Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 23. Ancaman


__ADS_3

Awan hitam semakin pekat berarak. Gelap, seakan tidak ada celah untuk sinar mentari merasuk ke dalamnya.


Semalaman Aleesha memikirkan apa yang Asbram sampaikan. Entah keputusan apa yang akan dia berikan.


Drrttt...drrttt...drrttt...


Handphone nya bergetar, disaat dia membutuhkan sebuah ketenangan. Terlihat nomor yang tidak dia kenal terpampang pada layar handphonenya.


Dua kali panggilan tak terjawab. Dan untuk ke tiga kalinya panggilan itu masih dia abaikan.


Kling ...


"Angkat panggilan saya, atau Anda akan menyesal."


Sebuah kalimat ancaman masuk ke dalam kotak pesan pada nomor WhatsApp pribadinya.


'Siapa ini dan apa maunya ?' Pikir Aleesha.


"Jangan-jangan _" Gumamnya, mulai timbul rasa curiga.


Dengan tangan yang tiba-tiba terasa dingin dan bergetar, Aleesha mencari nomor handphone seseorang yang dia rasa ada kaitannya dengan isi pesan pagi ini.


Tut ... tutt ... tutt ...


"Angkat Bram, angkat." Omelnya sendiri.


Hingga nada dering selesai, tidak ada jawaban dari Asbram.


"Hallo, selamat pagi." Akhirnya ada jawaban, setelah sekian kalinya dia menggeser tombol panggilan.


Tapi bukan suara ini yang dia harapkan. Aleesha melihat nomor dan nama yang ada pada layar handphonenya. Memastikan kembali, apakah nomor yang dia panggil benar.


"Bisa, Saya bicara dengan Pak Asbram ?" Tanya Aleesha, setengah gugup.


"Maaf Bu, untuk sementara, Pak Asbram tidak bisa diganggu. Beliau sedang ada pertemuan penting dengan klien." Jawab asisten pribadinya.


"Tapi_"


"Hallo, hallo, hallo."


Tutt...tutt...tutt...


Tiba-tiba sambungan terputus, sesaat setelah sempat tidak ada suara sama sekali. Keadaan ini membuat Aleesha semakin panik.


Ditambah lagi, nomor yang tidak dia kenali pemiliknya menghubungi berkali-kali.


"Hallo." Perlahan dia jawab, usai menenangkan diri dan menata hatinya.


"Selamat pagi, Ibu Aleesha yang cantik. Akhirnya, Anda merespon panggilan Saya." Jawab seseorang dari sebrang sana.


"Maaf, Saya bicara dengan siapa ?" Tanya Aleesha masih menghargai tamu di dalam handphone nya.


"Itulah yang Saya suka dari Anda. Selalu ramah dan lembut kepada siapa saja." Jawabnya melenceng dari pertanyaan.

__ADS_1


"Maaf, boleh Saya tahu, Saya bicara dengan siapa ?" Sekali lagi pertanyaan itu Aleesha sampaikan.


"Sabar Bu, Saya tidak bisa membayangkan, selembut apa Ibu Aleesha saat di ranjang. Atau mungkin, lebih agresif dibandingkan dengan sikap gemulainya." Ocehnya.


"Tolong bicara yang sopan, dan jangan macam-macam dengan Saya, atau Saya sudahi percakapan ini." Gertak Aleesha mulai geram.


"Auw...auw...auw... Ternyata bisa marah juga ya."


Tanpa basa-basi lagi, Aleesha memutus percakapan tersebut. Merasa belum mendapatkan apa yang diinginkan nya, seseorang itu menghubunginya kembali.


"Katakan, apa maksud dan tujuan anda menghubungi saya. Atau_"


"Eits...iya, iya, iya, Saya mulai. Oke ?"


Aleesha masih sabar menunggu.


"Tapi alangkah lebih baiknya, jika Saya bisa bertemu langsung dengan Anda." Lanjutnya.


"Apa yang anda mau dari Saya !" Terasa mendidih darah Aleesha.


"Sabar nona muda, jangan terburu nafsu. Santai saja, yang penting kita bertemu dulu." Ucapnya terdengar menjijikkan.


"Katakan, apa mau Anda. Atau tidak ada hal apapun yang bisa kamu dapatkan dari Saya." Ancam Aleesha, masih berusaha untuk bersabar.


"Oke, oke, Saya hanya mau bilang, kalau Saya pegang kartu as Anda nona cantik. Jadi Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik." Bujuknya.


"Apa yang Anda tahu dari Saya ?"


Bibir Aleesha terasa keluh tak bisa berkata apa-apa. Dia tahu, apa sebenarnya yang peneror itu inginkan.


"Maaf, Saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni ocehan Anda."


"Oke, oke, Saya hanya ingin menyelamatkan reputasi dan kehormatan Anda. Tapi, tentunya semua itu tidak gratis." Jawabnya, masih bertele-tele.


"Jangan terlalu banyak bicara."


"Tenang Nona, simple saja, yang Saya mau sama dengan kebanyakan yang orang mau."


"Katakan !"


"Ternyata nona cantik ini lebih agresif dari yang Saya kira. Ingin rasanya bisa segera bertemu."


"Cukup ! Anda membuang banyak waktu Saya !"


Ceklek...


Widya dan Ridwan yang sengaja datang untuk mengantarkan sarapan untuk Aleesha, terpaksa masuk, bersamaan dengan terdengarnya teriakan Aleesha.


Entah sejak kapan mereka mengetuk pintu di luar, hingga akhirnya menerobos masuk sendiri.


Yang jelas Widya merasa lega, melihat majikannya hanya berdebat melalui sambungan seluler. Dan untuk saat ini, mereka hanya bisa diam mengikuti instruksi tangan yang Aleesha berikan.


"Mbak Aleesha bicara dengan siapa Wid ? Kelihatannya kesal benar dia." Bisik Ridwan lirih.

__ADS_1


"Aku juga gak tahu." Jawab Widya tak kalah lirihnya.


"Atau, jangan-jangan, orang yang sama yang menemui Pak Asbram." Terka Ridwan.


"Bisa jadi, kita tunggu saja nanti."


"Oke, Saya pegang janji Anda. Saya berikan apa yang Anda mau. Tapi ingat, Saya mau file foto itu semuanya."


Ridwan dan Widya saling bertatapan. Benar dugaan mereka, bahwa Aleesha sedang bertransaksi dengan orang yang sama seperti yang mereka pikir.


"Hahh !" Teriak Aleesha sembari melemparkan handphone dari tangannya.


Widya dan Ridwan masih diam terpaku melihat adegan itu. Baru kali ini mereka melihat Aleesha uring-uringan.


"Wid ?"


"Iya Mbak."


"Siapkan cash lima ratus juta sekarang." Pintanya.


"Lima ratus juta ?" Antara kaget dan bingung Widya mengulangi kembali perintah Aleesha.


"Tapi Mbak, cash lima ratus juta itu tidak sedikit lo Mbak."


"Biar saja, yang penting masalah segera selesai." Lirihnya.


"Mbak, apa tidak sebaiknya kita bicarakan dulu dengan Pak Asbram ?"


"Tidak perlu." Jawabnya singkat.


"Mbak, maaf, kalau boleh saya ikut bicara. Lebih baik kita bicarakan hal ini dengan Pak Asbram. Dan kalau boleh Saya kasih saran, lebih baik Mbak Aleesha terima tawaran Pak Asbram." Kata Ridwan urun rembuk.


Aleesha masih diam. Antara iya dan tidak, Dia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Tidak ada jalan lain, kecuali menuruti permintaan peneror itu.


"Mbak, benar apa yang Mas Ridwan bilang. Mbak Aleesha lebih aman dan lebih terlindungi jika kita sampaikan hal ini kepada Pak Bram." Saran Widya.


"Sudah, turuti saja perintahku." Kekehnya.


"Mbak, apa salahnya kita ikuti permintaan Pak Bram. Itu lebih baik Mbak. Lagi pula, bukankah Mbak Aleesha sendiri memang sudah ditakdirkan untuk dekat dengan Pak Bram. Anggap ini jalan Allah untuk lebih mendekatkan Mbak dengan Pak Bram." Pinta Widya panjang kali lebar kali tinggi.


"Stop Wid, kamu tidak tahu apa yang Aku pikirkan_"


"Aku tahu Mbak, bahkan aku lebih tahu dari Mbak Aleesha. Aku tahu bagaimana perasaan Mbak kepada Pak Asbram. Aku juga tahu kenapa Mbak berusaha kuat untuk tidak mau menerima permintaan Pak Bram. Aku tahu itu." Kali ini kalimat yang keluar dari bibir Widya lebih berisi dan sangat menggebu-gebu.


"Bunda Mbak, Bunda dan Ayah apalagi Kedua orang tua Pak Asbram, pasti juga akan bahagia dengan kedekatan Mbak Aleesha nanti." Imbuhnya.


"Bahagia ? Dan Kamu tidak pernah berpikir sebahagia apa Aku nanti ?" Elak Aleesha.


Kali ini Widya hanya bisa diam. Karena dia juga tahu, kalau sebenarnya ini hanyalah kedekatan pura-pura. Jika tidak ada kasus foto itu, tidak ada wacana bagi mereka untuk memperkenalkan ke publik tentang hubungan mereka.


"Sudahlah, percuma Kamu bicara. Siapkan saja apa yang Aku minta." Kata Aleesha mengakhiri perdebatan mereka.


"Lalu, apa setelah itu."

__ADS_1


"Itu urusanku." Jawab Aleesha sambil berlalu menuju kamarnya.


Next On -------------------->


__ADS_2