Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 24. Jati Diri Pria Misterius


__ADS_3

Sebagaimana yang Aleesha perintahkan, Widya segera menyiapkan uang tunai sebesar lima ratus juta rupiah. Dan dia kembali ke apartemen Aleesha, setelah selesai urusannya dengan BANK.


"Ini Mbak, apa yang Mbak minta sudah Saya siapkan."


"Terimakasih." Jawab Aleesha tanpa melirik sedikitpun lawan bicaranya.


"Tapi Mbak, sekali lagi Saya ingatkan. Tolong pertimbangkan kembali, apa yang akan Mbak lakukan." Widya masih tetap berusaha keras untuk bisa melunakkan hati Aleesha.


"Saya akan menyelesaikan dengan cara Saya sendiri." Jawabnya tanpa peduli orang lain memperdulikan keselamatan Dia.


"Mbak Aleesha, biar Saya antar Mbak." Kali ini Ridwan menawarkan diri.


"Terimakasih Mas, kalian begitu baik padaku. Kalian bisa lapor polisi jika dalam dua kali dua puluh empat jam tidak ada kabar dariku." Pintanya menolak halus tawaran Ridwan.


Entah kebodohan apa yang Aleesha perbuat saat ini. Bahkan Widya pun tidak habis pikir. Namun dia sadar, kalau pikiran Aleesha saat ini sedang kalut.


"Aku pergi dulu ya Wid, Mas Ridwan." Pamitnya di area parkir apartemen.


Aleesha benar-benar pergi dan mengemudikan mobilnya sendiri.


Widya memperhatikan tingkah aneh Ridwan, yang sejak mereka pergi ke BANK, terlihat diam-diam sibuk dengan handphone di tangannya.


Drrttt... drrttt... drrtt...


"Mas Ridwan_"


"Iya. Sebentar Wid, Aku terima telepon dulu." Potongnya seolah menghindar.


Bahkan mengangkat telepon pun harus menjauh dari Widya.


'Siapa yang menghubungi Mas Ridwan, kenapa Dia harus menjauh dari sini.' Pikir Widya sedikit curiga.


Tidak mau lebih berprasangka buruk lagi, perlahan Widya mendekat dan mencoba mendengarkan percakapan Ridwan dengan pria misterius di dalam handphone nya.


"Iya sudah berangkat, sekitar lima belas menit yang lalu. Baik, baik."


Kalimat itu terdengar semakin membuat Widya lebih curiga lagi.


"Siapa Mas ?" Tanya Widya mengagetkan, saat Ridwan mulai berbalik usai menyudahi percakapannya.


"Oh ini, bukan siapa-siapa."


Widya mengernyitkan keningnya. Tidak biasanya Ridwan menyembunyikan sesuatu darinya. Meskipun sebenarnya disaat seperti ini, wajib bagi Widya mencurigai setiap orang yang dekat dengan Dia dan Aleesha.


***


Sedangkan Aleesha, masih sibuk dengan handphone di tangannya. Dia mengikuti panduan yang dikirimkan oleh seseorang yang sedang menunggu kesepakatan transaksi mereka siang ini.


Jalanan sepi, tidak ada lalu lalang kendaraan. Ada sedikit rasa takut di hatinya. Entah nyali dari mana yang dia dapatkan, sehingga nekat datang sendiri ke sarang macan.


"Saya sudah berada pada titik yang Anda minta." Voice note dia kirimkan.


"Parkir kendaraanmu di bawah pohon mangga yang rimbun dan banyak belukar di sana. Lalu masuk di rumah papan paling pojok." Balasan dari voice note yang dia kirim.


Memang ada beberapa bangunan di sana. Tapi semuanya terlihat sepi. Nampak seperti tidak berpenghuni.


Perlahan, Aleesha melangkahkan kakinya, melalui ilalang yang tinggi menjulang, hampir setara dengan pinggangnya. Keadaan kali ini, hanya ulat dan ular yang dia takutkan dan berhasil membuat bulu kuduknya berdiri.


Tok .. tok ..


"Masuk dan tutup kembali pintunya." Terdengar suara seseorang memerintahkan dari dalam. Perlahan Aleesha membuka, namun tidak langsung dia tutup kembali.


"Maaf, sebaiknya dibiarkan sedikit terbuka." Pintanya.


Namun, pria itu dengan cekatan segera menutup bahkan mengunci pintu utama rumah itu, tanpa mengindahkan permintaan Aleesha.


"Hei, kenapa harus dikunci, Saya tidak akan lari, Saya juga membawa apa yang Anda minta." Pinta Aleesha yang masih belum tahu, siapa sebenarnya pria misterius ini.


Karena kondisi ruangan yang cukup gelap. Ditambah, laki-laki misterius itu memakai topi dan membelakangi dia sejak awal datang.

__ADS_1


"Duduklah, jangan takut, kita bicara baik-baik." Ucapnya lembut.


Mereka duduk berseberangan. Laki-laki itu mulai mengangkat wajahnya dan membuka topinya. Alangkah kagetnya Aleesha, setelah tahu siapa pria misterius yang mengundangnya siang ini.


"Masih ingat dengan Saya, Nona Aleesha ?"


"Anton." Ucapnya lirih sembari membungkam bibirnya sendiri.


Anton, laki-laki itu bernama Anton. Seorang fotografer yang pernah bekerjasama dengan Aleesha saat projek iklan produk herbal yang dia bawakan.


"Aku pikir, sudah tidak ada lagi yang mengingatku." Ucapnya sedikit nyinyir.


Tapi Anton yang dulu dia kenal, tidak seperti Anton saat ini. Anton yang dulu begitu lembut, bertutur kata manis dan selalu bersikap sopan.


Tapi entah apa yang terjadi, karena sudah beberapa bulan lamanya, Dia tidak bertemu dengan sosok Anton yang dulu lagi.


"Apa kabar Nona ? Kaget melihat Saya ?" Imbuhnya.


"Bukan, bukan begitu, tapi_"


"Tapi apa ? Inilah Anton, bukankah masih sama seperti Anton yang dulu ?"


'Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa Anton berubah seperti ini.' Tanya Aleesha dalam hati.


"Kamu pasti heran, kenapa Aku seperti ini ?"


"Aku_"


"Tidak perlu Kamu jawab, Aku pasti akan menceritakan semuanya." Sekali lagi Anton memotong ucapan Aleesha.


Di dalam hati, Aleesha yakin, Anton orang yang baik. Dan pasti ada penyebabnya, sehingga dia seperti ini.


"Masih cukup banyak waktu, untukku bercerita." Awalnya.


"Jadi setelah kejadian penolakan waktu itu, Aku sedikit putus asa dan merasa tidak percaya diri." Lanjutnya.


*Flashback On


"Satu, dua, oke."


"Lanjut, kita pake gaya yang ketiga ya. Mbak Aleesha pegang produknya." Instruksi Anton sebagai fotografer waktu itu.


"Satu, dua...sip, kita break dulu ya."


"Boleh lihat hasilnya." Tanya Aleesha sembari berlari kecil mendekati.


Mereka duduk di meja yang sama, sembari menunggu jatah makan siang yang sebentar lagi tersaji.


Anton menunjukkan beberapa pose dirinya di dalam camera. Keduanya kelihatan akrab dan sangat dekat.


"Kamu, begitu cantik Aleesha." Gumam Anton, ditengah-tengah senyum Aleesha yang mengagumi gambarnya sendiri.


Namun ucapan Anton, dianggap gurauan semata.


"Aleesha." Panggilnya kembali.


"Hhmmm." Jawab Aleesha sembari meneguk orange juice yang disediakan untuknya.


"Apa Aku boleh menyatakan sesuatu ?" Tanya Anton tanpa basa-basi.


"Apa ? Katakan."


"Baru kali ini Aku merasakan getaran lain di hatiku." Ucapnya mulai serius.


"Hehem...Kamu jatuh cinta ?" Tanya Aleesha yang masih belum menyadari keberadaannya.


"Ya."


"Oh ya, sama siapa ?" Lagi-lagi Aleesha masih kurang peka.

__ADS_1


"Aku jatuh cinta pada seseorang yang sedang duduk di sampingku." Ucapnya terus terang.


Aleesha tertawa, dia anggap apa yang Anton sampaikan, hanya gurauan semata.


"Kenapa Kamu terawa Aleesha ?"


"Habisnya, Kamu bercanda nya kelewatan. Kalau didengar orang bagaimana ? Dikiranya serius nanti." Jawab Aleesha sembari beranjak untuk pergi.


"Tapi Aku serius Aleesha." Tegas Anton mencegah Aleesha untuk pergi.


"Jawab Aku Aleesha, maukah Kamu jadi kekasihku ?"


"Anton, sudah ah... jangan bercanda." Cegah Aleesha untuk kesekian kalinya.


"Aku tidak pernah bercanda dengan hati Aleesha. Aku serius, Aku jatuh hati padamu."


Dari pandangan matanya, Aleesha sudah bisa menilai, terlihat keseriusan disana.


"Maaf Anton, untuk saat ini Aku sedang fokus mengejar karir."


Meskipun jawaban Aleesha membuat Anton sedikit kecewa, namun dia berusaha untuk memakluminya. Karena memang karir Aleesha saat ini sedang naik daun.


Anton meraih dan menggenggam jemari Aleesha, yang membuat Aleesha sontak kaget.


"Tapi, adakah sedikit ruang untuk ku ?" Tanya Anton memastikan.


"Maaf Anton, selain itu, sudah ada nama lain di hatiku." Jawab Aleesha, sembari menarik mundur tangannya. Kali ini jawaban Aleesha benar-benar membuat Anton putus asa.


Dia melepas kepergian Aleesha. Bahkan Anton sendiri pun pergi, meninggalkan sesi pemotretan berikutnya. Dia menuju sebuah kursi di taman. Dia renungi kesalahannya di sana.


'Andai saja Aku tidak terlalu cepat mencurahkan isi hatiku, mungkin Aku masih bisa melihatnya saat ini dan tidak akan merasa canggung karena rasa itu aku simpan sendiri. Tapi, siapa laki-laki yang sedang mengisi ruang kosong di hatinya.' Pikirnya dalam hati.


"Anton !"


Terdengar seseorang teriak memanggilnya.


"Ada apa Mas ?"Tanya Anton mendekati.


"Ada yang harus kamu jelaskan di kantor."


Anton segera mengikuti David menuju ruang dimana sudah ada Asbram dan beberapa orang penting di dalamnya.


"Ada yang salah Pak ?" Tanya Anton yang merasa ada yang tidak beres di ruangan ini.


Braaakkk... !


Setumpuk berkas gambar dilempar di atas meja tepat di depannya.


Anton meraihnya, meneliti satu persatu gambarnya.


"Ini kan desain gambar saya." Ucapnya.


"Dan bagaimana bisa desain gambar itu jatuh ke tangan kompetitor lain ?" Tanya Asbram.


"Saya tidak tahu Pak." Sanggahnya.


"Coba Kamu jelaskan ketidaktahuanmu tentang ini."


Sebuah video transaksi terpampang jelas di mata Anton. Dan di dalam video itu jelas-jelas ada Anton bersama seseorang sedang berbicara, disusul dengan penyerahan satu flashdisk yang diganti dengan segepok tunai dalam amplop coklat.


"Ini, ini bukan seperti yang kalian lihat. Ini tidak ada kaitannya dengan file gambar Saya." Ucapnya masih membela diri.


"Saya tidak mau tahu, perusahaan sudah menanggung kerugian besar atas semua kejadian ini. Bahkan, kami dituntut karena dituduh menjiplak gambar mereka." Jelas Asbram.


Anton hanya diam, tanpa bisa membela diri lagi. Entah apa yang terjadi, keadaan begitu cepat hingga berujung pemecatan terhadap dirinya.


Mulai saat itulah, Anton yang dulu menjadi Anton yang sekarang.


*Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2