganku dengan Aleesha.' Pikirnya senyum-senyum sendiri.


"Hallo Pak, Pak Asbram. Bapak masih mendengar Saya ?"


Merasa kehilangan lawan bicaranya, membuat David terpaksa harus memanggil berulang kali.


"Oh, iya Vid, maaf. Saya sedang berfikir mengenai acara itu."


Jika saat ini Dia berada di depan cermin, mungkin kelihatan jelas pipinya yang memerah.


"Apa ada masalah ? Saya rasa semua sudah berjalan sesuai rencana Pak. Hotel, resto semua sudah beres." Keterangan David panjang lebar.


"Bukan, bukan itu yang Aku pikirkan. Kalau mengenai pekerjaan, Aku percaya Kamu bisa handle semua." Jawabnya.


"Lalu, masalah apa ada yang bisa Saya bantu Pak ?" Tanya David menawarkan.


"Iya, pasti." Jawabnya tegas.


Entah apa yang mereka berdua rencanakan, yang pasti akan ada sebuah kejutan untuk Aleesha nanti.


***


"Iya Wid. Saya siap. Sudah lama Saya tidak mengisi acara itu."


"Oke, kalau begitu Saya jadwal sekalian Saya siapkan tiket pesawat pulang pergi."


"Thanks Wid."


"Sama-sama Mbak Cantik."


Ada raut wajah yang berbeda pada diri Aleesha, usai menutup pembicaraannya dengan Widya di telepon.


'Apa Aku masih bisa leluasa pergi ke luar kota seperti dulu lagi. Secara, Aku sudah bukan wanita lajang lagi sekarang.' Resahnya dalam hati.


Dengan kedua tangan terlipat di depan dada, Aleesha menggigit bibirnya sendiri.


'Apakah Mas Bram alan mengizinkan Aku pergi. Lalu bagaimana Aku akan mengatakannya.' Kali ini Dia usap wajahnya sendiri.

__ADS_1


"Non, ini vitamin yang Non minta. Bibik taruh di meja ya." Kata Bibik membuyarkan lamunannya.


"Oh, iya. Terimakasih Bik."


"Sama-sama Non."


Entah apa yang Dia rasakan, sehingga harus meminta tolong Bibik untuk membelikan beberapa tablet vitamin.


"Bik, apa itu ? Dimana Aleesha ?" Asbram memberondong pertanyaan, saat berpapasan dengan Bibik yang masih membawa baki dan segelas air putih di tangannya.


"Oh, ini, tadi Non Aleesha minta Bibik belikan beberapa vitamin."


"Vitamin ? Aleesha sakit ? Dimana Dia ?" Tanyanya kembali.


"Tidak Den, mungkin kecapekan saja. Itu Mbak Aleesha ada di balkon ruang tengah." Kata Bibik menunjukkan dimana Aleesha berada.


"Makasih ya Bik." Ucapnya sambil berlalu menuju balkon tengah.


Benar kata Bibik, Asbram menemukan bidadari nya disana. Berdiri di tepi pembatas balkon, dengan pandangan mata yang entah kemana.


"Ada apa sayang ?" Dipeluknya Aleesha dari belakang.


"Ach, Mas. Mengagetkan saja." Elaknya mencolok menghindar.


Namun bukannya memberi jalan, tapi Asbram semakin mengetatkan dekapannya.


Lebih dari itu, sikapnya mulai manja, dengan menyandarkan dagunya di pundak Aleesha.


"Mulai sekarang, Kamu harus terbiasa dengan semua yang mengejutkan dariku." Lirihnya.


"Tidak ada wanita idaman untukku, selain dirimu." Bisiknya, mulai bergerilya dari telinga beralih ke leher istrinya.


"Mas." Risih diperlakukan seperti itu, Aleesha memberikan cubitan kecil pada pinggang suaminya.


"Ssssahhhh.... " Desahnya, antara sakit dan geli.


"Aku tidak habis pikir, begitu cepat Kamu berubah. Dari yang Aku kenal sampai yang tidak Aku kenal." Protes Aleesha.


"Memangnya Kamu mengenalku seperti apa ?" Tanya Asbram, masih belum melepaskan tahanannya.


"Entahlah...sejak awal, Asbram yang Aku kenal, orangnya dingin, cuek, gila kerja. Tapi sekali jatuh cinta, Dia lupa segalanya." Keluhnya, seperti yang Dia rasakan sebelumnya.


Asbram melonggarkan pelukannya, memutar tubuh Aleesha hingga sejajar tepat di hadapannya.


"Secara garis besar semua pendapatmu tentang Aku, benar. Namun semua itu ada alasannya. Dan perlu Kamu garis bawahi, Aku bukan pergi meninggalkanmu, tapi Aku mencari kebenaran tentang keberadaan mu." Tegasnya.


"Maksudnya ?"


"Chacha. Sejak kecil, hatiku telah terpatri dengan seorang gadis kecil yang mereka panggil 'Chacha'." Awal mulai bercerita.


"Namun sejak Papa dipindahkan tugas, Aku yang belum tahu apa-apa, harus rela kehilangan semua tentang Dia." Imbuhnya.


"Dan Aku mulai teringat kembali, saat Aku beranjak dewasa."


Aleesha masih mendengarkan dengan seksama. Sampai saat ini, Dia masih belum menyadari tentang kisah masa kecilnya. Meskipun Aleesha masih ingat betul mengenai cerita masa kecil bersama seorang anak yang setelah kejadian itu, menghilang entah kemana.


Sebagai gantinya, Dia hanya mengernyitkan kedua alisnya, tanda tidak paham apa yang Asbram ceritakan.

__ADS_1


"Kenapa ?" Tanya Asbram mengikuti ekspresi wajah istrinya.


"Aku, tidak mengerti." Jawab Aleesha lugu.


"Aleesha, seorang anak yang membuat Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dan Aku cari selama ini, adalah Kamu Chaca." Ucapnya sembari menggenggam lembut kedua tangan Aleesha.


Terkejut dengan pernyataan suaminya, Aleesha menarik kedua tangannya kembali.


"Bagaimana Kamu begitu yakin kalau itu Aku ? Bukankah selama ini, sudah ada Chacha yang lain, yang singgah di hatimu.


Kembali Asbram meraih kedua tangan Aleesha, sembari menggelengkan kepala.


"Bukan." Ucapnya terhenti. Kepalanya sedikit tertunduk, ada bayangan penyesalan disana.


"Dia hanya bagian kecil dari tokoh antagonis yang menghiasi kisah cinta kita." Lanjutnya.


"Aku tidak mengerti." Lirih Aleesha menanggapi ucapan Asbram.


"Cha, Kamu ingat seorang anak korban bullying di kampung anggrek, yang sempat diselamatkan dari anak-anak nakal, hingga berakibat fatal pada seorang gadis kecil dan harus dilarikan ke rumah sakit karena pangkal kening sebelah kanannya mengalami luka serius ?"


Apa yang Asbram sampaikan, membuat Aleesha harus membuka memori lama, masa kecilnya. Reflek Dia sibak anak rambut yang menutupi bekas jahitan pada pangkal kening sebelah kanannya.


Asbram mengikuti gerakan tangan Aleesha. Dia usap lembut bekas luka yang membuat memori paten pada benaknya.


"Luka ini, Akulah penyebabnya Cha." Lirihnya.


Tak terasa, setetes cairan bening mengalir di sela-sela bulu mata Aleesha.


"Aku sudah tahu." Jawabnya lebih lirih, bahkan hampir tak terdengar.


"Apa ? Jadi, Kamu sudah tahu ?" Suara Asbram sedikit meninggi.


Tanpa mereka sadari, membuat Bibik dan Nadira di lantai bawah, ikut kepo ingin tahu apa yang terjadi.


"Aku mengenalimu sejak awal Aku mengisi acara di StarTv." Jawabnya.


"Kenapa Kamu tidak ceritakan hal ini kepadaku ?" Lagi-lagi suara Asbram berintonasi tinggi.


"Buat apa ?"


"Aleesha, bukankah Kamu tahu, kalau selama ini Aku mencarimu. Bahkan Aku sempat menolak perjodohan Kita, karena Aku ingin mencari gadis kecil yang sudah menyelamatkan nyawaku."


Entah apa yang ada di pikiran Asbram saat ini, yang pasti, Dia sedikit kesal mengetahui kenyataan yang ada.


"Sampai - sampai ada penyusup di antara Kita." Gumamnya sendiri.


"Semua karena dari awal tidak ada kedekatan antara Kita Mas. Jadi jangan salahkan keadaan yang ada. Lebih baik Kita instrospeksi diri kita masing-masing." Sama-sama kesal, itulah sikap yang Aleesha tunjukkan untuk menyudahi perdebatan mereka.


"Cha, tunggu. Cha !" Teriak Asbram saat Aleesha pergi meninggalkan Dia sendiri. Panggilannya tak dihiraukan. Aleesha menyambar hand bag yang tergeletak di meja riasnya dan pergi entah kemana.


"Mbak, Mbak mau kemana ?" Tanya Nadira di depan pintu utama.


"Oh, Nad. Mbak ada urusan sebentar untuk acara seminar." Jawabnya, dan memang benar adanya.


Sejak awal Aleesha ingin meminta izin untuk mempersiapkan seminar awal tahunnya di Bali. Namun belum sempat Dia meminta izin, perdebatan itu terlanjur terjadi.


Next On ----------------------------->

__ADS_1


__ADS_2